
Dalam balutan pakaian hitam rapi ala bodyguard, Marena memandang puas pada dekorasi gedung yang akan menjadi tempat pernikahan Gabriel dan Savier. Keberadaannya di sini adalah untuk memastikan kalau semuanya berjalan lancar. Dari apa yang dilihatnya sejauh ini, semuanya sudah sesuai. Tidak ada yang perlu ditambah atau dikurang, semuanya berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang diinstruksikan Gabriel kepada ketua tim dekorator. Seperti yang diharapkan dari event organizer yang dipilih Nona Gabriel, batin puas Marena seraya mengirim pesan singkat pada Gabriel yang isinya menjelaskan kalau semuanya berjalan lancar.
Marena masih berada di tempat itu setelah dekorasi selesai lebih dari satu jam lalu, barulah kemudian ia beranjak meninggalkan gedung di mana resepsi pernikahan akan dilangsungkan menuju ke tempat tinggal keluarga Savier. Setibanya di sana, Marena langsung disambut Erina, kakak termuda Savier. Semua saudara-saudari Savier sudah menikah, yang tinggal di rumah kontrakan mereka hanyalah ayahnya dan Erina beserta suaminya. Savier sendiri pun, setelah menikah, akan tinggal di kota tempat mereka bekerja, di rumah yang telah Gabriel persiapkan untuk mereka berdua sejak sebulan setelah mereka wisuda.
“Apa ada masalah sampai-sampai membuatmu datang ke sini, Kak Marena?” tanya Erina seraya mengajaknya masuk.
Marena menggeleng pelan. “Aku ke sini hanya bermaksud untuk memastikan kalau Savier baik-baik saja,” jelasnya. “Nona Gabriel akan sangat depresi jika tiba-tiba karena suatu alasan yang kritis pernikahannya harus terpaksa ditunda. Kau tahu sendiri, kan, bagaimana kesabaran Nona Gabriel menunggu hari ini datang? Aku hanya harus memastikan kalau semuanya berjalan sesuai rencana.”
Erina mengangguk mengerti. “Aku akan memanggil Savier sebentar,” ucapnya seraya beranjak meninggalkan ruang tamu—yang notabenenya adalah ruang depan kontrakan tersebut.
Marena duduk tenang di sofa ruang tamu menunggu dalam diam. Sudah sering sekali ia berkunjung ke tempat ini, namun demikian, ini adalah pertama kalinya ia masuk dan duduk di dalam. Sebelum-sebelumnya, Marena selalu menyelesaikan urusannya tanpa pernah masuk. Bukan karena ia tak mau, hanya saja ia tidak ingin berlama-lama dalam menyelesaikan tugas yang diberikan Gabriel. Ia hanya berbicara dengan Erina seperlunya lalu pergi, ia tak pernah berada di sini lebih dari lima menit.
Erina datang tak lama kemudian, ia membawa serta segelas teh dingin dan beberapa potong roti di nampan kecil. Di belakang Erina, Savier melangkah pelan menuju ke ruang tamu. Erina meletakkan gelas dan piring berisi roti itu di depan Marena, dia meletakkan nampan kecil itu di depan tempatnya duduk. Dan Savier duduk tepat di samping Erina, berhadap-hadapan langsung dengan Marena.
“Ada apa, Marena…?” tanya Savier tanpa basa-basi.
Marena tak lekas menjawab. Ia menggerakkan tangannya mengambil gelas yang berisikan teh dingin dan menenggaknya dengan elegan hingga tersisa setengahnya. Ia kemudian meletakkan gelas itu pada tempatnya semula dan memandang Savier dengan intens. “Sepertinya kau sehat-sehat saja,” ucap Marena pelan.
“Ya, seperti yang kau lihat.”
Marena mengangguk. “Bagaimana persiapanmu? Aku berharap agar kau sangat siap untuk hari sakral esok.”
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bagaimana dengan Gabriel, apa saja yang dilakukannya hari ini?”
Marena tersenyum kecil mendengar hal itu. “Mengapa tidak kau tanyakan padanya sendiri? Aku yakin Nona Gabriel akan sangat senang jika kau menelponnya, aku bahkan yakin kalau dia sangat berharap agar kau menelponnya. Kalau tidak, mungkin dia tak akan memintaku untuk melihat keadaanmu.”
Savier ikut tersenyum mendengar ucapan Marena. “Sangat Gabriel sekali,” ucapnya pelan. “Mungkin, aku akan menelponnya nanti malam, sudah tiga hari lebih aku tidak mendengar suara lembut dan datarnya.”
Senyum Marena melebar mendengar penuturan Savier, ia yakin nonanya akan sangat senang mendengar hal itu. “Ya, lakukan itu.”
Mereka terus berbincang-bincang untuk beberapa waktu lamanya, Marena baru meninggalkan kediaman keluarga Savier setengah jam kemudian.
Marena tiba di kediaman orangtua Gabriel—yang juga tempat tinggalnya selama bekerja—ketika mentari sudah melewati garis horizon sebelah barat. Ia langsung membawa kakinya melangkah menuju kamar Gabriel. Tanpa ragu ia mengetuk pintu, “Nona Gabriel,” panggilnya dengan suara yang nyaring namun masih cukup pelan.
Marena memutar kenop pintu dan membuka pintu kamar tersebut, ia pun kemudian masuk ke dalam dan kembali menutup pintu sebelum akhirnya menjatuhkan pandangannya pada sosok Gabriel yang sedang berdiri memandang ke luar jendela kamarnya. “Nona Gabriel,” panggilnya pelan.
“Marena, kau sudah kembali.”
Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan, karena itu Marena tidak perlu menjawab atau pun mengkonfirmasi apa pun. Sebaliknya, ia langsung melaporkan hasil dari tugas yang diberikan Gabriel padanya. “Semua persiapan sudah selesai dan sesuai seperti yang Anda inginkan, Nona,” kata Marena. “Semuanya berjalan lancar tanpa kendala. Savier pun sudah sepenuhnya siap untuk menjalani hari sakral kalian berdua besok. Oh, tadi Savier menanyakan pada saya tentang kegiatan Anda hari ini, namun saya menyarankannya agar menanyakannya langsung pada Nona. Karena itu, saya sarankan agar Nona tidak menonaktifkan telepon seluler Anda malam ini.”
“Oh, benarkah, aku sangat senang mendengarnya.”
Meskipun ia tidak bisa melihat ekspresi Gabriel, Marena dapat mengatakan dengan benar kalau saat ini wanita berkacamata itu lagi tersenyum. Meyakini hal itu membuat Marena tersenyum juga; ia sangat senang ketika Gabriel merasa senang.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Nona Gabriel.”
Tanpa menunggu respon Gabriel Marena berbalik, namun langkahnya langsung terhenti begitu Gabriel memanggilnya dengan lembut. “Ya, Nona?” tanyanya sembari menolehkan wajahnya kembali ke arah sang majikan.
“Kalau kau sudah memutuskan akan menikah, pastikan kau memberitahuku,” pinta Gabriel tanpa membalikkan badannya dari menghadap ke luar jendela.
“Pasti, Nona Gabriel,” respon Marena cepat, senyum hangat mengiringi ucapannya.
“Um, selamat beristirahat, Marena.”
Marena mengangguk. “Selamat beristirahat, Nona Gabriel.”
Marena pun meninggalkan ruangan majikannya dengan senyum lembut nan hangat di bibirnya. Meskipun sudah seharian ia bekerja, sama sekali tak tampak raut kelelahan di wajahnya. Perkataan hangat Gabriel tadi sudah cukup untuk menghilangkan rasa lelah itu. Mungkin, kepedulian gadis itulah yang membuatnya ingin melayaninya selama mungkin. Kendatipun hal itu adalah wajar di mata orang lain, tapi Marena mengenal Gabriel lebih dari siapa pun, sehingga ia bisa mengatakan dengan yakin kalau majikannya itu benar-benar peduli.
Lagipula, orang tak dikenal yang membantunya membiayai operasi ibunya adalah Gabriel. Meskipun majikannya itu telah menyembunyikannya dengan baik, namun Marena mengenal betul nama-nama alias sang majikan yang sering digunakannya saat dia tidak ingin menggunakan nama aslinya. Camaela, Selaphiela, Variela, Azriela, dan Raguela, itu semua adalah nama-nama samaran yang pernah dipakai Gabriel. Dan nama yang digunakannya sewaktu dia membayarkan biaya rumah sakit ibunya yang mencapai dua ratus juta lebih itu adalah Selaphiela. Marena tidak pernah melupakaan hal itu, karena itulah ia ingin bekerja melayani Gabriel bahkan sampai setelah ia sendiri menikah sekali pun.
“Semoga hari pernikahan Anda besok berjalan dengan lancar, Nona Gabriel,” gumam Marena tulus.
Marena pun memasuki kamarnya dengan menggantungkan harapan agar Gabriel bisa menemukan kebahagian dalam hidupnya. Ah, sepertinya mulai esok ia harus menggantikan kata “Nona” dengan “Nyonya”.
Nyonya Gabriel… hm, entah kenapa, rasanya aku lebih suka memanggilnya Nona Gabriel.