
"Lagi-lagi selalu seperti ini." Gumam Gaby yang memegang perut bagian bawah nya ketika Rey sudah berangkat.
Ya, Gaby selalu merasakan sakit yang luar biasa di saat ia datang bulan dan hari ini bertepatan dengan datang bulan Gaby yang pertama. Namun karena tidak ingin membuat suaminya khawatir Gaby menyembunyikan rasa sakit itu dari Rey padahal pria itu sudah mengerti jika di saat Gaby sedang datang bulan. Gaby terus meringkuk di atas kasur, jangan kan untuk berjalan untuk bangun aja mungkin sedikit susah.
Di dalam perusahaan, setelah selesai dengan urusan nya Rey kembali ke ruangannya yang di temani oleh Nara tentunya. Ia selalu menjadikan kesempatan itu untuk berduaan dengan Nara tanpa tau kondisi Gaby saat ini seperti apa. Seolah Nara adalah satu-satunya wanita yang ia miliki saat ini.
Tok tok. . . Suara ketukan pintu membuat Nara menjauh dari Rey beberapa langkah. Terlihat seorang gadis yang masuk kedalam ruangan Rey yang tak lain adalah sekretaris nya untuk menyampaikan beberapa hal penting. "Berikan padanya, biar nanti dia yang membacakannya." Gadis itu menuruti apa yang di katakan Rey, ia memberikan sebuah berkas pada Nara.
Setelah sampai di tangannya, Nara membuka berkas tersebut dan hendak membacakan isi nya namun Rey langsung mengambil berkas tersebut dan menaruhnya di atas meja. Sontak perlakuan Rey tersebut membuat Nara kaget di pikirnya Rey marah terhadapnya karena merebut berkas tersebut dengan cukup kasar.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Nara menatap pria di sampingnya itu.
"Biar nanti aku baca sendiri, tidak ada dalam kamus seorang Rey Marvin harus mempekerjakan istrinya sendiri."
"Ch, dasar pembohong, jika tidak mempekerjakan istri mu lalu status ku sebagai office girl tempo lalu itu apa?"
"Beda lagi, itu kamu bekerja di bawah pengawasan Dewi."
"Tetap aja yang punya perusahaan keluarga kamu, jadi perkataan kamu untuk tidak mempekerjakan istri itu bohong besar, dasar pembual." Celetuk Nara dengan mulut pedasnya namun ia tidak berniat serius dengan apa yang di katakan nya melainkan hanya bercanda semata.
Rey yang tidak terima dengan perkataan Nara, langsung mengeluarkan ekspresi yang begitu kesal. Akhirnya Nara tertawa lepas melihat raut wajah suaminya yang seperti ingin meledak. Ia terus-terusan mengejek Rey hingga memancing pria itu untuk berbuat sesuatu padanya, Nara langsung berlari menghindari suaminya yang seolah ingin memakannya hingga terjadi kejar-kejaran di antara keduanya dalam sebuah ruangan.
"Mau lari kemana kamu hm?" Ucap Rey yang ketika telah berhasil menangkap Nara dan mendekapnya dari belakang.
"Lepaskan aku tuan pembual hahaha."
"Gak akan pernah aku lepaskan sampai kau meminta maaf pada ku." Sahut Rey yang semakin erat memeluk Nara.
Bukan hanya memeluknya, tapi kali ini Rey menggelitik pinggang Nara hingga ia tertawa lepas atas perlakuan suaminya itu. Seperti biasa di saat keduanya asik bersama, Desta muncul secara tiba-tiba tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, beruntung itu Desta lain ceritanya jika itu adalah orang lain.
Rey langsung menunjukkan sorot mata yang cukup menyakitkan untuk di lihat lelah Desta. Masih dalam posisi yang sama Desta memberikan isyarat pada atasannya itu bahwa seseorang sedang menuju ruangannya. Tidak mengerti dengan apa yang di isyaratkan nya, Rey seolah tidak peduli dengan kehadirannya sampai seorang wanita datang dan langsung membuat Rey melepaskan Nara.
"Mama.." Ucap Rey ketika melihat Megan.
"Ckckck... Apa seperti ini kerjaan mu setiap hari? Menggoda gadis lain padahal kamu sudah punya istri." Ucap Megan yang langsung membuat Nara tercengang.
"Emm... Maaf, Tante salah paham tidak ada apa-apa diantara aku dengan pak Rey tadi dia hanya..."
"Intinya mama salah paham oke? Selesai." Sahut Rey yang menyela ucapan Nara.
"Kenapa tidak bilang jika kamu mengangkat Nara jadi asisten pribadi mu?"
"Haruskah aku mengatakannya pada mama?"
"Tentu, karena sebelumnya dia menolak untuk bekerja dengan mama, lalu apa ini? Apa kau memberinya sesuatu sampai dia mau untuk berdiri di samping mu?"
"Kamu pikir selama ini mama tidak memperhatikan mu dengan nya?"
"Tunggu, apa maksud Tante berkata seperti itu?"
"Sudah sampai man hubungan kalian berdua?" Tanya Megan yang bersikap seolah tidak biasnya.
"Apa yang mama bicarakan? Jika hanya untuk mengatakan hal yang tidak ada kebenaran nya lebih baik mama pergi dari sini." Ucap Rey seolah mengusir mama nya.
"Berani kau mengusir mama?"
"Karena mama sudah keterlaluan."
"Cukup!" Ucap Nara menghentikan perdebatan kedua orang di depannya.
Dengan mata yang berkaca-kaca Nara melerai keduanya, sangat di sayangkan baginya seorang ibu dan anak harus berdebat karena bagi Nara kehadiran seorang ibu sangat lah penting dalam kehidupannya. Rey menatap kedua mata Nara, ia melihat buliran bening yang terbendung hampir menetes ingin rasanya Rey menghampiri Nara dan merangkulnya namun disana masih ada Megan yang menuntut sebuah jawaban.
Tidak ingin menimbulkan pertengkaran diantara keduanya, dengan berat hati Nara memutuskan untuk pergi meninggalkan perusahaan hari itu juga. Awalnya Rey tidak terima dengan keputusan Nara yang diambil dalam keadaan yang emosi tapi apa yang telah menjadi keputusan Nara tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun termasuk itu Rey sendiri.
Di saat Nara hendak melangkahkan kaki nya keluar, Megan membuka suaranya hingga menghentikan langkah Nara. "Jika kamu mengundurkan diri dan pergi begitu saja itu arti nya kamu benar memiliki hubungan dengan Rey." Ucapan tersebut langsung membuat Nara terdiam, ia pun memutar balikkan tubuhnya dan kembali menatap Megan.
Ada rasa yang tidak asing dalam tatapan Nara ketika menatap Megan itulah yang wanita itu rasakan ketika Nara menatapnya sampai rasanya ia tidak tega untuk membiarkan Nara pergi begitu saja. "Lupakan ucapan ku yang tadi, kamu kembalilah bekerja." Ucap Megan yang kemudian melangkahkan kakinya keluar.
Rey langsung menghampiri Nara yang masih berdiri diam di tempat. Ia memegang kedua bahu Nara dan menatapnya dengan begitu lekat, Rey juga memberikan pelukan hangat untuk menenangkan istri nya itu.
"Menurut mu apa yang telah mama kamu ketahui?"
"Entahlah, jangan terlalu di pikirkan dan jangan jadikan itu beban untuk kamu."
"Sudah beberapa kali aku bertemu dengannya tapi entah kenapa aura nya kali ini sangatlah berbeda, ada apa sebenarnya di balik semua ini." Batin Nara.
****