
Jika hal-hal yang menyusun cinta disatukan dalam sebuah piramida cinta, maka apa yang akan menduduki puncak dari piramida tersebut? Apakah itu kejujuran? Kesetiaan? Menerima apa adanya? Ataukah itu justru kesederhanaan?
Kejujuran dan kesetiaan adalah apa yang membuat sebuah hubungan dapat bertahan lama bahkan mungkin untuk selamanya, namun kedua hal tersebut bukanlah hal yang menduduki puncak dari piramida cinta, karena kedua hal tersebut sangatlah rentan untuk menghilang. Menerima apa adanya adalah bentuk kesungguhan dari cinta, namun itu belum cukup untuk membuatnya menduduki puncak piramida. Sedangkan kesederhanaan…, terkadang cinta sama sekali tidak membutuhkan itu. Lantas, apa yang pantas menduduki puncak hirarki dari piramida cinta tersebut?
Bagi Raphiela Gabriel, satu-satunya yang pantas menduduki puncak hirarki piramida cinta itu tak lain dan tak bukan adalah obsesi. Mengapa dia berpikir begitu? Karena, obsesi pada dasarnya akan membuat cinta itu untuk selalu utuh dan tak akan memudar. Seseorang yang terobsesi dengan sesuatu itu akan cenderung posesif, manipulatif, dan akan mengupayakan apa pun untuk mendapatkan atau mempertahankan hal yang menjadi objek obsesivitasnya. Kebanyakan orang selalu berpikiran buruk terhadap obsesi, akan tetapi, menurutnya, yang membuat obsesi menjadi buruk bukanlah sifat obsesif itu sendiri, melainkan sifat seseorang secara keseluruhan.
Tentu saja ia menyadari kalau orang-orang yang menentang pendapatnya sangatlah banyak. Kendati demikian, Gabriel sama sekali tiada peduli pada omong kosong orang lain. Selama Savier menerimanya sepenuhnya, maka tidak ada hal yang lebih penting lagi dari itu. Bahkan jika Savier menolaknya sekalipun, eh, itu tak mungkin! Savier tak mungkin akan menolak dirinya; ia tak akan mungkin mengatakan hal yang sebenarnya jika tak yakin kalau Savier akan tetap menerimanya. Soalnya, Gabriel telah merencanakan semuanya: mulai dari men-stalking keluarga inti Savier hingga memanipulasi Savier untuk melamar kerja di cabang perusahaan ayahnya. Setelah semua yang telah dilakukannya itu, Gabriel sama sekali tidak merasa akan gagal. Lihatlah sekarang, ia dengan santainya merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga mereka sembari menyamankan kepalanya di paha kokoh Savier.
Kalian tahu, tidak ada yang salah dengan obsesi!
Bibir tipis Gabriel tak kuasa untuk tidak merekah, melihat wajah Savier seperti ini selalu membuatnya merasa nyaman.
“Hm, ada apa, Gab?” tanya Savier seraya memainkan rambut hitam panjang Gabriel dengan jemari tangan kanannya—dan Gabriel menikmati setiap mili sentuhannya.
Ia tak lekas menjawab. Manik hitam Gabriel memandang manik hitam Savier dengan penuh minat. Untuk beberapa lama mereka saling memandang dalam diam, lengang meliputi keduanya. Barulah sekitar dua menit kemudian Gabriel memutuskan untuk mengalah dalam beradu pandang—akhir-akhir ini suaminya mulai sedikit mendominasi. Gabriel mengerjapkan mata dua kali sebelum merespon, “Tidak ada apa-apa, aku hanya menikmati suasana ini saja.”
“Oh.”
Senyum simpul segera saja terbentuk di bibir tipis Gabriel, ia yakin saat ini matanya sedikit berkilatan. “Hei, mau keluar?” usulnya, terselip nada berharap dalam suara merdu Gabriel.
“Ke mana?”
“Hm.. bagaimana kalau ke taman?”
“Ke taman? Hm.. ok, ayo ke sana.”
Gabriel tersenyum sumringah mendengar respon Savier dan langsung bangkit dari posisi rebahannya. “Tunggu sebentar,” ucapnya sembari beranjak, “aku mau meminta Marena mempersiapkan bekal seadanya lalu ke kamar buat pakai jilbab.”
Jangan salah sangka, Gabriel bukannya tidak bisa memasak—dia ini jenius, tahu!—makanan lezat atau menyiapkan makanan sederhana dan sejenisnya, ia hanya tidak ingin merenggut satu-satunya tugas Marena selain mengawasi kerja para asisten rumah tangga lainnya. Terserah jika kalian tidak percaya, tapi, seorang Raphiela Gabriel tidak bisa memasak? Lucu sekali!
Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Gabriel untuk memberitahu Marena, lalu setelah itu ia langsung bergegas ke kamar indahnya dan Savier. Begitu berada di dalam, ia langsung mengambil jilbab biru gelap dari dalam lemari. Kemudian Gabriel berdiri di depan cermin, memakai jilbab tersebut dengan elegan, dan memandang refleksi dirinya yang ada di sana. Menurut Savier, jilbab ini sangat cocok dengannya, terlebih warnanya yang senada dengan warna gagang kacamata Gabriel membuat penampilannya lebih sempurna—katanya, dan Gabriel yakin itu benar. Selain itu, jilbab ini adalah hadiah dari Savier dan juga adalah jilbab pertama dan favoritnya, karena itu pulalah Gabriel sering menggunakan jilbab ini sewaktu bepergian.
Dipandangnya kembali refleksi dirinya di cermin yang menggantung indah di dinding kamar. Merasa pakaiannya sudah rapi, Gabriel langsung keluar dari kamar dan pergi ke dapur untuk membawa beberapa perbekalan untuk mereka makan di taman. Barulah kemudian ia menghampiri Savier yang sudah menunggu di luar rumah.
“Mau naik apa, apa bersepeda saja?” tanya Savier seraya mengambil tas sandang yang berisikan makanan dan minuman dari tangan Gabriel.
“Bagaimana kalau jalan kaki?”
“Yakin? Jarak dari sini ke sana itu ratusan meter, lho!”
Gabriel hanya tersenyum simpul mendengar respon teman hidupnya itu. “Itu artinya semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk ke sana, kan?” tanyanya retorikal.
“Tentu saja.”
“Apa kau ingat waktu aku mengajakmu jalan ke toko buku sewaktu kelas tiga sekolah menengah atas dulu?” tanyanya dengan wajah sedikit cemberut.
“Ya, aku masih ingat.”
“Waktu itu kita hanya berjalan beriringan dan tak banyak bicara, padahal aku ingin sekali menggenggam tanganmu dan mengisi perjalanan sambil berbicara ringan. Kau pun waktu itu sangat cuek sekali, Vier.” Gabriel mengakhiri ucapannya dengan pipi menggembung.
Savier tersenyum simpul melihat raut dikesal-kesalkan yang dia buat. “Oke, oke, aku mengerti,” responnya sambil mengunci pintu rumah.
“Ayo pergi,” ajak Savier sambil mengulurkan tangan kirinya..
Gabriel mengangguk dengan cepat, dengan senyum lebar menghiasi bibir manisnya. Tangan kanan Gabriel terangkat, dan jemari mereka pun bertautan. “Ayo!” serunya dengan penuh semangat.
Savier mengangguk, ia menggenggam erat tangan Gabriel, dan secara bersamaan mereka melangkah pergi, meninggalkan Marena dan bawahannya di rumah besar keduanya.
Destinasi keduanya adalah taman terdekat dengan tempat mereka tinggal. Letaknya yang tak terlalu jauh membuatnya dapat terakses hanya dengan berjalan kaki saja. Dan karena itu adalah taman rindang yang dipenuhi bunga dan tetumbuhan hijau berdaun lebat, rata-rata pengunjung taman pun berjalan kaki atau bersepeda untuk sampai ke sana. Selain karena alasan lingkungan, ketiadaan tempat parkir di sana membuat sebagian orang terpaksa memarkirkan kendaraan bermotor mereka di tempat lain dan melanjutkan berjalan kaki ke taman. Secara keseluruhan, taman itu jauh lebih baik daripada taman yang menjadi tempat pertemuan pertamanya dengan Savier dulu.
…Dan sampailah mereka di taman itu.
Gabriel tak langsung mengajak Savier untuk duduk di salah satu bangku taman, ia mengajak suaminya tercinta untuk menyusuri bunga-bunga yang tertanam rapi di setiap sisi taman. Terdapat banyak jenis bunga di sana, dan yang paling mendominasi di antara mereka semua adalah bunga Lavender yang berdiri berbaris-baris mewarnai taman dengan warna ungu muda. Dan ke sanalah ia mengajak Savier pergi, menelusuri barisan-barisan Lavender dari ujung ke ujung. Sesekali canda tawa menemani langkah kaki mereka, dan sesekali pula Savier memetik beberapa tangkai bunga untuk diberikannya pada Gabriel. Mereka menikmati kebersamaan mereka dengan romantis, dan tanpa disadari kini mereka telah duduk—dengan makanan yang tersusun rapi di antara mereka—di sebuah bangku taman di dekat barisan bunga Lavender.
“Melelahkan?” tanya Savier diiringi senyum lembutnya.
Gabriel menggeleng pelan. “Kau sudah lupa bertanya pada siapa, Dear?” tanya balik Gabriel dengan senyum pongahnya sambil mengambil sepotong sandwich dan mengarahkannya ke mulut Savier.
“Tentu saja tidak, tapi itu adalah pertanyaan yang wajar untuk kutanyakan, kan?” Savier tanpa ragu membiarkan Gabriel memasukkan ujung sandwich ke mulutnya, ia pun menggigit roti itu dan mengunyahnya dengan pelan.
“Kurasa begitu,” respon Gabriel singkat sembari membawa sandwich tersebut ke dekat mulutnya. Ia memasukkan sisi roti yang digigit Gabriel ke mulutnya, tanpa malu Gabriel menggigit bagian tersebut dan menikmati sandwich buatan Marena itu bersama Savier di sampingnya. Entah berapa kali pun ia melakukan hal ini bersama Savier, Gabriel sangat yakin ia tidak akan pernah merasa bosan.
Kedua sejoli itu terus berbincang sembari menikmati bekal yang dibuat Marena dengan mesra. Sesekali mereka tertawa akibat guyolan yang mereka sendiri buat, terkadang pula mereka tersenyum tersipu tatkala salah satu dari mereka mendaratkan kecupan penuh cinta di wajah mereka. Mereka sungguh menikmati kebersamaan mereka, pasangan-pasangan yang berada tak jauh dari keduanya acapkali memanding iri pada kemesraan Gabriel dan Savier. Namun keduanya sama sekali tidak peduli, mereka tetap menjalani kegiatan santai mereka tanpa beban. Mereka terus berada di taman untuk waktu yang lama, baru ketika matahari sudah agak naiklah keduanya memutuskan untuk meninggalkan taman.
Sama seperti ketika mereka pergi, pulang pun mereka berjalan kaki sambil bergandengan tangan dengan mesra. Karena terik mentari yang agak menyengat, Savier sempat mengajak Gabriel untuk menaiki taksi online, namun Gabriel bersikukuh untuk berjalan kaki saja. Dan berjalan kakilah mereka jadinya.
“Aw!” rintih Gabriel tiba-tiba.
“Gabriel!” teriak Savier dengan penuh kekhawatiran. Ia bergerak cepat dan langsung menarik tubuh ramping Gabriel ke dalam pelukannya sebelum tubuh gadis itu sempat jatuh. “Kau tidak apa-apa? Mana yang sakit?”
“Ah... sepertinya kakiku terkilir, Dear.”
Tanpa bertele-tele Savier langsung menggendong Gabriel ala bridal style, ia langsung bergegas memacukan kakinya ke salah satu bangku taman terdekat. Dengan sigap Savier mendudukkan Gabriel di bangku, ia kemudian berjongkok dan melepaskan alas kaki istrinya, lalu ia memegang pergelangan kaki kiri Gabriel yang sedikit memar itu dengan lembut.
“Sedikit.”
Savier mengelus lembut pergelangan kaki Gabriel, “Ini akan menyulitkanmu untuk berjalan,” komentarnya.
“Apa kau bisa menyembuhkannya?”
Savier menggelengkan kepalanya pelan, “Aku tidak ahli dalam hal itu, tapi setidaknya aku bisa meringankan rasa sakitnya.”
Gabriel mengangguk mengerti dan membiarkan Savier memijat pergelangan kaki kirinya dengan lembut. Meskipun pijitan itu terasa sedikit menyakitkan di kaki memarnya, Gabriel tahu kalau suami tercintanya memijat dirinya dengan begitu lembut, karenanya Gabriel menahan mulutnya untuk tidak merintih. Selain itu, Gabriel pun bisa merasakannya, kalau rasa sakit di pergelangan kaki kirinya tidak sesakit tadi.
Savier menghentikan pijatan di kakinya dan memandangnya dengan lembut, Gabriel tak kuasa untuk tidak tersenyum ketika ditatapi seperti itu.
Savier berbalik arah. “Naiklah,” ucapnya pelan.
Gabriel memiringkan kepalanya penuh tanya.
“Aku akan menggendongmu sampai rumah.”
Gabriel tak langsung mengamini permintaan Savier. Untuk beberapa saat ia diam memandang punggung Savier dengan senyum kecil di bibirnya. Gabriel suka dengan perhatian Savier; ia suka melihat rasa khawatir di wajah tenangnya; ia suka melihat sorotan mata lembuatnya; dan ia sangat suka mendengar nada khawatir yang terselip dalam suara Savier sewaktu ia menanyakan keadaannya. Rasanya sangat menyenangkan, hatinya terasa berbunga-bunga; Gabriel sangat menyukai perasaan yang mengisi relung dadanya ini.
“Ada apa, Gab?”
Senyum Gabriel melembut. “Jarak taman ini ke rumah kita itu ratusan meter lho, apa tidak apa menggendongku sampai rumah?”
Savier tersenyum kecil mendengar pertanyaan retorikal Gabriel. “Jangankan ratusan meter, ratusan kilometer pun aku akan dengan senang hati menggendongmu, Gab.”
“Kau yakin?”
“Tentu saja. Lagipula, nanti kita akan berhenti di depan supermarket untuk membeli sesuatu? Kita bisa beristirahat sebentar di sana sembari menikmati es krim, kan? Kalau begitu, ayo cepat naik.”
Gabriel mengangguk pelan, “Baiklah kalau begitu.”
Dengan perlahan Gabriel menaiki punggung Savier. Ia mendaratkan dagunya di bahu kanan Savier dan mengeratkan kedua tangannya melingkari leher suaminya ini. “Ayo pulang,” bisiknya pelan.
Savier mengangguk. Ia mengaitkan kedua lengannya pada kedua kaki Gabriel lalu berdiri dan melangkah ke luar area taman. Savier berjalan dengan tenang, langkah kakinya tidak cepat, namun juga tak lambat. Untuk beberapa menit mereka berjalan dalam diam, menikmati keheningan yang membersamai mereka. Barulah kemudian Savier memecahkan keheningan tersebut dengan suaranya. “Kau sebenarnya sengaja membuat kakimu terkilir, kan, Gab?”
“Kau tahu?”
“Tentu saja. Akan tetapi, meskipun aku senang kau berusaha keras untuk membuat perhatianku teralihkan padamu sepenuhnya, tetap saja aku sangat tidak suka melihat luka di tubuhmu… sama halnya dengan ketidaksukaanku melihat airmatamu menetes. Karena itu, Gab, tolong jangan lakukan hal-hal yang akan melukaimu lagi. Apa kau mau mengabulkan permintaanku ini?”
“Um.”
Mendengar anggukan Gabriel itu membuat senyum Savier berkembang. “Gab.…”
“Hm?”
“Mungkin ini sangat terlambat bagiku untuk mengatakannya, tapi aku rasa aku benar-benar mencintaimu… ah, bukan begitu, mungkin sebenarnya aku sudah lama jatuh cinta padamu… hanya saja aku tidak mau menyadari hal itu.”
Seketika bibir Gabriel melengkung membentuk senyuman yang sangat indah dan lembut. “Apa itu benar?” tanyanya dengan nada bahagia.
“Tentu saja.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Aku sangat senang mendengarnya,” respon Gabriel sembari mendaratkan bibir tipisnya ke pipi kanan Savier. “Terima kasih, Savier, aku selalu mencintaimu.”
“Ya, aku tahu.”
“Um.”
“Gabriel…”
“Hm?”
“Tidak ada, aku hanya ingin mengucapkan namamu saja.”
“Oh.”
Senyum kecil berkembang di bibir tipis Gabriel. Ia mengeratkan pelukannya pada Savier dan membenamkan wajahnya di leher suaminya itu. Ini memang bukan kali pertama ia digendong seperti ini, namun meskipun sudah berpuluh-puluh kali pun, Gabriel tetap tidak akan pernah bosan dengan kenyamanan yang ia rasakan saat ini. Bahkan ketika nanti rambut mereka memutih sekalipun—jika ia dan Savier hidup lama, dan ia berharap demikian—Gabriel yakin kalau ia tetap akan selalu merasa candu akan sensasi ini.
Mungkin memang benar kalau ia sudah sangat terobsesi dengan Savier. Akan tetapi, apa yang salah dengan obsesi? Obsesi hanya akan menjadi sifat yang buruk kalau orang yang obsesif itu bodoh dan tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya. Namun jika orang yang obsesif itu bijak dan tahu kalau dia sedang terobsesi pada sesuatu, maka itu akan menjadi sumber semangat yang tak akan pernah padam. Tidak ada yang salah dengan obsesi, karena obsesi itu tak terlalu berbeda dengan cinta. Orang yang obsesif adalah orang yang paling setia terhadap objek yang diobsesikannya, tak ada yang lebih setia terhadap pasangannya daripada mereka.
Mungkin, obsesi adalah cinta yang sudah melewati batas-batas kewajaran; cinta yang tidak menerima kata penolakan, cinta yang memaksa mendekati kesempurnaan.
-Selesai-
A/N: Siapa pun Anda, terima kasih telah meluangkan waktu berharga Anda untuk membaca cerita sederhana ini.