
Baru sejenak ia berbaring Reina dan anak buahnya datang menghampiri Akira.
"Ternyata anak setan kaya lo bisa sakit juga ya. " Ucapnya.
"Ngapain kesini?.jemput masalah?. " Tanya Akira dengan mata terpejam.
"Cuma mau lihat aja sih kayak gimana sakitnya seorang Akira. " Ucap Reina.
"Sekarang udah tau kan?. Udah sono pergi, huss... husss. " Usir Akira menutup kepalanya dengan selimut.
"Hello please deh gue bukan anjing, heran deh apa sih yang dilihat Kevin dari Lo. Cantik engga modis engga berandalan iya!. "
"Berarti emang seleranya Kevin yang rendahan Rein. " Saut Cika.
"Hehh berani ya lo ngejelekin Kevin di hadapan gue!. " Marah Reina pada Cika.
"Ehhh maaf Rein. " Jawab Cika takut.
"Lo sih ngomong sembarangan!. " Tegur Anggi pada Cika.
"Brisikkkk!!!... " Teriak Akira marah membuka selimut yang menutupi wajahnya membuat Reina dkk terkejut.
"Lo kalo mau ribut diluar aja pusing gue ngedengerin omongan unfaedah lo itu, lagian ini UKS bukan ruang debat DPR!. " Kesal Akira.
"Santai aja kali gausah ngegas!. Ga mungkin deh lo sakit orang lo aja masih bisa ngegas. Pura-pura sakit kan lo biar dapet perhatiannya Kevin!." Ketus Reina membuat Akira menjadi lebih kesal.
"Lo keluar sendiri apa gue paksa!. Gue emang sakit tapi kalo cuma bikin kalian keluar dari sini tenaga gue masih cukup!. " Ancam Akira menatap tajam ketiganya.
"Wahh kalo udah gini ngeri Rein, gue gamau dihajar sama Akira. " Ucap Cika bersembunyi dibalik tubuh Reina yang juga ketakutan namun berusaha ja tutupi dengan tau soknya.
"Awas aja lo!. " Kesal Reina meninggalkan UKS.
"Diancem gitu aja takut, masih juga songong!. " Kesal Akira mencari posisi yang nyaman untuk tidur.
Tak lama kemudian Akirapun terlelap.
~
Istirahat kedua.
Faishal datang membawakan makan siang untuk Akira, karena dia tahu pasti Akira belum makan sejak pagi.
"Ra, bangun makan dulu. " Faishal menggoyangkan tubuh Akira agar bangun.
"Eh lo Is, kok sendirian Kevin mana?. " Tanya Akira terbangun dari tidurnya.
"Dia lagi kumpul tim basket. "
"Ohh."
"Karin?. "
"Kayanya ga masuk daritadi gue sama Kevin ga liat. "
"Sekarang lo makan dulu ya. " Faishal hendak menyuapi Akira.
"Gue bisa makan sendiri Is. " Tolak Akira.
"Udah diem , lo sakit jadi nurut aja!. " Ucap Faishal.
Dengan tlaten Faishal menyuapi Akira kemudian memberikan obat. Setelah itu dia membiarkan Akira untuk kembali istirahat dan ia kembali ke kelasnya.
~
Bel pulang berbunyi.
Kevin dan Faishal pergi ke UKS untuk menyusul Akira sambil membawakan tasnya.
"Ra gimana?. Udah enak an?. " Tanya Faishal khawatir.
"Udah lumayan."
Faishal mendekati Akira, menempelkan telapak tangannya di dahi Akira.
"Badan lo panas Ra. "
"Na makanya kalo pulang, gue pasti ga dibolehin istirahat. Sebenernya gue mau kerumah Karina numpang tidur eh dianya ga masuk."
"Yaudah lo kerumah gue aja. "
"Gausah Is ntar lo malah ribut sama nyokap. "
Mama Faishal dari dulu tidak pernah menyukai Akira yang terkenal nakal sejak SMP. Mama Faishal menganggap Akira membawa pengaruh buruk terhadap putra kesayangannya itu. Begitu juga Mama Kevin yang berteman dengan Mama Faishal yang kebetulan satu geng arisan.
"Udah urusan nyokap biar gue yang atasin, sekarang yang penting lo harus istirahat biar sembuh!. " Tegas Faishal.
"Soal ini gue gabisa bantu lo Ra, maaf ya gue ga berani ngelawan nyokap. " Sesal Kevin.
"Iya udah gapapa santai aja kali. Lagian Gue kasian ama lu ntar malah dipukul ama TV kan sayang."
"Guenya?. " Tanya Kevin.
"Ya TV nya lah ngapain elu. " Canda Akira.
"Jahat lu mah. " Kesal Kevin.
"Eh iya hari ini kita ada latian kan Is?. " Tanya Akira pada Faishal.
"Iya tapi lo gausah ikut dulu."
"Lah kok gitu, besok kita udah sparing loh!. "
"Gausah dipikirin sekarang kesehatan lo lebih penting!. Ayok pulang biar lo bisa minum obat terus istirahat. " Ajak Faishal.
Ketiganya pun berjalan menuju parkiran. Faishal memakaikan jaketnya ke Akira sedangkan Kevin membawakan tas Akira.
"Nih Ra tas lo, gue balik dulu ya. Cepet sembuh. " Pamit Kevin mengelus puncak kepala Akira.
"Iya thanks monyet tetangga. " Jawab Akira.
~
Setelah 20 menit perjalanan mereka akhirnya sampai dirumah Faishal.
Faishal membuka pintu rumah dan langsung disambut oleh ibunya yang berada diruang tamu dengan wajah senang. Namun seketika berubah geram melihat perempuan yang sedang dibopong anak laki-laki yang itu.
"Kamu kenapa bawa anak ini kerumah!. "
"Kenapa harus kesini, emangnya dia gapunya rumah apa!. "
"Ma!. Mama ga ngerti keadaannya Fais minta ke mama tolong biarin Akira disini sehari aja. " Pinta Faishal.
"Apa!. Sehari?., nggak dia gaboleh nginep disini!. "
"Ma!. Mama kenapa sih selalu aja kaya gitu kasian Akira ma!. " Jawab Faishal mulai sedikit kesal.
"Tuh kan anak berandalan ini itu bawa pengaruh buruk buat kamu!. Lihat sekarang kamu jadi ngelawan sama mama!. " Gertak Ibu Faishal.
"Ma-."
"Udah Is, jangan berantem. Gue pergi aja. " Akira menenangkan Faishal.
"Jangan dong Ra, lo lagi sakit. "
"Udah lo gausah khawatir, gue janji besok bakal sembuh dan ikut sparing. "
"Gue anter!. "
"Gausah biar dia pulang sendiri kamu tetep dirumah!. " Ucap Ibu Faishal tegas.
"Ma!. "
"Is udah, gue pergi dulu. Maaf tante kalo kehadiran saya ganggu tante. " Akira melepas jaket yang ia kenakan dan mengembalikannya pada Faishal.
"Bagus kalo kamu sadar diri, sekarang kamu pergi!. Jauh-jauh dari anak saya!. "
Akira pun keluar dari rumah Faishal. Ia berjalan kesembarang arah karena bingung akan pergi kemana. Akira tidak ingin pulang kerumahnya untuk sementara ini.
~
Cukup jauh Akira berjalan, langit mulai mendung. Tubuhnya terlihat pucat dan lemas.Tak lama kemudian hujan turun. Akira tetap meneruskan langkahnya membiarkan tubuhnya terguyur hujan. Akira sudah tidak mampu merasakan kondisi tubuhnya. Membuat langkahnya mulai sempoyongan hingga akhirnya jatuh pingsan.
Saat itu juga kebetulan Darren sedang lewat setelah menjemput Denaya adiknya. Darren mengurangi kecepatan mobilnya ketika melihat Akira berjalan ditengah hutan.
"Kaya kenal. " Batin Darren.
Brukkk.
Tiba-tiba Akira jatuh pingsan membuat Darren menghentikan mobilnya.
"Kenapa kak,kok berhenti?. " Tanya Denaya yang masih fokus memainkan ponselnya.
Denaya merasa janggal karena kakaknya tidak menjawab. Ketika ia menoleh ternyata Darren tidak ada di kursi kemudi.
Ceklek
Darren membuka pintu belakang mobil dan menidurkan Akira yang basah kuyup disana. Setelah itu kembali ke kursi kemudi dengan baju yang ikut basah.
"Kak dia siapa?. " Tanya Denaya karena wajah Akira tertutup oleh rambut.
"Temen sekolah kakak. " Jawabnya kembali menjalankan mobil.
"Dia kenapa kak?. "
"Kakak juga gatau tiba-tiba aja dia pingsan di pinggir jalan. "
"Yaudah cepetan kak kasian nanti dia sakit lagi. "
~
Sesampainya di rumah Darren.
"Dek kamu masuk panggilin Mama. "
"Iya Kak!. " Denaya segera masuk untuk memanggil mamanya sedangkan Darren menggendong Akira untuk membawanya masuk kedalam rumah.
Didalam rumah Ibu Darren dan juga Denaya sudah menyambut Darren dengan wajah panik.
"Cepet kamu bawa ke kamar kamu!. " Suruh Niar.
"Loh kok kamar Darren sih di kamar tamu kenapa?. " Tanya Darren kaget.
"Kamar tamu belom dibersihin kak, udah nanti mama sama adek bersihin sekarang kamu bawa dia ke kamar kamu liat itu lantainya becek. "
Darren mau tidak mau menuruti kemauan Mamanya itu dan membaringkan Akira di kasurnya. Diikuti Niar dan Naya dibelakangnya.
"Sekarang kamu mandi di kamar mandi bawah dia biar mama gantiin baju!. " Ucap Niar Darren pun menurut.
Niar mengganti baju Akira dengan trining dan kaos oblong milik Darren karena baju Denaya tidak muat dibadan Akira yang lumayan tinggi. Niar merawat Akira dengan penuh perhatian seperti merawat anaknya sendiri.
Setelah selesai mengompres Akira Niar turun dan mendapati kedua anaknya sedang berbincang di ruang keluarga.
"Dia yang nolongin kamu?. " Tanya Darren tak percaya dengan apa yang dikatakan adiknya itu.
"Iya serius, dua rius malah. Kak siapa namanya?. "
"Akira!. " Jawab Darren malas.
"Iya kak Akira itu bela dirinya jago banget kak 2 preman badannya keker semua kalah sama dia. " Denaya bercerita antusias.
"Lagi ngobrol apa an sih?. Serius banget?. " Tanya Niar ikut duduk diantara keduanya.
"Itu ma, jadi kak Akira itu orang yang nolongin Naya waktu hampir ketabrak dan dipalak preman kemaren. "
"Beneran?. "
"Iya beneran ma, masak Naya bo ong sih. "
"Wah baik banget ya Akira, anak sebaik itu kamu masa ga suka sih kak. " Goda Niar pada Darren.
"Suka gimana sih ma, mama gatau aja dia itu anaknya bandel disekolah udah kaya preman. " Jawab Darren datar.
"Masa padahal dia cantik juga lho masa jadi preman sekolah. " Jawab Niar tak percaya.
"Iya dia itu setiap hari kerjaannya malak adek kelas, bolos lah,telat lah bikin tugas aku jadi ribet. Belom lagi dia itu ngejar-ngejar Darren terus,aku malah risih jadinya. "
"Wah lanka lo ada cewe ngejar duluan, seharusnya kamu terima. "
"Mama apa-apaan sih, malah dukung kaya gitu, perempuan itu dikejar bukan ngejar!.. "
"Ga ada ceritanya kaya gitu kak. Dalam hidup, kita harus ngejar apa yang kita inginkan. Tanpa usaha kita gabisa dapetin apa yang kita inginkan. " Nasehat Niar membuat Darren terdiam.