Ceo'S Secret Wife

Ceo'S Secret Wife
Bab 16



Di hari kedua di luar kota Rey telah resmi menjadikan Nara sebagai istri simpanannya atau dengan kata lain adalah istri kedua. Hari bersejarah bagi Nara disaat Rey mengucapkan janji suci pernikahan untuknya. Walau statusnya sebagai istri simpanan namun itu tidak membuat Nara merasa bahwa ia hanyalah istri simpanan.


Hanya satu yang mengetahui pernikahan mereka yaitu Desta sang asisten pribadi Rey karena secara langsung Desta membatu Rey mempersiapkan semuanya. Tepat berada di kamar hotel, Nara mengganti baju nya menggunakan pakaian biasa, terlihat beberapa memar di tubuh Nara akibat perbuatan Darwin tempo lalu.


"Apa itu masih sakit?" Tanya Rey yang melihat luka memar di tubuh Nara.


"Hanya sedikit, mungkin karena sudah cukup lama aku tidak merasakannya lagi jadi terasa begitu sakit." Sahut Nara.


"Maksud kamu sudah cukup lama?"


"Kamu lupa satu tahun lalu di saat awal pertemuan kita aku pernah menceritakan semuanya?"


"Ahh itu, tentu saja aku ingat."


"Mulai saat ini mereka tidak akan pernah berani mengganggu mu lagi." Ucap Rey.


"Mungkin mereka tidak, lalu bagaimana dengan Gaby? Bagaimana jika dia mengetahui semuanya?"


"Itu gak akan pernah terjadi." Sahut Rey meyakinkan Nara yang mungkin sedikit cemas dengan statusnya.


Lima hari telah berlalu, dimana Rey dan Nara telah menghabiskan masa indahnya bersama di luar kota. Beberapa tempat telah mereka kunjungi, rasanya tidak ingin untuk Nara mengakhiri masa liburnya bersama dengan Rey, lebih tepatnya mungkin masa honeymoon. Tapi mau gimana lagi esok hari mareka sudah harus kembali dan disitulah saat perpisahan Nara dan Rey tiba.


Waktu 1 Minggu terasa cepat berlalu bagi Nara yang melewatinya namun lain hal nya bagi Gaby yang melewati hari-hari tanpa seorang suami di sampingnya. Nara pun telah kembali bersama dengan Rey, sebelum pulang ke rumah utama Rey mengantarkan Nara terlebih dulu ke rumahnya.


"Waktu seminggu sungguh terasa begitu singkat." Ucap Nara ketika sudah masuk di dalam rumah.


"Kita masih bisa bertemu di perusahaan, apa kau lupa itu?"


"Tetap saja rasanya berbeda dengan hari-hari kemarin yang kita lewati bersama."


"Aku tau, tapi kamu harus mengerti posisi aku saat ini, Gaby masih berstatus sebagai istri aku."


"Apa itu artinya kau akan menceraikan nya?"


"Istirahatlah, kau pasti sangat lelah." Sahut Rey yang mengalihkan pembicaraan.


"Setiap aku bertanya hal itu selalu saja mengalihkan pembicaraan." Gerutu Nara yang berjalan ke kamarnya.


Mendengar Nara yang menggerutu, Rey segera menyusul langkah gadis itu dan mendekapnya dari belakang. "Aku pastikan akan selalu membuat kamu bahagia." Rey bersisik dan mengecup pipi kanan Nara.


Gadis itu berbalik dan langsung mengecup bibir Rey hingga mereka bermain selama beberapa menit sebelum akhirnya Rey pamit untuk ke rumah utama menjemput Gaby.


Sesampainya di rumah utama, Gaby yang selalu merindukan suaminya itu berlari dan memeluk Rey dengan manja ketika pria itu masuk kedalam rumah. Rey pun membalas pelukan Gaby dan mengecup bibirnya sekilas.


"Kau merindukan ku?" Tanya Rey mencubit hidung istrinya.


"Tentu saja aku merindukan mu, kau disana terlalu sibuk sampai telfon aku selalu kamu abaikan." Gerutu Gaby dengan suara manja nya serta bibir yang sedikit manyun.


Rey hanya tertawa kecil melihat Gaby yang menggemaskan seperti itu. Di tengah-tengah Gaby yang sedang melepas rasa rindunya, Megan datang menghampiri keduanya bersama dengan sang suami.


"Sudah pa."


"Apa yang terjadi dengan perusahaan sampai kau harus meninggalkan istri mu?"


"Hanya sedikit masalah, untung nya semua bisa di selesaikan dengan cepat."


"Aku lelah, kita pulang dulu ma, pa." Sambung Rey yang langsung pamit pada kedua orangtuanya.


Sesampainya di rumah, seorang asisten rumah tangga membantu Rey untuk membawa kopernya, Gaby yang tidak lepas dari gandengan suaminya itu bergegas masuk ke kamar. "Mau mandi, makan atau..." Gaby menggantung ucapannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya namun sebelum Gaby melanjutkan kembali ucapannya Rey telah menyela nya terlebih dulu.


"Aku hanya butuh istirahat."


Perkataan Rey yang singkat dan datar itu langsung membuat Gaby terdiam dan tidak berkutik sedikitpun. Ia mengingat kembali 1 mingu ke belakang mengenai hubungannya dengan Rey namun Gaby rasa semua tidak ada yang salah dan tidak pernah melakukan kesalahan. Lalu sikap macam apa ini? Seolah Rey mengabaikan niat baik Gaby untuk memanjakan nya.


Rey merebahkan dirinya di saat Gaby masih berdiam diri di tempat dengan pikiran yang terus mengingat kejadian beberapa hari kebelakang. "Kenapa kau masih bediri disitu?" Tanya Rey yang melihat Gaby masih terdiam disana.


"Apa aku pernah melakukan kesalahan?" Tanya Gaby dengan penuh hati-hati.


Rey mengubah posisinya, ia bersandar pada dashboard ranjang nya dan menatap istrinya. "Apa maksud perkataan mu itu hm?" Tanya Rey yang merasa aneh dengan Gaby karena tiba-tiba menanyakan hal itu.


"Tidak, mungkin aku nya aja yang sedikit sensitif." Sahut Gaby yang ingin berbalik untuk mengganti baju.


Rey pun beranjak dari posisinya dan bergegas masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan Gaby yang masih berada disana. "Apa masalah anak yang memicu dia menjadi seperti itu?" Ucap Gaby dalam batinnya. Tidak lama Rey kembali dengan hanya mengenakan handuk di pinggang nya serta rambut yang masih basah.


Rey mengambil hair dryer dan memberikan nya pada Gaby. Melihat tingkahnya membuat Gaby kembali mengeluarkan senyumnya. Gaby menyuruh Rey untuk duduk di bawah sementara dirinya duduk di atas ranjang.


"Kenapa tidak memakai baju terlebih dulu?"


"Biar lebih mudah untuk menyerang mu." Sahut Rey.


"Hey... Apa yang kau katakan? Aku sungguh tidak mengerti." Ucap Gaby yang berpura-pura polos.


"Benarkah? Apa kau butuh penjelasan?" Tanya Rey yang mendongak menatap wajah istrinya.


Gaby pun tertawa kecil, ia mengecup bibir Rey sekilas dan kembali mengeringkan rambutnya. "Sudah selesai." Ucap Gaby yang kembali menaruh hair dryer nya.


Setelah Gaby kembali Rey menarik tangan istrinya hingga terjatuh tepat di pelukannya. Gaby pun protes dengan apa yang di lakukan suaminya itu, ingin beranjak namun Rey menahannya dengan cukup kuat hingga terjadilah hal yang di rindukan Gaby selama ini. Ia berharap promil yang di jalaninya selama ini bisa berhasil.


1 jam berlalu, Gaby telah terlelap dalam pelukan sang suami, ia menjadikan dada Rey sebagai bantal nya karena itu rasanya lebih nyaman di bandingkan dengan banyak yang empuk sekalipun.


Kling...!!


"Kau sudah tidur? Sepertinya aku telah terbiasa tidur dengan mu sampai sangat sulit untuk aku terlelap tanpa kamu." Begitulah isi pesan yang di kirim Nara pada suaminya. Namun setelah cukup lama Nara menunggu, Rey tidak membalas pesannya.


***