Between Love and Obsession

Between Love and Obsession
Bagian 5: The Truth and Marriage, part 5



Di kota kelahirannya, di rumah tempatnya dibesarkan, di kamar yang ia tempati sejak kecil, Gabriel duduk dengan tenang di kursi memandang layar komputernya. Sudah dua minggu berlalu sejak pertemuan Savier dengan ibu kandungnya, dan sudah seminggu pula berlalu sejak pertemuan kedua keluarga inti mereka. Tidak ada satu pun yang merasa keberatan dengan rencana pernikahan mereka. Meskipun ada beberapa yang menginginkan agar pernikahan diperlambat, Gabriel sama sekali tidak menggubris keinginan mereka itu. Ia menginginkan agar pernikahan itu dilangsungkan secepat mungkin, dan Gabriel juga berhasil mendapatkan persetujan Savier. Esok, itu adalah hari yang diputuskan sebagai hari pernikahannya dan Savier.


Gabriel mengerjapkan matanya dua kali dan kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Apa yang dilihatnya di monitor itu adalah kumpulan foto-foto Savier yang sudah ia kumpulkan sejak dulu sekali—diabadikan sebagian besarnya oleh Marena dan Kak Erina. Melihatnya seperti ini selalu membuatnya merasa bernostalgia, terlebih lagi ketika ia melihat foto-foto dirinya berdua dengan Savier. Dari salah satu foto itu, ada satu foto yang ia jadikan sebagai alat untuk menyakiti hati Shona: itu adalah foto sewaktu Savier memboncenginya bersepeda di mana Gabriel memaksa lelaki itu untuk membiarkan dirinya memeluknya dengan dalih agar tidak terjatuh. Melihat foto tersebut membuat sebuah pertanyaan untuk menyeruak memasuki pikirannya: apakah Savier akan membencinya jika ia tahu tentang semua hal yang telah ia lakukan?


Mungkin. Tapi Gabriel tidak akan pernah memberitahu lelaki yang selalu memenuhi pikirannya itu, tidak sampai setelah ia dan lelaki itu resmi menikah. Artinya, esok hari. Esok hari ia akan memberitahukan semuanya pada Savier, tepat setelah acara pernikahannya dan Savier selesai dilangsungkan. Gabriel berniat memberitahukan Savier bukan karena ia merasa menyesal atau apa, tetapi karena ia yakin Savier tidak akan mengakhiri pernikahan mereka makanya ia mau memberitahu semuanya. Terlebih lagi, jika ia tidak memberitahu lelaki itu secepatnya, akan menjadi runyam jika dia tahu itu di masa yang akan datang dan dari orang yang lain pula. Karenanya, Gabriel akan memberitahunya sendiri dan secepat mungkin.


“He who has a ‘why’ to live for can bear with almost any ‘how’,” begitu kata Nietzsche. Siapa pun yang punya alasan untuk hidup, maka dia tidak akan pernah peduli pada bagaimana menghadapi caranya; dia akan mampu untuk menanggung banyak beban kehidupan demi mempertahankan kehidupan itu. Bagi seseorang yang punya “mengapa”, kehidupan adalah hal yang paling berharga bagi mereka, karenanya, mereka akan rela untuk melakukan apa pun demi mempertahankan hal itu. Tidak peduli pada larangan agama, tidak peduli pada tatanan norma kehidupan, tidak peduli pada aturan-aturan; selama mereka memiliki “mengapa” hidup, maka mereka akan dengan mudah melewati batas-batas kewajaran demi tetap hidup.


Itu adalah hal yang wajar bagi mereka yang “mengapa”-nya tak berhubungan dengan ketuhanan atau kemanusian, atau bagi mereka yang empatinya telah ditelan habis oleh apati. Namun bagi orang-orang yang beragama, bagi mereka-mereka yang memiliki norma, bagi setiap orang yang memiliki rasa empati yang besar, mereka semua memiliki penyaring yang akan membuat mereka mempertimbangkan “how” tersebut; mereka hanya akan memilih “how” yang sesuai dengan nurani mereka, tak peduli jika peluang berhasilnya mendekati nol sekalipun. Karena itu, Gabriel sama sekali tidak menyesal terhadap apa yang sudah dilakukannya selama ini. Hal itu senada dengan frasa populer lainnya: “Untuk mendapatkan sesuatu, seseorang harus mengorbankan sesuatu yang lain; tidak ada keberhasilan yang bisa diperoleh dengan tanpa adanya pengorbanan.”


Apa Gabriel jahat dan licik? Tidak, sama sekali tidak; hanya orang-orang naïf yang berpikir kalau ia jahat. Gabriel sendiri tidak pernah membayangkan dirinya sebagai orang jahat dan licik, Gabriel hanya berupaya untuk memenuhi keinginannya saja. Hidup itu, setiap orang memilikinya… dan bagaimana mereka memperjuangkan agar mereka bisa menikmatinya adalah murni hak mereka. Pun begitu dengan Gabriel, ia memiliki hak untuk melakukan apa pun yang ia mau demi membuat hidupnya nyaman. Tentu saja orang lain juga punya hak untuk menghalanginya, tapi ia juga berhak untuk menyingkirkan mereka. Pada akhirnya, di dunia ini selalu tentang yang menang dan kalah; kebaikan yang tulus itu tidak penah ada, setiap orang memiliki sebuah motif dibalik hal yang mereka lakukan. Dunia ini, adalah panggung sandiwara yang Tuhan ciptakan. Apakah itu untuk menghibur diri-Nya atau untuk niat khusus yang tak bisa dipahami manusia, Gabriel tidak peduli itu. Selama dia bisa memilih dalam hidup ini, ia akan melakukan apa yang ia suka. Karena, apa gunanya hidup jika ia tidak bisa membuat dirinya senang? Mati lebih baik. Oleh sebab itu, sekali lagi, Gabriel sama sekali tidak berpikir kalau dirinya adalah orang yang jahat atau pun licik; Gabriel hanyalah seorang wanita yang benar-benar memperjuangkan hidupnya, tidak lebih dari itu.


Gabriel tersenyum geli memikirkan itu semua. Meskipun ia bersikukuh seperti itu, ia tetap menyadari kalau apa yang dilakukannya adalah hal yang buruk di mata Tuhan. Akan tetapi, karena semuanya telah terjadi, maka semua yang telah ia lakukan sudah terlebih dahulu tertulis di lembar takdir, bukan begitu? Jika Gabriel tidak melakukan itu semua, apa ia punya pilihan lain yang membuatnya bisa tersenyum seperti saat ini? Tidak ada, Gabriel tidak melihat satu pun pilihan alternatif yang membuatnya menjadi yang paling bahagia. Ia bukannya berlagak seperti Tuhan, Gabriel hanya bersikap rasionalistis saja, tidak lebih.


Mendengar suara kenop pintu kamarnya yang diputar, Gabriel langsung membawa pointernya untuk membuka file yang baru.


“Apa kamu merasa gugup untuk menghadapi hari esok, Gabriel/Raphiel?” tanya kedua ibunya secara bersamaan, mereka sudah berdiri di dekatnya.


Gabriel hanya tersenyum simpul mendengar pertanyaan kedua ibunya. Ia membalikkan kursi tempatnya duduk dan mengalihkan pandangannya dari layar komputer ke wajah kedua wanita yang kini sudah berhubungan baik itu. “Apa aku terlihat gugup di mata kalian berdua, ibu?” tanyanya lembut.


“Kamu terlihat senang,” respon mereka berdoa dengan kompak, dengan senyum manis menghiasi bibir mereka masing-masing.


“Tentu saja,” respon Gabriel dengan nada seolah-olah itu adalah jawaban yang paling retorikal. “Aku sudah sangat lama menantikan datangnya hari esok, bagaimana mungkin aku akan gugup atau pun tidak senang?” Gabriel tidak menunggu respun ibu tiri dan ibu kandungnya, ia kembali berbicara dengan nada yang lebih santai. “Ada keperluan apa sampai-sampai ibu berdua datang ke sini pada saat yang bersamaan seperti ini?”


Kedua ibu tirinya tak langsung menjawab pertanyaannya, mereka saling memandang untuk beberapa detik sebelum kemudian mendudukkan diri mereka di pinggiran tempat tidur Gabriel. Gabriel memutar kursi duduknya sehingga ia berhadapan-hadapan dengan mereka berdua. “Jadi?” tanyanya lagi.


“Silahkan Kak Elena duluan,” ucap ibu tiri Gabriel mempersilakan ibu kandungnya untuk memulai bicara duluan.


“Terima kasih, Haniel.”


Gabriel menaikkan sebelah alisnya memandang penasaran pada kedua ibunya. Pemandangan di hadapannya ini sangat tak biasa sekali, tapi Gabriel tidak merasa terkejut sedikit pun. Gabriel sangat mengerti. Ia adalah satu-satunya anak dari ibu kandungnya, sementara ibu tirinya menyayanginya sama seperti dia menyayangi adik tirinya yang baru berusia sepuluh tahun, sedangkan besok adalah hari sakral dalam hidupnya.


“Raphiel, putri ibu yang baik, rasanya tak pantas bagi diri ibu untuk mengatakan ini padamu. Ibu sewaktu menikah dengan ayahmu dulu sama sekali bukan apa-apa jika dibandingkan dengan dirimu sekarang. Kamu adalah wanita yang sangat mandiri, Ibu sangat bangga padamu, dan ibu yakin kalau kamu telah mempersiapkan semuanya dengan baik. Kendati demikian, untuk memenuhi keinginan egois ibu yang melihat anaknya akan segera membina rumah tangga, sudikah kiranya jika kamu mendengarkan nasihat dari ibu?”


Gabriel hanya bisa diam mendengarkan ucapan tulus ibunya.


“Ibu tidak bisa memberikan apapun kepadamu, karena kamu sungguh bisa memiliki apa yang kamu inginkan dengan usahamu sendiri. Satu-satunya hal yang bisa ibu berikan yang tidak akan kamu bisa dapatkan dengan uang hanyalah beberapa patah nasihat, nasihat yang ibu ingin kamu tahu agar kamu tidak berakhir seperti ibu. Tentu saja ibu tahu kamu lebih baik dari ibu dalam banyak hal, tapi, untuk kali ini saja, sudikah kamu mengabulkan keinginan egois ibumu ini, wahai Raphiel, anak ibu yang baik?”


“Mengapa kau berbicara seperti itu, Ibu?” Gabriel tidak menunggu respon ibunya. “Bicaralah, aku akan dengan senang hati mendengarkan petuah darimu.”


Elena tersenyum lembut mendengar ucapan Gabriel. “Ibu hanya memiliki lima patah nasihat untukmu,” ucapnya lembut. “Yang pertama: jangan sekali pun kamu daratkan perhatianmu pada lelaki lain, suamimu adalah satu-satunya pusat perhatianmu. Semakin lama kamu hidup dengan suamimu, kamu akan lebih mengetahui kekurangannya, kendati demikian jangan pernah berpaling. Sekali saja kamu berpaling, kamu akan melihat kalau lelaki lain ‘lebih menarik’ dari suamimu, dan itu akan menjadi titik mundur dari ikatan cinta dan pernikahan kalian. Yang kedua: jika dia marah padamu, maka jangan kamu marah balik padanya bahkan sekalipun jika kamu yang benar. Minta maaflah padanya, karena permintaan maaf darimu akan membuat hatinya melembut dan menimbulkan rasa bersalah dalam dirinya, sehingga dia akan berbalik meminta maaf padamu. Yang ketiga: pekalah terhadap suasana hati suamimu, bersedihlah jika dia sedih dan tersenyumlah jika dia bahagia. Jika kamu sedih ketika dia senang, maka itu akan melunturkan kesenangan hatinya. Dan jika kamu sedih sedangkan dia senang, maka dia akan berpikir kalau kamu menginginkan dia sengsara. Pekalah, karena rasa peka akan mengharmoniskan hubungan rumahtangga kalian. Yang keempat: gunakan kedua telingamu untuk mendengarkan kesah lelahnya, maka ia tidak akan pernah mencari teman curhat lainnya. Gerakkan bibirmu untuk membisikkan kata-kata penyemangat untuknya, maka dia tak akan terpana dengan kata-kata manis orang lain. Dan gerakkanlah kedua tanganmu untuk memberinya dekapan hangat, maka dia tidak akan pernah mencari tempat bersandar lain tatkala pelik kehidupan menyesakkan dadanya. Yang terakhir: pastikan kamu senantiasa tampil mempesona di hadapannya, maka dia tidak akan pernah jenuh. Tampil mempesona bukan berarti berpakaian mewah dan ber-make-up tebal, bukan pula berpakaian seksi nan menggoda. Melainkan, berpenampilan sederhana dan sopan dengan tubuh bersih dan berbau wangi, disertai senyum ramah dan menenangkan tanpa sekali pun memasang wajah masam. Putri ibu yang baik, kamu akan menjadi istrinya, teman hidupnya, seseorang yang senantiasa bersamanya dikala senang mau pun sedih, maka jangan sekali-kali kamu berlagak seperti seorang ibu yang berkuasa penuh atasnya. Posisikan dirimu sebagi istrinya, perlakukan dia sebagai rajamu, maka kamu, putri ibu, akan merasakan betapa indahnya berumahtangga itu.”


Elena tersenyum sumringah, kedua matanya sedikit berair. “Kata-katamu sangat tak pantas untuk diberikan pada seorang istri dan orangtua yang gagal seperti ibu, tapi ibu tak bisa menyembunyikannya, kalau ibu sangat senang dan terharu mendengar responmu.”


Gabriel bangkit dari kursinya dan duduk tepat di antara ibu kandung dan ibu tirinya. Ia meraih tangan kiri ibu kandungnya dan menautkannya jemari tangan kanannya dengan jemari tangan ibunya. “Mungkin ibu adalah istri yang gagal,” ucap Gabriel, tangan kirinya mengusap lembut air mata yang menuruni pipi putih ibunya. “Tapi ibu tidak pernah menjadi orangtua yang gagal, baik itu dulu, sekarang, bahkan di masa depan nanti. Bagiku ibu selalu adalah orangtua yang baik. Memang, sesekali aku merasa kesal pada ibu, tapi itu adalah sesuatu yang wajar dan tidak pernah berlarut-larut.”


Elena tidak memiliki kata-kata yang pas untuk diucapkannya, ia hanya bisa melengkungkan bibirnya dan membawa tangan kanannya yang bebas untuk membelai lembut pipi putrinya. “Terima kasih, Raphiel, ibu selalu mencintaimu,” lirihnya lalu mendaratkan kecupan penuh kasih pada dahi putrinya.


Kecupan itu, rasanya agak aneh, seolah ia belum pernah merasakan itu sebelumnya. Namun itu sangat menyamankan, Gabriel merasa sangat damai dan terlindungi. Perasaan yang menghangatkan hatinya, perasaan yang telah sangat asing baginya. Ah, kapan terakhir kali ibunya mendaratkan kecupan lembut nan penuh kasih ke keningnya? Apakah itu kemarin, setahun yang lalu, dua tahun, lima tahun, ataukah sepuluh tahun? Gabriel tak lagi bisa mengingatnya dengan baik, ingatan itu sangat samar sekali.


“Terima kasih, Raphiel,” ucap ibunya lagi, tangan yang membelai lembut pipinya dia tarik, namun tautan jemarinya semakin mengerat.


Gabriel menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak ada yang perlu ibu terimakasihkan,” ucapnya pelan, lalu tanpa menunggu respon ibunya Gabriel menolehkan wajahnya memandang ibu tirinya. “Kalau ibu, apa yang hendak Ibu katakan kepadaku?”


“Gabriel, putri ibu,” mulai Haniel, ia menangkup tangan kiri Gabriel dengan kedua tangan lentiknya. “Sebelas tahun lebih yang lalu ibu berada di posisimu saat ini, ibu merasa waktu itu ibu sudah sangat siap, ibu pun yakin kalau kamu juga merasa seperti itu. Karenanya, ibu tidak akan berkata banyak, hanya ada satu hal yang ingin ibu katakan: ‘Yang menjalani pernikahan adalah kamu, jadi kamu tidak perlu memusingkan pendapat orang lain; yang paling penting adalah, pastikan kamu senantiasa berbahagia, Gabriel.’”


Gabriel sangat suka mendengar ucapan yang keluar dari mulut ibu tirinya itu. Normalnya semua orang akan lebih memilih kata-kata ibu kandungnya dibandingkan kata-kata ibu tirinya, namun Gabriel dengan sepenuh hatinya lebih menyukai perkataan sang ibu tiri. Bukan berarti ia tidak menganggap perkataan ibu kandungnya berarti, hanya saja ucapan ibu tirinya lebih sesuai dengan sikap dan pribadi Gabriel. Yang lebih penting adalah kebahagiaannya, tidak ada yang lebih penting dari itu.


“Tentu saja, Bu, aku akan berusaha untuk senantiasa berbahagia.”


“Ibu sungguh berharap demikian,” respon Haniel senang.


Gabriel pun tak kuasa untuk tidak tersenyum. Dengan masih saling bergenggaman tangan dengan kedua ibunya ia berkata, “Mumpung kalian berdua berada di sini, aku ingin kalian berdua menceritakan pengalaman pernikahan kalian. Ah, tentu saja jika kalian tidak keberatan dengan itu, jika keberatan maka tidak perlu memaksakan diri.”


“Ibu tidak keberatan.”


“Ibu juga.”


Mereka berdua secara bergantian—ibu tirinya dahulu—menceritakan perhelatan pernikahan mereka dulu. Mereka dengan suka ria menceritakan perjuangan dan segala bentuk keluh kesah mereka, juga mereka tak lupa memberitahunya akan gejolak emosi yang mereka rasa tatkala duduk di pelaminan. Gabriel mendengarkan cerita mereka dengan penuh minat. Ia tersenyum saat mereka tersenyum, ia tertawa saat mereka tertawa, pun ia tak kuasa untuk tidak deg-degan saat mereka mengisahkan momen-momen sakral yang dulu mereka alami. Gabriel tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya esok hari, tapi sepertinya itu tak jauh berbeda dengan apa yang telah kedua ibunya alami.


Perbincangan mereka terus berlanjut hingga beberapa waktu lamanya. Kedua ibunya baru keluar dari kamarnya satu setengah jam setelah mereka masuk tadi. Gabriel harus mengakui kalau ia cukup menikmati momen tersebut, alangkah baiknya jika sekiranya dari dulu mereka sering berbicara seperti tadi. Ah, tapi, Gabriel tak mempermasalahkan masa-masa yang sudah lewat; yang perlu mereka lakukan hanyalah menambah momen-momen kekeluargaan mereka seperti tadi sebanyak mungkin. Waktu yang telah berlalu memang tak pernah bisa diputar ulang, tapi masa yang akan datang akan selalu bisa dipersiapkan. Gabriel tersenyum hangat, ini adalah hari yang menyenangkan.


Gabriel mengambil smartphone miliknya dari atas meja lalu tanpa ragu langsung mencari kontak Marena dari daftar kontaknya. Ia langsung saja menghubungi wanita yang telah bekerja untuknya dalam jangka waktu yang lama. Sudah tiga hari lebih Gabriel tidak melihat dan mendengar suara Savier, ia sangat ingin tahu bagaimana kondisi calon suaminya itu. “Ah, Marena,” ucap Gabriel begitu panggilannya terhubung. “Kalau kau sudah selesai dari sana, aku ingin kau melihat bagaimana keadaan Savier. Tentu saja kau boleh menyuruh yang lain melakukan itu jika kau lelah, tapi aku lebih suka jika kau yang melakukannya.” Setelah menerima konfirmasi dari Marena, Gabriel langsung memutuskan panggilan dan kembali meletakkan smartphone-nya di meja.


Kemudian, ia bangkit dari kursi tempatnya duduk dan melangkahkan kakinya ke depan jendela kamarnya yang terbuka.


Gabriel melihat matahari akan terbenam dalam kurun waktu tiga jam, artinya sore masih panjang, dan ia sama sekali tidak memiliki sesuatu untuk dilakukan. Esok adalah hari pernikahannya, karenanya ia diminta untuk tidak melakukan apa pun dan agar menghabiskan harinya dengan beristirahat. Akan tetapi, beristirahat seharian itu sangatlah membosankan, Gabriel jadi tidak mengerti mengapa orang-orang tertentu sangat betah bermalas-malasan. Ia akan mati kebosanan jika terus menghadapi hari-hari tanpa kegiatan seperti ini.


Menghela napas pelan, Gabriel berbalik arah dan beranjak ke luar kamar. “Sudah lama aku tidak menemani adik tiriku bermain, sebaiknya aku menemani Neliel bermain di kamarnya saja,” gumam Gabriel dengan senyum kecil di bibir tipisnya.