Ceo'S Secret Wife

Ceo'S Secret Wife
Bab 25



Dengan terburu-buru Nara masuk ke rumah nya dan menyimpan beberapa foto yang terpajang bersama dengan Rey. Tidak lama, Megan masuk ke rumah Nara ia melihat setiap sudut rumah itu dengan teliti berharap bisa menemukan sesuatu yang membuktikan jika Nara adalah gadis yang di rindukan nya selama ini.


Nara mempersilahkan Megan untuk duduk, semetara ia mengambil minuman untuk di suguhkan. "Minum nya Tante." Nara duduk di depan Megan. Wanita itu pun meneguk minuman yang telah di suguhkan oleh Nara.


"Kenapa Tante tiba-tiba datang kesini?" Tanya Nara yang cukup penasaran.


"Apa kau disini sendiri?" Tanya balik Megan.


"Hm" Nara mengangguk menyahuti ucapan Megan.


"Dimana orangtua kamu?" Lagi-lagi Nara menggelengkan kepalanya.


"Mama aku pergi semenjak aku masih kecil tepatnya mungkin masih bayi."


"Bagaimana dengan papa kamu?"


"Apa semenjak kejadian itu Tante masih berpikiran jika aku masih tinggal bersamanya?"


"Ohh maaf, aku lupa akan hal itu."


"Tak apa."


Dengan sengaja Megan menjatuhkan gelas nya hingga pecah, Nara yang melihat itu langsung memunguti pecahan gelas tersebut. "Biar Tante aja yang beresin." Megan langsung berjongkok dan membantu Nara membereskan pecahan gelas nya.


Dengan sengaja ia menggoreskan pecahan gelas tersebut ke jari Nara hingga mengeluarkan darah. "Maaf Tante gak sengaja." Megan langsung menarik tangan Nara dan mengambil tisu untuk menutupi luka nya. Ia juga langsung membawa Nara ke wastafel untuk mencuci luka nya dan memasangkan plaster di jarinya.


"Apa itu sakit?" Tanya Megan yang masih memegang tangan Nara.


Nara hanya menggelengkan kepalanya dengan tatapan sendu menatap Megan, "mama" gumam Nara dengan begitu pelan, ia bisa merasakan hangat nya kasih sayang seorang ibu pada putri nya tapi sayang itu semua hanya angan-angan Nara semata.


*


Di tempat lain, dalam kesibukannya Rey masih sempat untuk mencari Nara walau tidak secara langsung melainkan melewati Desta. Beberapa panggilan nya tidak di jawab oleh Nara di saat Desta tidak bisa menemukan keberadaan nya. Pikiran negatif terus bermunculan dalam benak Rey mengenai keberadaan istrinya itu.


"Aku gak mau tau pokoknya kamu harus cari dia sampai ketemu!" Tegas Rey pada asistennya.


Dengan rasa lelah nya, Desta melangkah meninggalkan perusahaan untuk mencari keberadaan Nara saat ini. Untung saja pemikiran Desta tepat sasaran ia langsung menuju rumah Nara dan benar gadis itu masih berada disana tapi hanya seorang diri karena Megan telah pergi semenjak beberapa menit lalu.


Kedatangan Desta tentu saja membuat Nara bertanya-tanya karena biasanya dia datang jika hanya ada Rey disana. Setelah menjelaskan maksud kedatangan nya, Desta langsung membawa Nara kembali ke perusahaan atas dasar suruhan big bos nya.


Sesampainya disana Nara langsung berjalan menuju ruangan Rey, karena sudah terbiasa baginya tidak mengetuk pintu terlebih dulu Nara langsung masuk begitu saja namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Gaby yang sedang bermanja pada suaminya itu.


Setelah mengucapkan kata maaf, Nara kembali keluar dan menutup pintu ia melangkah menjauh dari ruangan Rey menuju sebuah taman kecil yang berada di lingkungan sana. Nara duduk seorang diri, ia mencoba menahan amarahnya sekuat mungkin untuk tidak meluap.


Dengan kuat Nara mengepalkan tangannya dengan wajah yang sedikit merah karena menahan semuanya. Tap... Tangan seseorang menepuk pundak Nara hingga spontan membuatnya menoleh ke belakang. Terlihat sosok wanita yang tersenyum ke arahnya.


Nara menghela nafasnya sebelum ia menyebut nama gadis tersebut "Windy." Ucap Nara yang kembali memasang ekspresi seperti semula.


"Ngapain disini sendiri? Mana dengan raut wajah murung lagi." Ucap Windy memperhatikan ekspresi Nara yang terlihat seperti punya masalah berat.


"Tidak apa aku hanya ingin istirahat sebentar, diam di dalam rasanya begitu pengap." Sahut Nara.


"Katakan jika ada masalah maka aku akan menghibur mu."


"Gak ada Win, aku hanya benar-benar lelah bisakah kau tinggalkan aku sendiri?"


"Baiklah, aku mengerti kesibukan mu setelah pindah jabatan." Ucap Windy yang langsung beranjak dan bersiap untuk pergi.


"Bukan itu maksud ku, duduklah kembali." Sahut Nara yang merasa tidak enak dengan temannya itu.


Nara pun menceritakan dengan kata perumpamaan jika kejadian yang di alaminya itu di alami oleh Windy. Gadis itu langsung menyimpulkan bahwa hal itu yang di lakukan oleh tunangan Nara karena Windy hanya tau jika Nara telah bertunangan.


"Apa aku benar? Tunangan mu berbuat seperti itu di belakang mu?"


Nara menggelengkan kepalanya pelan, "aku hanya bertanya dan bukan berarti itu benar terjadi." Sahut Nara yang mencoba menutupi semuanya.


"Ayolah, aku tau kamu sedang berbohong jika kamu terus membiarkan tanpa menegurnya dia akan semakin semena-mena terhadap mu, kau harus bisa bersikap tegas sedikit Nara." Jelas Windy.


Memang benar adanya apa yang di katakan Windy, namun posisinya disini hanyalah berstatus sebagai istri simpanan meski sudah pernah meminta namun Nara bisa berbuat apa? Ia pun mengerti dengan apa yang dikatakan temannya itu. Untuk menghibur dirinya Nara mengajak Windy hanya untuk sekedar berjalan-jalan setelah pulang kerja nanti.


Ajakan nya pun langsung di sahuti oleh anggukan kepala Windy, ia pun pamit untuk kembali bekerja karena itu memang masih jam kerja. Setelah Windy pergi, datang Desta yang menyuruh Nara untuk ke ruangan Rey, bukan menuruti tapi ia langsung menolak permintaan nya itu.


"Bilang aku pulang lebih dulu." Ucap Nara yang langsung beranjak dan pergi dari tempat itu.


"Haishh.. ternyata tidak mudah untuk mempunyai dua istri." Gumam Desta yang telah pusing dengan semua nya.


Sore hari, Rey keluar dari ruangannya dan pergi ke rumah Nara berharap ia bisa bertemu dengannya dan membujuknya atas kejadian siang tadi, namun sayang ketika sampai Nara tidak benar-benar ada di rumah. Rey terus mencoba menghubungi Nara berulang kali tapi seperti biasa ia tidak menjawab panggilannya satu pun. Tidak patah semangat, Rey terus menunggu Nara di rumahnya sampai wanita benar-benar kembali.


Hari mulai gelap, namun Nara masih belum kembali juga, perasaan Rey kini mulai semakin bimbang mengenai kemana perginya Nara, ia takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya itu. Akhirnya Rey memutuskan untuk pergi mencari Nara ke setiap penjuru kota. "Selalu seperti ini." Gumam Rey yang melajukan mobilnya."


***