Bad Girl, But Not Too Bad

Bad Girl, But Not Too Bad
Bab 8



Akira berlari menuju ke arah toilet putri yang sudah sepi pengunjung, tanpa pikir panjang Akira menggebrak pintu toilet, menampilkan murid baru yang tadi dibicarakan olehnya sedang menyiksa Sifa.


Brakkkk.


"Lepasin dia. " Ucap Akira.


"Ngapain lo ikut campur urusan gue. " Ucapnya melepaskan kepala Sifa yang ia masukan kedalam genangan air di wastafel, tubuhnya juga sudah basah kuyup dan berbau busuk karena guyuran air sampah.


"Ini nih anak baru sok-sok an dikira sekolah tempat penganiayaan. Lagian lo psikopat ya suka nyiksa orang?. Ck...ck...ck... Atau jangan-jangan lo gangguan jiwa?." Ledek Akira.


"Kalo lo gamau kena masalah, mendingan gausah ikut campur urusan gue!. "


"Kok gue yang kena masalah, ya elo lah ini udah termasuk penyiksaan dan yang lu siksa masih dibawah umur gue laporin kak seto tau rasa lu dicariin pskiater!. "


"Lo ya!. Liat aja ntar lo bakal nyesel udah berurusan sama gue!. " Ancamnya meninggalkan toilet dengan wajah kesal.


"Kalo nyesel di akhir mah gapapa namanya juga penyesalan bukan pendaftaran!. " Teriak Akira.


Akira segera menghampiri Sifa yang sudah terkulai lemas sambil menangis tersedu-sedu. Ia membantu Sifa berdiri keluar dari kamar mandi. Mengeluarkan jaket didalam tasnya dan memakaikan ketubuh Sifa.


"Lain kali kalo kebelet itu tahan sampe rumah, heran deh suka banget ama ni toilet buriq!. " Ucap Akira meninggalkan Sifa.


"Kak tunggu!. " Teriak Sifa menghentikan langkah Akira.


"Ini buat kakak. " Sifa menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu.


"Gue lagi ga butuh duit. " Akira kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Sifa.


"Makasihh kak!!." Teriak Sifa namun tidak mendapat balasan dari Akira.


~


Saat berjalan keluar dari sekolah Akira tidak sengaja bertemu Darren yang sedang bersama Thania diparkiran. Darren terlihat akan membonceng Thania menggunakan motor sport miliknya. Akira merasakan sesak di hatinya dan segera menghampiri mereka.


"Woiiii!. Mau kemana kalian?. Ga ajak-ajak. " Tanya Akira riang berusaha menyembunyikan rasa cemburu yang merebak di hatinya,membuat Thania yang baru akan naik ke motor Darren berbalik.


"Pa an sih dimana-mana ada mulu dah kaya setan, hidup lo ga tenang apa kalo ga ganggu gue!. " Kesal Darren.


"Siapa juga yang ganggu, anggep aja absen wajah sebelum pulang biar dirumah gue ga kangen sama lo fy. "


"Emang kalian mau kemana sii?. " Tanya Akira lagi.


"Bukan urusan lo!. " Kesal Darren.


"Ren jangan gitu dong!. Kita mau pergi buat sewa panggung Ra. " Jawab Thania.


"Oo."


"Kamu kok belom pulang sih,tumben?. " Tanya Thania.


"Ini mau pulang. "


"Udah Than Kita harus cepet-cepet keburu malam. " Desak Darren.


"Yaudah ya Ra, kita pergi dulu, kamu hati-hati. " Ucap Thania menaiki motor Darren dibalas anggukan oleh Akira.


Darren melajukan motornya tanpa menoleh kepada Akira. Akira hanya bisa menatap sendu kearah Darren dan Thania.


"Andai gue yang diboncengin auto fly ampe luar galaksi. " Batin Akira sedih.


Akira berjalan keluar sekolah untuk pulang, Ia melewati gang-gang yang sepi untuk menghindari keramaian dan untuk mencari jalan yang lebih jauh agar dia tidak cepat-cepat pulang. Saat diperjalanan Akira melihat siswi SMP yang ditolongnya dulu sedang dipalak oleh preman-preman.


"Heran deh kenapa gue harus ngadepin beginian lagi sih, kaga tau apa gue lagi mager. " Batin Akira berlari menuju gadis remaja itu dan langsung menjejakkan kakinya kearah perut salah satu preman.


"Urat malu kalian udah putus ya?. Beraninya malak anak kecil. "


"Wah ada yang mau sok pahlawan nih. " Ucap preman itu meninju Akira namun langsung dihindarinya. Kedua preman itu mencoba menyerang Akira bersamaan namun dengan cepat Akira menghindar dan menendang punggung mereka.


Perlawanan Akira begitu sengit hingga berakhir dengan tangan keduanya ia putar kebelakang membuat mereka mengaduh kesakitan.


"Hedeuhh cuma segini kemampuan kalian?. Gitu aja sombong mau malak anak kecil, emang ga ada kerjaan lain apa!. Kalo kalian malak ntar bakal kena karma tau ga!. Iya kalo karmanya ke kalian,kalo ke istri apa anak emang ga kasian?. " Nasehat Akira sambil menarik tangan mereka kebelakang.


"A-aduh iya ampun lepasin, kita janji ga bakal malak lagi!. " Ucap keduanya membuat Akira melepaskan cekalannya.


"Awas aja kalo gue lihat kalian malak lagi!. " Ancam Akira. Membuat mereka kabur berceceran.


Akira menghampiri gadis yang sedang memeluk tasnya sambil menangis ketakutan.


"Mm-makasih kak. " Jawabnya terbata.


"Kamu kenapa lewat sini, ini udah sore seharusnya kamu udah pulang daritadi. "


"T-tadi aku ada kelompok dirumah temen kak. "


"Yaudah lain kali jangan cari jalan yang sepi, sekarang kakak bantu kamu cari taxi buat pulang. " Ucap Akira, dibalas anggukan olehnya.


~


Akira berlari memasuki rumah besar yang kini menjadi neraka baginya. Nafasnya terdengar ngos-ngos an karena kelelahan. Kedua iblis yang akan menyiksa hidupnya sudah berdiri sambil bersendekap, menatap sinis pada Akira.


"Jam berapa ini?. Perjanjiannya kamu harus sampai dirumah jam 4 sore!. Dan sekarang sudah jam 5." Ucap Sarah menghampiri Akira.


"Itu artinya kamu terlambat 1 jam!. "


Akira berdecak malas mendengar ocehan ibu tirinya.


"Alah cuma sejam aja ga sampek setaun!. " Jawabnya.


"Eh... eh ngelawan kamu ya!. "


"Udah ma hukum aja!. Biar kapok!. " Tambah Alea.


"Sebagai hukumannya hari ini kamu cuci semua baju saya dan Alea!. sebelum semua itu selesai kamu ga boleh istirahat!. "


"Perasaan pagi udah gue cuci deh. " Jawab Akira.


"Iya!. Tapi baju saya banyak yang kotor, jadi kamu harus cuci!. "


"Ntar gue cuci gitu aja brisik!. " Jawab Akira melenggang pergi menuju kamarnya.


Setelah selesai membersihkan diri dan ganti baju Akira pergi ke tempat cuci baju. Ia melihat tumpukan baju yang menggunung. Matanya terbelalak melihat begitu banyaknya baju yang harus ia cuci.


"Ni nenek sihir sama anaknya ganti baju berapa kali sii sehari?. Gamungkin kan semua baju ini dipake hari ini?. " Batin Akira.


"Kamu harus selesaikan cucian ini hari ini juga!. " Suara Sarah menghampiri Akira.


"Dan ingat gaboleh pake mesin cuci!. " Imbuh Alea.


"Kalian punya otak ga sih?. Apa disimpen di freezer?. Buat persiapan taun baru bikin otak-otak?.Masa baju sebanyak ini suruh nyuci pake tangan!. Tu baju juga ga ada yang kotor. " Akira mencium bau ditumpukan itu yang masih wangi.


"Emang semua baju itu ga kotor, tapi udah kelamaan di lemari jadi harus dicuci ulang. " Jawab Alea enteng membuat Akira terkejut sekaligus kesal.


"Oo jadi kalian sengaja ngerjain gue!. Ogah gue nyuci semua baju najis kalian ini entar kulit gue iritasi lagi kena racun iblis jahanam. " Kesal Akira meninggalkan keduanya.


"Kalo kamu gamau nyuci itu semua, saya pastikan besok kamu tidak akan mendapat jatah uang saku!. " Ancam Sarah membuat Akira mau tidak mau menghentikan langkahnya, berbalik dan mencuci tumpukan baju mereka yang sebenarnya tidak kotor.


Sarah dan Alea juga meminta seorang pembantu untuk mengawasi Akira agar tidak menggunakan mesin cuci.


~


"Non Akira yang sabar yah. " Ucap pak Asep iba melihat Akira.


"Udah pak tenang anggep aja, Akira lagi proses penebusan dosa. " Candanya.


Pukul 3 pagi Akira baru selesai mencuci semua baju dan menjemurnya. Baru saja tertidur 2 jam ia sudah dibangunkan untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang menjadi kewajibannya sebelum berangkat kesekolah.


Kondisi tubuh Akira sangat buruk, ia sangat kelelahan matanya sedikit menghitam seperti mata panda karena kurang tidur, wajahnya juga terlihat pucat.


Di kelas Akira menghabiskan waktunya untuk tidur. Sehingga membuatnya beberapa kali mendapat teguran dan hukuman dari guru yang mengajar dikelasnya.


Saat istirahat Akira memutuskan pergi ke UKS untuk tidur.


"Ra gue temenin ya?. " Tawar Kevin.


"Udah gausah, lo makan aja ke kantin sama yang lain. " Tolak Akira.


"Tapi gue anter ke UKS ya?. Gue takut lo kenapa napa. "


"Lo pikir gue bakal kenapa?. Nih gua aja masih kuat berdiri, buat ngehajar lo juga masih kuat banget gue. " Jawab Akira mengejek dengan suara lemah.


"Raa." Panggil Kevin dengan sorot mata sedikit mengancam.


"Iya-iya yaudah ayo!." Akira mengalah dan membiarkan Kevin mengantarnya ke UKS.