
Sesampainya Nara di rumah, ia merebahkan tubuhnya sejenak untuk beristirahat dan menenangkan rasa sakitnya di perut nya yang semakin ia bergerak semakin sakit rasanya. Nara sendiri pun tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan kondisinya saat ini, karena baru pertama kali ia merasakan sakit yang seperti itu.
Dirasanya masih sakit dengan posisi telentang, Nara pun memiringkan tubuhnya hingga membuat posisinya meringkuk. Tidak lama ia terlelap dalam tidurnya selama kurang lebih dua jam, Nara kembali terbangun dan melihat ponselnya yang menerima sebuah pesan dari Megan.
Nara segera membuka pesan tersebut yang berisi undangan makan malam nanti, ia langsung beranjak dan kembali membaca ulang pesan tersebut. "Haahhh... Apa lagi kali ini yang akan terjadi?" Gumam Nara yang kembali menaruh ponselnya. Tapi tidak lama setelah itu ponsel Nara kembali berdering sebuah panggilan yang lagi-lagi dari Megan.
Mau tidak mau Nara pun menerima panggilan tersebut dan sedot berbincang dengan Megan.
"Kau baik-baik saja? Kenapa tidak membalas pesan ku?" Tanya Megan yang terdengar seperti sedang mencemaskan Nara.
"Hm, aku baik-baik saja maaf karena bekum sempat membalas pesan nya." Sahut Nara.
"Kenapa dengan suara mu? Kau habis menangis?"
"Ahh tidak, aku hanya habis bangun tidur kali ini aku izin pulang lebih awal."
"Ahh syukurlah kalau begitu, baiklah nanti malam ma... Ahh maksudnya Tante tunggu di rumah."
"Hm." Shut Nara singkat dan menutup sambungan telfon nya.
Setelah beristirahat cukup lama, akhirnya rasa sakit itu sedikit demi sedikit mulai menghilang. Malam pun tiba, kini tiba waktunya dimana ia harus datang ke rumah utama keluarga Algara. Nara memilih beberapa gaun yang cocok untuk di kenakan nya hingga akhirnya dress berwarna putih dengan lengan pendek dan bagian atas yang sedikit terbuka menjadi pilihannya.
Nara berdiri di depan cermin dan sedikit memutar tubuhnya untuk melihat cocok atau tidak nya ia dengan dress tersebut. Setelah di rasanya cocok, Nara mulai memasangkan make up tipis di wajahnya dengan lipstik berwarna pink yang menjadikan bibirnya terlihat lebih cantik.
Ia pergi dengan menggunakan sebuah taksi karena Rey harus pergi bersama dengan Gaby, meski tersimpan rasa bersalah dalam dirinya atas apa yang di lakukan nya siang tadi namun kali ini Rey tidak bisa berbuat apa, ia tidak ingin menyakiti hati Nara untuk kesekian kalinya hingga memutuskan untuk pergi bersama dengan Gaby tanpa menjemput Nara.
Nara telah sampai lebih dulu di kediaman Algara, kedatangannya di sambut antusias oleh Megan wanita itu mencoba menyembunyikan air mata bahagia nya agar tidak menimbulkan pertanyaan Nara.
"Kau datang lebih cepat dari yang Tante kira, ayo duduklah." Ucap Megan menuntun Nara untuk duduk di salah satu kursi.
"Makasih Tante, tapi Tante tidak harus memperlakukan aku seperti ini." Sahut Nara yang merasa tidak enak dengan perlakuan Megan.
"Kau sudah datang?" Tanya Antonio yang menghampiri keduanya.
"Malam tuan." Ucap Nara kembali berdiri dan membungkuk untuk memberikan hormat.
Tidak bisa di pungkiri dalam hati kecilnya ia ingin menyambut kedatangan Rey namun apalah daya saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa yang bisa ia lakukan hanyalah melihat keromantisan Rey bersama dengan Gaby, walau hanya menyiapkan sebuah kursi untuk baby namun itu sudah cukup romantis bagi Nara.
Terlihat dalam tatapan mata Rey yang ingin menyapa Nara dan melakukan hal yang sama namun saat ini ia juga tidak berdaya terlebih itu di depan orangtuanya apa lagi posisinya saat ini ia sudah tahu bahwa Nara adalah adik tirinya.
Acara makan malam pun berjalan seperti biasanya, tingkah aneh Mega yang sedikit memanjakan Nara membuat dirinya terus bertanya mengenai apa yang sedang terjadi saat ini. Selesai dengan maka malam nya Megan mengajak semua nya untuk berkumpul di ruangan keluarga.
Kini saat nya ia mengatakan semuanya, Megan mengeluarkan hasil tes DNA nya dengan Nara dan memberikan kertas itu pada Nara di depan semua orang. Rey yang sedikit tidak terima dengan kebenaran itu mengepalkan tangannya karena Nara wanita yang di cintai nya saat ini harus menjadi adik tirinya meski itu tidak jadi penghalang untuk hubungannya.
Nara membelalakkan matanya saat ia membaca isi dari kertas yang di di genggam nya itu. Ia menatap Megan bergantian dengan melihat yang lainnya, mata Nara mulai penuh dengan buliran bening yang sedikit lagi mungkin akan menetes.
"Aku rasa ini tidak benar, bagaimana bisa Tante melakukan ini sementara aku tidak pernah memberikan setetes darah pun atau melakukan hal lainnya."
"Kamu salah, kamu ingat pada saat tangan mu terluka? Disitu aku menggunakan darah mu untuk membuktikan semua ini, dan kau tau betapa bahagia nya aku saat mengetahui kebenarannya?"
"Kamu tumbuh dengan sempurna nak, kemarilah." Sambung Megan mengulurkan kedua tangannya.
Nara menggelengkan kepalanya pelan, "enggak, ini semua pasti gak benar." Nara yang syok dengan kondisi saat ini masih terdiam di tempat dengan air mata yang menetes dan tubuh sedikit gemetar.
Gaby yang juga masih tidak percaya mengambil keras tersebut dan melihatnya dengan sendiri bahwa hasil itu menunjukkan hasil gen nya benar-benar cocok. Ia kembali menaruh kertas tersebut dan meyakinkan Nara bahwa itu benar-benar asli.
Bukan malah percaya justru suara Gaby membuat Nara berhasil mengeluarkan emosinya dengan jawaban yang membentak Gaby gadis itu beranjak dan meninggalkan mereka semua disana.
"Nara tunggu... Jika kamu masih tidak terima dengan semua nya it's oke, mungkin kesalahan mama terlalu besar karena telah meninggalkan mu waktu itu, tapi asal kamu tau selama ini mama selalu merindukan kamu dan mencari kamu."
Nara yang masih berdiri dengan membelakangi Megan tak hentinya mengeluarkan air mata, rasa bahagia dan kecewa bercampur menjadi satu. Kali ia benar-benar tidak tau dengan apa yang harus ia lakukan di pikirannya saat ini adalah kembali ke rumah dan menjauh dari mereka.
"Tante bohong, selama ini Tante tidak pernah mencari keberadaan putri Tante bahkan tidak peduli dengan kehidupannya." Ucap Nara yang menoleh ke arah Megan sebentar dan kembali ke posisi awal.
Nara mencoba melangkahkan kaki nya kembali namun kepalanya tiba-tiba merasa pusing dengan pandangan yang mulai gelap. Tidak bisa menahan akhirnya Nara pun jatuh pingsan hingga membuat Rey refleks memanggil namanya dan menhampiri Nara.
Dengan cepat ia membawa Nara ke rumah sakit tanpa memperdulikan Gaby yang di tinggalkannya di rumah utama, bukan hanya Rey tapi juga Megan yang ikut pergi menyusul nya. Lain hal nya dengan Antonio dan Gaby yang masih diam di tempat.
***