Between Love and Obsession

Between Love and Obsession
Bagian 4: A Real Promise, part 5



Gabriel tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum; ia sangat menyukai mendengar pertanyaan retorikal Savier tersebut. Terlebih lagi, ini adalah pertama kalinya Savier memandangnya seperti itu dan tidak mengingkari akan hal itu… ia bahkan sampai tidak bisa melupakan ekspresinya tadi. Ahh.. aku ingin memeluknya dan memenuhi wajahnya dengan kecupan, aku ingin dia memelukku dan mengecup lembut keningku! Tapi tentu saja, Gabriel menahan ekspresinya dari menampilkan hasratnya, dengan senyum jenaka ia membalas pertanyaan retorikal itu. “Jawaban yang bagus,” ucapnya pongah. “Karena itu aku memutuskan, sebagai hadiah karena telah berani untuk berterus terang—hal yang tak pernah bisa kau lakukan sebelumnya—aku akan mengantarkanmu pulang, bagaimana? Kau tidak mungkin akan menolak sebuah kehormatan ini, kan?”


Gabriel sama sekali tidak terganggu dengan kernyitan yang terbentuk di kening Savier. Sebaliknya, senyum pongahnya justru bertambah lebar. “Akan tetapi,” lanjutnya tanpa menunggu respon Savier. “Karena kau telah berani memandangku sampai seterpesona itu padahal kau tahu aku memiliki seseorang yang sangat aku sukai dan inginkan, maka kau harus mau menemaniku untuk melihat matahari terbenam di pantai—pantai yang sama dengan waktu itu.”


Lagi, sebelum Savier sempat membuka mulutnya, Gabriel kembali berbicara: “Kalau begitu sudah diputuskan, ayo lihat matahari terbenam, lalu setelah itu aku akan mengantarmu pulang!” Gabriel sama sekali tak menunggu respon Savier, ia langsung bangkit dari kursinya dan bergegas meninggalkan kafe. Ia tak perlu menunggui Savier menyusulnya; Gabriel seratus persen sangat yakin kalau Savier pasti akan menyusul dan menemaninya menikmati memandangi matahari terbenam.


Seperti yang telah ia perkirakan, Savier keluar dari kafe semenit setelah ia bersandar pada pintu mobilnya. Meskipun dia tidak keluar dengan ekspresi senang, Gabriel tahu kalau sebenarnya Savier sama sekali tidak keberatan. Karena, jika memang Savier tidak mau, dia akan mengatakan tidak mau, sepemahamannya dari dulu memang seperti itu. “Duduk di depan, aku akan langsung membawa kita ke pantai,” perintah Gabriel. Dan Savier, dengan sedikit menggerutu seperti anak kecil sehabis dimarahi, membuka pintu mobil dan duduk di samping kursi supir. Gabriel langsung memasuki mobilnya setelah Savier duduk, sejurus kemudian mobilnya melaju sedang ke jalan yang akan membawa mereka ke pantai.


Dari kafe ke pantai memakan waktu lebih dari setengah jam, dan selama di perjalanan Savier sama sekali tidak mengatakan sepatah kata pun, matanya hanya tertuju pada jalan tanpa sekali pun melihat ke arah Gabriel. Meskipun Gabriel merasa kalau keheningan di antara mereka agak tidak nyaman, ia tidak memaksakan Savier untuk berbicara. Karena itu, tidak ada perbincangan sama sekali sejak mereka meninggalkan kafe hingga mobil Gabriel berhenti di pinggir jalan di dekat pantai.


“Tidak ke sana?” tanya Savier begitu ia melihat Gabriel menyandarkan diri pada mobilnya sambil memandang laut lepas.


“Tidak, tapi kalau kau mau mengajakku ke sana maka aku tidak akan keberatan.”


“Artinya, kau akan keberatan kalau tidak kuajak ke sana?”


Gabriel tersenyum terhibur mendengar pertanyaan sedikit sinis Savier. “Kesimpulan yang menarik,” ucapnya terhibur. “Kalau begitu,” lanjutnya, “mengapa kau tidak mengajakku ke sana? Aku tidak keberatan untuk membiarkanmu menggenggam tanganku, mumpung aku belum menikah dengan orang itu, lho.”


“Entah kenapa aku merasa seperti kau sedang memberikan hints padaku. Kau yakin kalau orang yang kau maksudkan itu bukan aku?”


Gabriel tidak menjawab pertanyaan Savier, ia hanya diam dengan senyum yang mengatakan “menurutmu?”—yang tak ayal membuat Savier mendengus sebal. Gabriel tetap tidak peduli, ia justru menggestur Savier agar menemaninya bersandar pada mobil menikmati langit barat di mana matahari tak lama lagi sudah akan mulai terbenam. Dan Savier, seraya menghela napas, memposisikan dirinya di samping Gabriel, matanya ikut memandang langit yang sama yang Gabriel pandang.


Matahari kian mendekati garis horizon, langit pun telah bermandikan warna keoranyean, yang kemudian menjadi kemerahan lalu terus menggelap hingga akhirnya menghilang lantaran mentari sudah bersembunyi di balik horizon. Dan selama itu terjadi, kedua insan tersebut tidak menggumamkan sepatah kata pun, keduanya konten menikmati keindahan langit barat dalam kelembutan hening yang menyamankan.


“Kita pergi…?”


Savier mengangguk.


Gabriel tersenyum, namun ia sama sekali tidak beranjak dari posisinya meskipun Savier menganggak. “Kau tahu mengapa aku ingin melihat matahari terbenam?” tanyanya lembut.


“Hm, karena waktu itu kita tidak melihatnya...?”


“Bukan,” geleng Gabriel. “Aku ingin melihatnya,” lanjut Gabriel, “karena aku ingin menguatkan tekadku saja… dan, sekarang aku sudah sangat yakin dan percaya diri kalau semuanya akan berjalan lancar.”


“Oh.”


Gabriel menyunggingkan senyum kecilnya pada langit gelap sebelum kemudian menghadap ke Savier dan berkata, “Ayo pulang.”


Savier mengangguk dan berjalan ke sisi lain mobil, melihat itu, Gabriel langsung membuka pintu mobilnya lalu masuk dan menghidupkan mobilnya. “Mau makan dulu?” tanyanya.


“Sebaiknya langsung pulang saja.”


“Oke.” Gabriel langsung memacukan mobilnya menyusuri jalan beraspal, ia pulang melalui jalur yang sama dengan sewaktu ia pulang bersepeda dengan Savier dulu. Mobilnya ia pacu dengan kecepatan rendah, lebih rendah dibandingkan dengan sewaktu pergi tadi; ia ingin menghabiskan waktunya berdua di dalam mobil dengan Savier selama mungkin.


Di sepanjang perjalanan, bibir Gabriel senantiasa melengkung sambil sesekali memperhatikan Savier yang memejamkan matanya dengan kepala bersandar pada kaca mobil. Meskipun Gabriel akan lebih senang jika Savier menyandarkan kepalanya pada tubuhnya, ia tetap menikmati melihat wajah tenang Savier. Sesekali tangan kirinya terangkat ingin mengelus lembut pipi lelaki itu, tapi Gabriel tahu kalau Savier sama sekali tidak sedang terlelap. Ah, ia tidak boleh terlalu egois, hari ini sudah sangat menyenangkan; hari di mana dia akan melakukan itu akan segera tiba, aku hanya perlu sedikit bersabar.


Mobil pun terus melaju tanpa henti. Dan meskipun Gabriel sudah membawa mobilnya dengan pelan, waktu tetap saja terasa berlalu begitu cepat, dan tak terasa mereka sudah berdiri di depan pagar rumah Savier seraya menghadap satu sama lain.


“Terima kasih untuk hari ini, Vier.”


Savier mengangguk pelan, senyum kecil tersemat di bibirnya. “Hati-hati di jalan, Gab.”


Gabriel mengangguk pelan, bibirnya pun melengkung dengan elegan.


Savier berbalik arah dan memasuki pekarangan kontrakannya.


Mobil Gabriel melaju kencang, sangat berbeda dengan sewaktu ketika ia mengantar Savier pulang. Bukan cuma itu saja, paras jelitanya pun kini minim ekspresi, berbeda dengan sewaktu Savier duduk di sampingnya tadi di mana senyum senantiasa menghiasi parasnya. “Ah, benar-benar membosankan…” gerutunya tidak suka, “…kalau nggak ada Savier di sampingku. Ah, ini benar-benar membosankan; aku ingin dia selalu di sini, bersamaku selalu, selalu, dan selalu….”


Ya, bukan rahasia lagi kalau Gabriel sangat-sangat menyukai lelaki itu, bahkan Rihasa—satu-satunya teman wanitanya—mengatakan kalau ia sudah terobsesi pada lelaki itu. Perasaannya sudah bersemi sejak lama, bukan pada masa kuliah atau pun masa sekolah menengah atas, tetapi jauh sebelum itu. Itu dulu sewaktu ia kelas enam sekolah dasar, pada pertemuan yang tak disengaja, dikala ia pergi dari rumah lantaran ayah dan ibunya memperebutkan hak asuh atas dirinya. Harus ia akui kalau itu bukanlah pertemuan yang romantis seperti yang ada di novel-novel, namun Gabriel tidak pernah bisa mengenyahkan kenangan waktu itu. Bahkan mengingatnya saja sudah mampu membuat bibirnya melengkung. “Aku harus membuatnya nyata…” gumamnya seraya meningkatkan kecepatan laju mobilnya.


Butuh sekitar lima belas menit dari tempat Savier mengontrak untuk tiba di rumah Gabriel—rumah yang dibelinya sebagai tempat tinggal mereka setelah ia menikah dengan Savier nanti. Ia sama sekali tak terkejut melihat mobil ibunya sudah berada di dalam pekarangan rumahnya, karena memang ibunya belakangan ini sangat sering mengunjunginya. Gabriel mematikan mesin lalu turun dari mobilnya dengan elegan, dan ia tak membuang banyak waktu untuk memasuki rumah dua lantai berhalaman luasnya.


“Ah, akhirnya kamu pulang juga, Raphiel.”


Gabriel mengernyitkan keningnya tidak suka, matanya langsung memandang dingin pada laki-laki berusia akhir dua puluhan yang duduk berhadap-hadapan dengan ibunya—yang menyapanya sambil tersenyum lebar. Gabriel hanya memandang laki-laki menjijikkan itu selama beberapa detik sebelum kemudian memusatkan perhatiannya pada wanita yang telah melahirkannya. “Sampah dari mana yang kau bawa ke tempat tinggalku, Ibu?” tanya Gabriel dengan intonasi datar dan jijik.


Wanita berambut hitam pendek sebahu yang dimaksudkan Gabriel langsung mengernyitkan keningnya tidak suka, wajahnya sedikit memerah menahan amarahnya dari keluar kontrol. Tak berbeda dengan ibunya, wajah lelaki yang dimaksudnya sebagai “sampah” itu pun langsung memerah padam; jika ibunya Gabriel tidak menenangkannya pasti dia sudah meledak dalam amarah. Gabriel mendengus jijik melihatnya, sepertinya aku harus mempekerjakan satpam mulai dari sekarang, batin Gabriel.


“Raphi,” panggil ibu Gabriel dengan wajah serius seraya menghampiri Gabriel yang masih berdiri di dekat pintu. “Apa kamu bisa sedikit lebih sopan, dia adalah anak dari teman baik ibu. Setidaknya berkenalanlah terlebih dahulu dengannya; dia pria yang baik dan sukses, ibu yakin pikiranmu akan berubah setelah mengenalnya lebih dekat.”


Ekspresi Gabriel mendingin seketika, ibu Gabriel tak bisa menahan dirinya untuk tidak terkejut melihat amarah yang terpancarkan dari iris eksotis Gabriel. “Ibu,” ucapnya dingin, saking dinginnya bahkan membuat ibunya merinding. “Aku sudah mengatakannya, kan, kalau aku sudah memiliki calon suami. Selama ini aku mentolerir perkataan egois ibu karena aku menghormatimu, tapi, sekarang kau sudah membuatku melewati batas kesabaran. Ini adalah terakhir kalinya aku mendengar ibu membicarakan hal yang menjijikkan itu; jangan sampai aku membuat ibu menyesal.” Gabriel tidak menunggu respon ibunya, ia langsung melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu tanpa sekalipun melihat ke arah lelaki itu.


“Oh,” ucap Gabriel seraya menghentikan langkahnya di antara ruang tamu dan ruang tengah. “Aku tidak menginginkan sampah itu di rumahku, aku ingin ibu membuangnya dari sini.” Dan dengan itu, Gabriel meninggalkan ruang tamu tanpa sekali pun berbalik, pun ia sama sekali tidak peduli dengan teriakan kekesalan “sampah” yang telah mengotori rumahnya itu.


Segera setelah ia memasuki kamar tidurnya, Gabriel langsung menghempaskan dirinya ke tempat tidur empuknya. Tak lama setelahnya, ibunya memasuki kamarnya dengan ekspresi yang sulit diartikan, berbagai gejolak emosi memenuhi wajah wanita berusia empat puluhan itu sebelum akhirnya senyum masam terukir di bibirnya. Gabriel tak terlalu peduli dengan ekspresi ibunya; setelah semuanya, ia telah memperingatkan ibunya untuk tidak perlu ikut campur dalam urusan pribadinya, dia saja yang terlalu keras kepala.


“Apa ibu benar-benar telah melakukan hal yang tidak perlu…?”


Gabriel melirikkan matanya memandang sang ibu. “Apa kemampuan ibu sebagai psikolog sudah tumpul, atau sirna?”


Gabriel tahu kalau ucapannya terhadap ibunya sangatlah tidak sopan, namun ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bersikap seperti itu. Semenjak bercerai dengan suami keduanya—lelaki brengsek yang telah merebut ibu dari ayahnya—dua tahun lalu, ibunya rasanya sudah sangat berbeda dengan dirinya dulu yang sangat antusias mendukung semua yang Gabriel inginkan. Jika dulu ibunya adalah wanita yang tangguh dan seseorang yang mengajari banyak hal padanya, maka sekarang ibunya seperti cangkang dari ibunya yang dulu; entah ke mana isinya pergi. Namun… sedikit banyaknya Gabriel mengerti, sangat mengerti malah. Hanya saja, ia tidak bisa membiarkan siapa pun berdiri di antara dirinya dan Savier. Ia sudah menyingkirkan Shona; Gabriel tidak mau ibunya meletakkan orang lain lagi di antara mereka.


“Ibu mengerti, tapi, apa kamu tidak bisa memperkenalkannya pada ibu? Ibu… ibu tidak ingin kamu berakhir seperti ibu, ibu tidak ingin melihat kamu tersakiti nantinya.”


Gabriel mendudukkan diri dan memandang intens ibunya. Ia bisa melihat jelas ekspresi sedih di wajahnya, ekspresi yang jarang ibunya perlihatkan pada dirinya. Kalau sudah seperti itu maka Gabriel tidak punya pilihan lain selain membuat ibunya merasa lebih baik; ia sangat tidak suka jika ibunya menunjukkan sisi lemahnya pada dirinya.


“Dua minggu lagi, aku akan mengenalkan Ibu padanya dua minggu lagi.”


Ekspresi sedih ibunya langsung pudar begitu pernyataan itu keluar dari mulut Gabriel. Dia tersenyum lebar dan mendekati Gabriel, dia lalu menangkup wajah Gabriel dengan kedua tangannya dan mendaratkan kecupan hangat di kening putri satu-satunya itu. “Ibu akan menantikan datangnya hari itu,” ucapnya lembut dengan penuh nada pengharapan.


“Um,” angguk Gabriel. “Ibu akan menyukainya,” tambahnya.


“Kalau Raphiel sudah berkata seperti itu, maka ibu pasti akan menyukainya.” Ibu Gabriel kembali mencium kening Gabriel lalu tersenyum lembut pada putrinya sebelum kemudian dia berbalik dan melangkah ke pintu.


“Ibu,” panggil Gabriel, membuat langkah ibunya terhenti.


“Untuk yang tadi... aku minta maaf, tak seharusnya aku berbicara seperti itu pada ibu.”


“Tidak apa-apa, ibu sangat mengerti mengapa kamu sampai bersikap seperti itu. Cinta… kamu sangat-sangat mencintainya, bukan begitu?” Selepas mengatakan itu, dia langsung keluar dari kamar Gabriel tanpa berbalik sedikit pun, Gabriel hanya memandang kepergian ibunya dengan datar.


“Benar,” gumam Gabriel tidak pada siapa pun, bibirnya melengkuk membentuk seringaian yang akan membuat siapa pun yang melihatnya berpikir kalau dia sudah gila. “Aku sangat-sangat mencintainya, aku ingin memilikinya dan membuatnya hanya melihat diriku selalu, selalu, dan selamanya. Bila perlu... aku akan merantainya agar dia tidak pernah berpaling. Mata itu… hanya boleh ditujukannya padaku, dia hanya boleh mengagumiku, dia hanya boleh terpana pada diriku, hanya padaku seorang. Dia adalah milikku. Dulu, kini, dan selamanya. Kau pasti setuju denganku, kalau kau juga menginginkanku untuk menjadikanmu milikku, kan, Savier?”


Hening.


“…Aku tahu kau sangat setuju!” seru Gabriel dengan penuh keyakinan.


Gabriel meraih smartphone-nya dan mulai mencari nama Savier di daftar kontaknya. Ia tak ragu langsung menekan tombol hijau di layar sentuh itu dan mendekatkan teleponnya ke telinga. “Hai, Vier, apa aku mengganggumu?”


Bibir Gabriel melengkung dengan sendirinya begitu suara orang yang paling diinginkannya itu terdengar di telinganya. “Em, begini, aku sudah memutuskan: Minggu depan aku bertekad untuk mengungkapkan perasaan dan keinginanku padanya. Karena itu, Vier, aku ingin meminta bantuanmu, aku harap kau tidak keberatan… dan kau memang tidak keberatan, kan?”