Between Love and Obsession

Between Love and Obsession
Bagian 4: A Real Promise, part 4



Savier menyeruput cairan hitam yang mengisi gelasnya dengan pelan. Pahit. Rasanya pahit seperti biasanya. Ah, tentu saja kopi itu rasanya pahit! Tapi bukan itu masalahnya, yang ingin Savier sampaikan adalah kalau kopi itu rasanya pahit sepahit kondisi hatinya saat ini. Tapi, meskipun pahit, ia tetap menjalaninya, sama seperti ia yang tetap meminum kopi ini meski pahit rasanya. Karena ia tahu, ada manfaat dibalik pahitnya kopi. Senada dengan hal itu, kondisi hatinya yang pahit akan membuatnya menjadi lebih tegar. Oleh sebab itu, ia tidak akan menyalahkan siapa pun, baik itu Tuhan, takdir, mau pun dirinya sendiri. Ya, tidak ada yang salah dalam hal itu; itu adalah pelajaran hidup, dan Savier benar-benar menerimanya.


Savier kembali meneguk cairan itu lalu meletakkan gelas yang sudah setengahnya kosong itu ke atas meja. Savier mengarahkan pandangannya ke pintu masuk kafe; ia sudah menunggu di sini beberapa menit lamanya, namun sosok Gabriel masih belum tertangkap indera penglihatannya. Ia dan Gabriel sudah berjanji untuk bertemu di sini, lebih tepatnya Gabriel yang memintanya untuk ke sini guna membicarakan masalah pekerjaan. Savier tidak tahu masalah pekerjaan apa yang akan dibicarakan teman sekaligus bosnya itu, tapi karena itulah ia berada di sini lebih awal dari jam pertemuan. Namun demikian, setelah belasan menit lewat jam pertemuan, Gabriel belum kunjung datang.


Apa di jalan macet? Atau terjadi sesuatu?


Jujur saja Savier merasa sedikit khawatir, ia sungguh berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada gadis itu. Dan Savier terus menunggu hingga beberapa menit lamanya.


“Hai, Vier. Maaf aku telat, ada hal penting yang harus kuurus terlebih dahulu.”


Suara familiar itu mengalihkan perhatian Savier, iris hitam kecoklatannya langsung tertuju pada Gabriel yang sudah mendudukkan dirinya tepat di depan Savier. “Ah, selamat datang bu direktur,” ucap Savier dengan senyum mengejek. Gabriel sudah resmi menjadi direktur di perusahaan ayahnya seminggu yang lalu, dan Savier suka menggunakan “bu direktur” untuk membuat kesal Gabriel sejak gadis itu mencalonkan dirinya sebagai wakil direktur yang baru.


“Er, kalau kau memanggilku seperti itu di luar kantor rasanya sangat aneh.”


“Aneh kenapa, bu direktur?”


“Menurutmu aneh kenapa?” tanya balik Gabriel dengan senyum menantangnya. “Oh, kalau kau memanggilku bu direktur lagi maka aku akan memaksamu untuk lembur.”


“Ck, kau menyalahgunakan posisimu, Gab.”


“Nah, begitu lebih baik!” seru Gabriel tersenyum senang.


“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Savier langsung pada topik pembicaraan yang diniatkan.


“Aku sudah membahasnya dengan semuanya, dan aku sudah memutuskan untuk menjadikanmu sebagai wakil direktur.”


Savier mengernyitkan keningnya mendengar pernyataan yang paling tidak ingin ia dengarkan. Tentu saja tak ada karyawan normal yang akan menolak kenaikan jabatan; namun Savier sudah puas dengan posisinya saat ini dan ia tidak ingin memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi. Terlebih lagi, Savier menginginkan hidup yang sederhana di mana ia bisa menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bersantai membaca buku; jika dia menerima kenaikan jabatan itu maka sudah pasti waktu bersantainya akan berkurang drastis. Karena itu, dengan tanpa ragu Savier berkata, “Gab, aku menolaknya.”


“Aku sudah menduga kau akan berkata seperti itu,” ucap Gabriel sambil mengeluarkan sebuah surat dan menyodorkannya ke depan Savier. “Surat ini menjelaskan semuanya: posisimu yang saat ini akan ditempati oleh Pak Retno, jika kau bersikeras menolak kenaikan jabatan ini maka itu artinya kau membatalkan kenaikan jabatan Pak Retno. Bukan cuma itu, kau juga akan menyakiti hati Pak Retno dan mengecewakan keluarga Pak Retno yang sudah berbahagia setelah mengetahui kenaikan posisinya.”


Gabriel sudah merencanakan semuanya hingga aku tidak punya alasan untuk menolak, batin Savier seraya mendelik tajam pada Gabriel, yang hanya dibalas dengan senyuman penuh kemenangan oleh gadis berkacamata berparas jelita itu.


“Karena itu,” ucap Gabriel dengan senyum lebarnya, “mohon kerjasamanya untuk seterusnya, wakil direktur.”


“Gab…”


“Hm..?”


“Apa aku pernah mengatakan kalau kau itu sangat-sangat licik?”


“Oh, sekarang kau telah mengatakannya.”


Melihat senyum Gabriel yang tak kunjung memudar, dengan terpaksa Savier mengambil surat itu dan memasukkannya ke saku jaketnya. “Kau benar-benar tidak memberiku pilihan,” protesnya kesal.


“Itu menurutmu,” respon enteng Gabriel. “Tapi menurutku,” lanjutnya, “aku sudah memberikanmu pilihan, kau saja yang tidak mau memilihnya.”


Savier hanya bisa menghela napas mendengar respon Gabriel. Memang, apa yang dikatakan gadis berkacamata itu tidak salah, namun tidak mungkin Savier akan mengecewakan Pak Retno dan keluarganya yang sudah berbahagia mendengar kabar kenaikan posisinya. Savier memang sedikit egois, tapi ia tidak seegois itu sampai-sampai menghancurkan harapan orang lain untuk memenuhi keinginannya.


Mendengar nada serius itu kembali membuat pandangan Savier terfokus pada Gabriel.


“Ayah dan ibu tiriku tidak mempermasalahkan, tapi ibu kandungku bersikeras memintaku untuk segera menikah, ia bahkan mengancam untuk mencarikanku calon suami jika aku tak kunjung mencarinya sendiri. Sebagai seorang psikolog, ibu kandungku memiliki banyak kenalan, hal itu akan sangat mempermudahnya dalam mencari lelaki untuk dia jadikan suamiku. Tentu saja aku takkan tertarik dengan siapa pun yang dia pilih,” jeda Gabriel sembari menyesapi kopi yang sudah ia pesankan untuknya. “Tapi, jika terus dituntut seperti itu, aku akan sulit mengendalikan emosiku… dan jika itu terjadi maka aku mengkhawatirkan hubunganku dengan ibu akan memburuk. Sebagai ‘teman’-ku, menurutmu apa yang harus kulakukan, Vier?”


Savier tidak mengekspektasikan Gabriel untuk menanyainya perihal pernikahan seperti itu. Tapi Savier mengerti mengapa Gabriel menanyakan itu padanya; seperti yang gadis itu bilang, itu akan membuatnya emosi jika terus-terusan dipaksa begitu oleh ibunya. Tapi Savier merasa kalau apa yang ibunya lakukan itu adalah hal yang wajar; Gabriel adalah wanita yang akan berusia dua puluh empat tahun kurang dari enam bulan lagi, tentu normal bagi seorang ibu untuk melihat putri satu-satunya membentuk keluarganya sendiri. Kendati demikian, Savier merasa mengenal baik Gabriel, dan wanita sepertinya adalah tipe yang ingin memutuskan setiap pilihan hidupnya sendiri. Karena itu, ia akan sebisanya membantu gadis itu jika diminta.


“Memangnya, apa kau memiliki lelaki yang kau ingin dia menjadikanmu istrinya?” respon Savier dengan tenang.


“Tentu saja,” jawab Gabriel mantap.


Savier sangat ingin menanyakan siapa, namun ia tidak punya cukup keberanian untuk menanyakannya. Lagipula, siapa pun itu yang telah merebut hati Gabriel, itu sama sekali bukan urusannya, kan? Tetap saja, meskipun ia meyakini hal itu, ada sebagian dari dirinya yang tidak senang. Savier tidak tahu apa itu, tapi, mungkinkah aku berharap kalau orang itu adalah aku?


Sekarang Savier baru benar-benar memikirkan tentang hal yang telah mengganggunya sejak lama. Sebelum-sebelumnya ia tak terlalu menaruh perhatian yang banyak tentang hal itu, namun setelah mendengar jawaban mantap Gabriel itu, ia benar-benar merasakan perasaan yang benar-benar mengganggunya. Bahkan ia tak pernah merasa setidaknyaman ini ketika melihat Shona dengan lelaki lain dulu; perasaan yang kini mencoba menggerayangi hatinya ini... apa aku benar-benar telah jatuh hati pada Gabriel?


“Vier...?”


Panggilan Gabriel sontak mengembalikan Savier dari lamunannya, senyum kecil langsung saja bersemi di bibirnya. Ah… apa yang kupikirkan...? Gabriel... dia berada di level yang tak bisa kujangkau. “Ah, aku hanya berpikir,” kilah Savier, “jika kau memang memiliki seseorang yang kau cintai, aku rasa kau tidak perlu mendengarkan perkataan siapa pun itu. Tapi, aku rasa ibumu tidak akan menekanmu kalau kau memberitahu tentang lelaki itu padanya.”


“Aku senang kau berpikir demikian, karena aku pun pada dasarnya juga berpikir seperti itu.”


“Kalau begitu tidak ada masalah, kan?”


“Masalahnya, ibuku baru percaya kalau aku memperkenalkannya pada laki-laki itu.”


“Terus?”


“Ah… itu,” Gabriel menggaruk pipi kirinya dengan kikuk. “Aku belum yakin dia akan menerimaku jika aku mengutarakan perasaanku,” ucapnya pelan. “Setidaknya untuk saat ini,” lanjutnya lirih.


“Jika demikian, kau hanya perlu terus maju, bukan begitu?” tanya Savier diiringi senyum simpulnya.


“Tanpa ragu,” respon Gabriel diiringi dengan senyum simpulnya juga.


Senyum Savier tak lekas luntur, pun demikian dengan senyum Gabriel; mereka tersenyum atas satu sama lain dengan mata yang saling bertatapan. Ia tak tahu sudah berapa puluh detik dirinya tersenyum dan saling pandang dengan Gabriel seperti ini, namun Savier tak bisa membawa dirinya untuk mengalihkan wajahnya. Ini sama halnya seperti adu tatap mata, jika ia berkedip atau mengalihkan pandangannya atau pun menghentikan senyumnya, Gabriel pasti tak akan ragu untuk memberinya senyum arogan penuh kemenangan. Meskipun ia bersikukuh seperti itu, Savier harus mengakui kalau ia memang tidak berniat untuk mengalihkan pandangannya karena ia sendiri ingin menatap Gabriel seperti ini. Ia tahu gambaran apa yang akan terlukis dibenak orang-orang yang melihatnya dan Gabriel; untuk kali ini saja Savier akan mengabaikan hal itu.


“…Kalau kau terus memandangiku seperti itu….” Gabriel tidak melanjutkan ucapannya, dia membiarkan kalimatnya menggantung dengan wajah yang sulit diartikan agar Savier bisa melanjutkannya sendiri.


Mendengar itu membuat mata Savier sedikit melebar, secara refleks ia mengalihkan pandangannya dari memandang iris hitam indah gadis berkacamata itu, senyum di bibirnya pun langsung memudar. “Maaf, aku… aku…” Savier langsung menutup mulutnya rapat-rapat, ia tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk diutarakan.


Tanpa sepengatahuan Savier—yang menghindar dari memandang Gabriel, Gabriel menggigit bibir bawahnya dengan agak erat. Degup jantungnya mendadak berpacu kencang, darahnya berdesir hebat, dan mulutnya menentang keras untuk terbuka guna menyebutkan nama orang yang duduk kikuk di hadapannya. Tapi Gabriel menahannya; tidak peduli betapa bahagianya ia saat ini, Gabriel menahan mati-matian agar ekspresinya tak berubah. Gabriel menghirup napasnya dalam-dalam dan menghelanya dengan perlahan, barulah kemudian ia membuka mulutnya. “Tidak perlu minta maaf, itu memang derita seorang wanita yang super cantik sepertiku, bukan begitu?”


Mendengar ucapan setengah bercanda Gabriel, mau tidak mau Savier menghadapkan wajahnya pada gadis itu. “Kau benar,” akunya, “itu memang deritamu sebagai wanita yang super cantik.”


Bibir Gabriel melengkung sempurna. “Tumben kau tidak mengingkarinya…?”


Savier memandang Gabriel datar. “Bagaimana kau bisa mengingkari kalau matahari terbit dari timur, Gab?” tanyanya retorikal.