
Mobil yang ditumpangi Amelia sampai di depan mansion ia berjalan dengan pandang menunduk ke bawah dengan di ikuti sang supir yang membawa banyak kantong belanjaan. Amelia berlalu menuju kamarnya tanpa menghiraukan bibi Orina yang menyapa nya karena pikiran sedang melalang buana entah kemana.
" Ada apa dengan nona?" tanya bibi Orina kepada sang supir pribadi yang bernama Zander.
Zander menjawab dengan mengangkat bahunya saja, sebab ia tidak tahu pasti kenapa dengan nona mudanya itu. Zander berlalu pergi ke lantai 2 untuk membawakan belanjaan nona mudanya itu.
Tok…tok…tok…
" Maaf nona, ini saya Zander saya mau menaruh belanjaan," ucap Zander di belakang pintu yang belum terbuka.
" Taruh saja di depan nanti aku ambil," teriak Amelia dari dalam.
" Baik nona, saya taruh di depan pintu ya," jawab Zander dari balik pintu meninggalkan belanjaan dan berlalu pergi dari pintu kamar Amelia.
Amelia sedang terkapar di atas kasur hatinya begitu sedih dengan perkataan Bastian tadi, semua perkataan Bastian tadi membuat hatinya sakit dan ia tidak bisa melupakan semua perkataan yang Bastian ucapkan itu. Amelia bangun dari kasur dan ia raih ponsel di dalam tas, ia mencoba mengirim pesan kepada Bastian untuk terakhir kalinya.
💌💌💌
AMELIA
Maafkan aku telah mengganggu hidupmu dan membuatmu tidak nyaman. sekarang aku sadar bahwa semua yang aku inginkan tidak semuanya bisa ku dapat. Semoga kau bahagia dengan hidupmu dan aku tidak akan pernah muncul di kehidupanmu lagi dan mengganggumu. Tetapi aku tidak menyesal telah mengenalmu, aku sangat bahagia bisa mengenalmu. ini adalah pesan ku yang terakhir selamat tinggal Bastian, Aku harap kau akan bahagia selamanya.
💌💌💌
Setelah Amelia mengirim pesan ia segera menghapus nomor Bastian yang ada di kontak ponsel dan menaruh ponselnya. Amelia berjalan menuju pintu kamar untuk mengambil belanjaan yang di taruh di depan pintu. Ia memutuskan untuk mandi dan makan malam bersama Daddy nya di bawah.
****
Di tempat Bastian berada.
Bastian sedang di studio foto. Ia Melihat pesan yang masuk dan membaca pesan itu, raut wajah nya berubah seketika seperti ada yang hilang dalam hidupnya.
Axel pun menyadari raut wajah Bastian yang berubah itu.
" Apakah terjadi sesuatu Bas,? tanya Axel.
" Apakah tugas seperti biasa?" tanya Axel lagi.
" Tidak aku akan melatih anak-anak untuk menjadi seperti ku," jawab Bastian datar.
" Apakah lama?" Untuk sekian kalinya Axel bertanya lagi.
" Kau banyak sekali bertanya Al, kau sudah seperti kekasihku saja," jawab Bastian yang mulai kesal.
Axel hanya terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal," apakah aku boleh tinggal di apartemen mu lagi saat kau tidak ada?" tanya Axel yang menatap Bastian yang sedang melihat laptopnya.
" Tidak," jawab Bastian singkat.
" Kau pelit sekali Bas," balas Axel dengan cemberut.
" Kau tidak ingat, terakhir kalinya ku izin kau tinggal di tempat ku, kau buat kasur ku untuk berhubungan badan dengan kekasih mu, aku saja yang punya tidak pernah melakukan nya." jawab Bastian sambil menatap wajah Axel.
Axel yang ditatap langsung ciut tidak berani berucap lagi.
" Aku mau bertanya pada mu, bila seseorang menyakiti lawan bicaranya dengan kata-kata yang menyakitkan tetapi malah orang itu yang merasa sakit akan kata-kata yang ia ucapkan. Itu kenapa ya?" tanya Bastian yang penasaran akan perasaan yang ia rasakan sekarang.
" Mungkin ia mencintai wanita itu tanpa sadar, sebab bila seorang pria menyukai wanita ia akan merasakan apa yang wanita itu rasakan. Memang kisah cinta siapa yang kau ceritakan Bas?" tanya Axel dengan menaikan kedua alisnya menggoda Bastian dengan senyuman yang lebar.
" Sudah kau tutup toko ini kita pulang, jangan banyak bertanya kalau mau umurmu panjang," jawab Bastian yang membuat Axel diam seribu bahasa. Akhirnya Axel merapikan peralatan kamera, laptop nya dan menutup studio foto.
Bastian sudah menunggu Axel di dalam mobil sport nya, mereka pun pulang bersama membelah jalan yang sudah malam ini menuju apartemen.
ilustrasi
SOURCE : PINTEREST