Ceo'S Secret Wife

Ceo'S Secret Wife
Bab 13



Hari libur, dimana menjadi hari malas untuk Nara karena. Waktu menunjukkan pukul 10:00 pagi, namun gadis itu masih rebahan di atas kasur empuknya dengan hanya mengenakan tank top dan hotpants. Nara meraih ponselnya untuk melihat ada pesan atau panggilan dari Rey atau tidak. Ternyata tidak ada satupun notifikasi yang masih dalam ponselnya.


Ia kembali menaruh ponsel itu tepat di sampingnya dan kembali berniat untuk memejamkan matanya. Namun Nara teringat dengan sesuatu yang berhasil membangunkannya, gadis itu langsung mengganti baju nya tanpa mandi terlebih dulu. Ia hanya menggosok gigi dan mencuci muka setelah itu langsung melesat entah kemana ia akan pergi.


Sesampainya di depan sebuah cafe Nara membungkuk sambil ngos-ngosan karena telah berlari dengan jarak yang cukup jauh. Ia pun menarik nafas dan membuangnya dengan perlahan yang kemudian masuk kedalam cafe tersebut.


Nara mencari sosok wanita yang telah membuat janji dengannya, tidak ada di lantai bawah ia bergegas naik ke lantai atas dan ternyata benar saja seorang wanita yang terbilang cukup awet muda sedang duduk sendiri dengan segelas kopi di depannya.


Dengan nafas yang telah di atur serta merapikan sedikit riasannya Nara melangkah menghampiri Megan. Karena ia tahu jika itu adalah mama nya Rey jadi Nara harus menjaga sikap sebaik mungkin untuk mengambil hatinya.


"Bu Megan.." Sapa Nara yang masih berdiri di samping Megan.


Wanita itu melirik Nara, ia memperhatikan gadis di sampingnya dari bawah hingga atas. Untung saja Rey telah membelikan beberapa gaun dan baju lainnya yang berkelas pada Nara begitu juga dengan sepatu serta high heels.


"Duduklah." Ucap Megan yang mempersilahkan Nara untuk duduk.


Gadis itu menarik kursi yang berada di depan Megan dan langsung mendudukinya. Megan memanggil seorang pelayan dan menyuruh Nara untuk memesan sesuatu agar obrolan mereka lebih tenang dan menyenangkan.


Setelah pesanan Nara datang, wanita itu menyuruh Nara untuk meminumnya terlebih dulu sebelum masuk ke perbincangan. "Siapa nama lengkap kamu?" Tanya Megan yang tampak serius dengan pertanyaannya. Nara pun menjawab dengan sebenarnya tanpa ada kebohongan sedikitpun.


"Inara Diona?" Ulang Megan.


"Benar Bu itu nama lengkap ku." Sahut Nara.


"Ohh tidak, kau jangan memanggil ku dengan sebutan itu, panggil saja aku Tante." Ucap Megan dengan senyum ramah nya.


"Ahh baiklah, Tante." Sahut Nara yang juga tersenyum ramah.


Sungguh sulit di percaya ternyata wanita yang Nara segani itu memiliki sifat yang ramah. Awalnya Nara sempat berpikir bahwa Megan adalah orang yang cuek bahkan jauh dari kata ramah ternyata dugaannya salah. Beberapa pertanyaan Megan ajukan pada Nara sedetail mungkin sampai usia dan tempat tinggal pun ia tanyakan.


Tak lama setelah mereka berbincang, datanglah sebuah kejutan untuk Nara yaitu kedatangan Rey bersama dengan Gaby yang bergandengan. Awalnya Rey tidak menyadari jika itu adalah Nara karena gadis itu langsung membuang muka nya ketika melihat Rey bersama dengan Gaby.


"Siang ma." Apa Gaby yang menyapa ibu mertuanya sambil cipika-cipiki.


Rey menarik satu kursi untuk istri nya dan disitu ia melihat Nara yang sedikit menunduk seolah ia tidak mampu untuk melihat wajah bahagia Rey ketika bersama dengan istrinya.


Deg!


Perasaan Rey kini mulai tidak menentu, di satu sisi ia sedang bersama dengan Gaby dan disisi lain ada Nara yang tak lain adalah gadis simpanannya selama ini. "Loh, kamu disini juga?" Tanya Gaby yang menyapa Nara. Megan pun menjelaskan bagaimana ia bisa bersama dengan Nara disana.


"Ohh jadi nama kamu Nara? Bodoh ya selama ini kita sering bertemu tapi aku tidak tau siapa nama kamu." Ucap Gaby.


"Gak papa, lagian itu bukan hal yang terlalu penting." Sahut Nara.


Rey merasa lega dengan sikap Nara yang seperti itu karena dia bisa mengerti dengan posisi dan situasi walau dalam dirinya tersimpan rasa bersalah tapi Rey bisa mengatasi semua nya nanti.


"Rey, boleh gak jika mama menjadikan Nara sebagai asisten pribadi mama?"


Sontak pertanyaan Megan membuat Nara dan Rey membulatkan matanya. Entah darimana datangnya Megan bisa mempunyai pemikiran yang seperti itu. "Nara gadis yang baik, malam rasa akan cocok jika dia menjadi asisten pribadi mama." Sambung Megan yang menatap Nara dan Rey secara bergantian.


"Maaf Tante, tapi aku telah nyaman dengan pekerjaan ku saat ini di tambah untuk menjadi asisten pribadi rasanya kurang cocok untuk gadis seperti ku." Sahut Nara yang merendahkan dirinya.


Itu gak boleh terjadi karena jika ia di tarik oleh Megan itu artinya kesempatan Nara untuk bersama Rey semakin menipis begitu juga dengan Rey yang memiliki pemikiran yang sama. Megan pun menghela napasnya yang mengartikan bahwa ia pasrah dengan keputusan Nara yang menolak permintaannya.


"Baiklah jika kamu gak mau aku gak akan memaksa." Ucap Megan.


"Sekali lagi aku minta maaf Tante." Sahut Nara dengan sedikit menunduk.


"Tidak apa, kamu tidak perlu merasa bersalah." Ucap Megan memegang sebelah bahu Nara.


"Mama mengundang kita datang kesini sebenarnya untuk apa?" Tanya Gaby.


"Ahh iya mama hampir lupa dengan tujuan mama menyuruh kalian datang kesini."


Megan menyuruh Rey dan Gaby datang menemuinya disana hanya untuk membicarakan surprise party untuk ulangtahun papa nya lusa. Biasanya jika membicarakan masalah keluarga selalu di rumah utama tapi kali ini karna rencananya ingin memberikan kejutan jadi Megan mengajak putra dan menantunya bertemu di luar yang kebetulan juga ia telah membuat janji untuk bertemu dengan Nara.


Hari semakin siang, di tengah perbincangan keluarga Rey, Nara berpamitan untuk pergi terlebih dulu dengan alasan ada urusan yang harus ia urus. "Hati-hati di jalan, lain kali kita hangout lagi." Ucap Megan yang melambaikan tangannya ke arah Nara.


Gadis itu pun berlalu begitu saja, ingin rasanya Rey beranjak dan mengejar Nara namun ia tidak bisa melakukan semua itu. "Sayang jadi gimana? Dari tadi mama nanya kamu loh." Ucap Gaby yang membuyarkan lamunan Rey.


"Semua terserah kalian, aku ikut aja lagian mama juga tau selera papa seperti apa." Sahut Rey yang masih memikirkan Nara.


Disisi lain seorang gadis menelusuri jalan dengan terik matahari yang cukup panas namun tidak lebih panas dengan suasana hatinya saat ini. "Inilah resikonya mencintai suami orang lain, tapi sayang aku tidak bisa melepaskannya." Gumam Nara dalam langkahnya dengan senyuman miris di sudut bibirnya.


***