Ceo'S Secret Wife

Ceo'S Secret Wife
Bab 20



Malam pun tiba, setelah mengunjungi beberapa tempat namun Rey masih belum bisa menemukan keberadaan istrinya itu. Ia pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam tidak biasanya Gaby pergi dalam waktu yang cukup lama kecuali bersama dengan nya.


Di saat Rey menyandarkan dirinya di atas sofa, ponsel yang baru saja ia taruh di atas meja berdering. Pikirnya Gaby lah yang menghubunginya karena sedari tadi ia terus menelfon Gaby namun tidak ada jawaban satu pun.


Setelah melihat layar ponselnya tertulis nama Nara disana. Sedikit kecewa dalam diri Rey, ia pun segera menerima panggilan terebut dan bicara dengan Nara.


"Lama banget jawab telfon nya, lagi sibuk kah?"


"Enggak, kenapa?"


"Hanya merasa sepi aja di rumah sendiri."


"Yaudah aku temenin kamu malam ini."


"Bagaimana dengan Gaby? Kau akan meninggalkan nya sendiri?"


"Aku kesana setelah Gaby terlelap."


"Ahh yaudah, aku tunggu."


"Hm."


Rey menutup sambungan telfon nya dan dan bersiap untuk menemui Nara. Ia pun keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan Gaby yang baru saja pulang. Melihat penampilan Rey yang cukup rapi membuat Gaby sedikit bertanya kemana suaminya akan pergi. Rey menyambut Gaby dengan penuh kehangatan dan langsung merangkulnya.


Perlahan ia bertanya kemana dan dengan siapa Gaby pergi sampai harus pulang semalam itu bahkan telah membuatnya menunggu cukup lama. Gaby pun menjawab satu persatu pertanyaan suaminya dengan apa adanya, ia mengatakan bahwa pergi bersama dengan Anggi hanya untuk sekedar berjalan-jalan.


"Tumben jam segini udah ada di rumah, pekerjaan mu sudah selesai kah?" Tanya Gaby.


"Emm... Berkat bantuan Nara semuanya selesai lebih cepat."


"Ohh benarkah? Bagus dong jadi kamu gak perlu lembur lagi sayang kan suami aku jadi punya mata panda kayak gini." Ucap Gaby yang menunjuk kedua mata Rey.


"Benarkah? Aku lihat di cermin biasa aja."


"Hehe... Aku cuma bercanda sayang, mana mungkin suami ku yang tampan ini memiliki mata panda." Sahut Gaby dengan manja memeluk Rey.


Gaby mengendus wangi tubuh Rey yang cukup menyengat, memang sudah terbiasa baginya namun kali ini sedikit berbeda dari yang biasanya. "Kamu mau pergi?" Tanya Gaby menatap suaminya. Rey hanya mengangguk menyahuti pertanyaannya istrinya, ia mengatakan bahwa akan bertemu dengan beberapa teman kuliah nya sekaligus reuni.


"Aku boleh ikut gak?" Tanya Gaby.


"Ingat lagi promil, gak boleh tidur larut malam." Sahut Rey.


"Yahh... Padahal ingin sekali aku ikut gabung sama teman-teman kamu, pasti itu menyenangkan." Ucap Gaby yang memanyunkan bibirnya.


"Lain kali aku ajak kamu bertemu mereka ok? Sekarang tidur lah kamu harus banyak istirahat." Rey merangkul Gaby dan membawanya masuk ke kamar.


Gaby yang memang pada dasarnya gadis lugu dan penurut itu selalu menuruti apa yang di katakan oleh suaminya. Setelah meminum vitamin nya tidak lama Gaby pun terlelap, melihat istrinya yang sudah tertidur pulas Rey bergegas keluar dan pergi menuju rumah Nara.


"Apa yang sedang istri ku lakukan hm?" Ucap Rey yang langsung memeluk Nara dari belakang, tidak lupa ia mengecup bahu Nara yang sudah menjadi kebiasaannya itu.


"Emh.. Marvin." Nara sedikit merinding akibat perlakuan suaminya itu.


Rey yang seolah haus akan sebuah hubungan s*x terus menggoda Nara hingga gadis itu merasa te.rang.sang namun ia mencoba mengendalikan diri agar tidak melakukannya saat itu juga. Entah haus akan hal itu atau memang karena Nara telah menjadikannya candu yang jelas Rey sangat menyukai jika sedang berhubungan dengan Nara.


"Sudah cukup Marvin, kau ini memang kebiasaan." Protes Nara yang melepaskan diri dari delapan suaminya.


"Kenapa? Kau tidak mau melakukannya dengan ku?"


"Bukan, aku hanya ingin kamu mencicipi ini dulu." Sahut Nara memberikan satu piring cookies.


"Tapi aku mau mencicipi mu." Ucap Rey yang lagi-lagi menggoda Nara.


"Bukankah sudah sering kau lakukan? Apa terlalu menggoda sampai kau ketagihan?"


"Karena kau telah menjadi candu bagi ku." Ucap Rey yang ingin menerkam Nara namun wanita itu berhasil mengelak.


"Tangkap aku jika kau bisa." Nara cengengesan dan berlari ke sisi lain hingga terjadi kejar-kejaran dalam rumah nya sebelum akhirnya mereka bersantai dia depa sebuah layar televisi dengan film yang diputar nya.


Nara menyandarkan kepalanya di bahu Rey, begitu juga dengan suaminya yang merangkul sang istri dengan penuh kasih sayang. Waktu terus berlalu, malam pun semakin larut rasa kantuk pun mulai menghampiri Nara. "Kau sudah mengantuk?" Pertanyaan Rey hanya di sahuti dengan anggukan oleh Nara.


Ia pun menggendong Nara membawanya masuk kedalam kamar, di tidurkan nya sang istri di atas ranjang dengan agresif nya Rey langsung menerkam Nara tepat di bagian yang menjadi favoritnya itu. Suara merdu yang di keluarkan Nara terus saling bersahutan sampai mencapai puncak dengan kli.maks yang luar biasa.


Sebelum mentari pagi menampakkan sinarnya, Rey telah kembali ke rumahnya meninggalkan Nara yang masih terlelap dengan balutan selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Gaby meraba sebelahnya dan mendapati Rey yang tengah terbaring di sampingnya. Ia sedikit membuka matanya dan tersenyum ketika melihat wajah tampan suaminya itu. "Pulang jam berapa semalam?" Gaby membenarkan posisinya memeluk Rey dengan mata yang masih mengantuk.


"Jam berapapun itu yang jelas kamu masih di alam mimpi." Sahut Rey.


Gaby sedikit terkekeh mendengar jawaban suaminya itu. Selagi masih ada waktu rasanya ia tidak ingin beranjak dari posisinya saat ini. Drrtt... Drrtt.... Sebuah panggilan masuk di ponsel Rey, ia segera menerima panggilan tersebut yang tidak lain dari Desta. Setelah menutup telfon nya Rey langsung beranjak dan bergegas masuk ke kamar mandi.


"Padahal lagi di posisi nyaman, kenapa harus ganggu sih?" Gumam Gaby yang kesal.


Tidak lama Rey keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang telah rapi. Berbeda dengan Gaby yang masih tengkurap di atas ranjang memperhatikan suaminya itu. Rasanya malas untuk beraktivitas hari ini, Gaby lebih memilih untuk rebahan tanpa mempersiapkan apapun untuk suaminya.


"Kenapa dengan mu? Gak biasanya kau malas seperti itu." Tanya Rey yang melihat Gaby.


"Entah, rasanya badan aku terlalu lemas untuk bergerak." Sahut Gaby.


Rey langsung menghampiri Gaby kembali dan mengecek suhu tubuhnya untuk memastikan jika istrinya itu dalam keadaan baik-baik saja. "Suhu badan mu normal, apa ad bagian lain yang sakit?" Tanya Rey yang sangat memperhatikan Gaby.


Wanita itu menggelengkan kepalanya, "aku baik-baik saja." Sahut Gaby. Mendengar jawaban istrinya membuat Rey lebih tenang untuk meninggalkannya.


****