Between Love and Obsession

Between Love and Obsession
Bagian 4: A Real Promise, part 2



Ketika matahari beranjak menyinari belahan bumi lainnya, maka belahan yang ditinggalkannya akan diselimuti oleh kegelapan. Dan ketika kegelapan itu pergi menelan belahan bumi lainnya, maka sinar mentari akan kembali menyinari belahan bumi yang ditinggalkan sang malam. Dan Savier pun menyambut sang mentari dengan senyum simpul sambil menikmati udara pagi dari jendela rumah tempat ia mengontrak. Udara pagi memang sangat menyegarkan, Savier tidak pernah merasa bosan untuk menikmatinya.


Setelah puas menikmati udara pagi dari jendela, Savier melangkah ke dapur untuk membuat segelas kopi untuk dinikmatinya. Seusai membuat kopi, ia beranjak ke teras rumah setelah mengambil sebuah novel dari rak buku. Savier mendudukkan dirinya di kursi teras rumah dengan nyaman, ia menyesap kopi hitam yang dibuatnya dan mulai menikmati membaca novel. Ini hari Minggu, ia tidak perlu berangkat ke kantor dan bisa menghabiskan seharian ini untuk beristirahat dan menghibur dirinya dengan membaca novel yang belum sempat disentuhnya ini, dan itulah yang memang Savier rencanakan untuk hari ini.


Savier membaca novel tersebut dengan tenang, namun ketenangannya langsung terhenti begitu pengantar pos datang beberapa menit setelah ia membaca. Pengantar tersebut memberinya kiriman yang dibungkus dengan rapi, dan dia pergi setelah meminta Savier menandatangani penerimaan barang tersebut. Dari bentuknya, Savier telah menduga kalau barang yang dikirim padanya adalah sebuah buku, karena itu ia tak ragu untuk membuka bungkus tersebut. Dan seperti yang ia duga, itu memang sebuah buku, lebih tepatnya sebuah novel. Namun yang tidak di duga Savier, terdapat sebuah kartu undangan yang disematkan di bawah buku itu. Dengan penasaran Savier mengambil kartu undangan itu.


Seketika Savier terpaku, dan ekspresinya mendatar. Itu adalah sebuah undangan pernikahan. Ia tidak mengenal siapa pengantin prianya, namun nama pengantin wanita yang tertera di bawah nama pengantin pria adalah seseorang yang sangat ia kenal. Shona Wilona, nama itulah yang tertera di sana.


Savier jadi teringat akan ucapannya kepada Shona dulu: “Karena itu, tidak apa kan jika kita hanya berstatus sebagai teman semata? Jika kita memang ditakdirkan bersama, suatu saat kita akan bersama jua, tapi tentu saja kita juga harus berusaha untuk itu. Tapi jika takdir berkata lain, tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya, kita hanya bisa pasrah dan menerima.”


Tak ada yang bisa menyalahi takdir; takdir adalah absolut, kemutlakan yang hakiki. Tidak peduli sekeras apa kau berusaha, tak peduli sebanyak apa kau berkorban; takdir yang ditetapkan padamu akan tetap terjadi padamu; menghindari takdir adalah sebuah kemustahilan. Akan tetapi, takdir itu pada dasarnya adalah misteri yang mustahil untuk disingkap, karena itu tak ada seorang pun yang tahu akan takdir yang ditetapkan pada mereka. Di situlah letak keindahan dari takdir: sudah ditetapkan, namun tak ada siapa pun yang tahu, sehingga semuanya bisa bebas berusaha sekuat mungkin dan pasti mereka akan menjemput takdir mereka jua. Karena hal itu jugalah mengapa tak salah untuk mengatakan kalau hidup adalah pilihan, karena pada dasarnya kita benar-benar memilih untuk melakukan apa yang kita ingin lakukan, meskipun itu adalah pilihan yang terpaksa sekali pun. Selama kita memilihnya, maka itu tetaplah pilihan, dan kalau kita sudah memilih maka itu adalah bagian dari takdir kita. Bahkan jika kita tak memilih sekalipun, itu tetaplah pilihan kita, artinya itu adalah takdir kita juga. Karena pada dasarnya, takdir menuntun jalannya kehidupan kita, sebuah anugerah dari Tuhan Yang Maha Baik. Pun begitu dengan perkara hati dan cinta, Tuhan telah menggariskan keduanya sejak jauh sebelum seseorang lahir ke dunia. Ini bukan bualan atau pun cerita fantasi, hal yang tak logis seperti itu memang benar adanya.


Savier menghela napas lelah dan meletakkan kartu undangan pernikahan Shona di atas meja di hadapannya. Meskipun ia, menurutnya, tak lagi memiliki sedikit rasa pun pada teman sekolah menengah pertamanya itu, melihat nama Shona bersanding dengan nama orang lain di kertas undangan itu tetap saja sulit untuk ia percayai. Tapi, inilah kenyataannya: Shona akan segera menikah dengan lelaki yang bukan dirinya.


Melihat kertas undangan itu sekali lagi membuatnya ingin tertawa. Ia dulu benar-benar sangat naïf dan bodoh. Bagaimana bisa ia mengucapkan kata-kata memalukan dan lebay seperti itu? Lucu sekali! Ia benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak mengingat itu semua. Dirinya yang dulu… ia sangat tidak menyukainya. Tapi mau bagaimana pun, masa lalu akan selalu membekas.


Setelah beberapa hari berlalu, kini Savier menemukan dirinya berada di depan gerbang rumah Shona, di mana acara pernikahan dilangsungkan. Ia tak langsung memasuki pekarangan rumah, ia berdiri mematung di situ memandang papan bunga yang bertuliskan ucapan selamat kepada kedua pengantin. Entah kenapa, ia merasa kakinya terasa berat untuk dilangkahkan… apa mungkin, meskipun ia tidak mau mengakuinya, ia masih memiliki rasa pada wanita itu? Savier tidak tahu… ia benar-benar tidak tahu. Namun justru karena ketidaktahuan itu Savier jadi mengerti kalau ia belum benar-benar bisa mengenyahkan Shona dari dalam hidupnya.


Savier menghela napas pelan dan berjalan memasuki gerbang rumah. Meskipun pelan, namun langkah kakinya secara pasti membawa dirinya masuk. Pandangan Savier langsung tertuju pada kedua insan yang duduk mesra di pelaminan. Harus ia akui, mereka berdua memang terlihat begitu serasi. Sejenak pikiran Savier melayang. Ia membayangkan dirinya duduk di sisi Shona menggantikan posisi pengantin lelaki; ia membayangkan dirinya menggenggam jemari Shona dengan lembut; ia membayangkan dirinya merengkuh Shona ke dalam pelukannya lalu mendaratkan ciuman penuh kasih di kening wanita itu. Savier mengernyitkan keningnya, bahkan dalam bayangannya sekalipun ia tak bisa membayangkan dirinya berada di samping Shona.


Mungkin memang benar… langit tak mengizinkan benang takdir kami untuk bersinggungan. Atau mungkin, itu karena aku yang, tanpa sadar, telah memutuskan benang itu?


Savier menghela napas lelah dan memutuskan untuk mendekati pelaminan guna mengucapkan sepatah kata selamat kepada mereka berdua. Langkahnya berat, ia tahu. Namun Savier tetap melangkah. Ia terus melangkah hingga kini hanya belasan langkah dari pelaminan, dan ia pun langsung ikut mengantre bersama tamu lainnya yang juga ingin mengucapkan untaian kata selamat kepada sepasang pengantin itu.


“Terima kasih.”


Mengangguk, Savier langsung membalikkan tubuhnya sembari tersenyum simpul pada Shona lalu segera berlalu dari tempat itu. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun pada Shona, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Dan jika berlama-lama di sana ia takut akan terdiam mematung, karenanya Savier memutuskan untuk cepat-cepat pergi.


Savier beranjak menuju ke jajaran kursi yang telah disediakan bagi tamu undangan setelah mengambil segelas minuman dingin. Ia duduk di salah satu kursi kosong itu dan memandang datar ke arah penyanyi yang mengisi acara pernikahan ini. Savier duduk selama beberapa menit hingga cairan dingin yang mengisi gelas yang digenggamnya habis, kemudian ia meletakkan gelas itu di sebuah meja lalu beranjak meninggalkan tempat ini. Kenalan sekolah menengah pertamanya akan datang nanti malam ke sini, sedangkan Savier sendiri akan kembali ke kota tempatnya bekerja nanti malam; ia tidak memiliki alasan lain untuk berada di sini lebih lama lagi.


Namun sebelum ia sempat meninggalkan pekarangan rumah tersebut, seorang lelaki datang menghampirinya, dia adalah lelaki yang sama yang ia lihat bersama Shona saat masa sekolah dulu.


“Mustafa Savier, kan?” tanya lelaki itu.


Savier mengangguk mengiyakan. “Ada apa?” tanyanya pelan.


“Sepupuku, Shona, memintamu untuk menunggunya di luar pekarangan sebelum kau pulang, ada hal yang ingin dibicarakannya, katanya.”


Savier tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dari wajahnya, “…Sepupu..?” tanyanya tak percaya.


Lelaki itu hanya menghendikkan bahunya dan berlalu meninggalkan Savier tanpa berkata apa-apa lagi. Savier memandang punggung lelaki itu dengan tanpa ekspresi. “…Sepupu, huh?” gumamnya pelan, dan dengan ekspresi datar.


Savier masih berdiri memandang datar ke arah lelaki itu pergi bahkan setelah satu menit berlalu. Barulah kemudian ia menghela napas lelah dan kembali melanjutkan niatnya untuk keluar dari pekarangan tempat di mana pesta pernikahan itu diadakan. Dan seperti yang disampaikan lelaki itu, Savier tak langsung meninggalkan rumah tersebut, ia menunggu Shona seraya bersandar di dinding beton yang mengelilingi rumah besar tersebut.