
Terlihat Nara yang sedang membersihkan kaca jendela sambil loncat-loncat karena ia tidak sampai untuk di bagian atas nya kebetulan disana tidak ada kursi ataupun tangga untuk menjadi pijakan Nara. Denis yang melihatnya pun langsung menghampiri Nara dan membantunya untuk membersihkan bagian atas.
"Oh Denis makasih." Ucap Nara tersenyum ke arah gadis itu.
Tanpa Nara ketahui, seseorang sedari tadi memperhatikannya dari jarak yang tidak begitu jauh. Ya, Rey diam-diam memperhatikan Nara sebelum ia masuk ke ruang meeting. Melihat gadis nya di dekati pria lain membuat Rey merasa cemburu, ingin rasanya ia menarik Nara pergi dari sana namun ia tetap harus menahan emosinya.
"Apa harus aku jadikan dia sebagai asisten pribadi ku?" Gumam Rey yang masih menatap Nara bersama dengan Denis.
"Pak."
"Pak Marvin." Panggil Desta seraya menepuk pundak Rey yang sedang terlihat melamun.
Rey langsung menoleh dan mendapati Desta yang telah berdiri di belakangnya, entah dari kapan dia berdiri disana yang jelas sudah cukup lama memperhatikan Rey yang menatap keakraban Nara dengan Denis bisa jadi ia mendengar Rey bergumam tadi.
"Meeting nya sudah mau di mulai, mau sampai kapan kau berdiri disini menatap mereka?" Tanya Desta.
"A-aku? Menatap mereka? Untuk apa? Sungguh tidak ada gunanya." Sahut Rey yang tidak mengakui semuanya.
Ia pun bergegas pergi menuju ruang meeting, sementara dengan Desta menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rey yang seperti itu. Ia tahu betul bagaimana sikap Rey jika sedang mengagumi seseorang. "Dia ingin menjadikan Nara sebagai asisten pribadinya? Apa aku tidak salah dengar?" Gumam Desta. Walau Rey mengatakan hal itu dengan suara pelan namun karena jarak Desta dan Rey begitu dekat ia masih bisa mendengarnya.
"Desta!" Panggil Rey.
"Ya?"
"Apa kau sudah mulai bosan bekerja?"
"Siap pak!" Ucap Desta yang langsung melesat menghampiri Rey yang tengah berdiri di depan pintu.
Di sela-sela kesibukan semua karyawan, Nara beristirahat sejenak ia duduk di sebuah kursi dalam ruangan istirahat sambil memegang gelas minum nya.
"Nara katakan sekarang juga!"
"Huh? Apa yang kau maksud?"
"Siapa pria yang foto bareng sama kamu? Kenapa kamu menutupi wajahnya?"
"Ohh itu tunangan ku, sengaja aku tutup takut ada yang naksir hehe." Sahut Nara.
"Woahhh... Kau bahkan sekarang memakai kalung yang indah dan elegan apa itu berlian asli? Apa tunangan mu seroang sultan?" Tabya Windy yang sangat tertarik dengan kehidupan Nara. Gadis itu pun hendak menyentuh kalung yang melingkar di leher Nara namun ia segera mengelak nya.
"Jelas ini asli jadi jangan berani kamu menyentuhnya."
"Yak! Sombong sekali kau ini."
Nara pun tertawa lepas, tentu saja ia hanya bercanda mengatakan hal itu. Nara pun mengizinkan Windy untuk menyentuh kalung yang di pakai Nara. "Woahh... Lihat tanganku sampai bergetar seperti ini ketika menyentuh nya." Ucap Windy.
"Ck, lebay tau gak?" Sahut Nara yang kembali tertawa.
Di tengah canda gurau mereka Dewi datang dan menegur keduanya bukan malah takut, Nara dan Windy malah mengejek atasannya itu sambil berjalan keluar. "Inara!" Panggil Dewi menghentikan langkah gadis itu.
"Pak Rey menyuruh mu untuk membutakan kopi dan segera kamu antarkan ke ruangannya."
"Ingat jangan pakai gula." Sambung Dewi yang kembali keluar.
Nara segera membuat kopi dan mengantarkannya ke ruangan Rey. Bukan semata-mata karena ingin minum kopi tetapi itu hanya alasan untuk Rey agar bisa bertemu dengan Nara secara langsung. "Kopi nya pak." Ucap Nara sambil bercanda dan meletakkan cangkir itu di meja.
"Berhenti disitu." Ucap Rey dengan tatapan yang masih sama yaitu pada layar laptop nya.
Nara pun berganti dan kembali berbalik, ia menetap heran pria yang berada cukup jauh darinya itu. Tak lama Rey beranjak dan menghampiri Nara dengan tatapan yang tidak biasnya.
"Sedekat apa kau dengan pria itu?"
"Ha?"
"Kamu pikir aku gak melihat semuanya? Kalian membersihkan kaca bersama sambil bercanda."
"Ffttt... Hahaha. . ." Nara tertawa lepas mendengar apa yang di katakan Rey untunglah ruangan itu kedap suara hingga tidak terdengar sampai luar.
"Apa ini artinya kau sedang cemburu hm? Aku sama Denis hanya teman, dia cuma membantu ku udah itu aja."
"So you don't have to be jealous baby." Nara menarik dasi Rey hingga wajah mereka saling berdekatan.
Dengan inisiatif sendiri, Nara mengecup bibir Rey hingga pria itu merasa terpancing karena ulahnya. Kini Rey yang kembali menuntun permainan, ia menggiring Nara berjalan hingga sampai di meja nya. Rey menggendong tubuh Nara dan mendudukkannya di atas meja tanpa melepas pagutan nya.
"Nakal." Ucap Nara ketika Rey telah melepaskan pagutannya.
"Kau yang memulainya duluan."
"Itu aku lakukan untuk meredakan rasa cemburu mu sayang."
"Boleh aku meminta lebih?" Rey menyelusupkan tangannya ke dalam kemeja Nara hingga membuat gadis itu seolah tersetrum.
"No! Bagaimana jika ada orang yang tahu?"
"Aku akan mengunci pintunya."
Nara kembali menggelengkan kepalanya, meskipun ia gila sekalipun ia tidak ingin melakukan itu di saat jam kerja. Tok tok tok... Terdengar suara ketukan pintu, Nara yang masih duduk di atas meja langsung turun dan merapikan bajunya begitu juga dengan Rey yang kembali duduk di kursinya.
Nara langsung pamit dan berjalan ke arah pintu, di saat bersamaan seorang wanita masuk dengan mengenakan pakaian elegan serta jalan dengan begitu anggun. Ia melirik Nara sekilas yang berpapasan dengannya.
"Sepertinya kau sibuk hari ini." Ucap Megan menhampiri putranya.
"Oh mama, hal apa yang membuat mu datang kesini?"
"Tidak ada, tadi hanya kebetulan lewat jadi sekalian mama mampir kesini."
"Gadis tadi bukan nya..."
"Ya, dia office girl disini."
"Bukan, maksud mama.."
"Di acara gala dinner satu tahun lalu itu memang dia." Sahut Rey sebelum Megan menyelesaikan ucapannya.
Megan hanya mengangguk-anggukan kepalanya, ia pun mulai membuka pembicaraan nya mengenai promil yang di lakukan Rey dan juga Gaby, sudah cukup lama mereka menikah namun masih juga belum berhasil. Wajar saja jika Megan dan Antonio mendesak Gaby dan juga Rey untuk segera mempunyai putra karena mereka membutuhkan seorang pewaris.
Selesai berbicara dengan Rey, Megan kembali keluar namun tidak langsung pulang melainkan ia berkeliling untuk mencari keberadaan Nara.
***