
Tidak ada persiapan khusus yang dilakukan oleh Savier dan keluarganya, kendatipun ia ingin membantu, Gabriel bersikeras ingin melakukan semuanya. Tentu saja Gabriel tidak melakukan apa pun selain memberikan instruksi dan mengeluarkan uang, namun tetap saja Savier merasa tidak nyaman dengan itu. Savier sempat memberikan beberapa argumen, akan tetapi Gabriel sama sekali tidak bergeming. Savier hanya bisa pasrah, mengubah pendirian Gabriel itu adalah perkara yang sangat berat. Oleh sebab itulah, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain mendoakan agar semua persiapan yang mereka lakukan berjalan lancar.
“Savier.”
Savier langsung mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya begitu suara yang sangat familiar itu memanggil. Itu adalah lelaki yang usianya telah mendekati enam puluh, lelaki yang telah berjasa begitu banyak dalam hidupnya, lelaki yang bertanggungjawab atas kelahirannya ke dunia fana ini. Lelaki itu adalah ayahnya. Dia memang bukan ayah yang diimpikan oleh setiap anak, tapi Savier tidak bisa mengharapkan ayah yang lebih baik dari dirinya. Ayahnya tidak pernah memukulnya, pun dia tidak pernah berteriak kasar padanya; jika Tuhan mengizinkannya memilih seorang ayah, maka ia tidak akan memilih lelaki lain untuk menggantikan lelaki yang tiga bulan lagi akan genap berusia enam puluh tahun itu.
“Ayah, kau sudah pulang.”
Lelaki berambut pendek yang sebagiannya telah memutih itu mengangguk lalu mendudukkan dirinya di sofa di hadapan Savier. “Bagaimana dengan hari esok, apa kau sudah siap?”
“Tidak ada masalah, aku siap menjalani hari esok, Ayah.”
Ayahnya memandangnya intens. “Baguslah kalau begitu,” ucapnya pelan sembari menolehkan wajahnya dari memandang dirinya. Savier hanya memandang diam ayahnya, jujur saja ia tidak tahu mau bicara apa. Dari dulu memang seperti itu, ketika ia duduk berdua dengan ayahnya seperti ini, tidak ada banyak kata yang bertukar di antara mereka. Selain karena ketertarikan mereka yang berbeda jauh, sifat mereka pun jauh berbeda, karenanya menemukan topik pembicaraan di antara mereka itu sangatlah sulit.
“Menjadi seorang suami adalah sebuah tanggungjawab yang besar,” ucap ayahnya tanpa memandang dirinya. “Kebanyakan pria yang hendak menikah senantiasa berpikir kalau mereka sudah siap mengemban tanggungjawab itu, mereka terlalu mengoverestimasi diri mereka sendiri sehingga akhirnya mereka merasa tertekan ketika kenyataan setelah menikah tak sesuai dengan bayangan mereka sebelum menikah. Belum lagi jika mereka nanti telah menjadi seorang ayah, tekanan yang harus mereka hadapi akan lebih berat lagi. Tapi tentu saja, ayah sangat mengerti kalau kau bukanlah dari mereka; kau adalah laki-laki yang mengerti dengan kehidupan yang akan kau jalani nanti. Karenanya ayah tidak punya banyak kata untuk ayah ucapkan padamu selain sepatah nasihat yang ayah harap kamu dengarkan.”
Savier memandang intens ayahnya, perhatiannya tertuju sepenuhnya pada lelaki tua itu.
“Berhentilah memprioritaskan dirimu, pernikahan bukan lagi tentang dirimu dan keinginanmu, melainkan tentang kalian dan impian rumah tangga yang akan kalian bangun. Dan ketika kau sudah menjadi seorang ayah nanti, luangkan sebagian besar waktumu untuk anak-anak dan istrimu, kau tidak boleh menggeluti hal-hal yang akan menyita waktu kosongmu dengan mereka. Dengan demikian maka kau tidak akan melewatkan momen-momen berharga dalam hidup mereka, dan juga kau tidak akan menjadi seorang yang asing dalam hidup anak-anakmu kelak.”
Savier tidak mengatakan apa pun, ia hanya diam.
“Mengatakan itu membuat ayah merasa gagal sebagai ayahmu,” ayahnya menggelengkan kepalanya pelan lalu bangkit dari tempatnya duduk kemudian berbalik arah membelakanginya. “…Ayah sungguh berharap agar kau tidak menjadi seperti ayah, Savier,” ucapnya pelan, lalu dia pun melangkah pergi.
“Ayah,” panggil Savier pelan, membuat langkah kaki ayahnya terhenti. “Terima kasih,” lanjutnya, “terima kasih karena kau mau memberikan nasihat yang berharga untukku. Aku akan mengingatnya dengan baik. Dan seperti yang Ayah katakan, aku tidak akan menjadi seperti ayah. Akan tetapi, wahai Ayah, jika Tuhan mengizinkanku memilih seorang ayah, maka aku tidak akan memilih lelaki lain selain dirimu.”
“…Itu, ayah senang mendengarnya.” Langkah kaki lelahnya pun kembali berlanjut, Savier memandang lembut punggung lebar ayahnya itu hingga sosok lelaki itu sepenuhnya meninggalkan pandangannya. Senyum kecil berkembang di bibir Savier, ia sungguh senang mendengar ucapan ayahnya.
Savier menutup buku di tangannya dan bangkit dari tempatnya duduk. Sambil membawa buku tersebut ia melangkahkan kakinya ke arah kamarnya. Begitu berada di kamar, ia langsung meletakkan buku tersebut di atas rak buku ukuran kecil, kemudian ia merebahkan dirinya di tempat tidur. Lensa mata Savier langsung tertuju pada jam dinding yang tergantung rapi di dinding di depan tempat tidurnya, saat ini jarum jam masih menunjukkan pukul delapan malam. Terlalu awal jika aku menghubungi Gabriel, batinnya seraya memejamkan kedua mata.
Savier tidak tidur, ia hanya sengaja memejamkan matanya saja sembari membawa pikirannya mengulas kisah hidupnya. Savier adalah lelaki yang biasa-biasa saja, dari dulu ia merasa tidak ada hal yang spesial tentangnya. Ia hidup mengikuti prinsip yang ia buat: ia tidak mau melakukan hal-hal yang merugikan dan membuatnya tidak nyaman, ia ingin hidup selalu dalam kenyamanan. Terkadang ia harus bersusah-susah untuk mempertahankan kenyamanannya itu, pun terkadang ia harus rela kehilangan kenyamanannya untuk sementara waktu guna mendapatkan kenyamanan yang lebih lama. Tapi ia tidak pernah benar-benar meninggalkan zona nyamannya, tidak peduli bagaimanapun kondisinya. Kebanyakan orang berteriak “tinggalkan zona nyaman” dan berusaha untuk “survive” dalam kondisi atau tempat yang sulit, tapi Savier bukanlah seorang masokis; untuk apa coba ia meninggalkan zona nyamannya dengan alasan konyol seperti itu? Setiap orang yang normal selalu ingin hidup dalam kenyamanan, mereka bahkan rela mengorbankan harta, waktu, dan tenaga untuk memperoleh kenyamanan itu. Bagaimana mungkin mereka akan mau mencampakkan zona nyaman yang sudah susah payah diperjuangkan itu? Tidak masuk akal, itu sama sekali tidak masuk akal bagi Savier. Akan tetapi, itu bukanlah hal yang mengejutkan, karena setiap orang memiliki hidup ideal mereka masing-masing. Hidup ideal Savier dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah. Bahkan setelah nanti menikah, hidup idealnya tetap tak akan berubah. Sekalipun ia nantinya akan menjadi seorang ayah, ia tetap tidak akan mengubah hidup idealnya.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam begitu Savier memutuskan untuk menghubungi Gabriel seperti yang disarankan Marena. Ia bangun dari tempat tidurnya lalu mengambil smartphone dari atas meja, kemudin ia berjalan ke depan jendela kamar dan berdiri di sana memandang ke luar, tangan kanannya menggenggap smartphone-nya yang ia dekatkan ke telinga kanan. Savier dengan santai menunggu Gabriel mengangkat panggilan darinya.
“Savier.., sepertinya kau sudah tidak sabar ingin mendengar suaraku, huh?”
Ah, aku tidak tahu aku bisa sesenang ini hanya karena mendengar suaranya. Bibir Savier melengkung dengan sendirinya. “Ee,” jujurnya, “sepertinya memang begitu, Gabriel.”
“Hoo, aneh sekali, kau tak mencoba mengelak.”
“Kau tahu, aku tidak punya alasan untuk mengelak lagi setelah mengetahui perasaanmu. Lagipula, aku memang ingin mendengar suara datarmu, dan, aku juga berpikir kalau kau ingin mendengar suaraku, apa tidak begitu?”
“Tunggu, tunggu, mengapa kau jadi percaya diri seperti ini? Sepertinya aku harus mengingatkanmu kalau aku masihlah bosmu di kantor, Savier.”
Savier mendengus pelan mendengar ucapan Gabriel. Itu bukan karena ia tidak menyukai ucapan tersebut, melainkan karena ia tahu kalau apa yang ia katakan itu tepat mengenai sasaran. Oleh sebab itu, Gabriel yang tidak tahu harus mengatakan apa disaat seperti itu mengebaikan perasaan menggelitik di relung dadanya dan mengatakan hal itu. Savier sangat tahu itu, ia sudah mengenal lama gadis berkacamata itu—setidaknya ia meyakini semua itu. “Aku tidak akan mengejekmu jika kau mengatakan merindukan mendengar suaraku, Gab,” jadilah Savier berkata.
“…”
Bibir Savier kembali melengkung dengan sendirinya; jika Gabriel terdiam seperti itu maka artinya semua asumsinya adalah benar. “Kau tidak mau mengatakannya...?” tanya Savier lagi.
“Savier.”
“Hm…?”
“Sampai jumpa besok.”
Gabriel langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu respon darinya. Namun Savier sama sekali tidak merasa keberatan, sebaliknya, ia malah tersenyum puas. Ah, aku belum sempat menanyakan kabarnya, batinnya sambil memandang layar smartphone-nya. “Apa aku harus menelponnya lagi, atau megiriminya pesan?” Savier memutar-mutar telepon genggamnya sambil menimbang-nimbang, namun setelah beberapa detik kemudian ia berjalan ke tempat tidurnya dan meletakkan telepon genggamnya di meja di samping tempat tidur.
“Sebaiknya tidak usah saja,” gumam Savier sembari merebahkan dirinya di atas kasurnya. “Lagipula esok aku akan bertemu dengannya, sebaiknya aku langsung beristirahat saja.”
Sampai jumpa besok, Gabrel. Dan Savier pun memejamkan kedua matanya, ia mengistirahatkan tubuhnya sembari menanti tibanya hari esok.