
Di tengah kesibukannya dalam mengurusi beberapa berkas, Nara melihat ponsel Rey yang berdering dengan tulisan nama Gaby yang tertera disana, ia pun langsung mengambil ponsel milik suaminya itu dan memberikannya pada Rey yang tengah sibuk dengan pekerjaan nya saat ini.
Rey menatap layar ponselnya sejenak ketika Nara memberikannya, awalnya ia tidak berminat untuk menerima panggilan dari Gaby namun karena Nara yang meminta akhirnya Rey menerima panggilan tersebut dan sedikit menjauh dari Nara.
Terbesit rasa sakit dalam hati Nara namun itu salah satu resiko yang harus ia terima saat ini. Melihat Rey yang cukup panik membuat Nara terus bertanya-tanya dalam dirinya apa yang terjadi dengan Gaby. Pria itu langsung memakai jas nya dan bergegas pergi dari ruangannya seolah ia tidak melihat Nara disana.
Dengan inisiatif sendiri Nara pun mengejar Rey sampai akhirnya pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Nara. Rey mendesis pelan bisa-bisanya ia lupa dengan sosok Nara yang saat ini berada di sampingnya. Nara pun mengutarakan isi pikirannya ia menanyakan apa yang terjadi dengan Gaby sampai Rey secemas itu.
Tanpa menjelaskan semuanya, Rey lebih memilih untuk mengajak Nara ke rumah nya, bukan maksud untuk melukai hati bara namun ia tidak bisa meninggalkan Nara begitu saja, dengan kata lain mungkin Rey tidak bisa jauh dari keduanya.
Sesampainya di rumah mewah, Rey bergegas turun dan di ikuti langsung oleh Nara tidak hanya sampai ruang tamu, Nara mengikuti suaminya itu sampai pada pintu kamar yang mungkin dengan sengaja tidak di tutup kembali oleh pria itu.
Rey langsung menghampiri Gaby dan memberikan perhatian penuh padanya yang masih meringkuk di atas ranjang. Iri dan sakit hati tentu saja hal itu di rasakan oleh Nara yang melihat mereka secara langsung, namun bagaimanapun juga ia harus sadar diri jika Gaby mungkin yang utama untuk Rey.
Tidak, pada kenyataannya Nara tidak bisa tinggal diam ia tidak bisa membiarkan itu terjadi begitu saja di depan matanya. Nara pun mengetuk pintu dan langsung masuk ke kamar suaminya bersama dengan Gaby, ia melihat setiap sudut yang tertata begitu rapi sampai tatapannya terhenti pada sebuah foto pernikahan Rey dan Gaby.
"Kau membawa dia kesini?" Tanya Gaby dengan suara yang lemah.
Rey melirik melihat Nara, ia langsung menjaga jarak dengan Gaby "ahh iya, karena dia asisten pribadi ku jadi dia ikut kemana aku pergi." Sahut Rey menjelaskan semuanya. Nara hanya tersenyum dengan sedikit mengangguk menyapa Gaby yang terbaring.
Nara pun berinisiatif untuk mengambil obat dan air hangat untuk mengompres perut Gaby, jika sebelumnya hal itu selalu di lakukan oleh Rey maka kali ini itu sudah bukan jadi tugas Rey lagi, Nara yang akan mengurus semuanya nya sampai Gaby merasa baikan.
Benar saja selang beberapa waktu, rasa sakit di perut Gaby pun mulai menghilang, Nara yang melihat itu akhirnya bernafas lega karena tidak bagus menyaksikan kemesraan suaminya dengan wanita lain walau itu istri pertamanya.
"Maaf pak Rey, sepertinya masih ada beberapa hal yang harus di urusi." Ucap Nara yang mencoba membawa Rey keluar dari kamarnya.
"Ohh iya, sementara kamu handle biar nanti sisanya aku yang bereskan." Sahut Rey yang tidak mengerti dengan maksud Nara.
"Baiklah aku permisi, selamat menikmati hari mu!" Ucap Nara dengan kesal namun ia ekspresi kan dengan senyuman yang sangat penuh arti.
Nara pun bergegas keluar dengan langkah yang sedikit di hentakan, ia memilih untuk berjalan kaki agar bisa melampiaskan kekesalannya selama di jalan. Entah itu kebetulan atau buka lagi-lagi Nara bertemu dengan papa nya di saat ia tidak bersama dengan Rey. Seperti biasa pria tua itu meminta uang ganti rugi pada Nara karena telah kabur dari club.
Duaakkk...
Seseorang tiba-tiba datang dan menonjok wajah papa Nara hingga sempoyongan. "Kamu gak papa?" Nara hanya mengangguk menyahuti ucapan orang itu. Pria itu pun kembali berbalik dan secara langsung bertatap muka dengan orang yang telah memukul nya.
Deg!
Jantung Megan seakan berhenti berdetak ketika ia melihat siapa yang di tonjok nya tadi. Dengan segera Megan membawa Nara pergi dari tempat itu dan masuk kedalam mobilnya, sebelum pria itu bertindak Megan telah lebih dulu menginjak pedal gas nya dan melesat pergi menjauh.
Di rasanya cukup aman Megan menurunkan kecepatan mobilnya dan melihat Nara sesekali. Nara yang masih terdiam tidak membuka suaranya sedikit pun entah ia takut dengan Megan atau karena hal lain yang menganggu pikirannya.
"Bukankah jam segini harusnya kamu masih di perusahaan? Kenapa berkeliaran di jalan?"
"Itu tadi aku habis...."
"Dari rumah Rey?" Ucap Megan yang menyela ucapan Nara.
Nara pun menoleh ke arah Megan, ada rasa takut dalam diri nya tapi ada rasa nyaman yang ia rasakan secara bersamaan. Megan menepikan mobilnya di depan sebuah cafe, alangkah baiknya ia pikir jika mengobrol di dalam sana daripada si dalam mobil.
Megan memesan dua gelas minuman untuk nya dan juga Nara, mereka duduk secara berhadapan hingga bisa langsung asking bertatap muka. Tanpa ingin basa basi Megan langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi tadi. Nara pun mengatakan yang sebenarnya jika yang tadi memaksanya itu adalah papa nya.
Sontak pernyataan Nara membuat jantung Megan seolah kembali berhenti ia membelalakkan matanya menatap tidak percaya dengan apa yang di katakan wanita di depannya itu. "Kau bilang dia adalah papa mu?" Ulang Megan untuk meyakinkan nya.
Nara hanya mengangguk menjawab pertanyaan tersebut. Tidak ingin semua orang mengetahui latar belakangnya Nara memutuskan untuk tidak menceritakan semuanya, pikirnya cukup Rey yang tahu mengenai masa kelam nya.
Megan terus menatap Nara dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Namun ia segera menyembunyikannya dari tatapan Nara dengan cara memalingkan wajahnya. Tidak lama setelah berterimakasih Nara pun pamit untuk kembali ke perusahaan. Selama dalam perjalanan, tak hentinya ponsel Nara terus berdering setelah ia melihat siapa yang memanggilnya Nara mengabaikan panggilan tersebut dengan begitu saja.
****