Between Love and Obsession

Between Love and Obsession
Bagian 4: A Real Promise, part 3



Kira-kira setelah lima menit menunggu, Savier sedikit melebarkan matanya begitu ia merasakan seseorang bersender di dinding di sebelahnya. Dia benar-benar datang, huh..?


“Kau tahu, Vier….”


Savier tidak merespon, ia memejamkan matanya dan sedikit menengadahkan wajahnya; Ia sengaja tidak mengatakan apa pun karena ia tahu kalau Shona ingin melanjutkan ucapannya.


“Aku sungguh berharap kalau laki-laki yang akan duduk bersamaku adalah dirimu. Aku sungguh berharap janji yang kita buat dulu itu benar-benar kita wujudkan. Aku sungguh berharap kita bisa melewati jalan kehidupan ini bersama-sama. Ah… dulu aku selalu berharap seperti itu. Dan rasanya… masa-masa sekolah menengah pertama dulu tak akan pernah pudar dari benakku. Harus kuakui itu adalah kenangan yang indah, baik itu dulu, saat ini, bahkan mungkin sampai saat napas ini terhenti nanti.


“Kau tahu, aku benar-benar merasa tersakiti saat kau mengatakan kata cinta pada Gabriel. Tapi saat itu aku berhasil meyakinkan diriku kalau itu hanya dibuat-buat, karena aku yakin kau tidak akan mengkhianatiku. Namun keyakinanku luntur tatkala melihat Gabriel memelukmu saat kau memboncenginya, juga saat kalian makan malam berdua, dan juga momen-momen lainnya yang aku sendiri pun tak ingat lagi. Kau sudah melupakan janji itu, begitu yakinku. Tapi, bahkan saat ini… aku selalu berharap agar kau masih mengingatnya, meskipun itu tak lagi bermakna.…”


Savier tidak mengatakan apa pun, ia hanya diam mendengarkan monolog Shona.


“Ah... sudah berapa lama kita tidak pernah berdiri berdekatan dan berbicara seperti ini?” tanya Shona sambil tersenyum kecil, namun dia tidak menunggu respon Savier dan melanjutkan ucapannya. “Sangat samar sekali… dan ini, mungkin yang terakhir kalinya aku akan berdiri di dekatmu seperti ini. Entah kenapa aku merasa lega, juga sedikit sesal, tapi aku mengerti kalau pada akhirnya takdir itu sudah digariskan. Yang bisa kulakukan hanyalah berharap, namun kini harapan itu telah pudar. Terima kasih, Vier. Melaluimu aku mengenal cinta, dan melaluimu pula aku mengetahui resiko dari hal itu. Selamat tinggal.”


Senada dengan kata “selamat tinggal”, Shona membalikkan badannya dan melangkah menjauh. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan langkah Shona pun terhenti. “O ya,” ucapnya tanpa berbalik, suaranya datar dan dingin. “Aku sudah membakar shuriken kertas itu, aku memandangnya datar sampai semuanya menjadi abu, lalu kutiup abu kertas itu dan semuanya menghilang dalam hembusan angin.” Dan dengan itu sosok Shona benar-benar menghilang dari ekor mata Savier, dan Savier hanya memandang datar pada tempat di mana wanita itu berdiri sebelumnya, sedikit pun ia tak bersuara.


Savier terus diam memandang spot tersebut untuk beberapa menit lamanya, barulah kemudian ia menghela napas pelan dan beranjak dari tempatnya bersandar. Senyum kecil mengiringi langkah kepergiannya. Itu bukan senyum senang atau pun sedih, namun senyum lega. Ya, senyum lega. Savier merasa lega. Ia merasa lega karena tahu kalau Shona sama sekali tidak mengkhianatinya. Ia merasa lega karena Shona benar-benar seperti Shona yang ia kenal sewaktu sekolah menengah pertama dulu. Dan, ia merasa lega karena wanita itu memutuskan untuk menikah dengan lelaki yang bukan dirinya.


Savier merogoh saku jaket abu-abunya dan mengeluarkan shuriken kertas yang dulu dibuatnya. Ia membuka lipatan-lipatan kertas itu hingga memisahkannya menjadi dua bagian. Kemudian ia mengoyak-ngoyakkan kedua kertas itu hingga membuatnya menjadi sobekan-sobekan kertas kecil, lalu dengan tanpa ragu Savier mencampakkan sobekan-sobekan kertas itu ke dalam tong sampah pertama yang ditemuinya di jalan.


Tapi… aku sungguh tak menyangka Gabriel sampai membuat Shona berpikiran kalau aku dan dia menjalani hubungan spesial. Namun entah mengapa aku tidak merasa kesal sama sekali, bahkan aku justru merasa lega karena Gabriel telah melakukan itu. Perasaan ini… agak sulit dimengerti.


Savier tersenyum sedikit masam dan melangkah pergi tanpa beban. “Apa mungkin… aku sudah terlanjur jatuh hati pada Gabriel?” tanyanya tidak pada siapa pun.


***


Gabriel tersenyum kecil memandang taman bunga di halaman belakang kediamannya. Semua bunga-bunga itu ditanam oleh ibunya sewaktu beliau masih tinggal di rumah ini. Namun setelah ayah dan ibunya bercerai, Gabriel sendirilah yang mengambil alih merawat taman kesukaan ibunya. Awalnya memang agak membosankan, tapi lama-kelamaan ia jadi sedikit menyukai taman ini. Selain karena ini mengingatkannya dengan masa-masa ketika keluarganya masih utuh, taman ini juga sedikit membuat hati gelapnya merasa nyaman.


Gabriel menggerakkan tangannya memetik setangkai mawar merah yang merekah indah. Ia memandang lembut bunga tersebut untuk beberapa saat, kemudian ia membawa tangan kirinya menyentuh mahkota bunga sebelum kemudian menarik lembar merah itu satu per satu hingga tak bersisa satu pun. Gabriel tersenyum puas memandang tangkai bunga yang sudah tandus itu. Baginya, tangkai mawar yang sudah tak memiliki mahkota bunga itu ibarat cinta Shona dan Savier. Bersemi, direnggut, lalu ia hancurkan hingga mustahil bagi lembaran mahkota bunga itu untuk kembali ke kelopaknya. Melihat lembaran merah itu berserakan di depan kakinya, hati Gabriel berdesir penuh kesenangan. Puas melihat itu, Gabriel mengangkat kaki kanannya lalu memijak-mijak lembaran mahkota bunga itu hingga tak berbentuk.


“Shona yang malang, kau pikir kau bisa merebut Savier dariku hanya karena kau bersekolah di sekolah menengah pertama yang sama dengannya, hah?” Tidak ada yang menanggapi serapahan Gabriel, pun ia sudah memastikan takkan ada yang merespon. “Tapi… aku sungguh merasa senang karena kau akhirnya memutuskan untuk menikah, karena dengan begitu aku tidak harus mengkhawatirkan kau merebut Savier lagi. Dan aku sungguh berharap semoga kau hidup bahagia, dan kuharap kau tidak mengusiknya lagi.”


Namun, akan sangat merepotkan jika Shona sampai memberitahu Savier tentang foto-foto dan video yang ia kirim. Gabriel memang sudah memperhitungkan akan kemungkinan hal itu terjadi, tapi tetap saja ia tidak bisa sepenuhnya menghalangi terjadinya hal itu tanpa mengambil tindakan drastis. Ia tidak ingin tahu akan seperti apa sikap Savier kalau sampai ia tahu, namun mengambil tindakan drastis adalah sesuatu yang tidak akan Gabriel lakukan. Ia memang tidak keberatan untuk melakukan berbagai cara, namun Gabriel sangatlah rasional, ia tak ingin menghadapi konsekuensi yang terlalu tinggi. Ia hanya bisa berharap semoga Shona tidak mengatakan itu, dan kalau pun Shona sampai melakukan itu… maka yang bisa ia lakukan hanyalah berusaha agar Savier tidak membencinya.


Tapi… kalau sampai itu terjadi…?


Gabriel menghela napas ringan dan membalikkan badannya, lalu ia melangkah pelan menjauhi bunga-bunga itu menuju pintu belakang rumahnya. Bibir Gabriel perlahan-lahan melengkung, sorot matanya menajam, ia terlihat seperti seorang pecatur yang telah memastikan kemenangannya. “Apa boleh buat, sepertinya aku harus mempercepat rencanaku.”