Between Love and Obsession

Between Love and Obsession
Bagian 3: A Wavering Heart, part 5



Apa yang membuat seseorang sangat bersemangat untuk mewujudkan mimpi mereka, bahkan dalam keadaan yang tak memungkinkan sekalipun?


Itu adalah pertanyaan yang sederhana, dan jawaban untuk pertanyaan itu pun sangatlah beragam, tergantung kepada siapa kau bertanya. Ada yang akan menjawab kalau impian itu akan membuat keluarganya bangga dan bahagia. Ada yang akan menjawab kalau itu adalah keinginannya dan orangtuanya. Ada yang akan menjawab kalau dia tidak punya pilihan lain selain mewujudkan mimpi mereka itu. Apa pun jawabannya, pada dasarnya itu tak terlalu penting bagi Savier, tak ada satu pun dari jawaban mereka yang mampu memuaskan dirinya. Satu-satunya jawaban yang pas dan sesuai adalah: karena mereka punya “mimpi” untuk diperjuangkan, apa yang akan diperjuangkan oleh mereka yang tak punya mimpi/tujuan? Tidak ada. Dunia akan terasa semu. Tak berwarna, membosankan, dan akhirnya mereka yang tak punya tujuan akan hidup hanya karena mereka harus hidup. Mereka bukan bekerja untuk hal penting; mereka bekerja agar mereka bisa makan, sehingga mereka tak mati kelaparan. Hanya itu; tak ada adrenalin yang akan memacu mereka untuk berusaha lebih, tak ada hal yang akan membuat mereka bersedih, marah, bahagia, dan berbagai emosi lainnya dalam menjalani hidup; hidup akan menjadi hampa, membosankan, dan sama sekali tak bermakna; hidup yang Savier tak ingin jalani.


Savier sendiri ingin memiliki sebuah perpustakaan pribadi dengan koleksi buku yang sangat beragam, itu adalah apa yang bisa ia pikirkan sebagai keinginan terbesarnya. Ia tidak memiliki keinginan fancy lainnya, pun ia tak punya niat untuk menjadi orang dengan harta menggunung. Yang Savier inginkan hanyalah agar dirinya bisa hidup dengan tenang di rumahnya yang sekaligus akan menjadi perpustakaan pribadinya. Itu impian yang sederhana, sangat sederhana, namun untuk mewujudkan itu semua memerlukan uang yang tidak sedikit. Savier tahu itu, karena itu ia berada di sini untuk mengikuti tes wawancara untuk bekerja di perusahaan yang lumayan besar ini.


Ini adalah perusahaan yang disarankan Gabriel untuk ia masuki sesaat setelah ia wisuda. Gabriel sendiri telah akan bekerja di sini bulan depan, dan ia sendiri akan mulai bekerja di sini dua minggu lagi jika lulus tes wawancara. Savier sebenarnya tak punya niat untuk bekerja di sini, tapi setelah mempertimbangkan kalau di kota asalnya sulit untuk menemukan perusahaan yang sejenis dan setelah mendengar bujukan persuasif Gabriel, Savier pun memutuskan untuk melamar kerja di sini. Ia sudah lulus seleksi berkas dan kini tinggal menunggu gilirannya untuk wawancara.


Savier menunggu lumayan lama, ia baru dipanggil untuk wawancara satu setengah jam setelah menunggu bersama dengan pelamar lainnya.


Ruang wawancara terkesan minimalis dan didominasi oleh warna putih. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah kursi kosong, beberapa langkah dari kursi itu terdapat sebuah meja panjang yang di atasnya terdapa berkas-berkas dan beberapa botol air mineral, dan di balik meja itu terdapat empat buah kursi kantor yang masing-masingnya diduki oleh orang-orang dengan perawakan yang berbeda-beda.


“Silahkan duduk,” ucap seorang lelaki berusia lima puluhan yang duduk di kursi kedua dari kanan.


Savier langsung menduduki kursi kosong itu tanpa sedikit pun keraguan. Ia duduk tegap dengan masing-masing tangan ia letakkan di atas paha, ekspresi wajahnya serius dan sorot matanya memancarkan aura penuh determinasi. Meskipun ini pertama kalinya ia mengikuti tes wawancara seperti ini, Savier yakin kalau dirinya sudah memberikan kesan pertama yang cukup bagus.


“Perkenalkan diri Anda, sebutkan kelebihan dan kekurangan Anda, dan ungkapkan alasan mengapa ingin bergabung dengan perusahaan ini. Dan jika Anda diterima bekerja di sini, berapa gaji minimal yang Anda inginkan?”


Savier sebisa mungkin tidak menunjukkan ketidaksenangannya terhadap pertanyaan yang beruntun dan berat itu. Ia sudah menebak akan mendapatkan pertanyaan yang seperti itu, dan ia sudah mempersiapkan jawaban yang pas. Kendati begitu, itu tetap tak menutup kemungkinan kalau jawabannya tak memuaskan pewawancara. Namun tak ada hal yang dapat ia lakukan untuk memastikan jawabannya akan memuaskan; ia hanya akan menjawab semua pertanyaan itu sesuai dengan apa yang ia yakini dan persiapkan.


“Nama saya Mustafa Savier. Saya menilai diri saya sebagai orang yang bertanggungjawab dan selalu mengusahakan untuk menyelesaikan setiap masalah saya seoptimal yang saya bisa; saya tidak malu untuk berterus terang jika saya tidak mampu dan akan mengusahakan untuk mencari bantuan. Di lain sisi, saya harus mengakui kalau saya tidak suka terlalu berlama-lama di keramaian, dan saya juga bukanlah orang yang banyak bicara. Bisa dikatakan kalau saya ini kurang aktif dalam kehidupan sosial yang tidak berkorelasi dengan tujuan saya. Dan tentang minimal gaji yang saya inginkan, saya sungguh mempercayai kalau perusahaan ini akan menggaji karyawannya sesuai dengan kinerja mereka. Saya sadar betul kalau bekerja di suatu tempat artinya menjalin kerja sama yang saling menguntungkan dengan tempat tersebut. Jika pekerjaan saya baik maka itu juga akan baik bagi perusahaan, dan berlaku juga kebalikannya. Karena itu, saya ingin dibayar sesuai dengan kemampuan kerja saya.”


Pertanyaan yang diterima Savier bukan cuma itu saja, mereka juga menanyainya tentang berbagai hal lainnya mulai dari pengalaman berorganisasinya bahkan hingga kehidupan pribadinya. Savier tidak mengerti mengapa sampai mengikutsertakan pertanyaan-pertanyaan yang sensitif, namun karena ini wawancara maka ia berusaha semaksimal mungkin menjawab tanpa membeberkan terlalu banyak hal tentang kehidupan pribadinya.


“Haaa.…” Savier langsung bernapas lega begitu ia menginjakkan kakinya di luar ruangan wawancara. Ia berada di sana hampir setengah jam lamanya, dan harus ia akui kalau tadi itu cukup menguras energinya. Karena itu, Savier langsung memacu kakinya keluar dari gedung kantor dan bergegas menuju kafetaria yang terletak tepat di samping kantor. Savier langsung memesan makanan dan minuman untuk mengisi perutnya, wawancara tadi benar-benar membuatnya lapar.


Savier langsung kembali ke tempat kosnya setelah menghabiskan semua pesanannya. Sama seperti ketika pergi, ia pun pulang menggunakan jasa taksi online. Perjalanan pulang hanya memakan waktu lima belas menit, dan setelah itu ia langsung membuka pintu kamar kosnya. Itu adalah sebuah ruangan bercat putih dengan luas 3 x 4 meter, ruangan yang normal untuk anak kos dan terlalu kecil untuk seorang pekerja. Ah, untuk saat ini ia belum resmi menjadi pekerja, ia akan mencoba untuk mencari kontrakan sederhana begitu ia menerima gaji pertamanya, dengan asumsi ia diterima. Karena Savier cukup percaya dengan kemampuannya sendiri, ia yakin kalau persentase dirinya diterima kerja berada di atas delapan puluh. Savier memang cukup percaya diri, karena ia tahu akan kemampuannya sendiri. Jika setiap orang memahami kemampuan mereka sendiri, ia yakin kalau setiap orang akan memiliki rasa percaya diri yang sama atau lebih darinya.


Kepercayaan diri Savier benar-benar terbukti, ia dihubungi oleh perwakilan kantor seminggu kemudian. Orang itu menyatakan kalau dirinya diterima bekerja di sana dan sudah harus mulai bekerja minggu depannya. Ia punya waktu seminggu untuk mempersiapkan dirinya menjadi pekerja profesional. Savier tak menyia-nyiakan waktu seminggu itu dan benar-benar mempersiapkan dirinya untuk menjadi pekerja yang diinginkan perusahaan.


Savier baru memberitahu kabar baik itu kepada keluarganya sehari sebelum hari kerja dimulai. Dan setelah memberitahu keluarganya, barulah kemudian ia memberitahu Gabriel. Meskipun ia yakin Gabriel sudah bisa menebak hasilnya, Savier tetap menghubungi Gabriel karena gadis berkacamata itu sudah sangat banyak membantunya, tidak mungkin ia tidak menghubungi gadis itu.


“Hei, Gab…?” sapa Savier begitu ia mendengar suara Gabriel di seberang sana. “Apa aku mengganggumu?”


“Hoo... Savier rupanya. Ada apa, kau ingin menggangguku malam-malam begini?”


Savier tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum, reaksi itu sangat Gabriel sekali. “Kuanggap itu sebagai ‘tidak’.”


“Um. Jadi, ada apa menelponku malam-malam begini? Rindu karena dua bulan lebih tak bertemu?”


“Gab, kau tak perlu malu untuk mengatakan kalau kau merindukanku.”


“Oh, jadi kau menganggapku spesial?”


“Tentu saja, kau pun menganggapku spesial, bukan begitu?”


“Ah, soalnya tidak ada wanita semenyebalkan dirimu… sampai membuatku merindukanmu seperti ini.”


“…Kau... bercanda?”


“Kau ingin aku serius?”


“Hahahahaha… oke, jadi, ada apa, Vier?”


“Em… besok aku sudah akan bekerja, aku hanya merasa harus memberitahumu.”


“Kenapa harus?”


Savier mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan simpel itu. “Kenapa harus? Setelah memberitahu keluargaku, aku hanya merasa harus memberitahumu saja. Lagipula kau sudah sangat banyak membantuku, dan kerjaan itu pun karena saran darimu, sudah jelas kan aku harus membiarkamu tahu.”


“Oh, tentu saja.”


“Gab…”


“Hm…?”


“Terima kasih.”


“…Um.”


“Sudah dulu, ya. Aku menantikan hari di mana kau akan bekerja. Selamat malam, Raphiela Gabriel.” Savier langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu respon dari lawan bicaranya. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Gabriel di sana, tapi yang jelas ia merasa puas karena telah memutuskan telepon tanpa menunggu respon gadis berkacamata itu. Savier meletakkan smartphone-nya di meja kamar kosnya lalu merebahkan dirinya di kasur. Besok ia akan bangun pagi-pagi sekali dan memulai hari pertamanya kerja, karenanya ia akan tidur lelap malam ini dan mempersiapkan diri untuk hari esok.


Sang fajar datang menyingsing begitu malam akan berakhir, mentari pun mulai mengintip dari balik horizon. Ketika malam akhirnya berakhir, pagi pun datang tanpa malu untuk menyapa. Akhirnya, setelah melakukan berbagai persiapan matang, hari pertama Savier memulai karirnya sebagai pekerja pun datang juga. Ia langsung dibimbing menuju ruang rapat umum di mana di sana sudah ada belasan karyawan baru sepertinya yang sudah menunggu, mereka semua dan juga dirinya akan mengikuti seminar kecil sekaligus briefing yang dibawakan oleh manager perusahaan dan masing-masing kepala departemen. Setelah mengikuti kegiatan tersebut, barulah Savier diantar oleh kepala departemen bidangnya bekerja ke tempatnya bekerja mulai hari ini dan seterusnya. Dan mulai hari itu, hari-hari Savier sebagai pekerja professional pun resmi dimulai.


Tak terasa, sebulan telah berlalu. Dan ini adalah hari di mana Savier menerima gaji pertamanya. Dan ini adalah hari di mana ia akan benar-benar menjadi seorang pekerja; ini adalah hari di mana Savier akan tinggal di sebuah kontrakan, meninggalkan kamar kos yang telah membersamainya selama lebih dari empat tahun ini. Ah, tentu saja, kontrakan yang akan ia tuju adalah kontrakan yang dicarikan Gabriel. Sebenarnya ia ingin menolak tawaran Gabriel itu, tapi harga sewa kontrakan tersebut cukup murah dibandingkan dengan kontrakan-kontrakan yang ia tahu. Untuk berhemat, Savier dengan senang hati menerima kontrakan tersebut.


Kini di sinilah ia, berdiri di depan pintu rumah kontrakan sederhana—yang menurut pemiliknya terdiri atas dua kamar tidur, dapur, kamar mandi, ruang depan, dan ruang tengah—bersama dengan Gabriel dan Rihasa. Rihasa ternyata mengontrak di sebelah kontrakan yang akan ia tempati, dan Gabriel mendapatkan info tentang kontrakan ini dari teman sekolah mereka itu. Dari dulu Gabriel memang agak akrab dengan Rihasa. Karenanya, ia tak heran dengan keberadaan gadis itu di samping Gabriel.


“Ayo masuk!” ajak Gabriel sembari membuka pintu coklat tersebut. Meskipun Gabriel bersikap seolah-olah dia yang akan mengontrak di sini, Savier tidak protes. Tidak ada hal yang harus diproteskan. Lagipula, ia tidak akan bisa mengontrak di sini tanpa bantuan Gabriel. Berdasarkan hal itu, adalah hal wajar membiarkan Gabriel bersikap seolah-olah dia adalah tuan rumah.