Between Love and Obsession

Between Love and Obsession
Bagian 5: The Truth and Marriage, part 8



Dalam balutan gaun pernikahan berwarna abu-abu bernuansa islami lengkap dengan jilbab biru gelap yang dipernik dengan sangat berkelas Gabriel melangkahkan kakinya memasuki ruangan persegi berukuran 12 x 12 meter yang dihias dengan model klasik abad pertengahan. Di tengah-tengah ruangan itu, sebuah meja rendah yang terlihat megah berdiri angkuh. Di sekeliling meja itu sudah terdapat beberapa orang yang sudah menunggu, dan beberapa langkah dari meja itu duduklah keluarga dekatnya dan Savier. Ayah beserta ibunya juga adik tirinya duduk di kanan meja, di sisi kiri meja duduklah keluarga kandung Savier. Di sisi meja lainnya duduklah seorang ustadz sekaligus penghulu, dan tepat di sebelah sang penghulu duduklah saudara ayahnya yang beragama islam, pamannya itulah yang akan menjadi wali dalam pernikahannya. Tepat di hadapan kedua pria itu, sosok Savier dalam balutan tuxedo abu-abunya duduk dengan tenang. Dan ke sisi Savier-lah Gabriel berjalan dengan penuh keeleganan. Seperti yang sudah disepakati bersama dan untuk memenuhi janjinya pada calon suaminya, sebelum memulai ijab-qabul terlebih dahulu Gabriel akan mengikrarkan dirinya sebagai pengikut Muhammad dan penyembah Tuhan Yang Maha Esa. Karena kalau tidak demikian maka pernikahan tidak akan bisa dilangsungkan, dan itu adalah harga yang terlampau simpel untuk Gabriel bayarkan.


Gabriel secara perlahan mendudukkan dirinya tepat di kiri Savier. Semua pasang mata tertuju padanya, tapi Gabriel sama sekali tidak peduli, pun ia tidak sedikit pun menoleh pada Savier. Pandangan Gabriel ia tujukan pada pak ustadz sekaligus penghulu itu. “Aku siap bersyahadat,” tegas Gabriel, sama sekali tidak ada ragu yang terselip dalam suara maupun ekspresinya.


“Alhamdulillah, kalau begitu silahkan ikrarkan, kami semua yang ada di sini akan menjadi saksi perikraran Nona Gabriel.”


Gabriel menolehkan pandangannya pada Savier, lelaki itu tersenyum lembut sembari menganggukkan kepala dengan pelan, memberi Gabriel keyakinan untuk segera berikrar. Mengangguk mantap, Gabriel menghirup napas dalam-dalam, kemudian melepaskannya perlahan dengan ekspresi seriusnya. “Asyhaduan laa ilaa haillallah, wa asyhaduanna muhammadan rasulullah.”


Semua pengikut Muhammad mengucap syukur atas bergabungnya Gabriel bersama mereka, sementara keluarga Gabriel yang berpahamkan Katolik, Protestan, dan Ateis hanya diam saja, tidak ikut bersukacita seperti yang lain. Mereka bukan tidak menyukai apa yang Gabriel yakini, bagi mereka—terutama yang Ateis—menganggap apa yang dilakukannya adalah hal yang umum dan bukan suatu hal untuk dirayakan. Sejatinya setiap orang pada akhirnya akan mempertanyakan tentang keberadaan Tuhan, Gabriel tidak ada bedanya dengan orang lainnya. Oh, tentu saja tidak ada yang tahu kalau Gabriel menyatakan keislamannya semata karena jika tidak demikian maka Savier tidak akan mau menikahinya—ia beralasan pada Savier dan keluarganya kalau ia tertarik dengan agama itu. Gabriel tidak tahu kedepannya nanti bagaimana, tapi jika memang hati setiap insan itu berada di antara jemari Tuhan, maka tidak ada salahnya untuk berharap agar Tuhan mencondongkan hatinya pada agama yang diridhoi-Nya.


Raphiela Gabriel, sekarang ia adalah pemeluk agama penuh damai, bukan lagi seorang ateis. Karenanya, tidak ada lagi dinding semu yang berdiri di antara dirinya dan Savier. Sekarang waktu yang dinanti-nantikan dalam hidupnya sudah tiba, oh…, degupan jantungnya mendadak bertambah kencang tatkala irisnya bertemu tatap dengan iris hitam Savier. Ah, ia jadi teringat akan percakapannya dengan kedua ibunya kemarin. Ternyata apa yang ia rasakan tak jauh berbeda dengan kedua ibunya, Gabriel sama saja dengan kebanyakan wanita lainnya.


“Sekarang kita bisa memulai prosesi akad nikah,” kata pak penghulu, seketika suasana kembali lengang. “Kalian siap?” tanya pak penghulu lagi.


Gabriel dan Savier serentak menganggukkan kepala mereka. Keduanya telah sepenuhnya siap menyambut momen tersakral dalam hidup mereka. Tangan kanan Savier terjulur ke depan, menyambut uluran tangan pamannya. Gabriel menanti dalam diam, wajahnya tegang bercampur antisipatif, degup jantungnya ikut bermaraton selaras dengan adrenaline Gabriel yang mendadak naik. Di sampingnya, wajah Savier tak kalah tegangnya, keringat dingin tampak sedikit mengalir menuruni pelipisnya. Kendati demikian, tak ada sedikit pun ragu yang tersorot dari mata mereka. Pernikahan bukanlah acara main-main, keduanya telah lebih dari siap.


“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap pak penghulu, tangan kanannya menginstruksikan agar pamannya segera memulai ijab-qabul yang dinanti-nantikan.


***


Matahari sudah tiga per empat naik dari ufuk timur di mana ia terbit, tinggal sekitar dua jam lagi sebelum sang surya benar-benar memuncaki langit untuk memenuhi julukan yang selalu disematkan padanya: raja siang. Selagi sang surya itu bersusah-payah mendaki langit, di sebuah gedung di bawahnya para anak manusia sedang hikmat menikmati acara sakral yang melibatkan sepasang insan dengan ikrar suci mereka. Pasangan kedua anak manusia itu duduk elegan di atas pelaminan yang didominasi warna putih dan ukiran-ukiran kuno, mereka berdua tampak begitu serasi dalam balutan pakaian pernikahan abu-abu.


Pelaminan megah itu terletak di sudut kiri ruangan besar bernuansa kelas atas tempat acara pernikahan itu direhat. Belasan meter di kanan pelaminan, sebuah panggung yang didesain begitu megah berdiri kokoh menghadap ke arah para undangan yang duduk santai di kursi-kursi mereka. Meja-meja persegi panjang yang di atasnya telah tersusun rapi oleh berbagai jenis makanan dan minuman berbaris rapi di kanan dan kiri ruangan, keberadaan meja-meja itu seolah-olah mengapit para pengunjung yang duduk dalam dua kolom besar membagi ruangan sama besar. Tepat di tengah-tengah ruangan—tepat di antara kedua kolom besar barisan tempat duduk—terdapat sebuah meja bundar raksasa yang ditata rapi dengan berbagai jenis makanan di atasnya, dan tepat di tengah-tengah meja terdapat kue pernikahan raksasa yang didesain sedemikian rupa sehingga menjadi pusat perhatian setiap tamu undangan begitu mereka menginjakkan kaki di dalam ruangan. Megah, artistik, dan menyamankan adalah kata-kata yang tepat untuk menyimpulkan tempat direhatnya resepsi pernikahan tersebut.


Dari pelaminan, Gabriel memandang puas pada jalannya acara pesta pernikahannya. Event Organizer yang telah ia percayai untuk mengurus semuanya benar-benar melaksanakan tugas mereka dengan semaksimal mungkin, semuanya benar-benar sesuai dengan apa yang ia minta mereka lakukan. Secara personal, ia tak memiliki banyak orang yang ia undang, jumlah mereka bisa dihitung jari—tanpa mengikutsertakan jari kakinya. Hal itu tak berbeda dengan Savier, tamu yang dia undang secara personal tak sampai lima puluh. Para tamu yang mendominasi adalah para pegawai perusahaan yang ia pimpin, pemimpin-pemimpin cabang perusahaan ayahnya yang lain berserta staf penting mereka, juga sebagian besar pegawai senior di induk perusahaan ayahnya. Total jumlah tamu tak mencapai lima ratus, namun pergelaran resepsi yang telah dirancang mampu merivali pergelaran resepsi pernikahan yang besar dan megah lainnya. Gabriel sangat totalitas dalam mengadakan resepsi pernikahan pertama dan terakhirnya ini.


“Gab…?”


Objek pandangan Gabriel spontan berubah. “Ya, Dear?” Tanpa malu-malu Gabriel menyandarkan kepalanya pada bahu kiri Savier, dengan kepala sedikit mendongak memandang iris hitam suaminya. “Apa kau ingin makan atau minum sesuatu? Marena akan mengambilnya untuk kita kalau kau mau, aku juga akan dengan senang hati menyuapimu.”


“Er, bukan itu.”


“Lantas?”


“Apa kau tidak lelah, dari semenjak meninggalkan ruang tempat ijab qabul tadi terus mengapit tanganku seperti ini?”


Gabriel memandang geli Savier. “Pertanyaan lucu macam apa itu, Dear? Bukankah jawabannya sudah jelas?” respon Gabriel seolah-olah pertanyaan Savier adalah yang paling retorikal yang pernah didengarnya. “Mulai hari ini dan seterusnya kita akan selalu bersama,” lanjut Gabriel, “sangat tidak wajar sekali jika aku tidak mengapit tanganmu seperti ini, kan? Atau, kau merasa khawatir kalau nanti Shona—meskipun dia telah bersuami—datang dan melihatmu sangat mesra bersamaku, begitu?”


“Ah, benar juga….”


“Kan, kau pasti merasa risih.”


“Kalau begitu, ayo kita berdansa!”


“Eh…, apa?”


“Ayo berdansa!” ajak Gabriel dengan seringai kecil di bibir. Tanpa mengindahkan protes Savier, Gabriel menarik paksa tangan sang suami meninggalkan pelaminan. Ratusan pasang mata pun serentak menyoroti kedua bintang pesta hari ini. Tentu saja Savier tidak bisa melakukan apa pun selain mengikuti Gabriel jika sudah seperti ini, jika tidak maka itu akan membuatnya bertambah malu.


“Gab,” bisik Savier.


“Ya, Dear?”


“Aku tidak bisa berdansa.”


“Tidak masalah,” respon Gabriel mantap. “Aku akan mengajarimu di atas panggung, belajar sekaligus praktik.”


Ke atas panggung mereka pergi. Meminta pemain keyboard memainkan musik klasik, membimbing Savier ke tengah panggung, Gabriel dengan cekatan membuat Savier dan dirinya memasang posisi dansa. Seiring alunan musik yang menginvasi telinga, Gabriel dengan santai menggerakkan kaki, membimbing Savier untuk juga menggerakkan kakinya, memasuki langkah-langkah dansa. Perlahan-lahan, seirama dengan alunan musik yang meningkat, tempo gerakan keduanya pun bertambah cepat. Gabriel memandu Savier bak guru berpengalaman, dan Savier mengikuti bimbingan Gabriel laksana murid yang paling berbakat. Dansa mereka menarik perhatian seisi ruangan luas, aktivitas para tamu terhenti dengan pupil tergelut pada kedua pengantin itu.


Musik berhenti sekitar empat menit kemudian. Dansa kedua sejoli pun serentak terhenti bersamaan dengan berhentinya alunan musik, riuh tepuk tangan segera saja membara memecah keheningan. Gabriel tersenyum puas, tanpa kata ia langsung menarik Savier menuruni panggung. Berbagai kata pujian mengalir deras dari mulut-mulut tamu undangan, namun Gabriel hanya memandang sekilas mereka dan lekas memacu langkahnya dan Savier ke pelaminan. “Bagaimana, my beloved, menyenangkan?” tanya Gabriel sembari mendudukkan dirinya bersama Savier, tangannya dengan mesra mengapit tangan kiri Savier.


“Gabriel, darling, itu adalah yang pertama dan terakhir.”


Mata Gabriel mengerjap dua kali. “Tentu saja,” katanya, “selama kau tidak menanyakan pertanyaan konyol seperti tadi, dear.” Savier mengangguk terpaksa, Gabriel tersenyum puas. Lekas saja wanita berusia dua puluh tiga tahun berkacamata itu mendaratkan kepalanya ke bahu kiri Savier, setiap orang yang memandangnya pasti akan dapat melihat kebahagian terpancar di wajahnya.


“Apa kau tidak suka, darling?” tanya Gabriel lagi, wajahnya sedikit mendongak.


“Kenapa sekarang malah kau yang menanyakan pertanyaan konyol seperti itu, Gab?”


“Oh, kau benar, ahahaha.”


“Ahahahaha…?”


“Ahahahaha.”