Between Love and Obsession

Between Love and Obsession
Bagian 4: A Real Promise, part 1



Sudah lebih dari delapan bulan Savier bekerja di perusahaan ini. Harus ia akui, ia cukup menikmati bekerja di perusahaan yang ternyata adalah salah satu dari beberapa perusahaan milik ayahnya Gabriel ini. Sekarang ia baru benar-benar memikirkan hal itu; sangat lumrah sekali bagi Gabriel untuk bekerja di sini tanpa harus melamar pekerjaan terlebih dahulu. Dan gadis itu pun tak menyangkal sewaktu ia menanyakannya pada gadis berkacamata itu, Savier merasa sedikit dibohongi karena itu. Namun entah kenapa ia menerima semuanya begitu saja, mungkin itu karena Gabriel yang memang sungguh-sungguh ingin membantunya, atau mungkin karena ia senang karena Gabriel cukup mempercainya untuk memintanya melamar kerja di perusahaan yang akan segera dipimpin gadis itu. Savier tidak bisa dengan yakin memastikannya, tapi yang jelas ia sama sekali tidak merasa keberatan.


“Belum mau pulang, Pak Savier?”


Lamunan Savier langsung terhenti kala suara rekan kerjanya menginvasi indera pendengarannya. Ia lekas menoleh ke kanan menghadap sumber suara. Itu adalah Pak Retno, seniornya yang sudah bekerja empat tahun di perusahaan ini. Meja kerjanya sudah rapi dan komputernya pun sudah mati, artinya Pak Retno sudah berniat untuk pulang kerja. Mata Savier pun otomatis melihat sudut kanan bawah layar monitornya, terlihat angka 16:30 di sana, pantas saja Pak Retno sudah mau pulang.


“Belum, Pak,” respon Savier setelah beberapa lama diam. “Saya masih akan di sini hingga setengah jam ke depan.”


“Oh, kalau begitu saya tinggal pulang duluan, ya.”


Savier mengangguk dan mempersilahkan Pak Retno. “Hati-hati di jalan, Pak,” ujarnya dikala Pak Retno menjauh, yang langsung saja dianggukkan Pak Retno.


Savier kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaannya. Jam kerja kantor ini adalah dari jam tujuh pagi hingga jam empat sore, namun sebagian pekerja bekerja sampai jam setengah lima atau sampai jam lima seperti dirinya. Hal itu mereka, dan dirinya, lakukan bukan karena pekerjaan yang ditargetkan hari ini belum kelar, namun lebih kepada memastikan kalau tidak ada yang keliru dan ada juga yang memanfaatkan waktu itu untuk sedikit mengerjakan pekerjaan hari esok.


Savier baru mematikan komputer dan merapikan meja kerjanya ketika jam dinding menunjukkan pukul lima tepat. Setelah memastikan semuanya rapi, barulah kemudian Savier meninggalkan ruang kerjanya dan bergegas ke lantai bawah. Dan ia sama sekali tidak terkejut begitu melihat sosok Gabriel yang berdiri bersandar pada mobil sedan putihnya. Dia tak sendiri, Rihasa—yang notabenenya adalah sekretaris Gabriel—berdiri setia di samping wanita itu.


“Selamat sore Bu Wakil Direktur,” sapa Savier dengan senyum profesionalnya.


“Ah, Vier.” Gabriel mengabaikan sapaan “mengejek” Savier dan justru tersenyum senang ke arahnya. “Malam ini aku berencana untuk menginap di tempat Rihasa, karena itu aku berpikir untuk sekalian pulang bersamamu, karena itu kami menunggumu selesai. Kau tidak keberatan, kan, untuk pulang bersama kami?”


Sebenarnya Savier sangat tidak ingin ikut pulang bersama mereka. Mengapa? Tentu saja karena gosip yang beredar luas dikalangan pekerja yang menyatakan kalau ia bisa memiliki posisi yang bagus dalam waktu yang singkat karena dirinya difavoritkan oleh putri pemilik perusahaan ini. Awalnya Savier sama sekali tidak peduli dengan itu, namun lama kelamaan itu membuatnya agak jengkel juga. Tentu saja petinggi perusahaan mengakui dirinya karena kemampuan dan kinerjanya, namun pekerja yang lain hanya memandang hal itu sebelah mata. Memang itu sangatlah wajar, karena bekerja di mana pun tentulah ada persaingan kerja yang tidak mengenakkan. Tapi sepertinya Gabriel tidak peduli dengan semua gosip itu, dia bahkan terang-terangan menunjukkan “kefavoritan”-nya pada Rihasa dan dirinya. Karena itu, akan sangat tidak bijaksana sekali jika ia menolak tawaran Gabriel.


“Jika itu yang wakil direktur inginkan, maka saya tidak punya pilihan lain selain menerimanya.”


Gabriel tidak mengatakan apa pun dan langsung melemparkan kunci mobilnya pada Savier—yang lekas saja ditangkapnya—lalu pergi ke sisi kiri mobil. “Kau tidak mau membiarkan wanita menyetir sedangkan dirimu bisa menyetir, kan, Vier?” tanyanya dengan nada mengejek sembari membuka pintu mobil dan duduk di samping kursi pengemudi.


Savier tidak memberikan respon apa pun selain decakan sebal yang keluar begitu saja dari mulutnya, ia langsung berjalan dan memasuki mobil tersebut. Rihasa duduk di belakang tanpa komplain, sedangkan Gabriel dengan elegannya duduk di sampingnya.


“Gab…” panggil Savier sambil menjalankan mobil.


“Hm…?”


“Tidak, tidak apa-apa, lupakan saja.”


“Oh, oke.”


Savier memacu mobil Gabriel dengan kecepatan sedang. Mobil itu melaju tanpa hambatan berarti menyusuri jalan raya, menuju ke perempatan lalu berbelok ke kanan setelah lampu yang berada di tiang lampu lalu lintas berubah warna dari merah, kuning, lalu ke hijau. Selama itu, Savier sesekali melirikkan matanya memandang Gabriel, namun gadis berkacamata itu hanya diam memandang datar ke luar jendela. Apa dia punya masalah yang sangat mengganggunya? Jujur saja, melihatnya seperti itu membuat Savier merasa sedikit khawatir. Meskipun kadang menyebalkan, Savier lebih suka melihat senyum mengejek atau senyum penuh kemenangan Gabriel.


“Ada apa, Vier?” tanya Gabriel tanpa memandang ke arahnya. “Dari tadi kau terus mencuri-curi pandang padaku. Apa kau mengkhawatirkanku..? Atau, kau ingin melihat senyumku?”


“…”


“Hm, atau dua-duanya..?”


Savier… tidak tahu harus berkata apa. Ia padahal sudah berhati-hati agar tidak ketahuan, tapi entah bagaimana Gabriel tetap mengetahuinya. Atau, apa Gabriel sengaja bersikap seperti itu untuk menjebaknya? Bisa jadi, bahkan sangat mungkin itu adalah alasannya. Bukankah selama ini Gabriel selalu seperti itu? Tapi, sorot mata Gabriel… itu sama sekali tidak menunjukkan kalau dia berpura-pura. Karena itu, meskipun ia curiga kalau Gabriel berpura-pura, Savier tetap memaksakan dirinya untuk menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Gabriel.


“Sungguh?” Gabriel menolehkan pandangannya memandang Savier. Meskipun sorot matanya masih datar, bibir tipisnya sedikit melengkung.


“Um,” angguk Savier pasrah.


Bibir Gabriel melengkung sempurna, sorot matanya melembut. “Aku senang mendengarnya,” ucapnya senang. “Tapi, aku sebenarnya baik-baik saja, aku… hanya ingin melihat reaksimu saja,” jujur Gabriel sambil menjulurkan lidahnya mengejek.


“Tentu saja.”


Savier melirik Gabriel dengan ekor matanya beberapa kali, sebelum akhirnya ia yakin kalau Gabriel baik-baik saja. “Baguslah kalau begitu,” ucapnya tanpa kehilangan fokus menyetir.


“Kau… tidak kesal?”


Savier tersenyum simpul mendengar pertanyaan itu. “Aku akan lebih kesal jika aku tidak mempertanyakan keadaanmu,” jawabnya serius.


“…”


Tak mendengar respon Gabriel, Savier kembali melirikkan matanya memandang gadis berkacamata tersebut. Tapi, gadis itu sudah tak lagi menghadap ke arahnya, dia menolehkan wajahnya membelakangi Savier. Ia tidak tahu mengapa Gabriel tiba-tiba bersikap seperti itu, apa dia melihat sesuatu yang menarik tadi di luar? Savier tidak tahu betul, tapi ia benar-benar merasa lega karena Gabriel baik-baik saja.


“Kenapa kau terlihat menahan tawa seperti itu, Rihasa?” tanya Savier pada penumpang mobil lain begitu ia melihatnya dari kaca spion depannya.


“Ahaha… aku hanya melihat hal yang lucu saja, tidak perlu kau pikirkan, Savier.”


“Oh, oke.” Savier mengangguk dan kembali melirikkan matanya pada Gabriel yang masih betah melihat ke luar, sebelum kemudian ia memfokuskan pandangannya ke depan.


Tak seberapa lama kemudian, mobil yang disetir Savier tiba di depan pagar kontrakan Rihasa—yang terletak tepat di sebelah kontrakannya. Rihasa langsung keluar dari mobil dan membukakan pagar, dan Savier langsung membawa mobil Gabriel melaju memasuki pekarangan kontrakan tersebut.


Savier mematikan mesin mobil dan memandang ke arah Gabriel. “Gab,” panggilnya.


“Hm?”


“Kita sudah sampai.”


“Oh, um, ok.”


“…”


“…”


Savier mengerjapkan matanya beberapa kali, matanya memandang Gabriel dengan bingung? “Gab..?” panggilnya lagi.


“Eh!” tersentak Gabriel. “Apa kita sudah sampai?” tanyanya polos.


“Er, Rihasa sudah menunggumu di luar.”


“Oh, um, ok.” Tak seperti tadi, kali ini Gabriel benar-benar keluar dari dalam mobil.


Menghela napas pelan, Savier membuka pintu mobil lalu keluar dari situ, ia mengunci mobil tersebut lalu memberikan kunci mobil tersebut kembali kepada pemiliknya. “Terima kasih untuk tumpangannya, Gab.”


“Oh, um, terima kasih kembali telah menjadi supirku untuk sore ini.”


Nah, jika Gabriel sudah berbicara seperti itu maka semuanya benar-benar baik-baik saja, dan itu membuat senyum Savier untuk muncul. “Kalau begitu aku akan ke sebelah, selamat beristirahat, Gab, Rihasa.”


“Um.” / “Oke.”


Savier kemudian langsung beranjak keluar dari gerbang rumah, ia menutup gerbang tersebut lalu bergegas memasuki pekarangan kontrakannya. Besok hari Minggu, Savier ingin beristirahat secepat mungkin dan bangun sepagi mungkin; ia akan memanfaatkan hari esok untuk bersantai sepenuhnya. Ia tidak tahu apa yang ingin dilakukan Gabriel bersama dengan Rihasa untuk hari esok, tapi yang jelas ia tidak akan melakukan apa pun selain menikmati hari liburnya.