
Keesokan harinya, jika biasanya suasana kantor tentram berbeda dengan kali ini ketika kedatangan Antonio, semua terdiam di tempatnya masing-masing ada juga yang langsung menyambut kedatangannya termasuk Nara yang berdiri di belakang Rey. Tatapan pria tua itu sedikit mendelik tajam ke arah Nara, entah ia mengetahui sesuatu atau karena hal lainnya.
Rey membawa papa nya itu masuk kedalam ruangan nya, sepertinya ada sesuatu yang mendesak sampai ia harus datang ke perusahaan secara tiba-tiba. Nara yang biasanya lebih berani namun kali ini nyali nya ciut ketika melihat tatapan Antonio yang seperti tadi.
Setelah keduanya masuk, Nara kembali ke ruangannya karena Antonio tidak mengizinkannya masuk bersama Rey. Ada rasa bimbang dalam hati dan pikiran Nara, namun ia mencoba untuk tetap santai dalam menghadapi situasi seperti apapun itu.
"Kamu tau apa yang di temukan mama kamu saat ini?" Tanya Antonio yang secara langsung pada putra nya.
Rey menggelengkan kepalanya, "terakhir kali aku bertemu dengannya mama tidak mengatakan hal apapun." Sahut Rey.
"Kamu ingat dulu dia pernah memiliki seorang putri?"
"Hm, aku ingat itu lantas kenapa? Apa dia sudah menemukannya?"
"Benar, dia telah menemukan putrinya yang selama ini dia tinggalkan."
"Kemarin dia melakukan tes DNA dengan mengunakan sampel darah dari gadis itu." Sambung Antonio.
"Lalu, untuk apa papa memberitahu ku semuanya? Sampai harus datang ke perusahaan?"
"Karena gadis itu yang selalu ada di dekat kamu."
Jdeerrr... Kaget bukan main, pikiran Rey langsung tertuju wanita yang kini telah berstatus sebagai istri simpanannya. Siapa lagi jika bukan Nara? Karena hanya dialah yang saat ini selalu berada di samping Rey.
"Lalu apa rencana kalian?" Tanya Rey pada papannya.
"Bawa dia ke rumah malam nanti, jangan lupa kamu juga ajak Gaby kita makan malam bersama."
"Haruskah?"
"Hm, itu permintaan mama kamu hari ini dia telah menyiapkan semuanya."
"Apa mama berencana untuk memberitahukan semuanya?"
"Entah, papa tidak tahu mengenai hal itu."
Selesai menyampaikan apa yang ingin di bicarakan nya, Antonio bergegas keluar dari ruangan Rey, terlihat Nara yang sedang berjalan dan kebetulan berpapasan dengan nya, Nara sedikit membungkuk dan tersenyum menyapa Antonio namun tidak ada respon dari pria tua itu.
Tidak hanya sendiri, Nara berjalan bersama dengan Desta yang membawa beberapa berkas di tangannya, tentu saja tujuan mereka adalah menemui Rey di ruangannya. Antonio membisikkan sesuatu pada asistennya yang tak lain berupa perintah.
Tok.. tok.. tok.. setelah mengetuk pintu, Desta bersama dengan Nara langsung masuk ke ruangan Rey. Terlihat seorang CEO yang sedang duduk di kursinya dengan raut wajah yang serius. Setelah menaruh berkas yang di bawanya Desta kembali pamit dan keluar lain hal nya dengan Nara yang masih dengan setia berada di samping Rey.
Setelah menghilang semalaman, dengan sengaja Nara duduk di pangkuan Rey dan bermanja padanya namun bukan mendapatkan balasan yang di inginkan pria itu malah bersikap dingin dan tidak biasanya terhadap Nara. Tidak ingin menyerah, Nara terus menggoda Rey dan hampir mengecup bibirnya namun dengan cepat Rey menghindar seolah ia tidak ingin di dekati Nara.
"Ada apa dengan mu?" Tanya Nara yang merasa terima enak dengan perlakuan suaminya.
Bukan nya menjawab, Rey terus sibuk dengan pekerjaan di depannya dan menganggap seolah Nara tidak ada di sampingnya.
Dengan tatapan tidak biasa Rey berjalan menuju pintu, di pikirnya dia akan pergi meninggalkan Nara begitu saja tapi pemikiran itu salah, Rey justru mengunci pintu ruangannya dan kembali berbalik ke arah Nara.
Masih dalam tatapan yang sama, Rey berjalan menghampiri Nara hingga membuat wanita itu mundur dengan sedikit ketakutan, aura yang di pancarkan Rey kini sangat berbeda terlihat seperti seekor serigala yang telah menemukan mangsanya.
Rey langsung menerkam Nara dengan agresif tanpa rasa lembut sedikit pun hingga membuat Nara kewalahan di buatnya. Bukan permainan yang seperti biasanya melainkan kali ini Rey bermain sangatlah kasar hingga tanpa sengaja ia merobek baju Nara.
Sempat menolak namun tenaga Nara tidak cukup besar untuk menahan tubuh kekar suaminya itu. "Bukankah ini yang kau inginkan hm?" Rey terus menghujam istrinya dengan begitu kasar hingga membuat Nara merintih kesakitan.
"Apa yang terjadi dengan mu Marvin, tolong hentikan ini benar-benar sakit." Rintih Nara di sela-sela permainan panas nya.
Tanpa perduli Rey terus menggoyangkan pinggulnya hingga membuat Nara berulangkali mencapai pelepasan dan di buat lemas olehnya. Setelah puas dengan apa yang dilakukannya Rey segera membersihkan diri di kamar mandi dalam ruangannya tanpa peduli dengan keadaan istrinya saat ini.
Nara yang masih terbaring lemas dengan tubuh yang tanpa sehelai benang pun perlahan menitikkan air matanya, bukan karena rasa sesal melainkan karena rasa sakit yang ia tahan terutama di bagian perut bawahnya di tambah dengan perlakukan Rey yang berubah drastis dari sebelumnya.
Perlahan Nara memungut bajunya satu persatu, ia mengetuk pintu kamar mandi untuk membersihkan dirinya dengan segera. Tidak lama Rey membuka pintu nya dengan pakaian yang telah rapi kembali. Nara segera memalingkan wajahnya dan masuk ke dalam kamar mandi begitu saja.
Terbesit rasa sesal dalam diri Rey karena telah memperlakukan Nara seperti tadi, ia pun memutuskan untuk menunggu Nara selesai mandi dan menyiapkan baju ganti untuknya. Kebetulan Rey telah menaruh beberapa baju untuk Nara di ruangan khusus nya.
Pintu kamar mandi terbuka, dengan langkah yang perlahan Nara keluar karena harus menahan rasa sakitnya, Rey segera menghampiri Nara dan membantu nya berjalan menuju sofa. Sempat Nara menepis tangan pria itu namun Rey tetap membantu Nara dan memberikan baju ganti untuk nya.
"Aku minta maaf, apa itu benar-benar sakit?"
"Bukan urusan mu." Sahut Nara dengan sedikit meringis.
"Aku hanya terbawa emosi dan melakukan apa yang ada di pikiran ku semalam."
"Apa yang kau pikirkan?"
"Semalam kamu menghilang begitu saja dan kau tau betapa cemas nya aku? Sampai aku berpikir bahwa kamu..."
"Apa? Kau berpikir aku melakukan apa?"
"Menikmati malam dengan pria lain."
"Tch, apa wanita seperti itu aku di pikiran mu?"
"Tidak, hanya saja..."
Nara menepis tangan Rey dan perlahan melangkah menjauh tanpa memperdulikan Rey yang terus mengejarnya sampai di ambang pintu karena selepas itu ia tidak berani untuk melakukan apapun pada Nara untuk menjaga rahasianya. "Kau... Sungguh pria baj!Ngan Rey Marvin!" Gumam Nara sambil mengepalkan tangannya.
Bukan hanya meninggalkan ruangan suaminya tapi juga Nara meninggalkan perusahaan untuk kembali ke rumah nya.
***