Between Love and Obsession

Between Love and Obsession
Bagian 5: The Truth and Marriage, part 1



Ia datang terlalu awal. Setengah jam lebih awal dari jam pertemuan yang disepakati. Bukannya Gabriel lupa dengan waktu pertemuan tersebut, ia justru sengaja datang lebih awal. Tidak ada alasan khusus untuk itu, ia hanya ingin untuk datang lebih awal saja, benar-benar tidak ada alasan lain. Well, tidak ada alasan lain selain memastikan kalau ia tidak akan ragu meskipun ia masih belum yakin seratus persen kalau keinginannya pasti terwujudkan. Gabriel kemudian mendudukkan dirinya di kursi kosong di meja yang terletak tepat di samping jendela di lantai dua restoran. Seorang pelayan datang dan menanyainya pesanan, Gabriel tanpa ragu memesan segelas capucino untuk menemaninya menunggu Savier datang. Segera setelah pesanannya sampai padanya, Gabriel langsung membasahi mulutnya dengan cairan coklat muda itu. Setelah puas dan merasa nyaman, Gabriel meletakkan gelas berisikan capucino itu lalu kembali mengulas apa yang sudah dipersiapkannya untuk ia katakan nanti pada Savier.


Dari semua kemungkinan yang sudah ia prediksikan, hanya ada dua yang berakhir dengan penolakan. Untuk yang pertama, Gabriel sudah mengantisipasi hal itu beberapa hari yang lalu. Namun untuk yang kedua, Gabriel tidak bisa melakukan apa-apa untuk hal itu. Jika Savier ternyata sudah tahu tentang apa yang sudah ia lakukan terhadap hubungannya dan Shona, maka apa pun yang ia katakan akan percuma. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah berharap agar lelaki itu tidak tahu. Ck, akan lebih baik jika sekiranya dulu aku menghalangi Savier dari menghadiri acara pernikahan Shona, batin Gabriel kesal.


Namun demikian, Gabriel sama sekali tidak mengandalkan semua asanya pada harapan. Ia bukan orang yang senaif itu; Gabriel tidak pernah menggantungkan sesuatu pada harapan atau pun takdir, satu-satunya yang bisa ia percayai dan andalkan hanyalah dirinya sendiri. Baik itu dulu, sekarang, bahkan di masa depan nanti, Gabriel hanya mengandalkan dan mempercayai dirinya sendiri, hal itu tidak akan pernah berubah.


Selaras dengan itu, jika Savier berani menolaknya, maka Gabriel tidak punya pilihan lain selain mengambil langkah yang lebih agresif. Memang, akan lebih sempurna jika Savier benar-benar memiliki rasa padanya, tapi, meskipun Gabriel bisa melihat kehangatan yang dipancarkan mata Savier untuknya, Gabriel tidak berani untuk mengambil kesimpulan kalau lelaki itu sudah jatuh hati padanya. Barangkali itu adalah apa yang membuatnya tak jauh berbeda dengan wanita-wanita lainnya, barangkali juga itu adalah cinta yang membuatnya ragu, yang membuatnya tetap berada pada batas-batas norma yang ada.


Ah, bagaimana ia bisa sampai seperti ini, mengapa ia sampai tergila-gila pada lelaki itu, mengapa ia ingin agar dia hanya memandang dirinya, mengapa sampai ia terobsesi seperti ini? Menanyakan semua hal itu membuat Gabriel kembali teringat akan pertemuannya dengan lelaki itu, pada saat itu, sebelas tahun yang lalu.


***


Gabriel memandang kesal pada ayah dan ibunya yang sedang beradu argumen untuk memperebutkan hak asuh atasnya. Padahal selama setahun belakangan ini—setelah mereka bercerai dan ibunya keluar dari rumah ayahnya—sama sekali tidak ada masalah di antara mereka tentang hak asuh, dirinya secara bergantian tinggal bersama ayah dan ibunya masing-masing selama seminggu. Namun, ibunya mulai mempermasalahkan hal itu sejak ayahnya memperkenalkan calon istri barunya padanya dan ibunya. Gabriel tidak mengerti apa yang ibunya permasalahkan; jika dia memang tidak suka dengan ayahnya yang akan segera menikah minggu depan, maka mengapa dia sendiri tidak menikah dengan kekasih sialannya? Dia yang sudah memilih berselingkuh dari ayahnya demi lelaki bedebah itu, mengapa dia berpikir dia berhak membawa dirinya dari ayahnya?


“Sangat egois sekali kau, Ibu!” kesal Gabriel sembari meninggalkan kedua orang tuanya yang saling berdebat.


Gabriel berjalan keluar dan terus berjalan hingga ia melewati gerbang rumah mereka. Ia sama sekali tidak peduli pada teguran satpam yang dipekerjakan ayahnya; terserahnya mau pergi ke mana pun atau mau melakukan apa pun. Satu-satunya yang berhak memberinya peringatan adalah orang tuanya, namun itu terserah dirinya mau mendengarkan mereka atau tidak. Hidupnya adalah miliknya, terserah dirinya mau melakukan apa pun dengan itu. Dan Gabriel menemukan dirinya berjalan ke taman terdekat dari rumahnya—yang jaraknya kira-kira mencapai lebih dari ratusan meter. Itu adalah taman yang sederhana namun terlihat sangat rindang dan menyamankan.


Setibanya di sana, Gabriel langsung membawa dirinya ke bangku terdekat dari arah ia datang. Bangku tersebut terletak tepat di depan sebuah pohon beringin, belasan meter di depan bangku tersebut terdapat sebuah kolam kecil yang tak ada ikannya, kolam tersebut dikelilingi oleh berbagai macam bunga yang berdiri rapi membentuk semacam pagar seolah-olah melindungi kolam dari makhluk asing. Bangku itu tidak kosong, seorang anak lelaki seumurannya telah duduk terlebih dahulu di ujung bangku, dan tanpa mempedulikan bocah itu ia duduk di ujung bangku yang satunya.


Gabriel memandang datar ke kolam kecil yang tak ada ikannya itu. Ah, betapa suramnya kolam itu, tak jauh berbeda dengan suramnya keadaan rumahnya saat ini. Mengingatnya kembali membuat kekesalan Gabriel meningkat, ia tidak habis pikir mengapa kehidupannya yang dulu berjalan damai kini menjadi sedikit amburadul.


Ibu dan ayahnya bercerai lebih dari setahun yang lalu. Itu bukan dikarenakan ayahnya yang brengsek, tapi justru ibunyalah yang brengsek, dia berani berselingkuh dengan klien-nya dan bahkan sampai membawanya ke rumah dan memperkenalkan lelaki bedebah itu pada dirinya. Ayahnya bahkan sampai meminta ibunya untuk berhenti berbuat hal bodoh dan agar meninggalkan lelaki sialan itu, tapi ibunya yang sudah buta hati malah meminta ayahnya agar menceraikan ibunya. Dan pernikahan mereka pun sirna tak terelakkan.


Kendati demikian, kehidupan Gabriel tak lekas menjadi berantakan. Ayah dan ibunya berhasil mencapai kesepakatan yang mengharuskan ia tinggal bersama mereka secara bergiliran masing-masing seminggu. Gabriel menghargai usaha mereka itu, karenanya ia tidak protes meskipun jarak rumah ibunya dan sekolahnya itu membutuhkan waktu emput puluh menit menggunakan mobil. Akan tetapi, ibunya mulai mempermasalahkan hal itu sejak ayahnya memperkenalkan calon istri barunya padanya dan ibunya. Dan hubungan mereka kian memburuk setelah ayahnya memutuskan untuk menikah minggu depan. Gabriel tidak mengerti apa yang ibunya permasalahkan; jika dia memang tidak suka dengan ayahnya yang akan segera menikah minggu depan, maka mengapa dia sendiri tidak menikah dengan kekasih sialannya? Dia yang sudah memilih berselingkuh dari ayahnya demi lelaki bedebah itu, mengapa dia berpikir dia berhak membawa dirinya dari ayahnya?


“…Stupid parents,” desis Gabriel penuh kekesalan. Tapi, jika memang orangtuanya berakhir dengan perebutan hak asuh, maka dengan tanpa ragu Gabriel akan memilih untuk tinggal bersama dengan ayahnya. Mengapa? Tentu saja karena kesalahan ada pada ibunya yang seenaknya menjadi brengsek, sangat tidak adil jika ia tetap berpihak pada ibunya, kan?


“Ck, hidup ini singkat, kalau kau tidak mau menikmatinya, lebih baik mati saja; tidak ada artinya hidup jika tersenyum saja tidak bisa. Kau sama sekali tidak dilahirkan untuk menyenangkan orang lain, karenanya, tidak perlu ambil pusing dengan perkataan sok tahu mereka. Hidupmu adalah milikmu, suara yang harus kau dengar hanyalah suaramu, keinginan yang harus kau wujudkan hanyalah keinginanmu, dan yang benar-benar mengerti dirimu hanyalah dirimu sendiri. Selama kau tidak mengusik orang lain maka tidak ada yang berhak untuk mengusikmu, jika mereka mengusikmu maka kau berhak membalas mereka. Hiduplah seperti apa yang kau inginkan, bukankah itu sudah cukup?”


“Hidup seperti yang kuinginkan, apa itu boleh?” Gabriel tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya begitu melihat bocah itu melangkah pergi. Bukan karena ia penasaran dan ingin tahu akan jawaban bocah itu, tetapi lebih kepada memastikan kalau kalimat sebelumnya benar-benar ditujukan padanya.


Bocah itu tak berbalik, namun dia sempat berhenti sebentar, sebelum akhirnya dia kembali berjalan setelah menjawab pertanyaannya itu dengan pertanyaan miliknya: “Memangnya, siapa yang berhak melarangmu?”


Ah, dugaannya benar, bocah itu memang mengalamatkan kata-kata itu padanya. Mengetahui hal itu membuat bibirnya melengkung dengan sendirinya. “Oi!” serunya memanggil bocah itu.


Dengan enggan bocah laki-laki itu berbalik dan memandang dirinya dengan malas. “Apa?” responnya tak peduli.


“Kau sama sekali tidak tahu masalahku, tapi mengapa kau sangat percaya diri kalau kata-katamu itu berpengaruh?” tanya Gabriel dengan senyum pongahnya.


Bocah itu menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan tersebut. “Sepertinya kau salah sangka,” responnya enteng dengan ekspresi datar. “Untuk perkataan-perkataan pertama tadi, aku hanya mengulang kata-kata tokoh yang ada di novel yang kubaca, aku sama sekali tak berniat menujukannya padamu. Sedangkan untuk pertanyaanku tadi, itu adalah jawaban atas pertanyaanmu tadi. Kesimpulannya, kau yang terlalu percaya diri karena telah berpikir kalau aku berbicara padamu.”


Gabriel menaikkan sebelas alisnya dengan ekspresi tidak percaya, nampak sekali kalau bocah itu sedang berbohong. “Hanya aku orang yang berada di dekatmu tadi,” ucap Gabriel dengan nada malas.


Bocah itu berusaha mati-matian untuk mempertahankan ekspresi datarnya; sepertinya dia tidak punya argumen untuk mengelak dari pernyataannya. Melihat hal itu membuatnya ingin tersenyum, tapi Gabriel mampu menahan dirinya dengan tetap memasang ekspresi “tidak pecaya”-nya.


“A-Aku berbicara pada diriku sendiri!” serunya dengan tidak meyakinkan, dan Gabriel sendiri pun memandangnya dengan pandangan bodoh. Dan menyadari betapa tidak meyakinkannya kilahannya barusan, bocah itu langsung berbalik arah dan pergi dari situ dengan terburu-buru, sekali pun dia tidak berbalik.


Gabriel sudah tidak bisa menahan mulutnya untuk tertutup, “Hahahahaha… kau, hahaha, lucu sekali, hahahaha…” dan untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir ini ia tertawa lepas tanpa beban, bahkan air matanya sampai keluar saking lepasnya ia tertawa.


Butuh waktu agak lama bagi Gabriel untuk mengontrol dirinya kembali, dan saat itu bocah laki-laki tersebut sudah menjauh dari taman.


Sekarang Gabriel sudah kembali tenang, ia kembali mengulas apa yang sudah terjadi sampai membuatnya tertawa lepas seperti tadi. Ah, ya, selain karena ia suka dengan kata-kata itu, Gabriel juga suka melihat ekspresi bocah itu, terutama ketika dia berusaha membela dirinya tadi. “Ha.., aku ingin melihatnya lagi,” gumamnya sambil memandang ke pintu taman, di mana bocah itu baru melewati pintu itu. Dan tanpa sadar, Gabriel telah menemukan dirinya berjalan mengikuti bocah itu, dengan senyum lebar di bibirnya.


***