
Beberapa hari setelahnya, bara masih berada di tempat yang sama yaitu sebuah rumah sakit. Karena merasa bosan ia pergi keluar hanya untuk sekedar berjalan-jalan tanpa tahu hari ini Rey akan datang menjenguknya karena sudah beberapa hari ini dia tidak datang untuk menjenguk Nara entah itu karena sibuk atau hal lainnya Nara mencoba untuk tidak peduli.
Sialnya gadis itu tidak bisa melupakan semua perhatian yang diberikan oleh pria bernama Rey Marvin Algara itu. Setelah cukup puas ia berada di luar sana, Nara memutuskan untuk kembali karena pagi tadi dokter mengatakan bahwa dirinya sudah boleh pulang sore ini.
Nara membawa sebotol soda dingin di tangannya untuk menemaninya selama berjalan menuju kamar perawatan. Sampai di sebuah lorong ia berpapasan dengan sosok yang sangat di kenalnya yaitu Rey yang datang untuk menjemput Nara.
Pria itu bergegas menghampiri Nara dan mengambil minuman di tangannya dengan paksa. "Hey! Apa-apaan kau ini? Kembalikan minuman ku." Protes Nara yang tidak ingin minumannya di ambil.
"Apa kau tau ini sangat berbahaya untuk kesehatan mu?!" Ucap Rey sedikit membentak Nara.
"Ayo kembali kedalam dari tadi aku mencari mu, ku kira kamu hilang ternyata malah berkeliaran disini." Ujar Rey yang mengomeli Nara layaknya seorang ibu yang mencemaskan putrinya.
Nara hanya bisa terdiam mendengar semua ucapan yang di keluarkan oleh Rey. Terkadang ia bingung dengan sikap Rey yang seperti itu, hingga akhirnya Nara memberanikan diri untuk bertanya hal yang sedikit sensitif. Pria itu sejenak terdiam ketika Nara menanyakan alasan kenapa Rey melakukan itu semua karena ia juga belum bisa mengartikan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Beri aku penjelasan Rey, apa yang sebenarnya kamu rasakan saat ini? Kenapa kamu rela menjemput ku sementara istri kamu sendiri menunggu mu di rumah."
"Karena kamu karyawan ku, jadi aku yang bertanggungjawab atas dirimu dan bukan hanya kamu tapi juga berlaku bagi semuanya."
"Tidak, aku tau kamu sedang berbohong. Jika aku mengatakan sesuatu mau kah kamu jujur pada ku?"
"Hm?"
"Aku mencintaimu."
Pengakuan Nara tentu saja membuat Rey kaget, bagaimana bisa dia mencintai pria yang sudah jelas mempunyai istri. Tapi yang namanya perasaan datang mengalir dengan sendirinya tanpa bisa di duga pada siapa ia akan melabuhkan hatinya.
"Berawal pada saat itu kamu menolong ku, aku begitu mengagumi mu sampai akhirnya rasa itu muncul dengan sendirinya, awal nya aku gak tau kamu telah memiliki istri tapi aku gak akan menyerah karena sebelumnya aku belum pernah merasakan hal seperti ini."
"Aku mengerti, tunggulah sebentar aku akan menebus obat untuk mu."
Di saat Rey akan melangkahkan kakinya dengan refleks tangan nara menahan lengan nya, ia beranjak dan memeluk punggung Rey seolah tidak ingin di tinggalkan sendiri. Pria itu pun melepaskan pelukan Nara, namun bukan untuk meninggalkan nya tetapi untuk berbalik menghadap Nara.
Kedua pasang mata kini saling menatap satu sama lain, tanpa ragu dan malu Nara sedikit berjinjit dan mengecup bibir Rey begitu saja. Awalnya Rey hanya terdiam mendapat perlakuan seperti itu dari Nara namun setelah beberapa detik akhirnya ia menuntun sebuah permainan dengan lembut.
Tidak cukup lama mereka berpautan karena bisa saja seseorang masuk untuk memeriksa keadaan Nara. Seusai menikmati first kiss nya bukan rasa malu yang timbul dalam diri Nara melainkan ia malah semakin asik bermanja pada Rey.
"Kenapa kamu gak marah?" Tanya Nara yang kini tengah bersandar di dada Rey.
"Haruskah aku memarahi mu?"
"Hm, karena aku telah bersikap kurang ajar." Sahut Nara yang sadar akan hal yang di lakukan ya tadi.
"Lupakan yang tadi dan anggap itu gak pernah terjadi." Sahut Rey.
"Kenapa? Kau bahkan sangat menikmatinya."
Rey terdiam mendengar penuturan Nara. Entah ia harus menjawab apa ia sendiripun bingung di buatnya.
"Katakan jika kamu mencintai ku juga." Sambung Nara yang menatap mata Rey.
"Aku keluar sebentar." Ucap Rey yang langsung berbalik dan melangkah keluar.
Nara kembali terduduk, ia menundukkan kepalanya dan mengingat apa yang telah terjadi beberapa menit ke belakang. Bukan rasa sesal yang di rasakan nya tetapi dia malah begitu senang karena mungkin cinta nya tidak bertepuk sebelah tangan.
Dari awal Nara bertekad untuk meluluhkan hati Rey dan sekarang mungkin tujuannya telah berhasil. Ohh tidak, itu bahkan baru awal sebelum ia menjadi istri keduanya. Tidak lama Rey kembali dengan membawa sebuah kantong yang berisi obat Nara.
"Kamu darimana?" Tanya Nara.
Rey tidak menjawab, ia hanya menunjukkan kantong yang di bawa nya. Setelah melihatnya Nara paham kemana pria itu meninggalkan nya tadi. "Ayo ganti baju mu bukan kah kau ingin makan enak? Aku akan mentraktir mu." Ucap Rey yang membawakan sebuah baju untuk Nara ganti.
Setelah semua selesai mereka keluar dari rumah sakit bersama tanpa Rey tahu Theo yang melihatnya dari tadi terus memperhatikan keduanya sampai mereka menghilang dari pandangan Theo.
Kebetulan hari sudah mulai gelap, sekalian Rey mengajak Nara untuk makan malam bersama di tempat yang sering ia kunjungi bersama dengan keluarganya. Rey menarik satu kursi untuk Nara, sungguh seperti mimpi rasanya bagi Nara karena bisa merasakan kehangatan kasih sayang seseorang.
"Apa tidak apa-apa kita makan disini?" Tanya Nara.
"Kenapa?"
"Bagaimana dengan istri mu?"
"Gak usah banyak tanya, makanlah." Sahut Rey mengusap pucuk kepala Nara.
Baper bukan main, Nara benar-benar di buat melayang oleh perlakuan Rey kali ini. Setelah menghabiskan makanan nya mereka bergegas pulang, Rey mengantarkan Nara sampai ke rumah nya dan menemaninya hingga gadis itu telah benar-benar terlelap.
Di sisi lain, Gaby yang masih belum bisa tidur terus menunggu kedatangan suaminya itu. Ia menonton televisi hanya sekedar untuk mengisi waktu luangnya sambil menunggu Rey.
Ceklek. . .
Terdengar suara pintu yang terbuka membuat Gaby langsung beranjak dan berjalan menuju ruang utama. Benar saja sosok yang di tunggu nya kini telah pulang, Gaby langsung memeluk Rey dengan manja dan memberikan kecupan kecil di pipinya.
"Kenapa jam segini baru pulang? Apa pekerjaan mu terlalu banyak?"
"Hm, ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan."
"Lalu bagaimana sekarang?"
"Semua sudah selesai, dan kamu kenapa belum tidur?"
"Kamu tau aku gak bisa tidur jika kamu gak di samping aku."
Rey terkekeh dengan kebiasaan istrinya itu yang belum juga hilang. Semenjak pernikahannya, Gaby telah terbiasa tidur dalam pelukan Rey, jika tidak akan sulit rasanya untuk ia terlelap.
"Yaudah, aku akan mandi terlebih dulu nanti aku temani kamu."
Gaby mengangguk dan tersenyum, ia pun berjalan menuju ranjang king size nya di saat Rey masuk kedalam kamar mandi. Tak lama dari itu Rey kembali dan terlelap bersama dengan Gaby.
****