
Tidak lama, terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki seseorang yang menhampiri Gaby dan juga Nara, dengan sebuah kantong di tangannya Rey berjalan seperti biasanya tidak ada rasa takut dalam langkahnya. Ia menaruh kantong yang berisi obat tersebut di atas meja di samping Nara. Tatapannya beralih pada Gaby yang masih terdiam disana.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Rey dengan ekspresi yang tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Aku hanya ingin melihat keadaannya, apa itu salah?"
"Dan sekarang bukankah kamu sudah melihatnya? Aku antar kamu pulang."
"Rey.. ada apa dengan mu?"
"Aku? Memang nya aku kenapa?"
"Dari semalam kamu tidak pulang ke rumah dan lebih memilih menemani asisten mu daripada istri kamu sendiri dan kau masih tanya kenapa?"
"Sekarang dia adik aku juga, apa kau lupa akan hal itu?"
Deg!
Seketika pernyataan Rey membuat hati Nara begitu sakit, memang tidak salah jika Rey mengatakan bahwa Nara adalah adiknya namun disisi lain Nara juga adalah istrinya dan dia ingin kan pengakuan itu secara langsung dari Rey. Nara yang malas melihat Rey bersama dengan Gaby memutuskan untuk beranjak dari posisinya namun keinginannya di tahan oleh Rey yang dengan setia menjaga nya.
"Mau pergi kemana?"
"Disini terlalu panas, hanya ingin mencari angin."
"Aku tidak akan membiarkan mu pergi sebelum kamu makan."
"Apa peduli mu?"
"Nara! Mulai saat ini kamu harus perhatikan kesehatan mu oke?"
Mengingat akan dirinya yang kini tengah berbadan dua, akhirnya Nara kembali duduk dan mengambil mangkuk bubur yang ada di meja nya. Saat akan menyuap, dengan segera Rey mengambil mangkuk serta sendok yang di pegang Nara. "Biarkan aku menyuapi mu." Rey menyodorkan sendok ke arah mulut wanita yang kini berada di depannya.
Gaby yang merasa aneh dengan perlakuan Rey terhadap Nara mencoba untuk tidak berpikir negatif mengenai suaminya. Walau terbesit rasa sakit dalam hati nya tapi ia ingat jika mulai sekarang Nara juga merupakan adik ipar nya walau pada kenyataanya Nara bukalah adik kandung Rey.
"Emm... Rey..."
"Jika tidak mau aku antar, aku akan menyuruh Desta untuk mengantar mu pulang."
"Tidak, kebetulan aku membawa mobil sendiri."
"Hati-hati kalau begitu." Dengan sikap cuek nya lagi-lagi Rey menyuruh Gaby untuk pulang seolah ia mengusirnya dari sana.
"Baiklah, aku pulang duluan aku tunggu kamu di rumah." Gaby pun melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit.
Tidak benar-benar pulang melainkan Gaby menghubungi Anggi dan mengajak nya bertemu di tempat biasa yang sering mereka kunjungi bersama. Sikap Rey yang saat ini memanglah begitu cuek terhadap Gaby atas permintaan Nara dan juga demi menjaga calon buah hati nya yang ada di dalam perut Nara.
"Aku gak mau semua buah itu, bisa kah kau menyingkirkannya?" Pinta Nara melirik keranjang buah yang di bawakan Gaby tadi.
Rey mengangguk pelan dan membawa keranjang buah itu keluar dari ruangan Nara. ia memberikannya pada Theo si dokter pribadi sekaligus temannya itu. "Perlahan kau pasti akan menjadi milik ku seutuhnya." Gumam Nara dengan senyuman yang menyeringai.
Tak lama Rey kembali masuk ke ruangan Nara, dengan telaten dan penuh kasih sayang pria itu merawat istrinya, walau sikap Nara masih sedikit dingin namun itu semua tidak mengubah sedikitpun perhatian Rey pada Nara.
Disisi lain, Gaby telah sampai di tempat dimana ia akan bertemu dengan kakak sepupunya, satu gelas minuman yang menjadi favoritnya ia pesan sambil menunggu Anggi datang.
"Maaf menunggu lama, situasi kantor sangat sibuk ketika Rey gak ada disana." Ucap Anggi ketika telah sampai dan duduk di depan Gaby.
Anggi mengangguk dan memesan minuman, setelah ia menyedot minumannya barulah Anggi bertanya pada Gaby hal apa yang membuatnya mengajak bertemu secara mendadak. Gaby pun menceritakan semuanya pada Anggi, tanpa ada yang kurang sedikitpun mulai dari Nara yang menjadi adik tiri suaminya sampai Rey menginap di rumah sakit untuk menjaganya.
Bukan mendapat respon positif namun Anggi memberikan pendapat negatif atas apa yang di ucapkan Gaby. Pasalnya jauh sebelum Nara menjadi adik tiri Rey, Gaby selalu curiga dengan gerak-gerik keduanya ketika berada di perusahaan.
Gaby yang mendengar pendapat sepupunya itu terdiam sejenak, ia mengingat kilas balik beberapa bulan ke belakang. Mungkin yang di katakan Anggi benar adanya karena Gaby pun sempat memiliki rasa curiga namun ia selalu menepisnya.
"Jadi gimana? Apa kau ingin merencanakan sesuatu?"
"Tidak, aku akan membiarkannya sampai Rey berkata jujur padaku."
"Apa kau benar-benar bodoh?!"
"Kamu istri sah nya Gaby! Jangan sampai keluguan mu menyakiti hati kamu sendiri! Mencaritahu kebenaran nya sedikit saja itu tidak ada salahnya."
"Akan ku pikirkan nanti."
Anggi menggerutu kesal dalam batinnya, ia tidak habis pikir dengan Gaby yang masih saja mempertahankan dan membela suaminya itu. Anggi berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan memberikan bukti kuat mengenai perselingkuhan Rey bersama dengan Nara.
Sementara itu di rumah sakit, Megan kembali untuk menjenguk Nara kali ini ia tidak datang sendirian melainkan bersama dengan Antonio sang suami. Keduanya menghampiri Nara dan Rey.
"Rey, kau tidak pergi ke perusahaan?" Tanya Antonio pada putra nya itu.
"Semua sudah di handle oleh Desta dan Anggi."
"Lalu untuk apa kau diam disini?"
"Sudah jelas aku menemaninya." Sahut Rey
"Papa lupa jika Nara sekarang telah menjadi adik mu, tapi papa tidak menyangka jika kamu akan langsung sepeduli itu terhadapnya."
"Maksud papa apa bicara seperti itu?"
"Sudahlah, Nara masih sakit tidak seharusnya kalian berdebat disini." Ucap Megan yang melerai keduanya.
Malas dengan situasi yang seperti itu, Nara segera beranjak dan hendak turun dari tempat tidur nya namun di tahan oleh Rey. Hanya dengan sebuah lirikan, Rey mengerti dengan apa yang di maksud oleh Nara seolah ia bisa membaca isi pikiran istrinya itu.
Rey segera mengambil kursi roda dan membantu Nara untuk duduk di atasnya, ia pun mendorong nya dan meninggalkan kedua orangtuanya di dalam sana. Tentu saja perlakuan Rey memancing amarah Antonio bukan hanya putra nya tapi sikap Nara juga membuat nya kesal.
"Sungguh tidak bisa menghargai orangtua!" Ucap Antonio dengan kesal nya.
"Mungkin Nara hanya bosan jika terus diam disini itu alasannya kenapa dia ingin keluar."
"Kau berkata seperti itu karena dia putri mu, benarkan?"
"Apa maksud mu?"
"Bagaimanapun juga Rey telah memiliki Gaby, kamu ingatkan hal itu pada putri mu!" Ucap Antonio dengan tegas yang kemudian pergi meninggalkan Megan seorang diri.
Megan menghela nafasnya, kini dirinya berada dalam situasi yang cukup rumit di satu sisi Antonio adalah suaminya yang telah membuat dia menjadi seperti sekarang tapi disisi lain Nara juga putrinya yang selama ini ia rindukan, Megan berjanji pada dirinya sendiri akan menebus dosa nya di masalalu karena telah meninggalkan Nara bersama mantan suaminya.
***