
“Vier!”
Savier mengerjapkan matanya dengan ekspresi terkejut mewarnai wajahnya. Ah, apa ia telah tertangkap basah memandangi gadis itu? Savier tidak tahu harus merespon apa, dan ia merasa sedikit malu karena telah terpaku.
“Aku tahu apa yang kuinginkan!” teriak Gabriel sembari berlari kecil menghampirinya.
“Oh, em, apa itu?” tanya Savier sekenanya, ia berpura-pura kalau ia tidak pernah memandangi Gabriel sampai terpaku seperti tadi.
“Traktir aku makan malam, gimana? Kalau kau nggak mau, maka aku yang akan mentraktirmu.”
Savier mengerjapkan matanya beberapa kali, ia tak tahu harus berkata apa setelah mendengarkan perkataan itu keluar dari mulut Gabriel.
“Gimana?” tanya Gabriel lagi dengan senyum penuh kemenangan.
Gabriel telah benar-benar men-skakmat dirinya. Jika ia memutuskan untuk mentraktir gadis berkacamata ini, itu akan memberikan gambaran yang tak ia inginkan. Akan tetapi, jika ia menolak maka Gabriel akan bersikeras untuk mentraktirnya, dan itu akan membuat harga dirinya semakin ternoda. Ia memang bisa melarikan diri dari situasi ini, tapi perjanjian adalah perjanjian, dan karena ia telah kalah maka ia harus memenuhi keinginan Gabriel itu. Pada akhirnya, apa pun yang ia pilih, semuanya akan tetap membuat dirinya berada di bawah keinginan Gabriel.
“Haaa… aku hanya perlu mentraktirmu saja, 'kan?” Savier tidak punya pilihan lain, itu adalah pilihan yang paling pas mengingat ia memang telah kalah dalam duel balap sepeda tadi.
“Ya. Kita akan makan dan kau yang mentraktir.”
“Oke. Em… kau tak mau bermain di sana lagi?” tanya Savier dengan alis terangkat melihat Gabriel mendudukkan diri di sampingnya.
“Malas ah, nanti kau memandangiku terus seperti tadi.”
“HA?! Mana ada aku memandangimu terus!”
“Eh, jadi tadi kau tidak melihatku? Padahal aku melihatmu sedang melihatku dengan wajah terpana, apa aku salah lihat?”
“Tentu saja!”
“Yang benar…?” tanya Gabriel begitu persisten, dia bahkan sampai menghadapkan wajahnya memandang Savier dengan penuh curiga.
“Benar.”
“Jadi kau tidak melihatku?”
“Benar.”
“Benar-benar tidak melihatku?”
“Benar sekali.”
“Apa benar?”
“Benar.”
“Beneran?”
“Beneran.”
“Yang benar?”
“Benar.”
“Hoo… jadi kau melihatku?”
“Benar…, huh? Barusan kau bertanya apa..?”
“Tidak apa-apa.” Gabriel menolehkan wajahnya kembali memandang garis horizon yang membentang jauh di lepas pantai. “Kita akan di sini sampai aku puas, baru setelah itu kita akan kembali, tidak apa, 'kan?”
“Meskipun aku keberatan, kau tetap tidak akan peduli, 'kan?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu tidak perlu bertanya.”
“Ho… kau marah karena tadi ketahuan memandangiku tanpa berkedip?”
“Aku tidak marah, dan aku tadi berkedip!”
“Heee... jadi kau benar-benar mengakui kalau tadi kau memandangiku, huh?”
“…”
“Tenang saja,” Gabriel tersenyum ke arahnya, “aku tidak marah kok. Itu rahasia, 'kan?”
Savier diam, ia tidak tahu harus berkata apa.
“Kau tahu, aku tadi sengaja menggeraikan rambutku karena melihatmu melihatku, dan kau sempat terpana karena itu, 'kan? Hahaha, kau sungguh terpana, bahkan saat ini pun kau masih berusaha keras untuk tidak melihat ke arahku. Hei, apa aku sangat mempesona ketika rambutku tergerai seperti ini? Menurutmu, mana yang lebih bagus, rambutku yang tergerai atau yang bermodel ekor kuda seperti biasa?”
Apa yang harus ia jawab? Normalnya Savier akan mengeles dan mengalihkan topik pembicaraan, namun kali ini ia tak yakin kalau itu akan bekerja. Terlebih lagi setelah ia tertangkap basah menatapi Gabriel, pilihan terbaik yang bisa dilakukannya adalah mengakui hal itu. Ya, ia tidak punya pilihan lain selain mengakuinya. “Ck, kau… menanyakan hal yang sudah jelas,” jawabnya sambil menolehkan wajahnya membelakangi Gabriel.
“…” Savier kehilangan kata untuk disuarakan, ia dengan refleks menoleh memandang Gabriel, ekspresinya penuh dengan keterkejutan.
“Heee… apa kau ingin aku berkata seperti itu?”
…Dan keterkejutan itu langsung tergantikan oleh kekesalan. “Aku menyerah,” ungkapnya pasrah.
Gabriel dan Savier berada di pantai hingga beberapa waktu lamanya. Mereka tak melakukan banyak kegiatan, yang mereka berdua lakukan hanyalah duduk di pasir memandang terjangan ombak sembari mengobrol ringan. Barulah ketika sore menjelang mereka beranjak meninggalkan pantai dengan mengendarai sepeda mereka masing-masing. Tak seperti sebelumnya, kali ini mereka mengayuh pedal sepeda dalam tempo yang pelan, dan keduanya menikmati perjalanan pulang mereka dalam diam. Bukannya tak punya bahan pembicaraan, tapi mereka sudah terlalu banyak bicara ketika di pantai tadi. Karenanya, mereka menikmati perjalanan pulang mereka dalam diam.
Perlahan-lahan suhu udara semakin rendah, mentari yang menyinari dunia sudah menghilang di balik horizon, dan malam yang dingin pun dengan angkuhnya menyapa.
Savier keluar dari kamar kosnya dengan setelan celana jeans hitam, kaos biru gelap polos lengan pendek, dan dilengkapi jaket abu-abu, serta untuk alas kaki ia hanya menggunakan sandal gunung hitam favoritnya. Ia berjalan keluar dengan ekspresi tenang, dan langkah kakinya berhenti tepat di depan gang yang berhadap-hadapan dengan tempat kosnya Gabriel.
Savier tak menunggu lama, tepat setelah satu menit ia menunggu, gadis itu menampakkan dirinya di hadapan Savier.
Gabriel tersenyum simpul ke arahnya, itu adalah senyum simpul yang sangat indah di mata Savier. Dia tak mengikat rambutnya; rambut hitam Gabriel tergerai bebas dengan poni yang menutupi dahinya hingga hanya memperlihatkan sebagian alisnya, dua jambang panjangnya membingkai wajah cantik Gabriel, dan sebuah kacamata membuat kecantikan Gabriel semakin memancar. Gadis berkacamata itu mengenakan kaos biru gelap yang kemudian dilengkapi dengan jaket abu-abu gelap, rok yang membaluti tubuh bagian bawahnya berwarna hitam dan berada belasan centi di bawah lutut, stocking hitam gelapnya membaluti kaki Gabriel seperti biasa, dan sepatu sederhana beralas datar yang warnanya senada dengan roknya melindungi kaki mungil Gabriel dengan elegan. Penampilan Gabriel cukup simpel, namun Savier tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menyimpulkan semuanya selain kata “sempurna”.
“Apa kau menunggu lama?”
Savier menggelengkan kepalanya pelan. “Jadi, akan ke mana kita? Terus terang, aku tak akan mentraktirmu yang mahal-mahal ya, kau sendiri sangat tahu dengan keuanganku, kan?”
“Tenang saja,” jawab Gabriel menenangkan. “Agar kau tak perlu khawatir dengan itu, kau bisa memilih tempat makan yang kau rasa oke.”
Meskipun kata-kata Gabriel menenangkan, itu memberikan gambaran yang berbeda dari apa yang Savier bayangkan. Kalau seperti ini, maka itu sama saja artinya dengan ia yang mengajak Gabriel makan di luar. Ia tahu Gabriel memang berusaha untuk membuat penggambaran yang seperti itu, tapi jika ia membuat Gabriel memilih tempat maka gadis ini tidak akan memilih tempat yang murah. Ck, seharusnya aku tidak perlu bicara seperti itu, batin Savier. Jika ia tidak mengatakan hal itu tadi maka Gabriel tidak akan punya kesempatan untuk membuat dirinya tertekan seperti ini. Kendati demikian, itu bukan berarti ia akan membiarkan gadis ini mendominasi. “Aku mempercayaimu, karena itu aku akan membiarkanmu yang menentukan tempat, Gab,” respon Savier pada akhirnya.
“Oh, oke.”
Respon Gabriel sangat cepat dan tanpa ragu, seolah dia sudah menebak kalau ia akan menjawab seperti itu. Namun Savier tahu betul, Gabriel tadi merasa terkejut, akan tetapi dia dapat menyembunyikan keterkejutannya dengan baik, mungkin. Seperti yang diharapkan dari Gabriel, namun setidaknya Savier merasa puas dengan ini.
Seperti yang telah disepakati bersama, Gabriel memilih tempat untuk mereka makan malam. Itu adalah tempat makan yang sederhana yang hanya memiliki belasan meja makan, terletak ratusan meter dari tempat kos mereka terletak. Mereka ke sana dengan berjalan kaki, agak berbeda dengan orang-orang lainnya yang menggunakan kendaraan, tapi itu sama sekali tidak mengejutkan; Gabriel lebih suka untuk berjalan kaki atau bersepeda jika jarak tempuh tidak jauh, pun tak berbeda dengan Savier. Sadar atau tidak, mereka berdua memiliki begitu banyak kemiripan, siapa pun yang melihat mereka kemungkinan akan berpikir kalau mereka adalah sepasang kekasih yang tengah menikmati kebersamaan mereka.
Mereka duduk di salah satu meja kosong—meja yang letaknya di paling sudut.
“Kau ingin memesan apa?” tanya Savier sambil melihat menu di meja.
“Sama sepertimu,” jawab Gabriel enteng.
Savier mengenyitkan keningnya mendengar respon itu, dan ia tidak suka melihat senyum menantang yang menyertai ucapan tersebut. Jika sudah begini maka ia tak bisa memesan makanan secara asal; Savier tidak punya pilihan selain memesan makanan yang paling ia sukai yang tertera di menu. “Fine,” respon Savier pada akhirnya, dan ia langsung bangkit dari kursinya dan memberitahu pesanannya pada penjual.
“Oh, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” ucap Gabriel begitu Savier kembali duduk di kursinya yang berhadap-hadapan dengan Gabriel, tangan kanan Gabriel merogoh saku jaketnya dan dari sana ia mengeluarkan smartphone birunya.
Savier meraih smartphone itu dan memandang foto yang tertera di sana dengan malas. Savier memandang foto tersebut selama belasan detik dengan datar, kemudian ia mengembalikan smartphone tersebut ke pemiliknya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Gabriel mengambil smartphone-nya dan memasukkannya kembali ke saku jaketnya, namun matanya tak beralih dari mengamati reaksi Savier.
“Kau tidak mengatakan apa pun?” tanya Gabriel penasaran.
Savier menghendikkan bahunya, “Tidak ada yang perlu dikatakan,” responnya singkat.
“Ngomong-ngomong, Vier, aku sudah diterima kerja di perusahaan tempat aku magang dulu. Aku sudah akan bekerja di sana tiga bulan lagi, sebenarnya aku sudah boleh bekerja setelah wisuda, tapi aku mengundurnya sebulan. Bagaimana kalau kau nanti setelah wisuda melamar kerja di sana? Aku yakin itu akan menjadi tempat yang cocok untukmu, dan aku yakin seratus persen kalau kau akan diterima.”
“Bagaimana ya…, aku ingin bekerja di kota asal kita.”
“Kau yakin? Aku tidak tahu ada perusahaan yang cocok untukmu di sana, rata-rata mereka menginginkan pekerja yang sudah memiliki pengalaman. Kalau kau mencari kerja di sana, aku yakin kau tidak akan mendapatkan bayaran yang memuaskan. Kau mungkin juga tidak akan merasa nyaman. Percaya padaku, aku sudah mengenal seluk beluk perusahaan tempatku akan bekerja itu, itu adalah perusahaan yang paling bagus untuk menata karirmu ke depannya; perusahaan itu memberikan kesempatan yang sangat tinggi bagi fresh graduate seperti kita. Selain itu, dengan bekerja di sini, bukankah kau akan memiliki tempat untuk pulang kampung? Jika kau bekerja di sana, kau akan pulang kampung ke mana?”
Savier mendaratkan pipi kirinya di kepalan tangan kirinya, irisnya memandang lurus ke depan. Bukan pada Gabriel, tapi jauh ke belakang Gabriel, pada sesuatu yang samar, tak terlihat dan belum ada: masa depan. Ketika memikirkan itu, masa kini akan menjadi faktor terpenting yang akan menjadi penentu. Masa lalu juga berperan penting sebagai sumber pengalaman, namun itu tak lebih signifikan dari peran masa kini. Keputusan yang dimbil di masa kini, hal-hal yang dilakukan, semuanya akan menentukan masa depan. Sejalan dengan itu, keputusan yang akan ia ambil berdasarkan pembicaraannya dengan Gabriel ini juga akan menentukan masa depannya.
Bagaimana masa depannya jika ia memilih mencari kerja di kota asalnya? Akan jadi seperti apa masa depannya jika ia memilih menerima usulan Gabriel? Kedua pilihan itu akan memberikan dua hasil yang berbeda; bisa saja kedua-duanya akan membuatnya sukses dalam hal yang berbeda, bisa saja ia gagal disemuanya, dan bisa saja salah satunya menjanjikan keberhasilan sedangkan yang satunya menjanjikan kegagalan. Dan jika membicarakan peluang, maka mendengarkan saran Gabriel adalah pilihan yang paling pas.
“Jika kau berhasil di sini, kau juga akan memiliki peluang untuk bekerja di kota asal kita. Karena, dari yang kudengar, perusahaan ini akan membuka cabang di kota itu. Dan jika itu tidak benar, kau selalu bisa berhenti bekerja ketika sudah cukup mengumpulkan pengalaman, bukan?”
Kelopak mata Savier berkedip dua kali, bibirnya melengkung tajam. “Kau sangat ahli dalam membuat orang-orang untuk mendengarkan kata-katamu, bukan begitu, Gab?”
Bibir Gabriel melengkung dengan sendirinya. “Aku anggap itu sebagai pujian.” Tepat setelah ucapan itu keluar dari mulut Gabriel, pesanan yang sudah Savier pesan sedari tadi pun datang, dan keduanya mulai menikmati makan malam mereka dengan nyaman sambil sesekali berbicara ringan.
***
Sekembalinya dari acara “makan malam” dengan Gabriel, Savier langsung menghempaskan dirinya ke atas kasur kamar kosnya. Ia diam memandang atap kamar seolah itu adalah pemandangan terbaik yang tersaji di matanya. Kendati demikian, Savier tidak benar-benar melihat atap-atap kamar; pandangannya sedikit kosong, saat ini pikirannya tengah mengulas pembicaraannya tadi dengan Gabriel.
Ia akan resmi menjadi sarjana kurang dari dua bulan lagi, tentu adalah hal yang natural untuk mencari sebuah pekerjaan. Terlebih lagi bagi calon fresh graduate sepertinya, mencari pekerjaan cukup terbilang sulit karena rata-rata perusahaan hanya menerima mereka-mereka yang sudah memiliki pengalaman. Karena itu, ia sangat mengapresiasi saran Gabriel tadi, itu sangat membantunya dalam meniti karirnya. Dan seperti yang ia bicarakan dengan Gabriel tadi, ia akan mencoba untuk melamar kerja di sana.
Pikiran Savier kembali ke pembicaraan sebelum itu, tentang sebuah foto yang ditunjukkan Gabriel padanya. Lelaki yang duduk makan malam dengan Shona berbeda dengan lelaki yang ia lihat sewaktu masa sekolah menengah atas dulu. Itu artinya hubungannya dengan lelaki sebelumnya tak bertahan lama, dan kini dia telah menjalin hubungan dengan lelaki lainnya. Semakin ia memikirkan hal itu, semakin Savier tidak menyukai Shona. Padahal, tinggal setahun lebih lagi sebelum genap sepuluh tahun sejak ia membuat kedua shuriken kertas itu, namun tampaknya hal itu tidak akan pernah terwujud. Janji itu, pada akhirnya, hanya omong kosong belaka. Savier jadi membenci dirinya sendiri, mengapa dulu ia sampai membuat janji konyol seperti itu?
Savier sungguh tidak mengerti, baik dengan dirinya sendiri mau pun dengan perkembangan kehidupannya saat ini. Di mana letak kesalahannya? Savier tidak pernah berhubungan dekat dengan wanita mana pun… selain Gabriel. Tapi, tak mungkin kan kalau karena itu Shona memutuskan untuk mengabaikan semua itu? Savier tidak bisa mempercayai semua itu; ia dan Gabriel tak memiliki hubungan lain selain teman dekat. Jadi, apakah itu adalah keinginan Shona sendiri? Dia tidak lagi memiliki rasa padanya, begitu?
Jika seperti itu maka Savier bisa mengerti; ia bisa mengerti mengapa Shona menjalin kasih dengan kedua orang yang berbeda. Ia bisa mengerti mengapa Shona mengabaikan janji yang telah mereka sepakati. Karena, untuk apa mempertahankan jika tidak diinginkan? Itu hanya akan berakhir sia-sia dan menyakiti diri sendiri. Shona tidak salah telah melakukan itu, dia sama sekali tidak salah karena telah berhenti menaruh rasa padanya. Yang salah adalah Savier, ia bersalah karena telah mempercayai kalau semuanya akan baik-baik saja.
Namun anehnya, ia sama sekali tidak merasakan rasa sakit seperti saat sekolah menengah atas dulu, seperti apa yang tertera di buku-buku yang sudah dibacanya. Ia memang merasa kesal dan tidak suka dengan apa yang dilakukan gadis itu, namun itu hanya sebatas itu saja, ia tidak lagi merasakan hal yang ingin membuatnya langsung pergi memastikan kebenaran akan hal itu pada Shona. Mengapa demikian? Apa ia juga sudah tak memiliki rasa pada gadis itu? Rasanya tidak begitu, batin Savier meyakinkan dirinya. Kalau memang seperti itu, mengapa ia masih menyimpan shuriken kertas itu?
Savier sama sekali tidak berubah; Shona-lah yang berubah. Dan Savier pun mengerti, jika memang itu adalah apa yang diinginkan Shona, maka biarlah seperti itu. Tentang shuriken kertas yang masih ia simpan di laci mejanya, biarlah itu tetap di situ, setidaknya hingga sepuluh tahun yang mereka janjikan itu habis berlalu.