
Keesokan harinya, Gaby sibuk dengan kegiatan pagi nya mulai dari menyiapkan sarapan dan membantu Rey memakai dasinya. Walau ada asisten rumah tangga yang bekerja di rumah nya namun dalam hal memasak tidak jarang Gaby langsung terjun ke dapur untuk masak sendiri.
"Hari ini pulang jam berapa?" Tanya Gaby yang baru saja selesai merapikan dari suaminya.
"Belum pasti, kenapa?"
"Mama tadi telfon aku katanya minta antar untuk membeli beberapa perlengkapan untuk besok." Sahut Gaby.
"Pergilah, nanti aku jemput di rumah utama jika pekerjaan ku telah selesai." Ucap Rey.
"Usahakan jangan pulang larut."
"Kenapa?"
"Apa kamu tega membiarkan ku setiap malam menunggu mu? Bahkan kamu pernah sampai tidak pulang ke rumah hanya karena pekerjaan mu jika seperti itu kenapa kamu tidak menilai pekerjaan mu saja dan jangan menikahi ku." Ucap Gaby dengan suara manja nya.
Rey tertawa kecil mendengar penuturan istrinya itu, dia sangat persis seperti anak kecil yang manja pada papa nya. Rey menarik Gaby kedalam pelukannya nya "aku janji malam ini tidak pulang sampai larut." Ucap Rey yang kemudian mengecup kening istrinya.
**
Siang hari, menjalang waktu istirahat Gaby sengaja datang dengan tentengan kotak makan di tangannya. Ia sengaja tidak memberitahu Rey jika ingin mengantar makanan untuknya. Tanpa sengaja sebelum masuk ke ruangan suaminya, Gaby bertemu dengan Anggi yang memanggilnya terlebih dulu.
Gaby pun menghentikan langkahnya dan balas menyapa Anggi. "Haishh kakak.. ada apa kau memanggilku?" Tanya Gaby pada Anggi. Wanita itu meneliti kotak bekal yang di bawa oleh Gaby, ingin merebut namun Gaby berhasil menarik nya ke belakang.
"Ck, apa sih pelit banget." Ucap Anggi.
"Ini buat suami aku, jika kakak mau mampirlah nanti ke rumah."
"Sudah ya, aku kedalam dulu bye." Sambung Gaby yang lanjut berjalan menuju ruangan Rey.
Benar, Anggi adalah kakak sepupu Gaby yang juga merupakan teman dekat Rey. Bukan hanya partner kerja tapi ia juga bisa jadi mata-mata Rey selama di perusahaan. Walaupun hanya kakak sepupu namun Anggi telah menganggap Gaby seperti adik kandungnya sendiri.
Tok tok. . . Gaby menerobos masuk setelah mengetuk pintu, namun ia tidak melihat Rey di mejanya ia pun menaruh kotak bekal di atas meja dan memutuskan untuk mencari suaminya itu. Sampai terlihat Rey yang sedang terlihat menghubungi seseorang dengan raut wajah yang kesal.
"Rey.." Panggil Gaby.
Mendengar suara istrinya Rey langsung memasukkan ponselnya kedalam saku jas dan ia pun menghampiri istrinya itu. "Kenapa tidak bilang mau datang kesini?" Tanya Rey yang kini telah duduk kembali di kursi kejayaannya.
"Kenapa? Apa aku mengganggumu?" Tanya balik Gaby.
Rey menggelengkan kepalanya, ia mengambil kotak bekal yang di bawa Gaby tadi dan langsung membukanya. Tanpa berkata lagi Rey langsung melahap makan siang yang di bawakan oleh istrinya itu. Gaby yang melihat Rey makan dengan lahap membuatnya tersenyum senang.
"Mau gak?" Tanya Rey sambil menyodorkan sendok ke arah mulut Gaby.
"Aku bisa pulang sendiri." Ucap Gaby yang kembali merapikan kotak bekal nya.
Ia segera beranjak dan berbalik menuju pintu, melihat sikap Gaby yang seperti itu membuat Rey tidak enak hati akhirnya ia memutuskan untuk mengantarkan istri nya pulang di sela-sela pekerjaan nya. Tidak ada jam istirahat untuk Rey karena baginya semua waktu itu sama.
"Lain kali gak usah repot mengantarkan makan siang untuk ku, aku bisa makan di luar." Ucap Rey ketika telah sampai di depan rumahnya.
"Apa aku sudah tidak menyukai masakan ku?"
"Bukan seperti itu, hanya saja aku gak mau kamu kelelahan." Sahut Rey membelai rambut Gaby.
"Yaudah aku masuk dulu, kamu hati-hati." Ucap Gaby yang kemudian turun dari mobil dan masuk kedalam rumah.
Rey langsung memutar balikkan mobilnya dengan segera, bukan kembali ke perusahaan melainkan ke tempat tinggal Nara untuk mencarinya karna seharian ini ia tidak bisa menemukan Nara di tempat kerjanya.
Sesampainya di sebuah rumah yang tidak cukup besar namun tidak begitu kecil Rey mengetuk pintu berulang kali namun tidak ada sahutan dari dalam sama sekali, pikirannya kali ini benar-benar kacau, ia takut kejadian kemarin terulang kembali atau terjadi hal lainnya.
Karena sepulang pertemuan kemarin bersama dengan Megan, Rey tidak bisa menghubungi Nara sekali nya tersambung gadis itu tidak menerima panggilannya dan sampai saat ini ponsel Nara tidak bisa di hubungi.
"Dimana sebenarnya kamu berada?" Gumam Rey yang benar-benar mencemaskan Nara.
**
Malam pun tiba, seorang gadis yang masih terkurung dalam kamar di paksa untuk mengganti bajunya dan melayani para tamu yang berada disana. Inara Diona itulah nama gadis yang kini menjadi sanderaan seorang pemilik club' malam.
Benar, kemarin siang ayah Nara berhasil menemukan Nara di jalanan ia berhasil memukul Nara hingga tidak sadarkan diri dan kembali membawanya ke tempat dimana ia menjualnya. Devan begitu ayah Nara bisa mendapatkan keuntungan dari si pemilik club' untuk bermain judi.
Dua orang wanita kini telah berada di kamar Nara guna untuk memakaikan baju serta makeup nya, namun dengan bersikeras gadis itu terus menolak bahkan mengancam bahwa ia akan mengakhiri hidupnya jika terus di paksa seperti itu. Nara mengambil sebuah gunting dan menodongkannya ke lehernya sendiri hingga membuat dua wanita itu tidak bisa berkutik sedikitpun.
Mereka pun keluar dan melaporkannya pada si pemilik club sebut saja namanya Darwin. Tidak lama kemudian, pria itu datang masuk ke kamar Nara ia melayangkan tamparan keras nya tepat di pipi Nara hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Akankah kehidupan lama ku terulang kembali?" Ucap batin Nara yang sama sekali tidak bisa memikirkan bagaimana caranya ia keluar dari sana karena penjagaannya saat ini lebih ketat dari sebelumnya.
"Cepat pakai baju itu! Jika tidak kau akan tau sendiri akibatnya seperti apa!" Bentak Darwin.
"Lakukan semau mu, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah melayani mereka hanya demi kamu mendapatkan uang!" Nara balik membentak Darwin.
Plakk!!
Lagi-lagi Darwin mendaratkan tamparannya di pipi Nara hingga membuat gadis itu tersungkur. "Beraninya kau melawanku!" Bentak Darwin kembali tanpa rasa belas kasihan, ia pun menyuruh dua wanita tadi untuk melepas pakaian Nara dan menggantinya dengan baju yang telah di siapkan. Bukan hanya baju tapi ia juga telah menyiapkan seorang pria untuk Nara.
***