
Di sebuah taman rumah sakit Nara menatap kosong dalam pandangannya, kedua tangannya ia gunakan untuk mengelus perutnya yang semakin lama akan semakin terlihat membesar. Terkadang Nara cemas dengan situasi nya saat ini, ia takut dengan nasib anak nya di masa depan nanti.
Rey membungkuk mendekap istrinya itu, terlihat ia membisikkan sesuatu hingga membuatnya menoleh dan saling kontak mata. Tidak ada percakapan diantara keduanya sampai Nara kembali melihat kedepan dan kembali pada tatapan semula.
Ia menghela napasnya dan kemudian sedikit menarik sudut bibirnya hingga terukir sebuah senyuman kecil di bibir Nara. "Bisa saja kamu bicara seperti itu, tapi tidak dengan aku." Nara membuka suaranya setelah ia cukup lama terdiam. Rey melangkahkan kakinya dan jongkok di depan Nara, ia mengusap perut istrinya dengan sesekali menempelkan telinganya.
"Jika yang kamu lahirkan itu anak laki-laki, aku janji akan menceraikan Gaby dan jika itu perempuan..."
"Kau akan mencampakkan ku? Bersama dengan anak mu?" Sela Nara di tengah-tengah ucapan Rey.
"Tidak, aku akan tetap bersama mu dan membesarkan anak kita hanya saja kecil kemungkinan untuk aku menceraikan Gaby."
Nara menarik sudut bibirnya dan tersenyum getir, "memang benar semua orang kaya itu serakah" ucap Nara yang merasa kasihan dengan dirinya sendiri.
Namun bukan seperti itu yang Rey maksud, Gaby telah melakukan promil cukup lama setidaknya itu membuat Rey sedikit punya harapan untuk memiliki seorang putra yang akan menjadi penerusnya nanti.
Cuaca yang mendung dan cukup dingin tidak baik untuk kesehatan Nara saat ini, Rey kembali mendorong kursi roda yang di duduki istrinya itu untuk kembali ke ruang perawatan. Sempat menolak namun Rey tetap memaksa Nara demi menjaga kondisinya.
Sampai akhirnya mereka kembali ke ruangan dan terlihat Megan yang sedang mengganti bunga dalam pot di atas meja. "Ma.." Ucap Nara untuk yang pertama kalinya memanggil Megan dengan sebutan mama. Wanita itu seketika terdiam sejenak, ia takut jika ada yang salah dengan pendengaran nya sampai Nara kembali memanggil Megan dengan sebutan mama untuk yang kedua kalinya.
Megan memutar tubuhnya berbalik dan melihat Nara yang sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu hangat. Nara tersenyum ke arah Megan dan tanpa di sadari wanita yang tidak lagi muda dan berdiri di depan Nara itu menjatuhkan buliran bening yang sudah tidak bisa di bendung nya.
"Kau.. memanggil ku apa?" Tanya Megan yang perlahan menghampiri Nara.
"Mama." Ulang Nara yang masih tersenyum.
Megan yang bahagia bukan main langsung memeluk Nara dengan erat dan penuh kasih sayang serta kehangatan. Suasana pun kini berubah menjadi haru, Rey yang menyaksikan semua itu tersenyum ikut bahagia karena Nara bisa kembali memeluk mama nya walau kini status wanita itu telah menjadi mama tirinya.
"Sudah, di luar sedang turun hujan kalian jangan ikutan hujan juga."
"Dan kau... Dasar nenek cengeng." Sambung Rey kembali melihat Megan dengan candaannya.
"Yash! Apa yang maksud dengan nenek-nenek? Apa aku telah terlihat setua itu?" Protes Megan yang tidak terima dengan perkataan putra nya.
"Tapi sebentar lagi kau jadi nenek." Sahut Rey kembali.
Wanita itu mendesis kesal dengan candaan putranya itu walau pada kenyataan nya hal itu sudah biasa mereka lakukan selama ini. "Baiklah, aku akan keluar sebentar dan memberikan waktu untuk kalian berdua." Megan mengambil tasnya dan bergegas keluar dari ruangan itu.
"Kenapa?"
"Temani aku tidur disini." Sahut Nara.
"Baiklah." sekilas Rey mengecup bibir Nara dan merebahkan tubuhnya di samping nya.
Rey memeluk Nara hingga ia terlelap dalam pelukan hangat suaminya. Di rasanya Nara sudah terlelap Rey kembali menyentuh wajah cantik istrinya dan mengecup keningnya. "Aku pastikan tidak akan membuat kamu menderita." Ucap Rey seraya mengelus wajah Nara.
Rey beranjak dan langsung menghubungi Desta, ia meminta asistennya itu untuk mencarikan rumah dan membelinya yang akan di jadikan tempat tinggal Nara bersama dengannya nanti. Tidak hanya rumah tapi juga dengan beberapa pegawai di dalam nya yang akan memanjakan Nara sebagai seorang istri Presdir.
**
Tanpa pengetahuan Rey, Gaby kembali ke rumah sakit untuk menemui Theo secara diam-diam bukan karena dirinya sakit melainkan untuk menanyakan mengenai kondisi Nara yang sebenarnya dan tentang suaminya yang selalu menjaga Nara di rumah sakit.
Beberapa pertanyaan Gaby ajukan pada Theo namun pria itu tidak berani mengatakan yang sebenarnya karena takut mempengaruhi kesehatan Gaby, akhirnya Theo memutuskan untuk berbohong dan menyembunyikan kehamilan Nara dari Gaby walau ia tahu cepat atau lambat Gaby pasti akan mengetahuinya namun sebaiknya ia tahu sendiri daripada harus dari orang lain.
"Sebaiknya kau jangan terlalu memikirkan hal itu fokuslah pada tujuan mu yang ingin memiliki seorang putra, bukankah itu impian mu bersama dengan Rey?"
"Bagaimana aku bisa mewujudkan semuanya sementara dengan Rey sendiri..." Ucapan Gaby terhenti begitu saja.
"Dia kenapa?"
"Tidak, kalau begitu aku pamit dulu terimakasih atas semua informasi yang kamu berikan." Gaby bergegas keluar dari ruangan Theo dengan mengenakan masker dan topi.
Theo menghela nafas nya melihat Gaby yang keluar begitu saja, ia tidak mengerti dengan apa yang ada di kepala Rey saat ini, sudah memiliki Gaby yang sempurna masih saja ingin bermain api di belakangnya dan bahkan saat ini akan memiliki anak dari wanita lain.
Tidak langsung pulang, melainkan Gaby pergi ke ruang perawatan Nara untuk memastikan kecurigaannya selama ini. Ia melihat dari kaca kecil yang terdapat pada pintu ruangan, matanya melihat kedalam ruangan tersebut dan hanya terlihat Nara yang sedang tertidur seorang diri tanpa ada Rey di sampingnya.
Gaby bernafas lega karena tidak mendapati Rey di ruangan Nara, ia berbalik dan hendak pergi dari tempat itu namun langkahnya terhenti ketika mendapati sepasang sepatu pantofel hitam berada di depannya. Hampir saja Gaby mengangkat kepalanya, beruntungnya orang tersebut lebih dulu membuka suaranya hingga Gaby tetap dalam posisi menunduk.
"Siapa kau?" Tanya Rey.
Tanpa menjawab pertanyaan Rey, Gaby langsung saja melewati pria itu dengan langkah yang terburu-buru. Melihat tingkah aneh wanita itu, Rey bergegas masuk ke dalam ruangan Nara untuk memastikan kalau Nara dalam keadaan baik-baik saja. Akhirnya Rey bisa bernafas lega ketika melihat Nara masih terlelap dalam tidurnya.
***