Bad Girl, But Not Too Bad

Bad Girl, But Not Too Bad
Bab 10



Akira terbangun dan merasakan kepalanya sedikit pusing. Perutnya lapar karena belum terisi makanan sejak sore, namun semua rasa itu hilang ketika melihat suasana asing disekitarnya.


"Gue dimana nih, loh siapa yang gantiin baju gue. Jangan-jangan gue diculik. " Akira berprasangka.


Krucukkk krucukkk


"Aduh perut gue laper lagi, coba keluar aja deh. "


Akira turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar menuruni tangga. Melihat seseorang yang tidak asing sedang makan bersama perempuan dan laki-laki paruh baya serta seorang remaja perempuan.


"Eh kamu udah bangun. " Tegur Niar melihat Akira di depan tangga. Ia terlihat masih bingung.


"Sini nak, kita makan bareng kamu belum makan kan?. " Ajak Niar, membuat Akira mendekat kearah meja makan.


"Arfy?. Jadi gue ada di rumah Arfy?. Dan ni anak kan yang gue tolongin dulu. Jangan-jangan dia adeknya Arfy." Batinya.


"Ayok kamu duduk disebelah Darren. " Suruh Niar.Akira hanya menurut dan mendudukkan tubuhnya disebelah Darren.


"Gimana badan kamu udah enak an?. " Tanya Niar.


"Udah tante, makasih ya tante udah ngerawat saya. " Ucapnya berterima kasih.


"Sama-sama sayang,tadi Darren yang bawa kamu katanya pingsan dipinggir jalan." Jawabnya ramah.


Akira menoleh kearah Darren yang fokus dengan makanannya.


"Om dengar kamu sempat menolong Denaya beberapa kali ya?. " Tanya Dendra ayah Darren.


"Ehm iya om, cuma 2 kali kok ga banyak he..he.. kebetulan Akira pas lewat. " Jawabnya canggung.


"2 lebih banyak dari 1 kan. Intinya terima kasih sudah menolong anak saya,jaman sekarang jarang ada anak muda yang peduli dan berani kaya kamu. "


"Om bisa aja bercandanya. Sama-sama om. "


"Makasih ya kak Akira. " Ucap Denaya berterima kasih.


"Iya sama-sama Naya. "


"Yaudah kamu makan yang banyak biar cepet sehat, jangan sungkan-sungkan. " Ucap Niar mengambilkan Akira nasi, lauk pauk dan sayur.


Akira merasa nyaman dengan jiwa keibuan Niar membuatnya kembali teringat bundanya Alina.


~


Selesai makan seluruh keluarga Darren membubarkan diri menuju ruang keluarga kecuali Niar. Akira berinisiatif untuk membantu Niar membersihkan meja makan.


"Udah kamu istirahat aja atau ikut Darren sama Naya nonton TV. " Larang Niar mengambil piring kotor ditangan Akira.


"Gapapa kok tante aku udah baikan, Akira kan gaenak masa udah numpang ga bantu-bantu. Tidak tau diri sekali saya tan!." Canda Akira


"Ha...ha...ha... Kamu ini, Udah gapapa Akira tante udah biasa ngerjain ini semua setiap hari kok. " Tolak Niar.


"Tante ga sewa pembantu?. "


"Nggak sayang, tante gasuka ada pembantu nanti tante ga ada kerjaan jadinya. "


"Tante ini beda loh dari ibu rumah tangga kebanyakan. Udah cantik mandiri lagi jadi hemat uang, beruntung banget ya om punya istri tante udah kaya beli 1 gratis 2 bergaransi seumur hidup lagi. " Canda Akira lagi.


"Ada-ada aja ya kamu tante disamain sama barang ihh (mencubit pipi Akira gemas). Oh iya kamu kenapa bisa sampe pingsan dipinggir jalan?. " Tanya Niar penasaran sambil terus melakukan pekerjaannya.


"Dari pagi emang udah gaenak badan te, terus habis pulang dari rumah temen juga, waktu dijalan udah ga kuat tepar deh jadinya. " Jawab Akira.


"Makanya lain kali kalo gaenak badan itu langsung pulang biar bisa istirahat,untung Darren pas lewat kalo ga gimana?."


"Ya kan udah untung itu Arfy lewat. "


"Isshh ni anak ya gemes in banget. Memangnya orang tua kamu kerja apa Ra?. "


"Papa punya perusahaan tante, kalo Bunda udah meninggal setahun lalu. " Ucap Akira sayu.


"Wah tante minta maaf ya Akira tante ga maksud ngungkit. " Ucap Niar menyesal menghampiri Akira dan memeluknya.


"Gapapa kok tante. " Jawabnya membalas pelukan Niar seakan merasakan kembali hangatnya pelukan ibu.


"Kalo kamu lagi kangen sama Bundamu, kamu boleh dateng kesini kok sayang anggap aja tante ini ibu kamu. "


"Iya tante makasih ya. "


"Yaudah ayok kita nyusul yang lain nonton TV. "Ajak Niar menggandeng tangan Akira.


~


Diruang keluarga terlihat Dendra sedang duduk sambil memeluk Denaya dan disebelahnya ada Darren yang juga tertawa riang menggoda adiknya. Akira duduk disebelah Niar ikut bercengkrama bersama keluarga Darren.


Akira tak henti menatap Denaya yang terlihat sangat dekat dengan ayahnya,juga Darren yang sifatnya berbanding terbalik tidak seperti saat disekolah yang dingin, cuek dan judes. Dikeluarganya ia begitu murah senyum dan juga hangat.


Saat jam sudah menunjukkan pukul 10 mereka membubarkan diri untuk tidur. Begitupun Akira yang kembali ke kamar Darren.


Akira tidak merasakan ngantuk saat sampai di kamar. Ia memilih untuk kebalkon, menikmati pemandangan ditemani dinginnya angin malam yang menusuk hingga ketulang.


" Ngapain lo disini?. " Ucap Darren menghampiri Akira.


"Kebalik kali lo yang ngapain kesini, kangen ya?." Canda Akira.


"Ge er banget sih lo, ini kamar gue kali!. Gue mau ambil baju. " Jawab Darren ketus.


"Oh iya ya ini kamar lo maap lupa, Gue kira mau nemuin gue. " Ucap Akira lagi diselingi tawa.


"Kepedean sih lu." Ucap Darren tak dibalas oleh Akira. Menyebabkan keheningan diantara keduanya.


"Makasih udah nolongin adek gue. " Ucap Darren tulus namun dengan nada yang datar.


"Iya sama-sama. Lo beruntung banget Fy punya keluarga sebahagia ini. " Ucap Akira dengan tatapan kosong.


"Hahh maksudnya?. " Tanya Darren tak paham.


"Ciee kepo?. "


"Sabar Darren gitu-gitu Akira nolongin Naya dan rela telat sampe sikunya berdarah, inget Darren hargain itu. " Batin Darren menyabarkan dirinya sendiri.


"Ehm gue mau nanya emangnya kenapa Thania mau gabung ama geng lo itu?. " Tanya Darren.


"Gatau tiba-tiba aja mo gabung. Emang kenapa?. "


"Ga, gapapa sayang aja cewe baik-baik kaya Thania masuk ke geng bandel lo itu. " Jawab Darren dibalas tatapan bingung Akira.


"Udah lo masuk ntar tambah sakit malah nyusahin!. " Ucap Darren meninggalkan Akira,mengambil beberapa bajunya kemudian keluar dari kamarnya sendiri.


"Emang hidup gue itu selalu nyusahin ya?. " Batin Akira tersenyum kecut meninggalkan balkon kembali ke kasur empuk milik Darren dan tidur.


~


Pagi-pagi sekali Akira sudah bangun membersihkan dirinya dan keluar dari kamar. Di dapur sudah ada Niar yang sedang memasak untuk sarapan.


"Tante Akira bantuin ya?. " Ucap Akira menghampiri Niar.


"Eh kamu udah bangun, udah wangi lagi. " Ledek Niar.


"Ah tante bisa aja bo ongnya, orang Akira ga pake parfum. Sekarang apa nih yang bisa Akira bantu?. " Tanya Akira melihat-lihat sekitarnya.


"Itu kamu bantu potongin sayurnya sama kupas bawang. "


"Oke siap tante. " Ucap Akira melaksanakan apa yang dikatakan Niar.


"Oh iya tante denger kamu suka ya sama Darren?. " Tanya Niar disela aktivitasnya.


"Tante denger dari siapa?. " Jawab Akira terkejut.


"Udah itu gapenting, apa sih yang kamu suka dari anak tante?. "


"Apa ya tan, anak tante itu ganteng, keren dan sifat cueknya itu loh tan yang bikin Akira pengen bisa dapetin dia. " Jawab Akira antusias.


"Jadi cuma karna ganteng nih kamu suka anak tante?. "


"Eh ga gitu dong tan, aku dari awal ketemu sama Arfy udah suka dan jadi first lovenya Akira. Meskipun setiap hari ditolak dan dicuekin Akira tetep suka. " Jawabnya polos sambil mengupas bawang.


"Arfy?. Kenapa kamu manggil Arfy?. " Tanya Niar.


"Biar beda dari yang lain tante. Oh iya tan ajarin Akira masak ya biar bisa jadi mantu idaman buat tante!. " Canda Akira.


"Boleh, kalo mau jadi mantu tante emang harus bisa masak sih. "


"Wah aku harus kursus sama tante nih berarti. "


"Boleh sejam nya lima ratus ribu ya!. " Candanya.


Mereka pun tertawa bersama. Membuat Niar dengan senang hati mengajari Akira memasak berbagai menu. Niar merasa senang dengan kehadiran Akira yang begitu humoris dan ceria membuat dapurnya menjadi lebih ramai sehingga dia tidak merasa kesepian.


~


Setelah semua masakan matang merekapun berkumpul untuk sarapan. Semalam menginap membuat Akira mulai bisa akrab dikeluarga Darren, sesekali ia ikut bercanda ria di meja makan bersama mereka.


"Oh iya tan, tante tau ga tas Akira dimana?. " Tanya Akira setelah selesai membantu Niar membereskan meja makan.


"Oh tas kamu udah tante beresin, buku-bukunya tante keringin dan baju kamu juga lagi dijemur. " Jawab Niar.


"Wah Akira ngrepotin tante dong. " Ucap Akira tak enak hati.


"Enggak kok. Eh Akira itu tante lupa sepatu kamu belom dijemur, kamu cuci sekalian gih di halaman belakang bareng Darren sama Naya. " Ucap Niar.


"Oke tante makasih ya. "


Akira melangkahkan kakinya menuju halaman belakang. Sebelum itu ia mengambil sepatunya terlebih dahulu yang berada di dekat mesin cuci.


"Eh ada kak Ira. " Sapa Denaya, sedangkan Darren hanya diam fokus mencuci sepatunya.


"Iya Nay. " Jawab Akira mendudukkan tubuhnya diantara Naya dan Darren.


"Kakak mau cuci sepatu juga?. " Tanya Naya.


"Iya Nay soalnya nanti malem dipake. "


"Emang kakak mau kemana?. Kan baru sembuh. "


"Kakak ada sparing volly Nay. "


"Wah kakak atlet volly?. " Tanya Denaya kagum dibalas anggukan oleh Akira.


"Fy!. " Panggil Akira.


"Hmm."


"Ntar lo nonton ga?. " Tanya Akira penuh harap.


"Gatau dan gausah maksa gue buat nonton!."


"Kak nonton yuk, Naya pengen lihat kak Ira tanding. " Pinta Denaya.


"Malem dek kamu perempuan gaboleh keluar!. "


"Kak Ira juga perempuan. " Ucap Denaya tak terima.


"Dia beda!. Akira itu perempuan jadi-jadian!. " Ucap Darren seenaknya membuat Akira menatapnya kesal.


"Kakak ga boleh gitu, lagian kan perginya sama kakak pasti dibolehin sama mama, yahh kak please demi Naya. " Pinta Denaya dengan puppy eyesnya.


"Liat nanti. "


"Yeayyyyy!. " Teriak Denaya girang.


Kemudian ketiganya kembali fokus untuk mencuci sepatu masing-masing.