
Tugas Nara kali ini benar-benar sibuk, selesai dari satu divisi ia masuk ke ruangan divisi lain untuk membersihkan nya sampai tidak ada waktu untuk masuk ke ruangan Rey. Seolah di permainkan ia di suruh ini dan itu oleh beberapa karyawan yang berada di bawah pimpinan Anggi. Tidak bisa berbuat apa Nara hanya bisa menuruti kemauan mereka.
Nara terus bolak-balik untuk memfoto copy serta mengerjakan hal lainnya sampai dirinya benar-benar merasa lelah. Beruntung Rey tidak mengetahui kejadian itu jika ia sampai tau entah bagaimana dengan nasib karyawan disana.
Jam istirahat telah tiba, namun Nara masih terlihat sibuk dengan pekerjaan sampai ia lupa akan makan siang. Dalam ruangannya Rey mendapatkan kabar dari Desta yang mengatakan bahwa sampa saat ini Nara masih sibuk bekerja.
Rey segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan nya itu. Ia mencari keberadaan Nara saat ini, dan benar saja gadis itu masih sibuk bekerja walau dirinya telah terlihat kelelahan tidak ada seorang pun yang berani membantu dia karena berada di bawah pengawasan Anggi.
Rey menarik tangan Nara hingga membuatnya kaget dan langsung berbalik. "Apa aku bodoh? Jam berapa ini? Kenapa masih bekerja di jam istirahat?" Ucap Rey yang sedikit meninggikan suaranya. Nara melihat sekeliling takutnya ada yang melihat Rey disana bersamanya.
"Kamu ngapain disini?" Nara segera menarik Rey ke tempat yang bisa dibilang lebih aman dari posisinya saat ini.
"Siapa yang menyuruh mu membersihkan semuanya?"
"Gak ada, aku melakukan itu karena sudah menjadi tugas ku."
"Kamu pikir aku anak kecil yang bisa di bohongi?"
"Marvin udah lah, jangan membuat semuanya menjadi rumit."
"Tapi aku gak terima kamu di perlakukan seperti itu!"
"Mulai besok, aku pindahan kamu jadi asisten pribadi ku."
Seketika ucapan Rey membuat Nara tercengang, semua akan terlihat mencolok jika benar Rey akan melakukan itu. "Itu akan membuat semua orang curiga Marvin." Nara mencoba meredakan emosi suaminya saat ini dengan berbagai macam rayuan yang di keluarkan nya.
"Ayo pergi." Rey menggenggam tangan Nara dan membawanya pergi dari ruangan itu.
Nara melepaskan genggamnya dan berlari melewati Rey ketika ia melihat beberapa karyawan yang berlalu-lalang. "Haishh" desis Rey yang merasa terganggu dengan suasana saat ini. Ia melihat ponselnya ketika mendapat notifikasi pesan dari Nara.
Dalam sebuah kedai biasa dengan jarak yang cukup jauh dari perusahaan Nara menunggu Rey. Sampai tidak lama kemudian pria yang di tunggu nya itu datang menghampirinya. Mungkin tidak terbiasa bagi Rey berada disana tapi mulai saat ini Nara akan membiasakan Rey untuk memakan makanan yang belum pernah pria itu cicipi.
"Kenapa harus disini? Di restoran sana kan bisa?" Tanya Rey yang terlihat sedikit risih dengan keadaan kedai tersebut.
"Disana banyak orang yang mengenal kamu sayang, aku belum siap jika semuanya harus terbongkar sekarang." Sahut Nara menjelaskan semuanya.
"Cobalah dulu, ku pasti menyukainya."
"Hanya mie beras, rasanya juga pasti sangat biasa." Sahut Rey yang tidak memiliki selera untuk makan.
"Jangan melihat dari penampilannya saja, cobalah dulu aku yakin kau pasti menyukainya." Sahut Nara yang langsung melahap satu mangkuk berisi mie beras (bihun).
Perlahan Rey mencicipi makanan tersebut sedikit demi sedikit, setelah di rasa-rasa ternyata rasanya tidak begitu buruk menurutnya, ia pun ikut melahapnya sampai tidak tersisa. Nara yang melihat itu tersenyum senang karena suaminya menyukai makanan pilihan nya itu.
**
Sore hari, disaat semua telah meninggalkan pekerjaan nya dan kembali ke rumah masing-masing lain hal nya dengan Rey yang masih sibuk di meja kerjanya. Nara yang menunggu suami nya sedari tadi namun tidak kunjung datang akhirnya memutuskan untuk kembali masuk dan langsung mencari Rey ke ruang kerja nya.
"Aku kira sudah pulang, ternyata masih duduk disini." Ucap Nara.
"Astaga, aku lupa memberitahu mu, apa kau telah menunggu ku?" Tanya Rey yang lupa memberitahu Nara kembali bahwa dia mungkin harus lembur.
"Hm, maka dari itu aku kesini untuk melihat mu. Ku pikir kamu sudah pulang lebih dulu untuk menemui Gaby."
"Ssttt.. jangan sebut wanita lain ketika kita sedang bersama."
"Tapi dia istri mu."
"Aku tak peduli." Sahut Rey.
Akhirnya Nara pun menutup mulutnya untuk diam, dengan setia ia menemani Rey menyelesaikan pekerjaannya. Nara yang inisiatif keluar sejenak dari ruangan itu dan pergi menuju pantry, tidak lama ia kembali membawa secangkir kopi untuk suaminya.
Nara meletakkan cangkir itu tepat di meja Rey, ia pun berdiri di belakang Rey dengan tangan yang memijat pelan kedua bahu suaminya. Mendapat perhatian yang seperti itu membuat Rey semakin menyayangi Nara mungkin lebih dari rasa sayang nya pada Gaby.
"Kamu tidak perlu melakukan ini." Ucap Rey yang mendongak menatap Nara dan memegang tangannya.
"Gak papa, aku lihat suami ku ini sudah bekerja terlalu lelah jadi apa salahnya aku meredakan sedikit rasa lelah mu?" Sahut Nara tersenyum hangat.
Perlahan Rey menarik tangan Nara untuk menuntun duduk di pangkuan nya. "Apa yang sedang kau kerjakan?" Tanya Nara yang melihat layar laptop Rey yang masih menyala. Rey menjelaskan beberapa hal mengenai masalah pekerjaannya saat ini.
Bukan hanya sekedar menemani tapi Nara juga sedikit membantu suaminya itu dengan bertukar pikiran ia juga membantu menyelesaikan beberapa masalah pekerjaan Rey saat ini. "Darimana kau mengerti tentang semuanya?" Tanya Rey yang sedikit penasaran dengan latar belakang Nara karena sebelumnya gadis itu tidak menceritakan bagaimana dengan pendidikannya.
Nara menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupi sedikitpun, disitu Rey semakin yakin untuk mengangkat Nara menjadi asisten pribadinya. Mungkin dimata orang lain sebutan itu cocok untuk nya tapi bagi Rey sebutan istri yang selalu mendampingi suaminya itu lebih tepat.
"Sudah ku putuskan esok hari kamu ikut bersama ku meeting bersama dengan yang lain nya untuk meyakinkan bahwa kamu layak menjadi asisten pribadi ku."
"Ahh bukan, mungkin lebih tepatnya istri yang akan mendampingi suaminya." Ucap Rey.
Nara hanya tertawa kecil mendengar penuturan suaminya itu. Masih dalam posisi yang sama Rey memegang dagu istrinya dan memberikan kecupan lembut di bibirnya sampai ia lupa jika pintu tidak terkunci dan masih ada Desta yang menunggu nya di luar sana.
Mendapatkan panggilan telfon dari Gaby, Desta bergegas ke ruangan Rey, karena sudah terbiasa ia tidak mengetuk pintu dan langsung menerobos masuk. Nara langsung melepaskan pagutan bibir Rey dan refleks beranjak dari posisinya ketika melihat Desta masuk.
"Maaf, aku gak tau kalau..."
"Bisakah lain kali ketuk pintu sebelum masuk?" Ucap Rey dengan nada kesal.
"Maaf bos tapi ini darurat." Desta menghampiri Rey dan memberikan isyarat jika Gaby mengubungi nya.
Rey langsung beranjak dan pergi beberapa langkah untuk menjauh dari Nara yang masih diam disana.
***