
Setelah menceritakan sedikit masa lalu nya dengan Amelia ia merasa sedikit lega seperti beban yang sangat berat sudah mulai terangkat.
Keduanya sedang berbaring di atas sofa yang sempit dengan posisi kepala Amelia bertumpu pada lengan Bastian. " Sayang, aku lapar. Pesankan aku makanan. Kenapa di Apartemen mu sepi sekali tidak banyak perabotan apalagi tidak ada televisi aku sungguh bosan," ucap Amelia sambil melihat sekelilingnya karena Ia baru sadar Apartemen ini begitu sederhana.
Mendengar itu Bastian tersenyum. karena Amelia mengingatkan dia pada Axel yang biasanya Axel lah yang ribut lapar kepadanya. " Karena aku sudah terbiasa seperti ini. Apa perlu aku membeli televisi untuk mu atau aku harus membeli apartemen yang baru saja yang lebih luas dari ini. Bagaimana menurutmu?" ucap Bastian sambil membelai pipi Amelia yang ada di sampingnya ini.
" Cukup kau beli televisi saja Aku tidak ingin disebut matre oleh mu,"
" Apa itu matre? Kau ingin pesan makanan apa? biar aku pesankan." Bastian pun bangun dan mengambil ponselnya yang ia taruh di atas meja.
" Itu singkatan dari materialistis. Seterah kau saja," ucap Amelia. Yang mendapat anggukan kepala oleh Bastian bahwa ia mengerti dengan istilah itu
Bastian pun memesan berbagai jenis makanan yang mungkin Amelia suka.
Setelah memesan makanan Bastian berjalan mendekati Amelia yang berada di sofa.
Bastian mengecup bibir Amelia dan mengusap pipi merah Amelia dengan sangat lembut.
Amelia hanya memperhatikan apa yang Bastian lakukan sekarang. Ia merasa senang diperlakukan seperti itu, ia merasa cintanya selama ini terhadap Bastian sudah terbalaskan.
Cup
Bastian mengecup bibir Amelia lagi. " Kenapa kau diam saja?" Amelia tersenyum " Aku masih tidak percaya dengan semua ini. Jika ini mimpi aku tidak ingin terbangun, jika ini nyata aku tidak ingin semuanya cepat berlalu," Amelia menjawab sambil menatap Bastian yang sedang berjongkok di hadapan nya.
" Ini bukan mimpi honey. Semuanya nyata dan kita akan seperti ini selamanya," ucap Bastian yang menggenggam jemari Amelia dan mencium nya.
Sudah 30 menit berlalu. Terdengar suara bel berbunyi dengan segera Bastian membuka pintu dan ternyata pesanannya sudah sampai. Bastian pun menerimanya dan berjalan kembali ke dalam.
Bastian menyajikan semua makan di atas meja dan Mereka pun makan tanpa mengobrol hingga akhirnya mereka menyelesaikan makanan mereka.
" Aku ingin pulang Bas," ucap Amelia setelah selesai makan.
" Sudah ku katakan panggil aku dengan sebutan sayang. Apakah kau tidak ingin disini lebih lama?"
" Maaf aku lupa, aku belum terbiasa dengan sebutan baru itu. Aku ingin pulang saja, kapan-kapan aku akan datang kesini lagi,"
" Baiklah, kalau kau ingin pulang. Biar aku antar," Bastian pun beranjak dan mengambil kunci mobilnya.
Mereka pun berjalan menuju basement dimana mobil Bastian terparkir.
Setelah sampai di basement, Bastian membukakan pintu mobil untuk Amelia dan tangan nya melindungi kepala Amelia saat Amelia masuk kedalam mobil.
Amelia merasa diperlakukan istimewa oleh Bastian. " Terima kasih," ucap Amelia saat Bastian sudah duduk di bangku kemudi.
" Untuk apa?" tanya Bastian bingung.
" Untuk semua nya," Amelia menatap wajah Bastian yang ada di sampingnya dengan senyum yang lebar menghiasi wajahnya.
Bastian tersenyum saat ditatap seperti itu oleh Amelia. " Aku tidak melakukan apapun, jangan berterima kasih padaku," Bastian pun mengelus ujung kepala Amelia dengan lembut.
" Aku akan bilang tentang hubungan ini ke Daddy aku tidak mau menutupi hubungan ini dari Daddy, karena Daddy segalanya untuk ku. Apa kau setuju dengan itu?" tanya Amelia.
Akhirnya mobil yang ditumpangi Bastian dan Amelia sampai di mansion. Amelia ingin turun tetapi langsung ditahan oleh Bastian.
" Ada apa?" tanya Amelia heran.
" Kau tidak ingin menciumku dulu sebelum pergi," Bastian pun menyodorkan pipinya mendekati Amelia.
Amelia yang melihat itu tersenyum karena ia melihat sisi lain dari Bastian.
' lihat lah dia sekarang begitu manja padaku, padahal dulu dia begitu dingin terhadapku. Apa dia mempunyai kepribadian ganda,' gumam Amelia di dalam hati.
Amelia pun mendekati Bastian untuk mencium pipinya. " be careful, sayang," ucap Amelia setelah ia mencium Bastian. " Good night, honey," balas Bastian.
Mobil pun melaju menjauh meninggalkan mansion Amelia.
Amelia pun masuk ke dalam dan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Ia ingin membersihkan diri terlebih dulu sebelum tidur, ia harus bangun pagi besok karena ada jam kuliah pagi.
****
Saat ditengah perjalanan ponsel khusus Bastian berbunyi, dilihatnya ternyata sebuah tugas dari bos Kevin sudah menanti untuk dikerjakan. Bastian menaruh ponselnya lagi, ia menghembuskan napas dengan sangat berat. Padahal ia baru saja pulang dari chicago.
" Bagaimana tanggapan Daddy Amelia tentang hubungan ini, apa dia akan menerima ku," gumam Bastian seorang diri.
Bastian memutuskan untuk ke studio fotonya ia ingin bertemu dengan Axel karena ia belum melihat Axel lagi setelah di club malam itu.
Mobil Bastian pun sampai di depan studio foto dan ia masuk ke dalam menghampiri Axel yang ternyata sedang mengedit sebuah foto.
" Ya, lihatlah siapa yang datang?" goda Axel sambil tersenyum melihat Bastian yang ada di sebelahnya.
" Apa?" ucap Bastian dingin.
" Aku butuh penjelasan Bas, apa lagi?" ucap Axel yang langsung menutup laptopnya dan ia beralih menatap Bastian.
Mau tidak mau Bastian pun menjelaskan semuanya kepada Axel. Tentang pertama kali ia bertemu Amelia, bagaimana Amelia yang pertama kali menyatakan cinta dan yang lainnya.
Axel yang mendengar itu pun tertawa, karena semua itu lucu menurutnya. Sekarang ia paham siapa gadis kecil yang Bastian sebut-sebut saat mabuk itu.
" Apa sekarang kau bahagia?" tanya Axel setelah ia bisa meredakan tawanya.
" Aku bahagia dan takut secara bersamaan," jawab Bastian lirih.
" Kenapa?"
" Aku takut, saat nanti Amelia mengetahui pekerjaan ku dan apakah Daddy Amelia akan merestui hubungan ini bila aku tetap bekerja sebagai sniper, karena Daddynya sudah mengetahui pekerjaan ku apa. Aku bahagia akhirnya aku bisa sedikit melupakan Aurora. Apakah kamu tau, saat aku tidur dengannya, aku tidak butuh obat tidur. Aku bisa tidur dengan sangat nyenyak tanpa obat itu," ucap Bastian menjelaskan.
" Sudahlah, hilangkan rasa takutmu itu yang terpenting sekarang kau bahagia. ketakutanmu itu urusan belakangan. Berarti Tuhan telah menurunkan obat yang mujarab untuk mu, kau harus mendapatkan nya. Apa kau ingin ke club? aku ingin pergi kesana karena aku sedang putus cinta," ajak Axel.
" Baiklah, kau rapikan dahulu toko ini sebelum tutup," Axel pun beranjak untuk merapikan kamera dan perabotan yang lainnya. Akhirnya Axel dan Bastian pun pergi ke club malam yang biasa mereka kunjungi yaitu club one night.