Ceo'S Secret Wife

Ceo'S Secret Wife
Bab 23



Di perusahaan Nara kembali bekerja seperti biasanya walau tidak ada Rey di samping nya. Setelah merapikan beberapa berkas Nara duduk di ruangannya dengan pandangan lurus dan pikiran yang entah kemana. Tok tok. . . Seseorang mengetuk meja Nara hingga membuyarkan lamunannya.


Dilihatnya Desta yang tengah berdiri di depan Nara dengan senyuman khas dari bibirnya. Nara pun mendesis pelan ketika melihat siapa yang ada di depannya itu. Rasanya ia kehilangan semangat jika Rey tidak ada dua perusahaan. Dengan bawel nya Desta mengajukan beberapa pertanyaan ketika ia duduk di depan Nara.


Dengan rasa malasnya Nara mengabaikan semua pertanyaan Desta dan lebih memilih untuk menghindarinya. "Hey nona, aku disini bicara dengan mu, sungguh tidak sopan jika kamu pergi begitu saja." Protes Desta yang merasa tidak dianggap. Keduanya memanglah cukup akrab sampai mereka terlihat layaknya teman baik.


"Kau bilang ada yang mengajak Rey bertemu, ayo pergi dan jangan buang-buang waktu ku untuk hal yang tidak penting." Sahut Nara yang berjalan ke arah pintu.


Sebelum Nara keluar dari perusahaan, diri nya di pertemukan dengan sosok wanita yang sudah jelas sangat tidak menyukainya. Dengan sengaja Anggi menabrak bahu Nara dengan cukup kencang hingga membuat nya sedikit oleng.


"Oops.. sorry, aku kira gak ada orang." Ucap Anggi dengan senyuman tatapan sinis ketika melihat Nara.


"Bisakah kau jangan cari masalah satu hari saja?" Nara mencoba melawan Anggi kerena pada dasarnya ia memang tidak pernah takut dengan wanita itu.


"Cari masalah kata mu? Hello!! Gak ada gunanya untuk ku mencari masalah dengan wanita rendahan seperti mu!" Sontak ucapan Anggi yang seperti itu menjadi pusat perhatian beberapa karyawan lainnya yang berada disana.


Tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Anggi, Nara hendak melayangkan tangannya namun berhasil Desta tahan sebelum ia melakukan itu. Nara langsung menoleh ke arah Desta yang kini tengah menggenggam tangan nya dan seolah pria itu mengatakan bahwa ia tidak boleh melakukan apapun di lingkungan perusahaan.


Nara pun melepaskan genggaman tangan Desta dan pergi dari tempat itu yang tentunya dengan perasaan yang kesal karena gagal memberikan Anggi pelajaran. Rasa kesal yang di buat oleh Rey masih belum hilang di tambah dengan ulah Anggi yang membuatnya semakin bad mood.


Desta bergegas mengejar Nara untuk mengingatkan dengan tujuan utamanya, yaitu menemui salah satu klien penting Rey di tempat yang telah di tentukan. Untung saja Nara bisa bersikap profesional hingga tidak ada kesalahan pada saat pertemuan tersebut.


Setelah semua selesai, Nara duduk dengan pikiran yang benar-benar kalut, rasanya enggan untuk dia kembali ke perusahaan. Desta yang melihat Nara seperti itu mencoba duduk di sampingnya, ia memberikan satu gelas air putih untuk meredakan rasa kesal Nara.


"Kau tidak perlu kembali ke perusahaan jika tidak ingin." Ucap Desta yang sudah seperti teman untuk Nara.


"Aku akan pergi jalan-jalan sebentar, jika Rey bertanya pada mu bilang saja aku mati!" Nara beranjak dari duduknya dan meninggalkan Desta sendiri.


Ia melangkahkan kaki nya dengan tanpa arah dan tujuan, tak perduli jika ia kini harus bertemu dengan siapapun termasuk ayah nya.


**


Di tempat lain, seseorang datang menemui Megan yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Asisten Megan tersebut memberikan sebuah berkas yang berisi tentang masalalu Nara yang lengkap dengan tempat dimana ia di lahirkan dulu. Kebenaran tersebut membuat Megan semakin yakin bahwa Nara adalah putri yang di rindukannya selama ini.


Pantas saja sejak pertama ia melihat Nara ada rasa yang tidak biasa dalam tatapan gadis itu ketika menatap nya. Megan segera menghubungi Nara dan untuk mengajak nya makan malam namun gadis itu enggan menerima telfon dari siapapun.


"Ada apa dengan mu?" Tanya Antonio yang tiba-tiba datang menghampiri Megan.


"Apa kau tidak enak badan?" Tanya Antonio kenali.


"Tidak, aku... Nanti kita bicara lagi." Tidak seperti biasanya Megan mengabaikan suaminya seperti itu. Ia pergi ke tempat lain guna untuk menenangkan pikirannya.


Di satu sisi hari mulai gelap, Nara masih belum juga kembali ke rumah, ia duduk di sekitaran taman dengan menggenggam satu kaleng minuman di tangannya. Nara menyandarkan tubuhnya pada kursi taman dan menatap gelap nya langit malam bahkan tidak ada bintang yang menghiasinya.


Ia menghela nafas panjang nya guna untuk memikirkan apa yang selama ini telah terjadi padanya. "Sungguh miris." Gumam Nara yang mengatai dirinya sendiri dengan senyuman getir di bibirnya. Ia meneguk minuman yang di genggam nya dan kembali dengan tatapannya.


Secara tiba-tiba wajah seseorang muncul di atas wajahnya hingga berhasil mengagetkan Nara."Astaga!" Nara langsung mengangkat kepalanya dan membenarkan posisi duduknya. Di lihatnya pria yang telah membuatnya kesal kini berada di depannya.


"Kau mencoba mengabaikan ku?"


"Bukankah kamu sedang asik dengan istri mu? Untuk apa datang mencari ku?" Sahut Nara dengan ketus.


"Maaf jika tadi aku mengabaikan mu, tapi serius aku gak ada niat untuk seperti itu."


"Shitt! Semua ucapan mu modus aku tau disini aku yang salah karena telah mencintai mu tapi kamu juga salah karena perlakuan mu telah membuat aku nyaman."


"Aku membenci mu Rey Marvin Algara!!" Sambung Nara dengan amarah yang telah menggebu dalam dirinya.


"Sshhttt... Aku minta maaf, aku tidak akan mengulangi nya lagi." Rey memeluk Nara walau ia berontak.


"Bolehkah aku egois?" Ucap Nara setelah amarahnya mereda.


"Hm, kau boleh melakukan apapun yang kau mau."


"Aku ingin kau menceraikan Gaby, aku ingin kamu seutuh nya aku gak mau melihat kamu dengan wanita lain."


Deg!


Pilihan yang sangat sulit untuk Rey, bagaimana mungkin ia menceraikan Gaby tanpa alasan, karena rumah tangganya selama ini selalu baik-baik saja di sisi lain Rey juga masih memiliki rasa pada istrinya itu hingga sulit untuk ia memilih diantara salah satunya. "Akan ku pikirkan nanti." Ucap Rey guna untuk menenangkan amarah Nara saat ini, ia merangkul istrinya dan membawa nya pergi dari sana untuk pulang ke rumah.


Selama perjalanan tak hentinya Nara bermanja pada suaminya itu, berbeda dengan Rey yang isi pikirannya penuh dengan nama dua wanita yang telah menjeratnya. Api kecil yang semula ia nyalakan kini harus ia padamkan dengan cara nya sendiri. Tak lama Rey menepikan mobilnya tepat di depan rumah Nara, kedua nya masuk secara bersamaan dan kembali menikmati indahnya malam berdua dengan bercumbu yang membuat Rey candu.


***