
Selesai pemeriksaan, dokter Theo keluar dari sebuah ruangan ia menyuruh Rey untuk mengikutinya kedalam ruangan pribadinya. Hal pertama yang di tanyakan Rey adalah mengenai keadaan Nara saat ini, Theo pun memberitahukan kebenarannya pada Rey mengenai kondisi Nara yang telah mengandung dengan usia kehamilan dua bulan.
Bahagia campur bimbang, itu lah yang di rasakan Rey saat ini. Bahagia nya karena ia bisa mewujudkan impiannya untuk memiliki seorang anak namun rasa bimbang nya terus menghantui pikirannya karena status Nara yang masih sebagai istri simpanan.
"Apa yang akan kau lakukan saat ini?" Theo bertanya dengan cukup serius.
"Kenapa kau masih bertanya seperti itu sementara kamu sendiri sudah tau jawabannya seperti apa." Sahut Rey.
"Apa kau benar-benar sudah gila?! Kau akan menjaga dan membesarkan anak dari simpanan mu lantas bagaimana dengan Gaby? Pernahkah kau sedikit memikirkan perasaan nya?"
"Ssttt... Kau terlalu banyak bicara!" Sahut Rey yang kemudian beranjak.
Pria itu bergegas keluar dari ruangan Theo dan segera menemui Nara yang masih terbaring di ruang perawatannya. Perlahan Rey membuka pintu, terlihat sosok wanita tua namun masih awet muda sedang duduk di samping Nara dengan tatapan sendu.
Sementara dengan wanita yang terbaring disana membuang muka nya ke sisi lain karena tidak ingin melihat Megan yang bersikeras untuk tetap berada disana. Rey melangkahkan kakinya menghampiri mama dan juga istrinya itu. Hal yang pertama Megan ucapakan ketika melihat Rey adalah mengenai kondisi Nara saat ini. Namun dengan kuat pria itu tidak memberitahukan kebenarannya untuk sementara waktu.
"Sebaiknya mama pulang, biar aku yang menjaga Nara disini." Rey menyuruh Megan untuk kembali ke rumah namun wanita itu masih enggan untuk pergi.
"Ma, papa pasti menunggu mu kembali besok kau masih bisa kesini untuk menjenguknya, lagian Nara juga butuh istirahat.
"Lantas bagaimana dengan Gaby yang sudah pasti juga menunggu kamu? Ingat, kamu sudah punya istri Rey jangan abaikan itu."
Mendengar perdebatan kecil antara Megan dan juga Rey membuat amarah Nara semakin bergejolak dalam dada nya, akhirnya Nara berbalik dan menegur keduanya meski dengan kondisi yang masih lemah. Ia menyuruh Megan dan juga Rey untuk pergi meninggalkannya seorang diri.
Bukannya pergi, Megan malah mengucapkan sebuah kata yang membuat Nara terdiam. "Sampai mana hubungan kalian saat ini? Kalian pikir mama gak tau apa yang kalian lakukan selama ini?"
"Cukup ma! Kondisi Nara saat ini masih belum stabil jangan tekan dia dengan pertanyaan konyol mama."
"Kalian bisa menyembunyikan semuanya dari orang lain tapi tidak dengan mama!"
"Jika kalau bukan karena Nara putri mama, dari dulu mama sudah memisahkan kalian."
"Sejak kapan Tante mengetahui jika aku adalah putri Tante?"
"Sudah cukup lama, itu alasannya dulu mama menahan kamu untuk tidak mengundurkan diri dari perusahaan, sampai akhirnya tes DNA keluar dan menyatakan jika kamu benar-benar putri mama."
"Ch" Nara tersenyum sinis mendengar ucapan Megan.
"Tante ingin tau hubungan aku dengan Marvin sampai mana?"
Megan mengangguk menyahuti ucapan Nara.
"Kita sudah menikah dan saat ini aku sedang mengandung anak nya Marvin, apa jawaban itu cukup puas?"
Sedikit meleset dari pikiran Megan yang hanya mengira bahwa mereka hanya memiliki hubungan biasa tanpa terikat oleh pernikahan. Megan yang mendengar pernyataan Nara itu sedikit masih tidak percaya bahwa Rey benar-benar nekat dengan apa yang telah di lakukan nya bahkan berani mengambil resiko yang cukup tinggi.
"Rey katakan jika..."
"Itu benar, apa yang di katakan Nara semuanya benar." Sahut Rey sebelum Megan menyelesaikan ucapannya.
Megan menghela nafas panjangnya ketika ia mendengar kebenarannya. Nara yang masih belum bisa menerima semuanya menyuruh Megan serta Rey untuk pergi meninggalkannya seorang diri, karena saat ini ia hanya butuh ketenangan bukan perdebatan.
Setelah mendengar jawaban yang di inginkan nya akhirnya Megan melangkah pergi meninggalkan tempat itu, sementara dengan Rey masih diam di tempat dengan menatap istrinya.
"Kamu juga pergi."
"Aku gak bisa meninggalkan kamu sendiri."
"Baiklah, jika kamu bersikeras ingin disini jangan pernah kamu kembali ke rumah Gaby!"
Sontak ucapan Nara membuat Rey semakin bimbang kini dirinya benar-benar terperangkap dalam permainan nya sendiri, sungguh pilihan yang sulit bagi nya. Hanya untuk menemani Nara selama di rumah sakit akhirnya Rey menyetujui permintaan nya. Dengan seperti itu baru lah Nara bisa tidur dengan tenang tanpa harus takut jika Rey akan mencampakkannya bersama dengan calon bayi yang di kandungnya saat ini.
**
Pagi hari, seorang wanita meraba ranjang di sebelahnya ia membuka matanya dan melihat bantal yang masih tertata rapi tidak ada tanda-tanda seseorang habis menggunakannya. Gaby segara beranjak dan masuk ke kamar mandi, selesai mencuci muka dan menggosok gigi nya Gaby bergegas ke ruang makan. Disana ia duduk sendiri dengan ponsel yang sedari tadi di genggamnya.
Berulangkali Gaby menghubungi suaminya namun tidak ada jawaban bahkan tidak satupun pesan yang di balas oleh Rey. "Wajarkah dia menemani asistennya sampai mengabaikan ku seperti ini?" Gumam Gaby di sela-sela sarapan nya.
Ia kemudian beranjak dan kembali masuk kedalam kamarnya, Gaby mengubungi Megan untuk menanyakan tempat dimana Nara di rawat setelah mendapatkan informasi lengkap Gaby segera mengganti baju nya dan bergegas ke tempat yang di sebutkan oleh Megan, selain untuk melihat keadaan Nara ia juga ingin memastikan keberadaan suaminya saat ini.
Dengan kecepatan mobil yang di kendarainya Gaby kini telah sampai di lobby rumah sakit, langkahnya segera menuju ruang perawatan Nara, tidak dengan tangan kosong Gaby membawa satu keranjang yang berisi aneka macam buah.
Di lihatnya dari kaca yang menempel pada pintu tidak ada keberadaan Rey disana, Gaby langsung saja membuka pintu tersebut dan melihat Nara yang masih terbaring dengan selang infus yang menancap di tangannya.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Gaby ketika telah sampai di samping Nara.
Nara sedikit melirik ke arah Gaby, rasanya tidak ingin ia melihat wanita itu namun bagaimanapun Nara harus bisa menyembunyikan rasa tidak suka nya terhadap Gaby untuk saat ini.
"Seperti yang kau lihat." Sahut Nara dengan nada cuek.
"Syukurlah jika kau baik-baik saja."
"Apa semalam Rey menemanimu disini?" Sambung Gaby.
Nara pun menjawab seadanya, ia mengatakan kebenarannya mengenai semalam jika semalam Rey benar menemani dan menjaga nya bukan hanya semalam tapi sampai saat ini pria itu masih menjaga Nara hanya saja kebetulan Rey sedang keluar ruangan.
***