Ceo'S Secret Wife

Ceo'S Secret Wife
Bab 35



Plak!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rey yang dilakukan langsung oleh Antonio. Rey yang baru saja datang bersama dengan Nara tidak kaget ketika ia mendapatkan tamparan itu karena ia sendiri sadar akan kesalahan yang telah di perbuat nya.


Sementara dengan Gaby hanya terdiam melihat suaminya di perlakukan seperti itu oleh papa nya sendiri. Dengan sisa air matanya yang menetes Gaby menghampiri Nara dan hendak melakukan hal yang sama yang di lakukan oleh Antonio pada putranya.


Namun dengan sigap tangan Rey menahan nya dan melindungi Nara di belakangnya. Tentu saja hal itu membuat Gaby semakin marah dan merasakan sakit yang luar biasa di hatinya. "Jangan kau berani menyentuhnya." Ucap Rey dengan suara yang datar.


"Jadi dugaan ku selama ini benar? Dia bukan hanya asisten mu tapi juga selingkuhan mu!"


Rey menghela dan mengusap wajahnya kasar. Terpaksa ia mengatakan semua kebenaran nya. Bukan hanya Gaby yang marah tetapi juga Antonio yang begitu kecewa dengan apa yang di lakukan oleh putranya itu. Lain hal nya dengan Megan yang merangkul Nara guna untuk menenangkannya.


"Kau tau semuanya dari awal? Dan kau menyembunyikan semuanya seolah tidak tahu apa-apa iya?!" Bentak Antonio pada Megan.


"Itu benar, karena aku hanya ingin melindungi putri ku."


"Kau!!"


"Cukup tuan!" Ucap Nara yang menghentikan Antonio ketika akan menampar Megan.


"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mama, kita sudah berhubungan dan menikah jauh sebelum aku mama mengetahui bahwa aku adalah putrinya!"


"Kau boleh menghukum ku tapi tidak dengan mama." Ucap Nara yang membela mama nya.


"Enggak Nara, kamu lagi hamil anak Rey kamu tidak boleh menerima hukuman apapun." Sahut Megan.


Lagi-lagi Antonio dan Gaby di buat tercengang dengan ucapan Megan barusan. Mereka tidak menyangka bahwa Rey bisa melakukan hal sejauh itu. Di saat itu juga Gaby meluapkan amarah nya pada suaminya itu yang tidak bisa lagi ia pendam. Bahkan Gaby meminta Rey untuk segera menceraikan nya jika ia tetap ingin bersama dengan Nara.


Tidak mungkin untuk Rey menceraikan dan meninggalkan Nara yang sedang hamil anak nya namun ia juga tidak mampu untuk melepaskan Gaby yang telah bersama sudah cukup lama. Akhirnya Antonio memberikan pilihan sesuai dengan apa yang di katakan Rey tempo lalu pada Nara.


Jika Nara melahirkan seorang anak laki-laki maka ia berhak untuk tetap tinggal bersama dengan Rey tapi jika sebaliknya, maka Nara yang harus pergi meninggalkan Rey dan membawa anak yang di lahirkan nya sejauh mungkin.


Rey menyetujui itu namun Gaby tetap tidak menerimanya, ia memilih untuk pergi sampai saatnya Nara melahirkan nanti. Tanpa berkata lagi Gaby meninggalkan rumah itu, ingin rasanya Rey mengejar Gaby namun niatnya di tahan oleh Nara yang menghalanginya untuk pergi hingga akhirnya ia tetap diam di tempat dalam situasi yang masih tegang.


"Bawa dia pergi dari sini dan jangan pernah membawanya kembali sampai waktunya tiba!" Ucap Antonio dengan tatapan yang penuh kebencian.


Rey memutar balikkan tubuhnya dan hendak membawa Nara pergi dari rumah itu, namun sebelum mereka keluar dari rumah, Megan menahan Nara dan memberikannya sebuah gelang yang selalu ia pakai selama ini. "Jangan terlalu memikirkan banyak hal, fokus saja dengan kesehatan mu dan jaga calon cucu mama dengan baik." Ucap Megan yang memberikan semangat pada putrinya.


Nara mengangguk dan bergegas pergi bersama dengan Rey menuju rumah yang sebelumnya mereka tempati. Di sisi lain, setelah keluar dari rumah Antonio, Gaby pergi menemui Anggi di rumah nya. Ia menceritakan semua kebenarannya pada kakak sepupunya itu dengan air mata yang terus mengalir.


Anggi yang mendengar itu sangat tidak terima dengan apa yang di lakukan Rey pada adik sepupunya. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan amarah yang menyeruak dalam dada, ingin rasanya Anggi menemui Rey saat itu juga namun berhasil di tahan oleh Gaby.


*


Satu hari berlalu, kini saatnya kembali aktivitas seperti biasanya, Rey kembali ke perusahaan namun tidak dengan Nara, ia menyuruh istrinya untuk tetap berada di rumah menjaga kandungannya yang di temani oleh beberapa asisten rumah tangga.


Sesampainya di perusahaan, Rey di sambut oleh beberapa wartawan untuk mengonfirmasi kebenaran mengenai berita yang tersebar kemarin. Tidak ada waktu, Rey menerobos masuk dan mengabaikan beberapa wartawan di luar sana.


Ia masuk kedalam ruangan nya dan duduk di kursi kejayaan miliknya. Tidak lama datang seorang gadis yang langsung menerobos masuk dan berdiri di depan Rey. Ya, dia adalah Anggi yang sudah menahan amarahnya semalaman. Rey bersandar menatap wajah gadis itu yang kini amarahnya sudah di ubun-ubun.


"Bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk?" Ucap Rey dengan tatapan datar.


"Dasar pria gak tau malu! Bisa-bisanya kamu mengkhianati Gaby yang selama ini sudah setia bersama mu!"


"Hanya karena dia belum bisa memberi mu keturunan kamu tega melakukan itu!"


"Kumpulkan tenaga mu untuk bekerja bukan marah-marah gak jelas!"


"Ku pastikan kau akan menyesal Rey Marvin!"


"Dan ingat satu hal, aku gak akan membiarkan wanita itu bahagia di samping mu!" Sambung Anggi kembali.


Gadis itu melangkah pergi dan perlahan menjauh dari meja kerja Rey, sebelum dirinya sampai di depan pintu Rey memberinya satu peringatan untuk tidak berani menyentuh atau mendekati Nara sedikitpun. Tidak takut dengan ancaman Rey, Anggi menarik sudut bibirnya seolah ia telah merencanakan sesuatu.


Rey mengepalkan tangannya dan memukul meja di depannya untuk melampiaskan amarahnya saat ini. Bukan hanya Gaby tapi juga dirinya yang kini merasa frustasi entah apa yang harus ia lakukan saat ini. Mencintai dua wanita sekaligus sangatlah tidak mudah apalagi ia di hadapkan dengan yang namanya sebuah pilihan.


Walau pada awalnya Nara hanyalah istri rahasia Rey, tapi perlahan Nara ingin menjadi satu-satunya yang ada di hati Rey. Terlebih ia telah berhasil memberikan keturunan untuk Rey dan keluarganya walau masih belum pasti namun Nara sangat yakin jika bayi yang di kandungnya seorang anak laki-laki yang akan menjadi pewaris.


"Kau tidak perlu cemas, mama pastikan papa mu hanya akan menjadi milik kita seutuhnya." Ucap Nara yang bicara sendiri seraya mengelus perutnya.


Tok tok tok. . .


"Permisi nyonya, ada tamu yang ingin bertemu dengan mu." Ucap salah satu asisten rumah tangga Nara.


"Siapa?" Tanya Nara dari dalam kamarnya.


"Dia tidak menyebutkan namanya, hanya ingin bertemu langsung dengan nyonya." Sahut asisten rumah tangganya kembali.


"Baiklah, sebentar lagi aku keluar." Sahut Nara yang langsung beranjak dan sedikit merapikan rambut serta baju nya.