Between Love and Obsession

Between Love and Obsession
Bagian 5: The Truth and Marriage, part 9



Rihasa tak kuasa untuk tidak memandang kagum pada sosok Gabriel yang duduk elegan di samping Savier. Ia tak pernah berpikir hari ini akan datang. Di mata Rihasa, Gabriel hanya menganggap Savier sebagai objek hiburannya; ia tidak pernah berpikir kalau gadis berkacamata itu benar-benar mencintai Savier dalam arti yang sebenarnya. Tapi sepertinya semua itu salah; sepertinya ia masih belum terlalu memahami isi pikiran Gabriel yang menjadi begitu kompleks jika itu menyangkut Savier. Atau mungkin itu karena impresi pertama yang masih membekas dalam benak Rihasa, saat Gabriel pertama kali meminta bantuannya dalam hal yang berhubungan dengan Savier. Ia masih mengingat waktu itu dengan sangat jelas, waktu yang sudah lama sekali—sekitar tujuh tahun yang lalu.


***


Jam makan malam yang tertulis di buku peraturan dimulai dari jam tujuh malam sampai jam delapan malam. Kendati demikian, kantin selalu terbuka sampai jam sepuluh malam, jika beruntung maka para pelajar akan bisa memesan paket makanan yang belum habis terjual sewaktu jam normal. Tapi itu bukan sesuatu yang perlu Rihasa khawatirkan, selama ia menjadi teman dan pekerja yang baik untuk Gabriel maka ia bisa makan apa saja dan kapan saja ia mau. Itu bukan berarti Gabriel membuat pihak kantin untuk melanggar aturan, melainkan Gabriel punya cukup banyak uang untuk memesan makanan dari luar kapan saja dia mau. Tentu saja para satpam tidak akan tinggal diam, namun itu bukanlah hal yang sulit untuk diatasi: cukup memberikan sebagian makanan pada mereka dan mereka akan dengan senang hati mengantarkan makanan ke meja resepsionis asrama di mana wali asrama berada dari waktu ke waktu.


Bagaimana dengan wali asrama? Ah, wali asrama adalah sekutu mereka. Rihasa tidak tahu bagaimana, tapi yang jelas wanita berusia dua puluh lima tahun yang menjabat sebagai wali asrama itu berhubungan sangat baik dengan Gabriel. Ia tidak pernah sekali pun memandang Gabriel dengan kesal, dan bahkan jika Gabriel terang-terangan melanggar peraturan pun Rihasa yakin kalau wanita itu tidak akan menegur apalagi memarahi Gabriel. Sebagian besar siswi sempat protes akan hal itu, tapi karena Gabriel adalah siswi dan pelajar terbaik di sekolah, tidak ada yang benar-benar mempermasalahkan hal itu sampai membawanya ke kepala asrama.


“Rihasa.”


Bibir Rihasa melengkung dengan sendirinya. Jika Gabriel sudah memanggilnya seperti itu, maka itu artinya gadis berkacamata itu menginginkannya untuk melakukan sesuatu—yang pastinya selalu berhubungan dengan Savier. Ia pun menolehkan pandangannya dari piring yang berisikan paket makanan level paling atas ke wajah Gabriel yang memandangnya datar. “Hm, kau ingin aku melakukan apa?”


“Oh, kau sangat tanggap sekali.”


“Tentu saja.”


“Kalau begitu langsung saja: nanti jam setengah sembilan aku akan bermain catur dengan Savier, aku akan memenangkan game pertama, kemudian aku akan membuatnya untuk mengatakan kalau dia mencintaiku. Yang aku ingin kau lakukan adalah merekam momen tersebut, pastikan kau mengambilnya dari posisi yang memperlihatkan wajahku dan wajah Savier.”


Rihasa tak lekas mengiyakan ‘perintah’ Gabriel. Ia memandang intens pada wajah datar Gabriel, mencoba menelisik niat teman kamarnya itu. Namun setelah beberapa lama memandang dan tak kunjung mendapatkan jawaban, ia menghela napas pelan dan bertanya langsung pada Gabriel. “Apa ‘rencanamu’ kali ini?”


“Hmph, kau tidak perlu tahu. Lakukan saja apa yang kuminta dan sebagai gantinya aku akan mentraktirmu makan selama seminggu penuh.”


Rihasa hanya mendengus pelan mendengar suara arogan Gabriel. Ia bukannya kesal terhadap respon gadis berkacamata itu, melainkan karena respon gadis itu sangatlah prediktabel. Rihasa baru akan terkejut jika Gabriel tersenyum kepadanya sambil menjelaskan rencananya dengan nada lemah lembut. “Hmph, oke, aku hanya perlu merekam momen itu, kan?” respon Rihasa pada akhirnya.


Gabriel mengangguk pelan dan kembali melanjutkan makan malamnya.


Melihat Gabriel yang menyudahi percakapan di antara mereka, Rihasa kembali memfokuskan dirinya pada makanannya. Ia masih memiliki dua potong daging sapi panggang dan sepotong daging ayam bakar yang harus dihabiskannya. Karena Gabriel akan kembali mentraktirnya selama tujuh hari ke depan, Rihasa tidak merasa perlu untuk memakan secara perlahan guna menikmati setiap detail rasa dan tekstur makanannya seperti tadi.


Jarum-jarum jam terus berputar tanpa henti dan mereka tiada pernah mengeluh atas kerja rodi mereka, pun tak membutuhkan banyak waktu bagi mereka bertiga untuk mencapai jam setengah sembilan malam. Seperti yang diminta Gabriel, Rihasa memposisikan duduknya tepat di belasan meja di sebelah kanan meja tempat Savier duduk. Lelaki itu masih duduk sendiri, Gabriel memang sengaja untuk datang sedikit lebih lambat—Gabriel akan tiba satu atau dua menit lagi.


Rihasa mengalihkan pandangannya ke smartphone di tangannya. Gabriel telah meminjamkan smartphone tersebut agar ia bisa merekam video yang diinginkan Gabriel dengan gambar yang jelas dan berkualitas tinggi. Meskipun smartphone-nya sendiri tak kalah buruk kualitasnya dengan smartphone-smartphone temannya, smartphone Gabriel berada di tingkat yang lebih tinggi, bahkan harga smartphone Gabriel sama dengan harga laptopnya. Dan dengan smartphone berkualitas itu ia membidik tempat duduk mereka berdua, ia sengaja duduk menghadap ke arah mereka agar tak akan ada yang curiga ketika ia mengambil vidio mereka nanti.


Rihasa menunggu dengan tenang. Ia baru akan mulai merekam ketika Gabriel memberinya tanda, yaitu memasukkan kedua tangan ke dalam saku roknya. Sebelum waktu itu tiba, Rihasa harus puas menunggu. Oh, tentu saja ia tidak menunggu dalam bosan, jajanan cafeteria telah tersaji di atas mejanya; menjalankan tugas dari Gabriel tidak pernah terasa sepenuhnya membosankan.


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Gabriel memasukkan kedua tangannya ke saku roknya. Tanpa menyia-nyiakan banyak waktu Rihasa langsung merekam mereka berdua. Rihasa tidak tahu untuk apa Gabriel memintanya merekam mereka, terlebih lagi ia yakin suara mereka sama sekali tidak terdengar dalam rekaman nanti. Tapi karena itu bukan urusannya dan ia tidak berminat untuk tahu, Rihasa mengabaikan hal itu dan fokus pada tugasnya. Itu tak memakan waktu yang lama, Gabriel kembali mengeluarkan tangannya dari sakunya, durasi video yang direkamnya hanya mencapai empat menit lebih saja.


Gabriel baru kembali ke kamar mereka berdua setelah bel malam berbunyi. “Bagaimana, Rihasa, kau berhasil merekamnya, kan?” tanya Gabriel begita ia beradu tatap dengan siswi berkacamata itu, dia terlihat sangat tak sabaran.


“Ya, aku berhasil merekamnya tanpa ketahuan. Memangnya buat apa sih? Kau benar-benar suka sama Savier, ya, Gabriel?” tanya Rihasa penasaran.


Gabriel hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan yang sangat retorikal itu. “Mana sini, berikan handphone-ku, aku ingin memindahkan datanya ke laptop-ku.”


Rihasa hanya menghendikkan bahunya dan meletakkan smartphone yang Gabriel pinjamkan padanya di telapak tangan Gabriel yang terjulur. “Penuhi janjimu ya, kau harus mentraktirku selama seminggu.”


“Hmph, tidak perlu khawatir.”


“Eh, tapi suaranya nggak terdengar lho, Gab.”


“Tentu saja aku tahu itu, memang kau pikir untuk apa aku memasukkan kedua tanganku ke dalam kantung sebagai aba-aba untuk mulai merekam?”


Mata Rihasa sedikit melebar. “Kau… kau merekamnya?”


“Menurutmu?”


Rihasa tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Itu sudah mengkonfirmasi pertanyaannya sebelumnya. Gabriel, bukan saja dia memintanya untuk merekam video mereka, dia sendiri merekam suara mereka. Rihasa pun tidak perlu bertanya apa yang akan dilakukan Gabriel dengan rekaman video dan rekaman suara itu, sangat transparan sekali.


***


Rihasa mengembalikan pikirannya dari mengulas kenangan lalu, kemudian tanpa ragu ia melangkahkan kakinya menghampiri pelaminan. Rihasa menghentikan langkahnya persis di depan Gabriel, senyum hangat langsung saja terpatri di bibirnya.


“Rihasa.”


“Kau sangat cantik dan anggun, Gabriel,” puji Rihasa, “dan kalian pun sangat serasi ketika duduk bersandingan.”


“Terima kasih telah datang, Rihasa, dan doakan agar kami selalu bersama bahkan setelah mati sekalipun, ya!”


Senyum Rihasa melebar. “Tentu saja,” balasnya, “aku doakan agar kalian selalu dan senantiasa bersama hingga ke peristirahatan terakhir.”