
Ah… Gabriel masih ingat dengan begitu detil pertemuan pertamanya dengan Savier dulu. Itu bukan pertemuan yang cliché dan dramatis seperti yang ada di anime, manga, atau pun novel; itu adalah pertemuan yang biasa-biasa saja, yang tak disengaja, namun cukup menghibur Gabriel. Pertemuannya dengan Savier jugalah yang membuatnya memutuskan untuk tetap pada pendiriannya: untuk hidup seperti apa yang ia inginkan. Akan tetapi, orangtuanya tetap bersikukuh untuk memperebutkan dirinya, akhirnya ia mengambil sikap dan mereka pun sampai pada kesepakatan kalau ia harus tinggal bersama ibunya sampai sebulan setelah ayahnya menikah, dan hal itu membuat Gabriel tidak bisa untuk memasuki SMP yang sama yang dimasuki Savier karena ibunya telah dengan seenak udelnya mendaftarkan dirinya ke sekolah pilihan dia.
Kendati demikian, Gabriel oke dengan itu dan dia tidak menyerah begitu saja terhadap Savier; keingintahuannya terhadap lelaki itu membuatnya memanfaatkan setiap hari libur sekolahnya untuk menguntit, er, mengenal lebih dekat lelaki itu. Tentu saja, ia tak melakukan itu sendiri, pelayan setianya dengan senang hati mengabulkan setiap keinginan abnormalnya. Harus ia akui itu bukanlah pekerjaan yang mudah, namun pertemuannya yang tak disengaja dengan kakaknya Savier membuat semua keinginan Gabriel terwujud dengan mulus. Akan tetapi, meskipun semuanya berjalan mulus, ia tidak bisa melakukan apa-apa begitu melihat Shona mendekati Savier.
Bahkan sampai saat ini, momen-momen itu masih terekam jelas di benaknya.
***
Gabriel memasuki gerbang rumah ayahnya dengan senyum senang. Ia sudah meninggalkan tempat ini sebulan lamanya, Gabriel sangat merindukan kamar tercintanya di lantai dua rumah besar itu. Ketika ia mendengar langkah kaki ibunya yang menyusulnya, Gabriel langsung melangkahkan kakinya ke dalam. Dan tepat ketika ia berdiri beberapa langkah di depan pintu rumah, pintu itu langsung terbuka dan menampilkan sosok ayah dan ibu tirinya.
“Gabriel,” ucap ayahnya sambil merengkuh Gabriel ke dalam pelukannya. “Ayah sangat merindukanmu.”
“Aku juga merindukan Ayah,” respon Gabriel sambil membalas pelukan hangat ayahnya.
Setelah berpelukan dengan ayahnya, Gabriel langsung menarik kopernya dari tangan ibunya dan langsung pamit memasuki rumah tanpa mempedulikan pembicaraan apa yang akan mereka bertiga bicarakan. Ibu tirinya sempat tersenyum padanya dan Gabriel membalas senyum wanita itu dengan senyum kecilnya, tak ada kata yang bertukar di antara mereka. Gabriel bukannya tidak menyukai wanita itu, tapi memang tidak ada yang ingin dikatakannya pada wanita itu. Pun ia tak punya kata-kata untuk ia ucapkan pada ibu kandungnya; Gabriel masih kesal dengan ibunya itu karena telah seenaknya mendaftarkannya ke SMP Swasta tanpa menanyakan pendapatnya terlebih dahulu.
Keesokan harinya, sekitar jam delapan pagi, Gabriel langsung meninggalkan rumahnya dan beranjak menuju taman sederhana tempatnya bertemu dengan bocah itu, dengan harapan kalau bocah itu akan ada di sana. Ini hari Minggu, dan lusa adalah hari dimulainya kegiatan belajar-mengajar di sekolah, karenanya Gabriel ingin memanfaatkan hari ini untuk mengetahui kabar mainan, er, maksudnya kabar bocah yang sudah menarik perhatiannya. Jika memungkinkan, ia pun ingin tahu di mana bocah itu melanjutkan sekolahnya.
Setelah menunggu lebih dari satu jam dan tak menjumpai bocah itu di sana, Gabriel memutuskan untuk melihat-lihat tempat bocah itu tinggal. Tentu saja ia tak berniat untuk menunjukkan dirinya di sana; Gabriel tidak ingin diketahui oleh orang lain kalau ia ingin mengamati bocah itu. Ia bukannya malu atau apa, ia hanya tidak suka saja dengan ide itu; Gabriel lebih suka mengamati secara diam-diam, misterinya akan lebih dapat jika seperti itu.
Setelah berjalan lebih dari lima belas menit, mata Gabriel akhirnya melihat kontrakan sederhana yang merupakan tempat tinggal bocah itu. Tapi, dari tempatnya berdiri saat ini, Gabriel tidak bisa melihat ke dalam rumah meskipun pintu kontrakan itu tidak tertutup. Mendengus kesal, Gabriel memaksakan dirinya untuk berjalan lebih dekat. Dan kebetulan ia melihat ada ibu-ibu menjual mie dan lontong tak jauh di depan kontrakan itu, ke sanalah Gabriel memacukan langkah kakinya.
“Bu, lontongnya satu porsi, makan di sini, minumnya teh hangat,” pesan Gabriel seraya mendudukkan dirinya di kursi kosong di kedai kecil itu.
“Baik.”
Gabriel mendaratkan dagunya pada tautan kedua tangannya dan menyamankan posisi duduknya. Matanya memandang lurus ke arah kontrakan tempat tinggal bocah itu, ia berniat untuk melihat dari sini selama beberapa saat. Ia tahu sangat tidak sopan sekali melihat ke tempat tinggal orang lain, tapi Gabriel sama sekali tidak peduli, ia bisa melakukan apa pun yang ia mau, dan tidak ada yang berhak untuk melarangnya selama ia tidak mencari masalah dengan orang tersebut.
Tak lama kemudian pesanan Gabriel selesai dibuat, gadis berkacamata itu pun melahapnya dengan elegan dan agak perlahan. Tentu saja, meskipun sedang makan, ia tetap sesekali melihat ke arah rumah berpintu terbuka itu, Gabriel ingin memastikan apakah bocah itu berada di rumahnya atau tidak. Akan tetapi, setelah ia selesai makan, dan bahkan setelah ia menunggu satu jam lebih, ia tak kunjung melihat tanda-tanda keberadaan Savier. Karena itu, dengan berat hati Gabriel kembali ke rumahnya.
Barulah sebulan kemudian Gabriel akhirnya mengetahui lokasi di mana bocah yang telah menarik perhatiannya itu bersekolah. Ia tidak mengetahuinya dengan usahanya sendiri, melainkan dari bertanya kepada seorang wanita yang ia jumpai di kedai tempatnya membeli lontong dulu – wanita itu ternyata adalah kakaknya Savier. Bocah itu bersekolah di SMP negeri terdekat dari daerah tempat mereka tinggal, itu memang bukan sekolah terbaik, namun sekolah itu memiliki halaman yang cukup luas. Gabriel tidak akan keberatan untuk bersekolah di situ, namun ia tak lagi memiliki kesempatan untuk itu. Pindah sekolah bukanlah sebuah pilihan; ia cukup menyukai sekolahnya saat ini. Meskipun sudah tahu, namun Gabriel sama sekali tidak pernah mengunjungi sekolah itu. Kendati ia suka melakukan apa pun yang ingin ia lakukan, Gabriel memiliki prinsip yang selalu ia ikuti, dan prinsipnya sama sekali tidak mengizinkannya membolos sekolah. Bahkan sejak kelas satu sekalah dasar dulu, Gabriel belum pernah sama sekali membolos sekolah. Ia selalu tercatat sebagai siswa yang memiliki seratus persen kehadiran. Karenanya, Gabriel sama sekali tidak pernah melihat bocah itu secara langsung dalam waktu yang lama—yang membuat hasratnya untuk melihat bocah itu semakin dalam.
Delapan bulan, itu adalah lamanya Gabriel tidak pernah melihat langsung bocah itu—ia hanya melihat bocah itu dari foto-foto yang ia minta kakaknya Savier untuk mengirimkannya. Selain dari foto-foto yang jumlahnya lebih dari dua ratus itu, tak ada hal berkesan yang lain. Akan tetapi, besok di sekolahnya tidak ada kegiatan belajar-mengajar, mereka semuanya melakukan persiapan untuk hari ulang tahun sekolah esok harinya, Gabriel akan memanfaatkan hari itu untuk pulang lebih cepat dan mengunjungi sekolah bocah itu. Karena bocah itu pulangnya sore, Gabriel yakin kalau ia akan sempat untuk melihatnya.
Hari esok pun datang. Seperti yang direncanakannya, Gabriel pulang jauh lebih awal dari seharusnya. Jadwal pulang normalnya adalah jam empat sore, akan tetapi ia sudah meninggalkan gedung sekolah pada jam sepuluh pagi. Meskipun pulang jauh lebih cepat, itu bukan berarti dia tidak berkontribusi banyak untuk kelasnya. Gabriel sudah menyelesaikan semua bagiannya dan bahkan membantu beberapa siswi lainnya untuk menyelesaikan bagian mereka. Gabriel adalah siswi panutan di kelasnya, tidak, ia adalah siswi panutan untuk seluruh kelas satu, bahkan beberapa kakak kelas pun terang-terangan mengatakan kalau mereka mengaguminya. Oleh karena itu, ketika Gabriel pamit pulang duluan pada seisi kelas, tak satu pun dari mereka yang merasa keberatan.
Gabriel tiba di depan sekolah Savier—nama bocah itu—pada jam setengah sebelas pagi. Dan saat itu hujan mengguyur dengan derasnya. Untuk beberapa lama Gabriel hanya diam di dalam mobil memandang sekolah dari balik kaca, dari situ ia bisa melihat siswa-siswi yang berlalu lalang. Ada yang menggunakan tas untuk menutupi kepala mereka, ada yang menggunakan plastik yang mereka dapat entah dari mana, ada pula yang nekat menyongsong hujan begitu saja, juga ada beberapa pelajar yang secara ajaib membawa payung ke sekolah. Mereka semua tampak berhamburan keluar gerbang sekolah, padahal saat ini baru setengah sebelas lewat, apakah proses belajar-mengajar dihentikan karena suatu hal seperti rapat guru? Gabriel tidak tahu pasti, tapi melihat siswa-siswi yang berlindung di balik payung itu memberikannya ide untuk bisa memasuki sekolah.
“Maaf, Nona, saya sama sekali tidak memperkirakan kalau hari ini akan hujan deras seperti ini. Tapi jika Nona sangat menginginkan payung, saya bisa membelikannya di toko di sebelah tempat fotokopi di seberang jalan.”
“Apa tidak apa-apa kau keluar saat seperti ini?” tanya Gabriel dengan wajah penuh pertimbangan.
“Tidak apa-apa, toko itu cukup dekat; saya hanya perlu menyeberang jalan lalu sedikit berlari untuk sampai ke sana.”
“Jika kau memang tidak apa-apa dengan itu, aku akan dengan senang hati menunggumu di sini.”
“Saya tidak akan lama.”
Gabriel mengangguk, Marena pun langsung keluar dari mobil tanpa keraguan sedikit pun. Gabriel memandang kepergian Marena sampai wanita itu tiba di seberang jalan, kemudian pandangan Gabriel kembali mengarah ke pekarangan sekolah. Usaha Marena akan sia-sia jika Savier ternyata sudah pulang duluan tanpa ia sadari, karena itu Gabriel tidak ingin melewatkan mengamati siswa-siswi yang berlalu lalang. Dan sekembalinya Marena dari membeli payung, Gabriel tidak membuang banyak waktu dan langsung melesat keluar mobil setelah terlebih dahulu berterima kasih atas usaha Marena.
Meskipun ia telah mengenakan jaket abu-abu, rok sekolahnya yang berbeda dengan rok siswi sekolah itu tetap saja terlihat, satpam yang berjaga di pos di dekat gerbang sekolah pun tak ragu untuk menanyakan alasannya masuk. “Aku ingin menjemput temanku yang sudah menunggu di dalam,” kilah Gabriel, dan dengan sebuah anggukan satpam tersebut membolehkannya masuk. Gabriel pun memasukinya tanpa ragu.
Dengan sedikit mendominasi pembicaraan dengan kakaknya Savier, Gabriel mengetahui kalau Savier berada di kelas VII-1, dan ke sanalah tujuan siswi berkacamata ini. Dalam langkahnya ke sana, cukup banyak siswa-siswi yang memandangnya penasaran. Gabriel sama sekali tak terganggu dengan itu, itu adalah hal yang wajar untuk penasaran ingin tahu tujuan kedatangannya—yang bukan pelajar di sekolah ini—ke sekolah ini, di sekolahnya pun seperti itu jika ada pelajar lain yang datang ke sana.
Tak butuh waktu yang lama bagi Gabriel untuk melihat papan biru bertuliskan “VII-1” di atas pintu sebuah kelas. Akan tetapi, karena ia masuk melalui koridor utama sekolah, posisinya saat ini lebih dekat ke perpustakaan dibandingkan dengan kelas yang terletak tepat di depan perpus, hal itu membuatnya untuk sesaat mengarahkan pandangannya ke ruangan yang pintunya terbuka itu.
…Dan Gabriel mematung seketika.
Di ruangan sederhana yang sama besarnya dengan ruang kelas itu, sosok siswa yang ingin dilihatnya sedang duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja persegi itu. Dia tidak sendiri, melainkan ada seorang siswi yang duduk berhadap-hadapan dengannya, dan selain mereka berdua tidak ada siapa-siapa lagi. Mau berspekulasi apa pun, apa yang dilihat oleh kedua matanya sama sekali tak bisa disangkal.
Gabriel menghentakkan lidahnya dengan kesal, genggaman tangan pada gagang payungnya mengerat dan tangannya yang bebas pun ikut terkapal, lalu gigi-giginya menggeretak dengan mata menajam menahan amarah yang siap meledak.
Berani sekali dia merebut apa yang sudah menjadi miliknya?
Tak bisa dimaafkan. Tak bisa dimaafkan. Tak bisa dimaafkan. Tak bisa dimaafkan. Tak bisa dimaafkan. ‘TAK MUNGKIN AKAN KUMAAFKAN, CEWEK SIALAN!’ jerit Gabriel dalam hatinya.
Seumur-umur, Gabriel belum pernah merasakan amarah yang sedalam ini. Siswi sialan itu… dia benar-benar sudah membuat amarah Gabriel menggelora.
Gabriel menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Kemudian ia mengeluarkan smartphone-nya dari dalam saku jaket abu-abunya dan menghadapkan kamera pada kedua sejoli tersebut. Gabriel tak langsung mengambil foto mereka, ia menunggu beberapa saat dan baru mengambil gambar ketika mendapatkan wajah cewek tersebut. Gabrel langsung meninggalkan tempat itu setelahnya, “Aku akan membuatmu menyesal, cewek sialan!” deklarasi Gabriel penuh amarah.
***
Itu adalah kenangan yang pahit, namun setidaknya itu membuat dirinya menjadi lebih kuat dan berani. Ah…, sekarang ia sudah menyingkirkan wanita itu; ia tidak perlu lagi berlarut-larut dalam kekesalan, yang harus ia lakukan hanyalah menyelesaikan semua perjuangan yang telah dimulainya dulu pada hari ini. Dan ia tidak akan gagal; apa pun yang terjadi, ia akan memastikan akan mewujudkan semua keinginannya. Dan seperti menjawab isi pikirannya, sosok yang sudah ditunggui Gabriel pun menampakkan diri dari balik tangga. Gabriel melambaikan tangannya dan tersenyum lembut, lelaki berambut hitam rapi itu hanya menggangguk dan tanpa ragu berjalan ke arahnya duduk.