Ceo'S Secret Wife

Ceo'S Secret Wife
Bab 32



Beberapa hari berlalu, asisten Antonio datang dengan membawa sejumlah informasi yang ia dapat tentang Rey. Tidak bisa mengkhianati bos nya ia memberitahukan semua tentang keberadaan Rey saat ini. Antonio menghela mendengar kabar yang di berikan oleh asistennya itu.


Sungguh ia tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Rey di belakang istrinya. Ternyata kecurigaannya selama ini benar bahwa diantara mereka berdua bukan hanya sebagai rekan kerja melainkan ada hubungan lain yang di sembunyikan dari semua orang.


"Lantas apa yang akan kau lakukan tuan?"


"Awasi gadis itu jangan biarkan dia berbuat semakin jauh."


"Ku dengar Rey telah membeli rumah itu untuk mereka tinggal disana, bagaimana jika tuan membawa wanita itu untuk tinggal disini, dengan begitu tuan bisa mengawasinya secara langsung."


"Akan ku bicarakan nanti dengan Megan, bagaimana pun juga dia adalah putri nya yang selama ini dia cari." Sahut Antonio.


Pria itu pun menyuruh asistennya kembali keluar dari ruang kerja nya. Antonio berkutat dalam pikirannya memikirkan cara bagaimana ia mengatasi semua ini.


Disisi lain Gaby tengah sibuk menghabiskan waktunya dengan Megan. Bukan hanya untuk sekedar berjalan-jalan namun Gaby memiliki tujuan lain mengenai mertuanya itu. Dia sela makan siang nya Gaby meringis dan terlihat kesakitan dengan memegang perut bawah nya.


"Apa yang terjadi dengan mu?" Tanya Megan yang terlihat mencemaskan menantunya.


"Sepertinya aku datang bulan." Sahut Gaby yang masih memegang perutnya.


"Tunggu sebentar, mama akan belikan itu untuk mu." Megan langsung beranjak dari duduknya, ia mengambil tas namun tidak dengan ponselnya yang sebelumnya di taruh di atas meja.


Gaby yang berhasil mendapatkan kesempatan itu langsung mengambil ponsel Megan untuk melihat histori pesan dan panggilan terakhirnya. Sayang nya ponsel Megan terkunci dengan menggunakan password, Gaby menggunakan tanggal lahir Megan untuk membuka password ponselnya dan ternyata itu berhasil.


Dengan cepat ia membuka pesan dan menemukan chat terakhir dengan Nara juga panggilan terakhir dari Rey. Gaby menyalin nomor Nara dan menaruh kembali ponsel Megan ketika sudah membaca semua isi pesan nya. Tidak lama Megan kembali dengan membawa apa yang di perlukan oleh Gaby. Ia pun langsung pamit beranjak dan pergi ke toilet.


Dalam toilet Gaby mencoba menghubungi Nara dengan mengirimkan nya pesan menggunakan nomor baru. Tentu saja Gaby telah menyiapkan semua itu dengan matang. Kling..! Sebuah pesan masuk dengan nomor baru di ponsel Nara, kebetulan Nara sedang berada di kamar mandi dan Rey lah yang menerima dan membaca pesan tersebut.


Bukan pesan aneh melainkan hanya pesan yang berisi menanyakan tentang kabar Nara saat ini. Merasa itu tidak penting terlebih dari nomor baru Rey langsung menghapusnya tanpa memberitahu nya pada Nara. Beberapa menit berlalu dari datangnya pesan tadi Nara pun keluar dari kamar mandinya.


Ia menghampiri Rey yang tengah sibuk dengan laptopnya dan duduk di pangkuan nya begitu saja. "Apa sungguh benar tidak apa-apa? Sudah tiga kali loh kamu bolak-balik kamar mandi." Ucap Rey yang memeluk pinggang Nara dan mengusap perutnya.


"Tidak Marvin, aku hanya sakit perut biasa mungkin karena kebanyakan makan pedas juga." Sahut Nara mengalungkan tangannya di leher Rey.


Nara hanya menggelengkan kepalanya, baginya hal itu sudah biasa terjadi ketika ia terlalu banyak makan makanan pedas. Di tengah manja nya pada Rey, ponsel Nara kembali berdering namun kali ini bukan sebuah pesan melainkan panggilan telfon.


Nara menunjukkan layar ponselnya pada Rey karena tidak ada nama kontak yang tertera. Rey sedikit membulatkan matanya ketika ka mengetahui jika itu adalah nomor istrinya. "Itu nomor Gaby, kau tidak menyimpannya?" Nara menggelengkan kepala nya sebelum ia menjawab pertanyaan suaminya. "Tidak penting untuk aku menyimpannya." Sahut Nara kemudian.


Nara berpikir sejenak untuk apa Gaby menghubungi nya setelah cukup lama mereka tidak saling sapa dan bertemu. Ia lebih memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut daripada menerimanya. Perasaannya mengenai Gaby saat ini begitu sensitif.


"Kenapa kau tidak menjawabnya?"


"Haruskah aku menjawab nya?"


Rey menggelengkan kepalanya, ia kembali menatap layar laptopnya yang masih menyala dan membaca beberapa data laporan yang di kirim oleh Desta. Sudah cukup lama Rey tidak datang ke perusahaan begitu juga pulang ke rumah nya.


Melihat perkembangan yang sedikit menurun, Rey memilih untuk pergi ke perusahaan namun selalu di halangi oleh Nara. Namun kali ini tidak ada yang bisa menghalanginya termasuk Nara sekalipun. Hanya dengan satu cara untuk Nara mengawasinya yaitu dengan ia mengikutinya ke perusahaan. Tidak secara diam-diam, Nara langsung duduk di samping Rey yang telah duduk di depan sebuah setir.


Terjadi perdebatan kecil diantara mereka sebelum Rey melajukan mobilnya namun ia juga tidak tega meninggalkan Nara sendiri di rumah, akhirnya Rey membawa Nara pergi untuk yang pertama kalinya setelah ia masuk rumah sakit tempo lalu.


Sesampainya di perusahaan, Rey bergegas menuju ruangannya yang di ikuti oleh Nara sebagai asisten pribadinya. Kedatangan Rey tentu saja sedikit menghebohkan beberapa karyawan disana karena menurut mereka tidak ada Rey di perusahaan merupakan sebuah anugerah bisa bekerja sedikit lebih santai dari biasanya.


Disisi lain, Gaby masih bersama dengan Megan, di rasanya sudah cukup lelah mereka berjalan-jalan Megan mengajak Gaby pulang ke rumah. Ia duduk di samping Megan yang mengemudikan mobilnya.


Untuk memecah keheningan selama perjalanan Gaby menanyakan semua tentang Nara pada Megan, dengan senang hati wanita itu menceritakan semuanya tanpa sedikitpun yang terlewat.


"Jadi Tante meninggalkannya saat dia masih kecil? Dan menikah dengan papa nya Rey?"


Megan mengangguk membenarkan pertanyaan menantunya itu. Dengan alasan dulu Megan berniat untuk bekerja di perusahaan Antonio namun atas permintaan mendiang istrinya Megan di minta untuk menikah dengan Antonio dan menjadi ibu sambung Rey karena mendiang istri Antonio tidak ingin putra semata wayangnya itu hidup tanpa kasih sayang seorang ibu.


Dengan kebetulan Megan tidak sanggup lagi dengan sikap mantan suaminya yang hanya bisa mabuk-mabukan dan menghabiskan uang hasil kerja kerasnya ia pun lebih memilih untuk pergi meninggalkannya, namun sebelumnya Megan berjanji ia akan menjemput Nara setelah bicara dengan Antonio tapi setelah Megan kembali Nara dan papannya sudah pindah rumah hingga ia tidak bisa menemukannya sampai akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali.


Gaby sedikit tertegun mendengar cerita mertuanya, sepintas ia merasa kasihan pada wanita yang menjadi adik ipar nya itu tapi disisi lain ia juga tidak bisa membiarkan Nara semakin dekat dengan suaminya.


***