
Ke esokan harinya.
Akira bangun pagi-pagi untuk menyelesaikan tugasnya karena hari ini adalah hari senin Ia berusha agar tidak terlambat. Meskipun kesulitan karena kakinya yang keseleo Akira tetap bisa menyelesaikan pekerjaan rumah dengan cepat.
Saat berjalan melewati meja makan tiba-tiba Gilang memanggilnya membuat Akira seketika menoleh.
"Berhenti." Ucap Gilang.
"Iya pa, ada apa?. " Tanya Akira menghampiri Gilang dengan kaki pincangnya.
Belum sampai mendekat Gilang sudah menegurnya.
"jangan mendekat!. " Akira menghentikan langkahnya.
"Kemana saja kamu kemarin tidak pulang kerumah?. "
"Akira -. " Belum sempat menyelesaikan ucapannya Gilang sudah memotong.
"Saya tidak butuh penjelasan kamu!. Dengar ya ini rumah saya!. Kamu tidak bisa se enaknya keluar masuk. Kalau sampai hal ini terjadi lagi saya tidak akan segan-segan mengusir kamu dari rumah ini!. Dan sebagai gantinya karena kamu kemarin tidak pulang kerumah uang jajan kamu saya stop selama seminggu. " Ucapan Gilang membuat Akira terkejut namun ia tidak bisa apa-apa dan memilih untuk pergi ke sekolah dengan wajah lesu.
Saat sampai di halaman rumah Akira dikejutkan dengan keberadaan Faishal.
"Eh anjirrr. " Ucap Akira kaget saat membuka pintu tiba-tiba sudah ada Faishal berdiri disana.
"Sengaja pengen gua serangan jantung ya!. Ngapain lu pagi-pagi udah disini?. " Tanya Akira.
"Mo ngajak bareng. " Jawab Faishal.
"Tumbenan?. "
"Kaki lo kan keseleo jadi gue kepikiran makanya gue kesini. "
"Ceilah gue mah gapapa kali, kan kaya gini udah biasa. "
"Cerewet lu, udah ayo berangkat ntar telat lagi!. " Ucap Faishal menarik Akira untuk naik ke motornya.
"Kalo gamau telat gausah jemput gue kali. "
"Udah diem. " Faishal memakaikan helm ke kepala Akira.
Akira perlahan naik kemotor sport Faishal.
"Ya elah ni motor apa menara Eiffel si tinggi amat kaga disediain tangga lagi. " Ucap Akira mendudukan dirinya di motor Faishal.
"Udah siap?. Pegangan ya. "
"Yae-" Ucapan Akira terhenti ketika Faishal tiba-tiba saja melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membuat Akira terkejut dan reflek memeluk pinggang Faishal.
Tanpa mereka sadari sedari tadi Alea dan Sarah memperhatikan mereka dibalik jendela.
"Ma liat dong kak Akira makin nempel aja sama kak Fais. " Rengeknya.
"Kamu tenang aja mama akan bikin perhitungan sama Akira. "
"Janji ya?. "
"Iya sayang tenang aja. Sekarang kamu sekolah ya nanti telat. " Alea pun pergi ke sekolah.
-
Sesampainya disekolah.
Akira dan Faishal berjalan beriringan keluar dari parkiran dan berpapasan dengan pak Darman dan Darren.
"Wah tumben kamu ga telat Ra?. " Tanya Pak Darman.
"Wah yayadong pak. " Jawab Akira bangga.
"Baru sekali aja sombongnya. Tepat waktu itu setiap hari bukan cuma sekali. "
"Eh ada calon pacar. " Sapa Akira pada Darren mengacuhkan pak Darman.
"Kamu ini ya saya lagi ngomong malah dicuekin. " Kesal pak Darman
"Lagian bapak ngomongnya itu mulu tiap hari bosen saya. Mendingan bapak suruh Darren aja yang ngomong gitu ke Akira pasti ga bakal bosen plus nurut. " Darren langsung membuang mukanya malas.
"Itukan mau kamu!. "
"Ya emang mau saya kan ga ada yang bilang itu mau bapak. "
"Tu kaki kenapa coba?. Jalannya pincang abis kena adzab ya kamu kebanyakan ngelawan guru. " Tanya pak Darman.
"Ya ampun pak mulutnya jahat banget ntar kebalik gimana?. "
"Tau ah dikasi sakit bukannya tobat malah ga ada perubahan sama sekali. " Kesal pak Darman.
"Udah pak mendingan kita ke gerbang aja jangan ngomong sama Akira cuma buang-buang waktu. " Saut Darren.
"Iya kamu bener juga, yaudah kita pergi aja. " Pak Darman dan Darren pergi meninggalkan Faishal dan Akira.
"Semangat ya calon pacar disini Akira mendukungmu. " Teriak Akira.
"Dasar alay, ayok kelapangan. " Faishal menarik leher Akira dengan lengannya.
Diperjalanan menuju lapangan Akira dan Faishal ditatap oleh banyak siswi yang iri melihat kedekatan Akira dan Faishal. Bagaimana tidak Faishal adalah salah satu siswa idola SMA Cakrawala bersanding dengan Darren kemudian Kevin dan Evan.
-
Digerbang menuju lapangan Akira dan Faishal bertemu dengan Karina.
"Ya gitu pepet terosss. " Sindir Karina.
"Brisik. " Jawab Akira.
"Wahh ni mba racing hell mulutnya makin parah ya suhunya naik berapa derajat celcius sih. "
"Ni dia kalo udah ketemu pasti ledek-ledekan pusing gue. " Ucap Faishal.
"Biasakanlah dirimu wahai sahabatkuh. " Ucap Akira.
"Udah biasa!. btw si Kevin kemana nih?. " Tanya Faishal.
"Iya tumben biasanya tu monyet tetangga gue udah brisik kalo gue dateng. " Tanya Akira.
"Lu pada kagak liat grup sih. Dia kagak masuk katanya sakit. " Ucap Karina.
"Yaelah mba kaga sempet buka grup gue mah. " Jawab Akira.
"Tumben tu anak bisa sakit perasaan kemaren malem masih berisik di grup. " Ucap Faishal.
"Tau tuh keracunan apa tu monyet. " Saut Akira.
"Yaudah kelapangan aja yuk bosen gue berdiri disini. " Ajak Karina.
~
Selesai upacara semua siswa SMA Cakrawala masuk kedalam kelas mereka masing-masing kecuali Akira. Ia diam-diam pergi menuju rooftop tempat biasanya ia bolos. Tidak sembarang orang yang tau akses menuju kesana karena tempat tangganya yang tersembunyi.
Akira mendudukan dirinya di pinggir rooftop dengan kakinya menggantung. Jika Akira sudah berada disini itu tandanya hatinya sedang terluka. Air matanya menetes dengan sendirinya karena harus hidup tanpa kasih sayang orang tua. Merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya yang seakan ikut merasakan luka mendalam dihatinya.
"Kenapa sih gue lemah banget, cuma karena omongan papa aja gue jadi nangis." Ucapnya mengusap air mata yang perlahan menetes.
"Berenti dong, kenapa sih ni air mata keluar terus. " Akira berusaha menahan isak tangisnya dengan terus mengusap air matanya yang semakin mengalir deras.
"Bunda maafin Akira, Akira ga bisa sekuat Bunda tapi Akira janji akan tetep bertahan. " Akira terisak tidak bisa lagi menahan kesedihannya.
"Ngapain lo disini bukannya ke kelas. " Tegur Darren membuat Akira terkejut dan cepat-cepat mengusap air matanya. Berusaha mengubah ekspresi wajahnya agar tidak terlihat habis menangis.
Flashback on
Saat berkeliling Darren tidak sengaja melihat pintu tangga menuju rooftop terbuka membuatnya curiga siapa yang berada di rooftop.
Tanpa pikir panjang Darren perlahan menaiki tangga menuju atap sekolahnya itu. Sesampainya disana Darren melihat Akira sedang duduk di pinggiran rooftop.
Flashback off
Akira segera bangkit dan berbalik menghadap Darren.
"Cari angin, lagian lo tau aja sih gue dimana jangan-jangan kita jodoh. " Goda Akira menyembunyikan kesedihannya.
"Lo disini buat sekolah bukan jalan-jalan. "
"Iya-iya pak ketos ganteng, kalo gitu gue ke kelas duluan ya. " Pamit Akira pergi dari Darren.
"Kenapa gue ngerasa ada yang aneh ya dari Akira?. Kayanya dia habis nangis deh, tadi matanya merah." Dalam hati Darren bingung.
"Ah ga mungkin tu anakan preman nangis. Lagian ngapain juga gue pikirin coba ga penting banget!. " Batin Darren tersadar dan pergi dari rooftop menuju kelasnya.
~
Bel istirahat
Sekarang Karina, Akira dan juga Faishal sedang berada di lapangan basket untuk bermain-main di sela jam istirahat.
Akira dan Faishal sedang asyik bermain basket meskipun Akira sedikit kesulitan karena kakinya yang keseleo sedangkan Karina duduk di tribun fokus dengan ponselnya.
Setelah beberapa menit bermain Akira dan Faishal menghampiri Karina kemudian duduk disebelahnya.
"Fokus amat mba sama HP sampe-sampe kaga mau main ama kita. " Sindir Akira.
"Diem lu tan. Nih peliharaan tetangga lo minta dijenguk pulang sekolah. " Jawab Karina.
"Emang nyokapnya Kevin ga dirumah?. " Tanya Faishal.
"Kaga arisan tupperware katanya Kevin. "
"Yaudah ntar kita jengukin deh monyet tetangga gue kasian. " Saut Akira.
"Iya dah serah lu. " Jawab Karina.
"Eh Is ikut gue yuk. " Ajak Akira.
"Eh.. Eh lo berdua mau kemana jangan aneh-aneh lu disekolah. " Ucap Karina.
"Apasih otak lo geser ya?. Pikirannya kejauhan!. " Jawab Akira.
"Ya lagian ngajak Faishal doang. "
"Yaelah lu kepo amat, gue mau ngajakin si Fais ketemu Fiona bahas soal sparing kemaren. "
"Oh kalo itu mah ngikut gue. Antisipasi aja kaki lo kan yang atu lagi ga sehat. "
"Ih tu mulut kaga disekolahin apa ya ngomongnya kaga berfaedah amat. "
"Emang lo pernah nemu sekolah buat ngedidik bacotan?. " Tanya Karina.
"Eh ni berdua malah berantem dikira lagi debat pilpres apa?. Udah ayok keburu bel masuk. " Lerai Faishal.
"Wah ternyata si bosqu bisa bercanda juga nih. " Ledek Akira.
"Jadi pergi ga?. " Tanya Faishal.
"Ya jadi dong. " Jawab Akira kemudian ketiganya berjalan pergi menuju kelas Fiona.