Ceo'S Secret Wife

Ceo'S Secret Wife
Bab 17



"Payah sih gara-gara semalam gak bisa tidur jadi muncul mata panda kan." Gerutu Nara dalam pantulan cermin nya.


Walau masih dalam keadaan ngantuk namun Nara tetap semangat untuk pergi bekerja. Di rumah mungkin status Nara sebagai istri Rey tapi di perusahaan ia tetap sebagai karyawan biasa yang tidak ada apa-apanya. Banyak yang akan curiga jika Rey menaikkan jabatan Nara di kantornya jadi ia membiarkan gadis itu di posisi yang sama.


Nara yang telah siap berdiri di depan halte untuk menunggu Rey menjemputnya namun entah ada angin dari mana secara kebetulan Megan menghentikan mobilnya tepat di depan Nara. Ia membuka kaca jendela mobil nya dan memanggil Nara hingga berhasil membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


"Loh kok bisa mama nya Marvin disini?" Batin Nara yang masih diam di tempat.


"Nara... Kenapa kau bengong disitu?" Teriak Megan dalam mobilnya.


"Ahh ya tante." Sahut Nara yang langsung menghampiri Megan.


"Masuklah, aku antarkan kamu ke perusahaan." Ucap Megan.


Sempat menolak namun wanita itu terus memaksa Nara hingga ia tidak bisa menolaknya lagi karena tidak mempunyai alasan yang tepat. Nara mengambil ponselnya dan memberitahu Rey jika dia pergi bersama dengan Megan.


Seketika Rey menghentikan mobilnya ketika membaca pesan yang di kirim oleh Nara. Ia terus berkutat dengan pikirannya, bagaimana caranya Nara bisa bersama dengan Megan sepagi itu? Sempat terpikir dalam benaknya jika ada yang tidak beres dengan mama nya itu. Rey pun kembali melajukan mobilnya agar segera sampai di perusahaan dan bisa menanyakannya langsung pada Nara.


Anehnya setelah sampai di perusahaan, Rey tidak bisa menemukan keberadaan Nara padahal gadis itu telah pergi lebih dulu daripada nya. Lantas kemana Megan membawanya pergi? Lagi-lagi ia kembali bergelut dengan pikirannya sendiri.


Sementara di tempat lain, sebelum sampai ke perusahaan Megan membawa Nara ke sebuah toko roti guna untuk mentraktir Nara untuk sarapan memang sedikit aneh perlakuan wanita itu pada Nara, ia pun bisa merasakan itu namun Nara tidak berani untuk bertanya langsung pada nya karena takut menyinggung perasaan Megan.


Bukan hanya Nara, tapi Megan juga membeli beberapa roti untuk teman-teman Megan di kantor. Nara yang awalnya mengira bahwa Megan hanya peduli padanya ternyata itu salah karena pada dasarnya Megan memanglah wanita yang baik. Ia kembali melajukan mobilnya setelah membeli cukup banyak roti.


Dengan sengaja Nara menyuruh Megan untuk menghentikan mobilnya cukup jauh dari perusahaan karena ia tidak ingin menjadi bahan gosip para karyawan disana. Megan yang mengerti dengan situasi Nara pun menuruti kemauan gadis itu, Nara sedikit berlari karena ia sudah cukup telat.


Megan menggelengkan kepalanya melihat Nara yang memiliki jiwa pekerja keras. Mungkin jika itu orang lain tidak akan turun dari mobil sebelum sampai di depan perusahaan tapi tidak dengan Nara.


Benar saja, Nara yang telat datang ke perusahaan langsung mendapatkan semprot dari Dewi. Wanita itu terus menghardik Nara dengan bahasa yang tidak sepatutnya ia keluarkan namun itu sudah biasa bagi Nara hingga gadis itu tidak terlalu mengambil hati dengan apa yang di katakan oleh atasannya itu.


Siapa yang tahu jika Megan ternyata memperhatikan mereka sedari tadi. Setelah selesai memarahi Nara, Megan pun bertepuk tangan dan menghampiri mereka, sontak hal itu membuat Dewi tercengang karena kaget.


"Nyonya Megan." Gumam Dewi yang melihat Megan menghampiri keduanya karena yang lain kebetulan sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Begitu kah cara mu mendidik bawahan mu?" Tanya Megan dengan senyuman kecut di bibirnya.


"Maaf nyonya, tapi dia sering datang terlambat padahal posisinya disini masih karyawan baru." Sahut Dewi.


"Baru kata mu? Kamu pikir saya gak tau dia bekerja disini sejak kapan?!"


"Maafkan saya nyonya, saya janji tidak akan berbuat seperti itu lagi padanya." Ucap Dewi yang meminta maaf dengan menundukkan kepalanya.


Megan sedikit melempar keresek yang di pegangnya pada Dewi, wanita itu pun refleks menangkapnya walau isinya sebagian berjatuhan.


"Bagikan itu pada yang lainnya."


Nara pikir wanita itu akan memarahinya juga ternyata dugaan Nara salah, "jangan selalu diam jika ada yang memarahi mu seperti itu, kau bahkan bisa melaporkannya langsung pada atasan mu yang sebenarnya, kau mengerti?"


Nara mengangguk pelan menyahuti ucapan Megan, "ohh satu lagi, buatkan saya kopi dan antarkan ke ruangan Rey." Ucap Megan kembali sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan tempat itu.


Bukan main, Megan langsung melaporkan apa yang di lihatnya tadi pada Rey, tentu saja hal itu langsung memicu amarah Rey karena ada yang berani memperlakukan istrinya seperti itu. Namun Rey tetap menahan emosi nya agar semua tidak mencurigai hubungannya dengan Nara.


"Akan aku tindaklanjuti nanti." Sahut Rey ketika Megan mengatakan apa yang di lihatnya tadi.


Tidak lama, suara ketukan pintu pun terdengar, Rey mempersilahkan masuk pada seseorang yang telah mengetuk pintu ruangannya. Nampak lah Nara yang membawa satu cangkir kopi untuk Megan. Jiwa yang semula di kuasai amarah kini perlahan mereda setelah ia melihat Nara baik-baik saja.


"Loh kenapa cuma satu? Dimana kopi untuk Rey?" Tanya Megan.


"Ohh pak Rey sedang mengurangi minum kopi untuk menjaga lambung nya, biar nanti aku ambilkan air putih untuk nya." Sahut Nara tersenyum ramah.


"Apa kamu sakit Rey? Kenapa tidak bilang pada mama?"


"Nara bilang menjaga ma, bukan berarti aku sakit." Sahut putra nya itu.


Nara pun segera pamit untuk kembali bekerja, setelah Nara ke luar Megan mulai melanjutkan pembicaraannya dengan Rey mengenai bahwa ia ingin mempekerjakan Nara sebagai asisten nya.


"Apa kamu tidak merasa kasihan mempekerjakan gadis sebaik dan secantik dia sebagai office girl?"


"Tapi ma..."


"Setidaknya kamu bisa mengangkat dia menjadi staf lain jika tidak mengizinkan mama membawanya." Sambung Megan menyela ucapan putranya.


"Itu akan membuat yang lainnya sirik jika aku tiba-tiba mengangkat dia menjadi staf yang lebih tinggi dari posisinya saat ini." Sahut Rey.


Memang ada benarnya dengan apa yang di katakan Rey, Megan pun kembali membujuk putranya agar dia memberikan Nara untuk menjadi asisten pribadi nya. Tapi pria itu tetap tidak memberinya izin walau Megan sudah memohon padanya sekalipun.


"Haishh.. dasar kau ini sungguh keras kepala." Gerutu Megan.


"Sudah tau keras kepala kenapa terus memaksa?"


"Lagian mama ini heran ya, kenapa harus memaksa Nara untuk di jadikan asisten mu padahal mama bisa mencari gadis lain."Sambung Rey.


"Sudah mama bilang mama cocok dengan nya." Sahut Megan dengan nada kesal.


"Sudahlah tidak ada guna nya lagi mama disini." Ucap Megan yang langsung berdiri dan pergi meninggalkan ruangan putarannya itu.


"Dasar ibu-ibu keras kepala, selalu bertindak semaunya." Ucap Rey ketika mama nya telah pergi.


***