Between Love and Obsession

Between Love and Obsession
Bagian 5: The Truth and Marriage, part 10



Gedung di mana acara pernikahan itu direhat adalah gedung mewah yang berkelas, sangat berbeda jauh dengan acara pernikahannya dulu yang dilangsungkan secara sederhana di rumahnya. Terus terang saja Shona merasa iri, pada elok dan megahnya resepsi pernikahan mereka, juga pada sosok mempelai wanita yang duduk angkuh di pelaminan di sisi sang mempelai pria.


Shona sangat tahu kalau Gabriel telah menyingkirkan dirinya dari kehidupan Savier; wanita berkacamata itu telah melakukannya dengan sengaja. Lelaki yang berjalan di kanan seraya menggandeng tangannya, suaminya, adalah sepupu dari wanita itu. Suaminya itu juga telah mengakui kalau dia mengenal dirinya melalui Gabriel. “Gabriel mengatakan kalau dia mengenal seorang wanita yang sesuai dengan tipeku,” begitu pengakuan suaminya itu. Karenanya Shona tidak menyukai Gabriel, jujur ia cukup membencinya. Jika bukan karena ajakan manis suaminya untuk datang ke sini, Shona tidak akan sudi untuk datang.


Bukan rahasia lagi di antara mereka berdua kalau dirinya masih belum mencintai suaminya, hatinya masih enggan berpindah dari Savier. Tapi, lelaki yang kini menggandeng tangan kanannya ini tidak masalah dengan itu. “Suatu saat aku akan membuat hatimu berlabuh padaku,” begitu ikrar lelaki ini. Dia begitu persisten, saking persistennya sampai Shona kehilangan kata untuk menolaknya. Terlebih lagi kebaikan yang lelaki ini berikan padanya, terasa berat bagi Shona untuk menolak ketika dia melamarnya dulu. Ditambah lagi dengan sakit hatinya melihat gambar-gambar kemesraan Savier dan Gabriel yang dikirimkan wanita berkacamata itu padanya, itu sudah cukup untuk menyalakan api kebencian di hatinya. Ia pun mengiyakan ajakan lelaki ini untuk menikah, dan dengan harapan agar Savier memintanya untuk membatalkan pernikahannya dengan lelaki ini ia mengirimkan undangan ke tempat Savier.


Rupanya harapan itu pudar begitu saja, bukannya sedih atau apa, lelaki itu malah datang dengan senyum di bibirnya. Ia membenci Savier. Betapa kejamnya lelaki itu mencampakkan janji manis mereka? Betapa mudahnya dia bermesraan dengan wanita lain tanpa mengatakan sepatah kata pun padanya? Bukankah dia dulu berkata untuk tidak berpacaran, namun dengan lucunya dia malah berpacaran dengan wanita lain di belakangnya? Shona tahu diri; ia kalah jauh dari Gabriel dari segi paras, otak, dan kekayaan, tapi…, tidak bisakah lelaki itu mengatakannya padanya sebelum dia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Gabriel? Ia telah salah menilai Savier, atau mungkin, pertemuan dengan Gabriel telah mengubah Savier sepenuhnya. Membandingkan Savier yang dulu dan yang sekarang, rasanya Shona ingin tertawa. Oh, betapa ingin ia duduk menggantikan Gabriel di sana.


Ah, aku tidak boleh membayangkan diriku yang duduk di sana. Tersenyum kecut, Shona mengusir rasa iri di hati dan memasang senyum lembut di bibirnya, kemudian ia mengajak sang suami untuk melangkahkan kaki mereka menghampiri pelaminan. Shona melirik pada wajah suaminya. Meskipun lelaki itu tahu perasaannya, dia tetap bersabar dan tidak pernah memaksanya. Dia lelaki yang baik, bahkan dari segi rupa dia tak kalah dengan Savier. Tapi cinta, itu bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan begitu saja, hanya waktu yang bisa menyelesaikan persoalan abstrak itu. Setidaknya, itu adalah apa yang ia percayai—dan ingin tetap mempercayai.


Keduanya tiba di depan pelaminan.


Shona memasang senyum setulus yang ia bisa. Rasa benci dan iri ia kunci rapat-rapat, tak ia biarkan sedikit pun terlihat. Kendati sangat berat, ia ingin tetap kuat. Savier dulu bisa tersenyum di depan suaminya, dan sekarang Shona tersenyum balik pada istri lelaki yang membuatnya belajar mencinta itu. “Selamat atas pernikahan kalian,” ucap Shona, menyalami Gabriel—suaminya pun mengatakan hal yang sama pada Savier. “Aku doakan agar kalian hidup bahagia selalu, bahkan di dunia setelah kehidupan ini nanti.”


“Terima kasih,” respon Gabriel, Shona sedikit menaikkan sebelah alisnya melihat reaksi yang tak biasa itu.


“Kalian terlihat sangat serasi.” Kemudian Shona menghadapkan wajahnya pada Savier. “Selamat, Savier. Semoga kau berbahagia.”


“Terima kasih, Shona.”


Tersenyum kecil, Shona berbalik arah, dan bersama suaminya ia melangkah pergi. Matanya yang ia tahan sedari tadi, kini terlihat sedikit berkaca-kaca. Namun cairan bening itu tak pernah tumpah, ada tangan kekar yang menggenggam jemarinya dengan lembut. “Aku akan selalu bersamamu, Shona,” bisik pemilik tangan itu. Shona mengangguk. “Aku tahu,” balasnya pelan.


***


Gabriel tidak bisa menahan keterkejutannya ketika tadi Shona menghampiri dan tersenyum tulus padanya. Ia bisa mengerti jika Shona memasang senyum palsu dan memandangnya penuh benci, namun kenyataannya tidak seperti itu, istri dari sepupunya itu justru datang dan mendoakan agar pernikahannya dan Savier berlangsung bahagia dan langgeng selamanya. Wanita itu mengatakan kata-kata doa itu sambil mengeratkan genggaman tangannya pada suaminya, sepupu Gabriel dari sisi ibunya, dengan mesra. Gabriel tidak tahu bagaimana sebenarnya isi hati Shona, tapi jika gadis itu ternyata membencinya, maka itu tadi adalah akting yang sangat berkelas yang ditujukan Shona untuknya. Menyembunyikan ekspresi yang sebenarnya dari dirinya adalah hal yang sulit dilakukan, karena itu Gabriel mengakui kehebatan Shona—itu kalau memang Shona tidak bersungguh-sungguh tadi. Gabriel tidak tahu apakah Shona sudah mengatakan semuanya pada Savier atau belum, tapi melihat dari interaksi singkat mereka tadi dan rona wajah suaminya yang tak berubah, maka kemungkinan besarnya belum. Jangan sampai Savier tahu terlebih dahulu sebelum aku memberitahunya, Gabriel mengingatkan dirinya. Ia akan memberitahu Savier begitu pesta ini selesai, apa pun yang terjadi setelah itu, itu adalah konsekuensi yang harus ia terima.


Tentu saja Gabriel percaya diri kalau konsekuensi yang tidak diinginkannya tidak akan terjadi. Kalau ia mengkhawatirkan hal itu, maka jelas ia tidak akan merencanakan untuk mengatakan semuanya, sebaliknya ia akan melakukan berbagai cara untuk mengelak dari tuduhan itu jika sewaktu-waktu semuanya muncul ke permukaan. Bahkan jika konsekuensi yang tak kuinginkan terjadi sekali pun, aku hanya perlu sedikit lebih agresif. Bibir Gabriel merekah, sorot matanya memandang tajam wanita yang pernah mencuri hati suaminya tercinta itu. Apa pun yang terjadi, Savier akan tetap menjadi milikku satu-satunya, batin Gabriel.


Resepsi pernikahan berjalan sebagaimana yang direncanakan. Tidak ada kendala atau masalah sama sekali. Pesta dijadwalkan berlangsung hanya sampai sore, Gabriel tak berminat untuk melangsungkannya hingga malam. Selepas pesta, Gabriel dan Savier langsung pergi meninggalkan lokasi pesta menuju ke hotel yang sudah di-booking oleh Marena—tentu saja mereka juga diantar oleh Marena. Mereka tiba di hotel ketika senja. Seusai berterima kasih pada Marena, Gabriel dan Savier lekas memasuki hotel. Check-in, menerima kunci ruangan, keduanya lantas pergi ke ruangan tersebut di lantai sepuluh gedung hotel berbintang lima itu. Pasangan suami-istri itu akan menginap di hotel selama dua hari, kemudian mereka akan melakukan penerbangan ke New Zealand untuk menikmati liburan pernikahan mereka selama dua minggu. Tentu saja, itu semua Gabriel yang mengaturnya. Jika itu terserah Savier, lelaki itu hanya akan mengajaknya ke tempat yang damai nan nyaman di dekat kota, sesimpel itulah suami tercintanya itu.


Keduanya tiba di depan kamar hotel tak lama kemudian. Kamar hotel yang dipesannya adalah salah satu yang termewah, lengkap dengan segala fasilitas berkelas yang diperlukan. Membuka kunci kamar, masuk, lalu kembali mengunci pintu coklat tersebut, Gabriel mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Ruangan yang lebih besar dari ruangan di rumahnya itu didominasi warna putih, dengan warna biru yang memperindah langit-langit. Secara dekorasi, Gabriel akan memberi nilai 8 dari skala 1 sampai 10; bagus, tapi tidak sampai mencengangkan. Secara keseluruhan, Gabriel tidak merasa keberatan untuk menghabiskan dua malam di sini. Ia tidak tahu dengan Savier, tapi tentu saja lelaki di sampingnya ini tidak akan mengusulkan hal-hal konyol seperti pindah ke hotel yang lebih murah.


“Ah, hari ini cukup melelahkan, bukan begitu, dear?” tanya Gabriel seraya mendudukkan dirinya di sofa santai di pinggir jendela, di samping Savier.


“Benar sekali, Gab. Aku lelah secara fisik dan mental,” cetus Savier.


“Kalau begitu ayo mandi, aku yakin kita akan merasa lebih segar setelah itu.”


“Er, bareng…?”


“Ya iyalah, aku akan membantu menggosok punggungmu, dan kau akan membantu menggosok punggung dan membilas rambut panjangku.”


“Gab…, mentalku masih belum siap.”


“Karena aku baru menjadi mualaf hari ini, bukankah itu artinya aku harus segera mandi wajib? Bukankah itu tugasmu untuk mengajariku…?”


Mata Savier mengerjap, Gabriel memandanginya dengan serius.


“Aku bisa memberitahumu sekarang,” dalih Savier.


“Akan merepotkan jika nanti ‘tiba-tiba’ aku lupa; bukanlah lebih efektif jika kau mengajarkannya sambil mempraktekkan langsung?”


“…”


“…”


“Jika kau mengatakannya seperti itu, kurasa aku tidak punya pilihan lain, huh?”


“Tidak,” sanggah Gabriel. “Kau punya pilihan, kau bisa mengatakan kalau kau tidak mau mengajariku, dear.”


Savier memandang datar dirinya, Gabriel memandang datar balik Savier.


Bibir Gabriel merekah. “Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo ajari aku mandi!”


Senada dengan seruan Gabriel, keduanya bangkit dari sofa tempat mereka duduk, ke kamar mandi mereka berjalan.


Malam berlangsung begitu menegangkan, dan pagi pun kembali menyapa dunia. Mereka menikmati sarapan yang disediakan pihak hotel, diantar langsung ke kamar. Seusai sarapan keduanya menghabiskan waktu bersama di sofa di depan jendela, memandangi pemandangan perkotaan yang tersaji di balik dinding bening transparan itu.


Gabriel belum mengatakan rahasianya. Ia berencana mengatakannya setiba di kamar hotel semalam, namun pikirannya yang tiba-tiba menjadi “liar” mengurungkan niatannya itu. Sempat terlintas dibenaknya untuk berbicara setelah kegiatan panjang mereka selesai, namun itu akan sangat merusak mood yang sudah terbangun. Akhirnya, hingga jam delapan pagi hari ini, Gabriel sama sekali belum memberitahu Savier tentang semuanya.


Sejujurnya, Gabriel tidak ingin untuk membeberkan semuanya, tapi ia tidak searogan tokoh-tokoh antagonis di drama-drama, pun ia tak naïf seperti para protagonis dalam setiap drama. Gabriel melakukan sesuatu dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, yang baik maupun yang buruk beserta konsekuensi-konsekuensi dari hal yang dilakukannya. Selain itu, ada faktor x—dalam hal ini adalah takdir—yang akan secara misterinya mengurai semua tipu muslihat. Karenanya ia sangat tahu, kalau manipulator yang paling baik sekalipun tidak akan pernah bisa memastikan semuanya berjalan lancar seperti yang telah ia manipulasikan, harus ada rencana jika sewaktu-waktu semua rahasia itu terkuak dan menimbulkan konsekuensi yang paling dikhawatirkan. Tapi tidak dengan Gabriel, ia selalu merencanakan segala sesuatunya secara matang, pun ia telah menyiapkan rencana cadangan dari rencana cadangan jika rencana utamanya gagal. Namun itu bukan berarti Gabriel seratus persen yakin dengan apa yang akan terjadi nanti. Ia bukan Tuhan, jika Tuhan berkehendak lain maka semua hal yang telah ia desain akan menghilang begitu saja.


“Dear,” Gabriel membulatkan tekadnya, kepala yang tadinya ia sandarkan pada dada bidang Savier kini sedikit menengadah memandang lamat-lamat wajah tenang itu.


“Ya, Gab?”


“Apa kau percaya, jika aku mengatakan kalau sebenarnya akulah yang secara tidak langsung mengenalkan sepupuku itu pada Shona, akulah yang dulu menyemangatinya untuk segera melamar Shona?”


“Tentu saja,” respon Savier cepat. “Aku juga akan percaya jika kau mengatakan kalau Shona jadi berhenti untuk memenuhi janji kami dulu adalah karena ulahmu.”


Mata Gabriel melebar seketika, tubuhnya mendadak kaku, wajahnya tegang. Namun itu hanya bertahan selama beberapa detik saja, ekspresinya kembali normal seolah-olah ekspresi tadi tidak pernah singgah di wajah jelitanya. “…Kau tahu?” tanyanya.


“Tahu apa…?” tanya balik Savier, senyum kecil terpatri di bibirnya.


Mata Gabriel menyipit melihat senyum itu, sebelum kemudian ia ikut tersenyum lalu menggeleng pelan. “Tidak, bukan apa-apa,” ucapnya lembut.


“Oh, kau tidak ingin menceritakannya padaku?”


“Ini akan panjang, kau yakin ingin mendengar semuanya?” tanya balik Gabriel.


Savier mengangguk dan meminta Gabriel melanjutkan.


Gabriel merapatkan tubuhnya pada tubuh Savier, wajahnya ia benamkan di dada bidang sang suami. Ia tak pernah berpikir akan menjadi seperti ini, ia sudah sangat khawatir kalau-kalau konsekuensi yang tak diinginkannya terjadi. Akan tetapi, faktor x itu ternyata benar-benar nyata dan tak bisa ditebak. Semua kekhawatirannya, rencana-rencana cadangannya, ternyata semuanya akan menjadi tak berguna sama sekali. Tapi, mungkin ini lebih baik. Ah, bukan mungkin lagi, ini tak ragu adalah yang terbaik. Hadiah dari Tuhan untuknya yang telah memutuskan untuk menghambakan diri pada-Nya. “Jika bersamanya membuatmu mendekat pada-Ku, maka akan kubiarkan hatinya condong kepadamu,” mungkin begitu pesan Tuhan untuknya. Gabriel tak bisa lebih bahagia lagi.


“Itu dimulai dulu sekali, sebelas tahun lebih yang lalu,” cerita Gabriel. “Itu dimulai di hari kedua orangtuaku saling berargumen, dengan hati kesal aku pergi ke taman. Mulanya aku bahkan tak menganggapmu ada di bangku taman, lalu ketika aku menggerutu, tiba-tiba kau mengatakan: ‘Ck, hidup ini singkat, kalau kau tidak mau menikmatinya, lebih baik mati saja; tidak ada artinya hidup jika tersenyum saja tidak bisa. Kau sama sekali tidak dilahirkan untuk menyenangkan orang lain, karenanya, tidak perlu ambil pusing dengan perkataan sok tahu mereka. Hidupmu adalah milikmu, suara yang harus kau dengar hanyalah suaramu, keinginan yang harus kau wujudkan hanyalah keinginanmu, dan yang benar-benar mengerti dirimu hanyalah dirimu sendiri. Selama kau tidak mengusik orang lain maka tidak ada yang berhak untuk mengusikmu, jika mereka mengusikmu maka kau berhak membalas mereka. Hiduplah seperti apa yang kau inginkan, bukankah itu sudah cukup?’.”


“Jangan lanjutkan, Gab! Sepertinya aku berubah pikiran.”


Gabriel tak menggubris protes suami tercintanya, ia kembali bercerita dengan penuh minat.


***


Shona berdiri diam di halaman belakang rumahnya. Angin malam berhembus lembut, memainkan rambut hitam panjangnya yang tergerai bebas dengan nakal. Kendati rambutnya sesekali menerpa wajah, pandangan Shona sama sekali tak bergerak. Iris hitamnya sedari tadi memandang nanar shuriken kertas di tangan kirinya. Ia sudah dengan dinginnya berbohong waktu itu, mengatakan kalau ia sudah membakar kertas ini hingga menjadi abu, kemudian dengan tanpa emosi menghembuskan abu itu hingga tak bersisa. Nyatanya, Shona masih menyimpan shuriken kertas ini dengan sepenuh hati. Dari sepuluh tahun itu, ini sudah tiba di penghujungnya, waktunya mereka mengembalikan shuriken kertas ini dan mewujudkan janji mereka dulu. Shuriken kertas ini, ia selalu ingin mengembalikannya.


Semu, tak ada kata yang lebih tepat dari itu untuk menyimpulkan esensi dari janji itu. Mungkin itu salahnya juga, ia terlalu naïf, bagaimana bisa ia percaya kalau semuanya akan baik-baik saja tanpa komunikasi sekali pun? Jika saja, setidaknya, mereka berkomunikasi seminggu—atau minimal sebulan—sekali, mungkin semuanya tak akan berakhir seperti ini. Berharap pada takdir? Konyol sekali, bagaimana bisa ia berharap pada objek semu itu sedangkan esok masih hidup atau tidak saja ia tiada tahu?


Masa muda yang ceroboh, pemikiran yang tidak matang, kepercayaan yang lemah. Atau barangkali, rasa cinta itu tidak pernah nyata padanya—secara sepihak hanya ia yang mencinta. Ah…, betapa lucu sekali, rasanya sungguh menggelitik, tak tertahan lagi ia ingin tertawa. Memuakkan.


Shona tak bisa menahan air matanya untuk tak mengalir, bibir bawahnya ia gigit pelan, menahan dirinya agar tak terisak. Tetes air mata itu jatuh, berderai, tertiup angin, lalu terhempas ke tanah. Tangan Shona terkepal, shuriken kertas kusut, hilang bentuk, lalu jatuh menghantam tanah tatkala kepalan tangan itu lepas. Kaki kanan Shona terangkat, lalu tanpa ampun jatuh memijak-mijak bola kertas itu. Kemudian ia mengambil sebuah mancis dari saku baju, berjongkok, dan memandang dingin bola kertas yang sudah kotor diliputi tanah.


“Pada akhirnya aku tak berbohong,” lirihnya sembari menyeka wajah—yang basah oleh air mata.


Shona menyalakan api dari mancis di tangan kanan. Perlahan ia mendekatkan api itu ke bola kertas yang lusuh berat, namun hembusan angin malam seketika membuat api itu mati. Untuk kedua kalinya ia menyalakan api, untuk kedua kali pulalah angin malam dengan nakalnya mematikan nyala api. Mendecih kesal, mancis itu dinyalakan untuk ketiga kalinya. Kali ini, api itu sukses menyulut bola kertas yang lusuh dan kotor. Shona memandangnya dengan datar, dingin namun terselip berbagai emosi yang bercampur-aduk. Hingga kertas itu menjadi abu, Shona tak sedikit pun bergeming. Tertawa hambar, Shona lalu meniup abu itu, hingga tak bersisa barang sedikit pun.


Detik-detik berlalu dalam hening, hanya gemerisik dedaunan yang ditiup angin malam yang terdengar. Shona tak bergeming dari tempatnya berjongkok, ia baru berdiri ketika derap langkah kaki terdengar mendekatinya. Tanpa beban Shona berbalik arah, bibirnya segera melengkung, mengukirkan senyum manis namun sedikit kosong. “Ah, apa kamu terbangun?” tanyanya lembut.


“Aku tak melihatmu di sampingku, karenanya aku ke sini. Apa yang kau lakukan di halaman belakang, di tengah malam seperti ini?”


“Bukan suatu hal yang penting,” jawab enteng Shona, “aku hanya membakar kertas yang sudah tak lagi berguna. Ayo kembali, dinginnya angin malam mulai menusuk-nusuk kulitku.”