
“Apa kau sudah menunggu lama, Gab?” tanya Savier seraya mendudukkan dirinya berhadap-hadapan dengan dirinya.
“Tidak juga,” respon Gabriel dengan senyum simpulnya. “Oh, sebelum kita mulai ke topik pembicaraan, ada baiknya kita memesan makanan terlebih dahulu, aku yang traktir; aku baru akan mulai berbicara setelah kita makan.”
Savier mengangguk. ”Jika bu direktur bersikeras untuk mentraktirku maka tak sopan jika aku menolaknya, bukan begitu?” tanyanya sarkastik.
“Tentu saja,” angguk Gabriel cepat, kemudian ia melambaikan tangannya memanggil seorang pelayan dan mengatakan pesanannya dan Savier padanya.
Mereka lalu menunggu dalam diam, dengan pandangan menghadap ke arah luar jendela. Gabriel sengaja untuk tidak memulai bicara, jika Savier tidak berbicara maka ia akan tetap seperti ini; ia ingin menikmati momen-momen ini dalam diam. Jika Savier menolaknya, maka bisa jadi ini adalah terakhir kalinya ia bisa berduaan dengan Savier, karena itu ia ingin memanfaatkannya sebaik mungkin. Meskipun ia berpikir seperti itu, Gabriel sama sekali tidak berpikiran ini akan gagal, mungkin ia hanya cukup terbawa suasana saja. Dan bila Savier memang akan menolaknya, maka Gabriel tidak punya pilihan lain selain mengambil tindakan-tindakan yang lebih agresif dan ekstrim. Mungkin banyak yang berpendapat bahwa cinta tak harus memiliki, tapi bagi Gabriel itu hanyalah omong kosong; tak ada gunanya mencintai jika tidak bisa memiliki. Gabriel tidak akan peduli jika nantinya Savier tidak akan bahagia, selama ia sendiri bahagia maka itu sudah cukup. Tapi tentu saja, Gabriel juga ingin agar Savier nantinya merasa bahagia.
Dalam keheningan yang menyelimuti mereka, Gabriel tak bisa menahan dirinya dari mengingat bagaimana ia bisa bersekolah di sekolah yang sama dengan Savier.
***
“Ingin melanjutkan SMA di mana, Nona?” tanya Marena begitu Gabriel memasuki mobil. Ia baru saja menghadiri upacara kelulusan siswa-siswi kelas tiga, artinya ini adalah hari terakhirnya di sekolah yang sudah menjadi tempatnya menuntut ilmu selama tiga tahun ini.
“Tentu saja ke sekolah yang sama dengan sekolah yang akan Savier masuki,” jawabnya santai. “Kau sudah mendapatkan jawabannya dari Kak Erina, kan, Marena?”
“Tentu saja sudah, Nona Gabriel. Tapi, sekolah yang dimasukinya memiliki dua tes masuk: tes administrasi dan tes tertulis. Meskipun itu adalah sekolah swasta yang berasrama, biaya sekolahnya tak terlalu berbeda dengan biaya sekolah Anda. Oh, bagi yang mendapat peringkat lima besar dalam tes tertulis akan dibebaskan dari membayar biaya sekolah sampai mereka tamat. Dan jika mendapat peringkat tiga besar di akhir semester, maka ketiga pelajar tersebut akan mendapatkan tiket gratis makan di kantin asrama selama satu semester ke depan.”
“Ho… aku tidak tahu kalau ada sekolah yang semenarik itu. Tapi mengingat biayanya yang cukup tinggi bagi Savier, apa itu artinya dia berniat mengincar posisi lima besar itu?”
Marena mengangguk.
“Bagus sekali, Marena. Kalau begitu ayo pulang, aku akan mempersiapkan diriku untuk mendaftar ke sana.”
Menganggukkan kepalanya pelan, Marena langsung menjalankan mobilnya meninggalkan gerbang sekolah. Mobil itu melaju kencang, cukup kencang untuk mendahului beberapa mobil di depannya. Dan sekitar setengah jam kemudian, mobil itu tiba di kediaman Gabriel dengan tanpa kendala.
“Terima kasih, Marena. Hari ini kau cukup sampai di sini kerjanya, beristirahatlah.” Melihat anggukan Marena, Gabriel langsung keluar dari mobil dan memasuki rumah. Sesampainya di dalam, Gabriel langsung membersihkan dirinya dan setelah itu ia merebahkan dirinya ke tempat tidur.
Dua hari kemudian Gabriel langsung menyambangi sekolah itu guna mendaftarkan dirinya menjadi siswi di situ. Setelah memenuhi semua proses administrasi, ia harus menunggu tiga hari untuk mengetahui apakah ia akan diizinkan mengikuti tes tertulis atau tidak. Tes tertulis itu dilangsungkan tiga hari setelah pengumuman calon siswa-siswi yang lulus tes administrasi, dan Gabriel adalah salah satu dari sekian banyak siswa-siswi yang lulus tes tahap awal. Ia pun telah memastikannya di dalam daftar peserta tes, kalau Savier juga adalah salah satunya.
Hari dilaksakan tes itu pun tiba. Marena mengantarkan Gabriel seperti biasanya, ia tiba di tempat tes sekitar sepuluh menit sebelum tes dimulai. Tempat Gabriel melangsungkan tes adalah lantai dua gedung sekolah, tepatnya di ruang kelas XI-3, dan ia menempati tempat duduk di sudut kanan ruang, tepat satu kursi di belakang Savier. Gabriel tidak bisa lebih senang lagi.
Terdapat tujuh bidang tes yang diujikan dalam tes tertulis: Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan tes Problem-Solving. Untuk tes Matematika dan yang lainnya disajikan dalam pilihan ganda dengan lima pilihan jawaban, masing-masing bidang terdapat dua puluh pertanyaan. Sedangkan untuk tes Problem-Solving, hanya terdapat sepuluh soal untuk tes itu dan kesemua jawabannya ditulis dalam bentuk uraian singkat. Secara keseluruhan, terdapat seratus tiga puluh soal yang harus dikerjakan dalam waktu total seratus delapan puluh menit. Untuk pilihan ganda: diberikan nilai dua untuk setiap jawaban yang benar, minus satu untuk jawaban yang salah, dan nol untuk tidak menjawab. Sedangkan untuk uraian singkat, diberikan nilai maksimum sepuluh untuk setiap pertanyaan dan minimum nol jika tidak menjawab—tanpa terdapat nilai minus. Dan maksimum nilai yang bisa diperoleh dalam tes ini adalah 340.
Gabriel mengerjakan tesnya dengan serius. Meskipun mustahil baginya untuk menyelesaikan 130 soal dalam waktu 180 menit (83 detik per soal), setidaknya Gabriel ingin menyelesaikan 90 soal: 80 soal pilihan ganda dan semua soal uraian. Jika ia berhasil menjawab dengan benar kesemua soal itu, maka setidaknya ia bisa mendapatkan 260 poin. Akan lebih memuaskan jika ia bisa menyelesaikan lebih dari itu, tapi mengingat waktu yang diberikan hanya tiga jam, rasanya akan sangat sulit.
“Siswa-siswi yang akan dinyatakan lulus tes akan diumumkan minggu depan di hari dan jam yang sama dengan dimulainya tes hari ini,” kata panitia pelaksana tes.
Selepas para panitia berbicara panjang lebar, baru setelah itu calon siswa-siswi diperbolehkan pulang. Gabriel tak lekas bangkit dari kursinya duduk, ia baru berdiri setelah Savier meninggalkan tempat duduknya. Ia berjalan dengan tenang mengikuti cowok itu, tentu saja tidak ada yang mengetahui hal itu karena tujuan setiap calon siswa-siswi adalah sama: tangga untuk ke lantai satu.
Ketika sudah berada di luar gedung sekolah, Savier langsung meninggalkan tempat itu tanpa melihat-lihat area sekolah, tidak seperti kebanyakan peserta tes lainnya. Gabriel tidak tahu mengapa dia ingin langsung pulang, pun ia tidak terlalu peduli dengan apa yang siswa-siswi lainnya lakukan. Gabriel mengikuti Savier dengan setia, ia menjaga jaraknya dengan lelaki itu sekitar lima belas meter. Ia ingin lebih dekat lagi, tapi Gabriel menahan diri, ia tak ingin Savier mengetahuinya.
Gabriel terus mengikuti Savier hingga ke gerbang sekolah, ia baru menghampiri Marena ketika lelaki itu sepenuhnya menghilang dari pandangannya.
“Ayo pulang, Marena.”
Marena menggangguk, dan mereka pun meninggalkan area luas sekolah.
Waktu pun berlalu, hari pengumuman hasil tes akhirnya tiba, Gabriel memandang layar komputernya dengan datar.
Seperti yang sudah ia perkirakan, Gabriel menduduki peringkat pertama dari semua peserta tes yang ada dengan mengumpulkan 291 poin. Dari semua jawabannya, ia hanya salah satu soal saja, dan itu adalah soal Bahasa Indonesia. Peringkat kedua mengumpulkan 237 poin, peringkat ketiga mendapatkan 219 poin, peringkat empat mendapatkan 208 poin, dan peringkat lima mendapatkan 199 poin. Dan dari keempat orang tersebut, nama Savier tidak berada di sana. Savier menduduki peringkat keenam, ia berhasil mendapatkan total 198 poin. Sedangkan peringkat ke tujuh berhasil memperoleh 179 poin.
“Marena, kita ke sekolah itu,” gumam Gabriel santai.
…Dan ke sekolah itulah mereka pergi.
Setibanya di sana, Gabriel menginsruksikan Marena untuk menemui staf administrasi sekolah. Hanya karena Savier gagal memenuhi targetnya bukan berarti ia akan membiarkan dia menghentikan niatnya untuk bersekolah di sini; Gabriel menyukai sekolah ini, karena itu ia tidak akan membiarkan Savier untuk bersekolah di tempat lain. Tentu saja ia tidak akan membiarkan Savier tahu tentang apa yang sudah ia minta Marena lakukan, hal itu akan tetap menjadi rahasia antara Marena dan pihak sekolah serta dirinya.
“Bagaimana, Marena?” tanya Gabriel begitu Marena kembali.
“Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang Anda inginkan, Nona Gabriel,” respon Marena dengan senyumnya yang meyakinkan.
Melihat senyum Marena membuat senyum Gabriel ikut berkembang. Akan tetapi, jika senyum Marena lebih kepada senyum biasa, senyum Gabriel terlihat jahat di mata siapa pun yang melihatnya. Jika Marena berpikiran serupa, Gabriel tidak akan tahu itu karena Marena tidak menunjukkan raut wajah selain senyum kecil di bibirnya. Namun Gabriel tidak peduli, yang paling penting ia akan bisa bersekolah di sekolah dan di kelas yang sama dengan Savier.
“Aku sangat menantikannya,” ucap Gabriel, “…hari dimulainya kegiatan sekolah.”
***
Ulasan memori Gabriel terhenti begitu seorang pelayan tiba dan menata makanan pesanannya di meja. “Silahkan dinikmati,” ucap pelayan itu seusai menata makanan lalu dia beranjak pergi begitu saja. Gabriel mengabaikan kepergian sang pelayan dan menyunggingkan senyum simpul pada Savier. “Ayo makan, Vier,” ajaknya santai, yang hanya dibalas anggukan pelan Savier. Gabriel mengangguk puas melihat Savier yang mengiyakan ajakannya, kemudian ia meraih sendok dan garpu lalu mulai menyantap makanan yang sudah dipesannya. Sebisa mungkin Gabriel ingin menikmati saat-saat tenang ini.
Mereka menyantap makanan yang disajikan dalam diam, tidak ada ucapan apa pun yang keluar dari mulut keduanya; hanya klingkingan peralatan makan mereka yang terdengar.