Bad Girl, But Not Too Bad

Bad Girl, But Not Too Bad
Bab 22



Akira dan Kevin di rumah Karina hingga malam. Akira sengaja melanggar peraturan yang dibuat oleh Sarah karena ia sedang malas berada di rumah. Akira pulang bersama Kevin.


Sesampainya di rumah Akira di panggil oleh Gilang. Ia bingung tumben papanya itu sudah pulang.


" Ada apa pa?. Tumben udah pulang. " Tanya Akira.


" Ini rumah saya jadi suka-suka saya mau pulang kapan aja. Dan sepertinya kamu mulai tidak mematuhi aturan. Bukannya kamu seharusnya sudah ada di rumah sebelum jam 5. Sekarang sudah jam berapa?. " Ucap Gilang dengan nada datar.


" Maaf pa. " Ucap Akira tertunduk.


" Dan satu lagi kamu jauhin Faishal atau kamu angkat kaki dari rumah ini! Ini peringatan pertama dan terakhir kalau sampe kamu langgar lagi. Saya akan bener-bener usir kamu!. " Ancam Gilang membuat Akira sangat terkejut.


" Iya pa maaf. " Jawab Akira Gilang pun pergi dari sana.


" Tu anak emang bener-bener ya. Cuma gegara gue di BK sama Fais diaduin?. Wah bener-bener kudu ati-ati gue. " Batin Akira berkacak pinggang.


" Gimana udah liat kan. Tinggal dikit lagi kamu bakal keluar dari rumah ini. " Ucap Sarah menghampiri Akira.


" Ga akan semudah itu lo berdua singkirin gue dari rumah ini!. Liat aja entar. " Ucap Akira melenggang pergi dari hadapan Sarah dan Alea.


" Ma bentar deh kalo kak Akira cuma keluar dari rumah berarti dia tetep satu sekolah kan sama Alea. Nah dia tetep deket dong sama Kak Fais. " Ucap Alea.


" Tenang aja Al satu-satu. Yang penting tujuan utama kita buat nyingkirin Akira dari rumah ini berhasil baru kita bikin dia di keluarin dari sekolah. " Ucap Sarah.


" Oke aku ikut rencana mama aja. " Ucap Alea.


" Harus dong ini juga demi kebaikan kamu kan. " Ucap Sarah.


Malamnya Akira harus kembali menerima hukuman karena tadi melanggar peraturan. Kali ini hukumannya tidak terlalu berat dia hanya harus menguras seluruh kamar mandi yang ada di rumah besar itu.


Akira melakukan semua pekerjaan tanpa mengeluh membuat pembantu yang berada disana merasa iba dan juga kagum.


Saat sudah selesai Akira beristirahat bersama sebagian pembantu yang bekerja di rumah.


" Non ga cape setiap hari ngerjain ini semua?. " Tanya salah seorang pembantu wanita.


" Engga lah bi. Aku kan termasuk atlet jadi dari SD sampe sekarang fisik terus dilatih biar kuat. Jadi itung-itung semua ini dibuat latihan lah. " Ucap Akira.


" Nyonya sama non Alea emang bener-bener udah keterlaluan non. " Ucap laki-laki penjaga kebun yang sudah lama bekerja disana.


" Aku tau kok mang. Aku cuma mau minta tolong sama kalian kalo sampe aku keluar dari rumah ini jaga Papa. Jangan sampe nenek sihir itu celakain papa. " Ucap Akira berpesan dan dibalas anggukan oleh semua pembantu.


" Yaudah Aku mau ke supermarket dulu mang, bi ada yang mau dibeli. " Ucap Akira.


" Non ini kan udah malem ga besok aja?. " Ucap salah satu dari mereka.


" Kan kalian tau sendiri. Aku ga ada waktu bebas selain malam. Kalian tenang aja Akira bisa jaga diri kok. " Jawab Akira pergi ke supermarket.


~


Sesampainya di supermarket Akira langsung menuju ke tempat barang yang ia butuhkan. Saat akan memilih barang ia tidak sengaja bertemu dengan Darren yang bingung menatap rak pembalut.


" Loh fy lo jam segini masih belom pulang sekolah?. " Tanya Akira.


" Engga gue abis nongkrong bareng Refi sama Aldo. " Jawabnya datar.


" Oh lo mau beli apa emangnya?. " Tanya Akira.


" Itu. " Darren menunjuj rak pembalut.


" Oo pasti titipan Naya. " Ucap Akira tersenyum mengambil salah satu pembalut dan akan pergi membayarnya.


" Ra tunggu. " Panggil Darren.


" Iya. " Akira berbalik menoleh.


" Oke. " Akira membantu Darren memilih pembalut untuk Denaya.


Darren tidak menyangka sifat Akira jauh berbeda ketika diluar sekolah. Saat disekolah dia sangat mebyebalkan menurut Darren tapi sekarang dia lebih terlihat kalem dan biasa saja.


" Nih. " Akira menyodorkan pembalut yang ia pilih kemudian pergi untuk membayar barang belanjaannya.


Setelah itu Akira keluar dan duduk di depan supermarket sambil meminum minuman yang tadi ia beli. Akira menatap langit malam bertabur bintang yang sangat indah.


Saat akan pulang Darren melihat Akira masih disana. Ia pun memilih untuk menghampirinya.


" Ngapain lo masih disini?. Ini udah malem mendingan lo pulang. " Ucap Darren.


" Bentar lagi gue pulang. Gue masih mau disini sebentar. " Ucap Akira.


Darren pun ikut mendudukan dirinya di tempat duduk sebrang meja Akira.


" Lo tau ga Fy bintang itu bisa ngeluarin cahaya sendiri tapi karena jauh dari bumi cahayanya kalah sama bulan. Sama kaya manusia meskipun kita udah berusaha mencintai seseorang dengan tulus kita akan tetep kalah sama orang yang ga berbuat apa-apa tapi dia spesial menurut orang itu. " Ucap Akira menatap langit.


" Maksud lo?. " Tanya Darren.


" Gatau gue aja yang ngomong juga ga ngerti. " Jawab Akira tertawa.


" Gila ni anak. " Batin Darren.


" Oh iya Fy. DN nya jadi kapan?. " Tanya Akira.


" Bukannya lo tiap rapat osis ikut. Masa gini doang kaga tau." Jawab Darren.


" Kan waktu rapat osis yang gue perhatiin lo bukan apa yang dibahas. " Ucap Akira membuat Darren malas.


" 3 minggu lagi. " Jawab Darren kemudian.


" Beneran 3 minggu lagi. Aaaaa gue gabisa ikut. " Rengek Akira.


" Syukur deh ga ada yang ngerusuh. " Jawab Darren.


" 3 minggu lagi ada lomba Basket. DN nya undur aja lah ntar gue gabisa masuk nominasi siswa terpopuler. " Ucap Akira.


" Lo pikir lagi janjian buat nongkrong nisa diundur seenak jidat?. Lagian lo gausah nunggu DN juga udah masuk nominasi murid bandel se sekolah. " Jawab Darren datar membuat Akira menghela nafasnya.


" Yaudah ayo pulang gue anterin. " Ucap Darren.


" Eh gausah. Gue bisa pulang sendiri. " Ucap Akira tidak mau Darren mengetahui dimana rumahnya.


" Ini udah malem ntar lo kenapa-napa dijalan. "


" Cie perhatian. Udah tenang aja gue bisa jaga diri. " Jawab Akira.


" Gue pulang dulu ya. Dada calon pacar. " Akira menggoyangkan kedua pipi Darren kemudian berlari pulang.


" ****** tu anak. Baru aja disangka baik udah ngeselin aja. " Darren mengusap pipinya dengan wajah kesal bergegas pulang.


~


Di kamar Akira


"Kenapa ya Arfy belom suka sama gue?. Apa gue kurang berjuang?. " Batin Akira dalam hati menatap langit-langit kamarnya.


" Kenapa gue malah mikirin Arfy sih. Gue harusnya mikir gimana caranya bongkar kebusukan nenek sihir ama anaknya. " Ucap Akira dalam hati menyadarkan dirinya.


" Aaaaa udahlah pusing pala gue. Cuma gegara ada turunannya Lucifer masuk rumah bikin malaikat baik hati repot aja. " Ucap Akira mencari posisi untuk tidur.