
“Aku ingin kau menikahiku, Savier,” ucap Gabriel begitu makanan yang tersaji di hadapan mereka telah habis, ekspresinya begitu serius—tidak sedikit pun canda yang terlukis di wajah jelitanya.
“…”
Syok, terkejut, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Gabriel yakin itu adalah apa yang berkecamuk di pikiran Savier saat ini. Ia tidak perlu berpikir keras untuk bisa mengetahui semua itu. Mata yang membelalak, mulut yang sedikit terbuka, tisu ditangannya terjatuh; sangat jelas sekali kalau asumsi Gabriel seratus persen benar.
“Kau tidak salah dengar,” lanjut Gabriel meyakinkan, “aku memintamu untuk menikahiku, Vier.”
Keterkejutan di wajah Savier berangsur-angsur menghilang, namun Gabriel kembali berbicara sebelum lelaki itu sempat membuka suaranya. “Pertolongan yang aku minta darimu sebenarnya adalah agar kau berada di sini, karena kalau tidak begitu maka aku tidak akan bisa mengungkapkan perasaanku pada orang yang sangat aku cintai. Dan sekarang kau sudah di sini mendengarkan perkataanku. Aku sudah memutuskan untuk tidak menahan perasaanku lagi: aku mencintaimu, Savier. Dari dulu, aku sudah mencintaimu sedari dulu. Semakin hari rasaku ini padamu semakin dalam, aku tidak bisa membiarkannya seperti ini terus: aku ingin hidup bersamamu. Karena itu, Savier, aku ingin agar kau menikahiku.”
***
Rasanya seperti ilusi. Meskipun Savier sudah menduga kalau Gabriel memiliki rasa padanya, ia selalu tidak berani untuk meyakini dirinya tentang dugaan tersebut. Terlebih lagi setiap kali ia menanyai Gabriel tentang hal itu, Gabriel selalu memberinya jawaban yang membuatnya minder. Tapi, wanita yang selalu memberikan jawaban yang seperti itu kini mengatakan kalau dia mencintainya, sama seperti dugaannya? Ah… rasanya seperti ilusi.
Akan tetapi, ini bukan ilusi; setiap panca inderanya meyakinkan kalau semua ini benar adanya. Raphiela Gabriel, seorang wanita jenius dari keluarga kaya raya mengatakan kalau dia mencintai dirinya, Mustafa Savier, seorang pemuda biasa dari keluarga sederhana? Memang, Gabriel bukanlah orang yang mempedulikan hal itu. Bagi orang seperti Gabriel, hal seperti itu bukanlah suatu masalah yang berarti.
Tapi bagaimana dengan dirinya, apa ia pantas bersanding dengan wanita hebat nan mempesona seperti Gabriel?
Terus terang Savier tidak punya jawaban untuk pertanyaan yang seperti itu. Jika ia boleh egois, maka dengan tanpa ragu ia akan mengatakan kalau dirinya pantas. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu; Savier telah melihat banyak orang yang lebih pantas bersanding dengan Gabriel dibandingkan dirinya. Ia bukannya merendahkan dirinya, tapi begitulah kenyataan yang ada.
Yang lebih penting lagi, apa ia juga mencintai Gabriel seperti halnya Gabriel mencintainya?
Savier berani mengatakan kalau ia menyukai wanita berkacamata yang duduk di hadapannya itu. Jika tidak demikian maka sudah pasti ia akan marah pada wanita itu setelah Shona memberitahukan apa yang telah dilakukan Gabriel pada hubungan mereka. Itu adalah bukti yang jelas kalau Savier menyukai wanita itu, terlebih teman dekatnya itu sudah sangat banyak membantu dirinya. Jadi, apa ia mencintai Gabriel seperti halnya Gabriel mencintainya?
Savier tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan penuh keyakinan. Ia tidak ingin nantinya berpikir kalau ternyata ia tidak mencintainya, seperti halnya yang dialaminya terhadap Shona. Ah, tapi, meskipun ia memiliki rasa cinta itu, itu tetap tidak akan mengubah fakta bahwa Gabriel adalah seorang ateis. Bagaimana bisa ia menikah dengannya, sedangkan agamanya tidak memperbolehkan?
“Aku akan berhenti menjadi ateis kalau kau bersedia menjadikanku istrimu.”
***
Gabriel menyunggingkan senyum meyakinkan pada Savier yang terdiam mendengar deklarasinya barusan.
“Aku akan mengikuti agamamu kalau kau bersedia menikahiku, dan kau akan bisa mengajarkanku lebih banyak hal tentang agamamu setelah kita menikah. Ini pertama kalinya aku memikirkan untuk mempercayai Tuhan,” Gabriel memasang wajah seriusnya. “Tapi,” raut wajahnya mendatar seketika, “tidak ada gunanya aku memikirkan hal itu jika kau tidak mau mengabulkan keinginanku itu.”
Gabriel tahu kalau apa yang ia katakan terdengar sangat tidak adil sekali, tapi ia sama sekali tidak peduli. Sejujurnya ia tak terlalu peduli tentang beragama atau tidak. Ayahnya seorang ateis, ibunya seorang Protestan, dan keduanya sama sekali tidak pernah memaksakan keyakinan mereka padanya; Gabriel menjadi ateis karena memang ia tidak pernah mencoba untuk mempelajari agama apa pun. Tapi, jika mengikuti agama yang diikuti Savier akan membuat lelaki itu mengabulkan keinginannya maka Gabriel akan dengan senang hati mempelajari agama itu.
“Apa menurutmu aku ini tidak pantas untukmu, begitu? Atau, kau memiliki seseorang lainnya yang menarik hatimu?” tanya Gabriel dengan nada sendu, bibirnya sedikit bergerak membentuk senyum yang terlihat agak dipaksakan.
“Tidak, bukan begitu. Hanya saja, bukankah ketika aku menanyakan padamu apakah kau menyukaiku atau tidak kau selalu menyangkal? Kenapa tiba-tiba sekarang kau mengatakan kalau kau mencintaiku?”
Ekspresi Gabriel melembut seketika, “Kapan aku pernah menyangkal? Seingatku, ketika kau menanyakan itu, bukankah aku selalu menjawab ‘mengapa aku harus menyukaimu’?” tanyanya santai.
“Ck, kau selalu mengatakan itu.”
Gabriel mengangguk, senyumnya mengembang. “Jadi, Vier, biarkan aku mendengarkan keputusanmu.”
Savier tampak terdiam mempertimbangkan semuanya, Gabriel dengan sabar menunggunya bicara.
“Jika harus jujur, aku sama sekali tidak menyangkal kalau aku menyukaimu, Gabriel. Tapi untuk saat ini, aku belum bisa mengatakan kalau aku mencintaimu.”
“Aku tidak apa-apa dengan itu,” ucap Gabriel cepat, senyum tulus terukir indah di bibir tipisnya. “Karena…, cintaku padamu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan cinta dalam rumah tangga kita nanti.”
Savier terdiam untuk beberapa saat, sebelum kemudian ia tersenyum lembut dan berkata, “Kalau kau tidak apa-apa dengan itu, aku akan mengabulkan permintaanmu itu.”
Bibir Gabriel melengkung maksimal membentuk senyuman terlebar yang pernah ia tampilkan, jawaban Savier itu benar-benar membuat hati kelamnya berwarna. Meskipun ia sudah memperkirakan hal ini sebelumnya, tapi tetap saja kenyataan itu akan memberi efek yang sulit dibayangkan. Dan Gabriel sangat menyukai perasaan yang mengancam untuk keluar dari sanubarinya ini.
“Er, Gab, kalau begitu, kapan aku bisa menemui orangtuamu?”
Gabriel tersenyum sumringah, sorot matanya menjadi tajam. “Besok,” jawabnya mantap, tidak terdapat keraguan barang sedikit pun dalam suaranya.