
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Happy reading guys 😘😘😘
Sampai di sekolah Robert dan Clarissa segera berlari menuju ruang kepala sekolah,dia begitu menghawatirkan keadaan Kanaya.
"Sayang,,," panggil Kanaya yang sedang menangis di pelukan Meli.
"Mommy,,," Teriak Kanaya saat melihat Clarissa dan Robert.
"Sayang,,, kenapa bisa seperti ini?" tanya Clarissa khawatir.
"hiks,,, hiks,,, ini tumpahin bakso."
"Saya tidak terima Putri saya di perlakukan seperti ini, ini namanya pembulyyan."
"Maaf kan kami Tuan." ucap Kepala sekolah.
"Saya mau yang melakukan ini harus di hukum." tegas Robert.
"Hiks,,, hiks,,, sakit,,, Mommy." tangis Kanaya makin menjadi.
"Bagaimana ceritanya bisa sampai begini sayang?" tanya Clarissa.
"Tadi Beby marah sama Carolina Mom dan dengan sengaja menumpahkan Bakso temannya pada tangan Carolina." Adu Kanaya.
"Beby?" tanya Robert.
"Hiks,,, iya."
"Pokoknya Carolina mau Beby di hukum kalau perlu di keluarkan dari sekolah."
"Mungkin saja Beby tidak sengaja sayang" ucap Clarissa, dia sedikit ragu jika Beby tega melakukan hal itu.
"Maaf menyela Tante, tapi kami saksinya kalau Beby memang sengaja melukai Caroline." ujar Meli di angguki Viola.
"Panggil Beby kemari,,!" perintah kepala sekolah.
Selang beberapa menit Beby datang.
"Assalamu'alaikum." ucap Beby pelan, dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap orang di ruangan itu.
"Beby, kamu tahu apa kesalahan kamu?" tanya kepala sekolah. Beby hanya menggeleng.
"Kamu telah melukai Carolina,dan kamu tidak merasa bersalah." ujar seorang guru perempuan bernama monika yang sedang mencari muka di depan keluarga Greyson.
"Beby tidak sengaja." jawab Beby pelan.
"Panggil wali kamu kesini sekarang!" perintah kepala sekolah,Beby bingung harus menghubungi siapa, Bunda dan Kakaknya sudah tidak ada, haruskah dia menghubungi Nathan, Derrick atau Sintia, tapi dia takut, jadilah dia hanya diam saja.
"Cepat hubungi orang tua kamu,,!" perintah Monika dengan sedikit membentak.
"Ta,,pi." ucap Beby.
"Diakan anak haram bu jadi dia tidak punya orang tua." Ucap Viola.
Dan ucapan Viola mampu membuat dada Robert dan Sintia sesak, sementara Beby makin menunduk dalam, kata kata anak haram sudah sering dia dengar.
"Dan Beby kamu sudah dua bulan tidak membayar Spp jadi, jika bulan depan kamu tidak membayar nya dengan terpaksa harus mengeluarkan kamu dari sekolah." ucap kepala sekolah.
"Beby,, dengan terpaksa kamu kami skors selama satu minggu, karena telah mencelakai Caroline."
"Tapi pak kan besok ujian, bagaimana kalau Beby tidak masuk sekolah." ucap Beby.
"Kalau sudah tahu ujian kenapa buat ulah, itu resiko buat kamu." hardik Monika.
Beby hanya diam, air matanya sudah mengalir dari tadi,dia hanya bisa menangis, ingin rasanya Robert dan Clarissa memeluk Beby menenangkan nya, tapi itu hanya dalam angan mereka saja.
"Hiks,,, Mommy sakit." tangis Kanaya.
"Sudah ya sayang, kita langsung ke rumah sakit ya."
"Princess nya Daddy kan cantik sudah ya."
Beby melihat Robert dan Clarissa yang sedang menenangkan Kanaya, hatinya merasa cemburu, namun dia sadar diri, jika dia hanya orang asing bagi mereka.
'Bunda,,, andai Bunda tidak pergi, pasti sekarang memeluk Beby.' Beby memejamkan matanya mengingat sang Bunda.
"Hiks,,, Bunda." ucap Beny pelan.
"Sok sok an menangis padahal kan yang terluka Carolina, gak usah caper deh." ucap Meli.
"Kalau begitu kami permisi dulu Pak." ucap Clarissa.
Kanaya langsung dibawa kerumah sakit oleh Robert dan Clarissa Sementara Beby masih menendang punggung Clarissa dan sudah sampai di pintu, Clarissa menoleh menatap Beby dengan pandangan sendu.
"Beby lo gak apa apa kan?" tanya Feli, dia begitu khawatir.
Beby menggeleng kemudian tersenyum, dia tidak mau merepotkan kedua sahabatnya.
"Tapi kenapa kamu menangis?" tanya Lia.
"Beby kangen Bunda." jawab Beby.
Feli dan Lia memeluk Beby, memberikan semangat padanya.
Jam pulang sekolah Beby duduk menunggu jemputan, gadis yang biasanya ceria itu sekarang nampak murung.
Tiba tiba ada yang duduk di sebelahnya menyodorkan sekotak Es krim, Beby langsung mendongak.
"Abang." cicit Beby, dia sedikit takut karena mengira Zein datang untuk memarahi nya.
"Maaf Beby benar benar tidak sengaja hiks,,,"
Zein yang tidak paham langsung memeluk Beby, tidak tega melihat Beny yang menangis, melihat mata dan hidungnya yang memerah dapat di pastikan jika Beby menangis sudah dari tadi.
"Hei,,, Kenapa menangis?"
"Maaf bang,,, Beby tidak sengaja menumpahkan kuah Bakso punya Feli pada Carolina, Beby benar benar tidak sengaja."
Zein mengerti, jadi Beby menangis karena menyangka dirinya akan memarahi Beby.
"Beby,, Abang kesini bukan untuk memarahi Beby kok, Beby kesini karena ingin bertemu dengan Beby,Abang kangen sama Beby." ucap Zein.
Walau mendengar jika Adiknya terluka tidak ada rasa khawatir dalam dirinya, justru dia lebih menghawatirkan Beby, yang dia kenal hanya kemarin.
"Sudah dong menangis nya kasihan eskrim nya nanti dia ikutan menangis juga."
"Memang Eskrim bisa menangis Bang?" tanya Beby.
"Bisa dong, kalau Beby menangis dia juga ikutan."
"Makan gih Es krim nya." ucap Zein.
Beby memakan Eskrim yang di berikan Zein dengan Lahap, seolah melupakan kejadian tadi.
Beberapa menit kemudian sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka, turunlah Sintia dengan Derrick.
"Sayang,,," panggil Sintia.
"Mommy,,,,!" teriak Beby dia segera berlari memeluk Sintia, dan langsung menangis kencang.
"Hei,,, kenapa menangis sayang?" tanya Sintia panik.
Derrick menatap tajam Zein, begitu juga Sintia menatap penuh tanda tanya pada Zein.
"Saya tidak tahu." ucap Zein singkat.
Karena sudah di jemput Zein langsung kembali ke perusahaan, dia yakin keluarga Nathan mampu menenangkan Beby.
"Kenapa Sayang?" tanya Derrick.
"Beby Kangen Bunda." ucap Beby.
"Kalau begitu sekarang kita ke makam Bunda kamu ya sayang."
Beby mengangguk, segera mereka menuju ke pemakaman umum tempat Naina dan Vania di makamkan.
Sampai di pemakaman Beby menaburkan bunga di makam keduanya kemudian berlutut, dia memeluk nisan Naina.
"Bunda,,,, Beby kangen Bunda."
"Beby ingin ikut Bunda saja, kenapa Bunda dan kakak meninggalkan Beby sendiri."
"Hiks,,, hiks,,," Beby menangis merebahkan kepalanya di atas kuburan Naina.
Derrick dan Sintia tidak tega mendengar tangisan Beby yang begitu menyayat, Sintia ikut berjongkok kemudian memeluk Beby.
"Sayang,,, sudah ya menangis nya kasihan loh bunda kamu." ucap Clarissa.
perlahan tangis Beby mereda, sudah tidak terdengar lagi tangisan nya, sedikit lama Beby tetap diam tidak bergerak sama sekali, segera saja Sintia mengecek nya.
Sintia begitu terkejut saat melihat tubuh Beby langsung jatuh di pangkuannya saat mencoba membalikkan badannya.
"Beby,,,!" teriak Sintia.
TBC
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘😘😘😘