Bad Girl, But Not Too Bad

Bad Girl, But Not Too Bad
Bab 3



Akira memilih untuk berjalan kaki menuju jalan raya kemudian naik angkutan umum untuk pergi ke sekolah. Akira tidak pernah turun tepat didepan gerbang sekolahnya melainkan sedikit lebih jauh dari SMAnya.


Jalan-jalan sambil menikmati hiruk-pikuk kota di pagi hari baginya. Hal kecil yang menurut Akira menyenangkan. Namun gara-gara hal itu juga ia selalu terlambat datang ke sekolah. Setelah sampai di tempat biasanya ia turun, Akira meminta sopir untuk berhenti.


Kemudian melanjutkan perjalanannya ke sekolah dengan berjalan kaki. Ketika sedang berjalan Akira tidak sengaja melihat seorang siswi SMP akan menyebrang namun dari arah samping terdapat sebuah motor yang melaju kencang. Dengan sigap Akira berlari dan menarik lengan gadis tersebut.


"Awaassssss!!!!.. " Teriak Akira menarik paksa tubuh remaja perempuan itu kembali ke seberang jalan.


Brukkkkkk....


Mereka berdua terjatuh di trotoar dengan posisi kepala siswi itu berada di lengan Akira. Akira segera berdiri dan membantu gadis tersebut bangkit lalu mengajaknya untuk duduk di kursi yang berada ditepi trotoar.


"Kamu gapapa??.. " Tanya Akira.


"Aduhhh." Ucap Anak itu memegang sikunya. Akira menyentuh siku gadis tersebut dan ternyata ada sedikit luka lecet disana.


Akira dengan cekatan mengambil plester yang selalu ia bawa saat latihan untuk memplester siku siswi SMP itu.


"Makasih ya kak. Aku gatau deh nasib aku gimana kalau ga ada kakak. " Ucapnya berterimakasih.


"Nasib orang ada ditangan Tuhan bukan kakak. Kakak hanyalah manusia hina bukan Tuhan yang sempurna" Canda Akira.


"Ihh kakak bisa aja, kakak gapapa juga kan??.. Itu sikunya berdarah, baju kakak juga kotor. " Menunjuk siku Akira.


"Ah ini cuma lecet, kamu sekolah dimana??.. "


"Itu." Ucapnya menunjuk sekolahan SMP yang ada diseberang jalan.


"Yaudah ayo kakak sebrangin. " Tawar Akira. Dibalas anggukan olehnya.


Akira bergegas menggandeng tangan gadis tersebut dan membantunya menyebrang. Setelah sampai di depan SMP siswi itu Akira pun berpamitan.


"Oke,sekarang kamu masuk sana. Sekolah yang rajin dan jangan lupa nanti lukanya dibersihin biar ga infeksi. " Ucap Akira.


"Iya, kak makasih ya. " Ucapnya memasuki halaman sekolah.


~


Sesampainya Akira di sekolah ternyata sedang diadakan razia yang dilakukan oleh pengurus OSIS dan Guru BK. Seperti biasa Akira berjalan santai melewati gerbang seoalah-olah tidak menghiraukan razia tersebut.


"Hehhh.. Hehhh mau kemana kamu. " Tegur Pak Darman guru BK.


"Ya mau masuk lah Pak. " Jawab Akira enteng.


"Enak aja udah telat, baju kotor acak-acakan. Kamu pikir ini sekolah hewan ga ada aturan??.. " Tegur Pak Darman.


"Loh emang sekarang sekolah kita ada kebun binatang pak?. Saya kok gatau?. Sejak kapan?. Keren dong sekolah kita baru ini loh saya tau kalo ada sekolah yang punya kebun binatang. " Jawab Akira membuat pak Darman semakin kesal.


"Kamu ini ya!. Bener-bener ga bisa dikasih tau pake bahasa manusia!. Bingung saya harus ngomong sama kamu pake bahasa apa lagi. " Marah Pak Darman.


"Emang sekarang kita pake bahasa apa pak?. Kan kita lagi ngobrol, bapak tau apa yang saya omingin dan saya tau apa yang bapak omongin. Kita sekarang lagi pake bahasa alien ya pak?. "


"Ya ampunnnn Akiraaa!. Udahlah saya nyerah ngadepin kamu. Darren urusin nih. Setelah itu terserah kamu mau hukum apa. Tapi jangan lupa dicatet. Bapak capek ngomong sama dia ngabisin tenaga!." Ucao Pak Darman memanggil Darren yang sedang membariskan siswa terlambat dan juga melanggar tata tertib sekolah.


Tak lama kemudian Darren datang dan berhadapan dengan Akira. Pagi ini Darren terlihat sangat keren dengan jam tangan melingkar di pergelangan tangannya dan juga gaya rambut kekinian yang menambah aura ketampanannya bertambah. Membuat Akira menatap Darren dengan senyuman tanpa beban padahal kedatangan Darren untuk memberinya hukuman.


"Hebat ya, guru BK aja sampe nyerah ngadepin kelakuan lo. " Ucap Darren.


"Gapapa lah ada untungnya. Kan gue bisa ngeliat kegantengan lo di pagi hari yang bikin mood gue meningkat drastis. " Jawab Akira tersenyum manis pada Darren.


"Emang gesrek otak lu!.Udah sekarang masukin tu baju. Habis itu ikut gue buat mempertanggung jawabkan pelanggaran lo kali ini!. " Ucap Darren geram dengan tingkah Akira.


"Iya-iya yang penting sama lo mah gue nurut aja. " Jawab Akira membenahi bajunya.


Saat Akira merapikan bajunya Darren tidak sengaja melihat siku Akira yang berdarah. Baru saja akan bertanya tiba-tiba ada seseorang datang kearah Akira.


"Tu sikut lo kenapa Ra??.. " Tanyanya khawatir.


"Ehh elo Is, bisa telat juga lo ternyata. " Ledek Akira pada Faishal.


"Tapi gue punya alasan masuk akal ga kaya lo yang setiap hari telat tanpa alesan.Ban motor gue bocor tadi. Itu tangan lo kenapa??.. " Tanya Faishal lagi.


"Jat.... "


"Hehh malah ngobrol. " Potong Darren, kemudian Thania sekertaris Osis membawa buku catatan pelanggaran siswa datang menghampiri mereka bertiga.


"Kebetulan lo kesini Than, catet nih mereka berdua habis itu kita kasih hukuman buat mereka sekaligus yang telat-telat tadi. " Ucap Darren pada Thania.


"Iya Ren. " Jawabnya.


"Udah." Ucap Thania lagi.


"Yaudah, sekarang kalian ikut gue. " Ajak Darren.


"Bentar." Cegah Faishal membongkar tasnya mengeluarkan plester.


Tanpa aba-aba Faishal mengangkat tangan Akira dan memplester luka di sikunya. Hal itu disaksikan oleh Thania dan juga Darren.


"Udah. Yuk lo mau ngehukum apa??.. " Tanya Faishal pada Darren.


"Cihhh, sejak kapan sih Is lo jadi sok romantis gini. " Tanya Darren heran pada Faishal. Namun Faishal hanya mengendikan bahunya.


"Thanks Is, baik deh loo. " Akira mencubit pipi Faishal berniat membuat Darren cemburu, namun ternyata Darren tidak peduli dan malah menyuruh mereka untuk pergi ke lapangan belakang.


~


Di lapangan belakang mereka dihukum untuk mencabuti rumput liar yang mengganggu. Dan bukan Akira namanya kalau tidak membuat heboh.


Akira malah menjahil i Faishal yang berada disebelahnya dengan melempari rumput yang ia cabut ke arah wajah Faishal. Faishal yang diperlakukan seperti itu menjadi kesal dan membalas kelakuan Akira, sehingga jadi main kejar-kejar an. Membuat kacau suasana.


Karena ulah Akira, mereka sesekali mendapat teguran dari Pak Darman yang juga ikut mengawasi disana. Namun Akira masih saja berulah hingga selesai.


"Huhhhh akhirnya kelar juga. " Akira menepuk tangannya untuk membersihnkan debu kemudian menyandarkan lengannya dibahu Faishal.


Faishal tidak sengaja menatap Akira dan tawanya pecah melihat wajah Akira yang kotor terkena tanah.


"Bwahaha... " Tawa Faishal.


"Kenapa lo Is, sehat??.. " Tanya Akira heran.


"Muka lo tu cemong dah kek tukang sampah. " Jawab Faishal.


"Hehhh.... Muka lo juga kaliii, ngaca dongg!!!. " Ucap Akira menyempar pipi Faishal dengan tangannya yang kotor. Faishal mengeluarkan ponselnya dan berkaca ternyata benar mukanya juga belepotan tanah.


Karena kebetulan membuka kamera Faishal mengambil foto wajah cemong Akira. Akira yang menyadari itu berusaha mengambil HP Faishal. Namun tidak bisa karena Faishal semakin mengangkat tangannya ke atas, membuat Akira kesulitan meraih tangan Faishal.


Akira tetap berusaha hingga sebelah tangannya merangkul leher Faishal dan sebelahnya lagi berusaha mengambil ponsel Faishal. Tanpa mereka sadari wajah mereka saling berdekatan, fsnsejenak tatapan mereka saling mengunci.


Tapi Akira segera mengakhirinya dan merebut HP ditangan Faishal. Sedangkan Faishal masih mematung ditempat.


"Yahh, dikunci kenapa sih HP pake di password in segala udah kaya brankas harta karun aja!.. " Ucap Akira kesal ketika berusaha membuka ponsel Faishal.


"Yee suka-suka gue dong. Makanya gausah rese. " Jawab Faishal merebut ponsel nya dari tangan Akira dan memasukannya ke dalam saku celana.


"Wahhh perbanyak sadar diri ya kaka, yang rese itu anda!!!.. "


"Udah diem, ayok cuci muka terus ke kelas. " Ajak Faishal mengambil tasnya dan juga tas Akira.


"Gue laper. " Rengek Akira mengambil tasnya dari tangan Faishal.


"Ntar istirahat, gue traktir. Yang penting sekarang lo masuk kelas. "


"Beneran yaa. " Mata Akira berbinar.


"Iyaaa."


Merekapun pergi untuk cuci muka, dan pergi ke kelas. Sebelum itu Faishal mengantarkan Akira ke kelasnya untuk memastikan ia tidak bolos.


Sesampainya dikelas Akira tidak diperbolehkan masuk oleh guru yang sedang mengajar. Namun Faishal membantu Akira berbicara pada gurunya, hingga diperbolehkan masuk. Barulah Faishal pergi ke kelasnya.