
"Pulang sama siapa lo Ra??. " Tanya Karina.
"Sendiri aja. " Jawab Akira meminum coklatnya.
" Malem-malem mau pulang sendiri ntar kalo lo diculik om genderuwo gimana?. udah gue anterin aja kagak tega gua. " Tawar Karina.
"Dikira gue ponakannya apa!. Udah gausah entar lo yang jadi pulang kemaleman. " Tolak Akira.
"Lah kan emang lo ponakannya makanya gua khawatir lo diculik. Lagian gue kan hampir tiap hari pulang malem amnesia lu?. " Jawab Karina.
"Udah-udah Akira biar gue yang anter. " Lerai Faishal.
"Jangan Ra biar gue aja yang nganterin lo, kalo si Fais yang nganter kagak sampe rumah ntar . " Saut Kevin.
Tring... Tringg... Tringg...
Tiba-tiba HP Kevin berbunyi layarnya menampilkan sebuah panggilan.
Kevin: Halo...
Kevin mom: Hehh jam segini masih kelayapan!!... Pulang ga!. Mama kasih waktu 30 menit kalo belom nyampe rumah mama kunci dari dalam!. Tidur di teras!.
Kevin: Jangan dong ma, iya-iya ini Kevin langsung pulang.
Tuutttt
"Kenapa Vin???... " Tanya Akira.
"Alarm udah bunyi, maaf yah jadi gabisa nganterin lo. " Ucap Kevin beranjak dari duduknya.
"Buru-buru amat sihh. " Tanya Karina menatap Kevin heran.
"Kalo gue ga buru-buru pulang bisa-bisa tidur di luar gue. Udah gue pulang dulu yaa, kali ini gue bolehin lo nganterin Akira jagain Akira!. Kalo sampe kenapa-napa awas lu." Ancamnya kepada Faishal kemudian Kevin meninggalkan ketiganya.
"Wah tu anak kayanya perlu ke psikiater deh, temen sendiri diancem!. Ada yang ga beres ama mentalnya!. " Ucap Akira menatap kepergian Kevin.
"Ntar kira-kira sampe rumah dipukulin pake apa ya tu anak?. " Tanya Karina.
"Dipukul pake panci biar plong otaknya, udah kita balik aja emang mau nunggu ni kafe tutup!. " Ajak Akira.
"Lo jadi gimana Ra??.. " Tanya Karina.
"Gu-." Belum sempat menjawab Faishal sudah menyela.
"Akira biar gue yang anter, lo pulang aja Rin. Kan Kevin udah bilang gue suruh jagain ntar kalo ga gua anter besok ngadain pidato kelulusan. " Selanya.
"Ha...ha...ha...yaudah gua cabut dulu deh kalo gitu, jagain ponakannya jin entar om nya nyari in repott ntar. " Karina meninggalkan Faishal dan Akira.
"Wooiiiiii liat aja besok tu mulut sariawannya 5!. " Teriak Akira kesal.
"Udah Is gue pulang sendiri aja, ntar lo pulangnya malah kemaleman. " Tolak Akira.
"Udah ayo, gue ga mau nyesel kalo terjadi apa-apa sama lo. " Ucap Faishal menarik tangan Akira.
~
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai dirumah Akira. Ia segera turun dari motor sport milik Faishal.
"Thanks ya Is. " Ucap Akira.
"Sama-sama, udah lo masuk, mandi terus istirahat. Gua pulang dulu. " Jawab Faishal mengelus puncak kepala Akira kemudian melajukan motornya untuk pulang.
"Hati-hati!!!. " Teriak Akira.
Akira memasuki rumah besar papanya itu sambil memainkan bola Voly miliknya. Saat akan ke dapur Akira berpapasan dengan Alea.
"Hehhh.... Kakak ngapain dianterin Kak Fais tadi??... " Ketus Alea.
"Dihh, suka-suka gue dong ngapain lu yang ribet!. " Jawab Akira berjalan meninggalkan Alea.
Lo yaa!!!!.. Mamaaaaa!!!.. " Teriak Alea, membuat Sarah mendatangi mereka.
"Mulai lagi dehh, drama ibu tiri yang kejam!. " Gerutu Akira membuka pintu kulkas.
"Al kenapa sih malem-malem teriak-teriak telinga mama panass dengernya. "
"Ma tadi aku liat Kak Akira dianterin sama kak fais huaaa. " Rengek Alea.
"Na terus kenapa biarin aja sihh,toh udah biasa kan tu anak berandalan pulang malem, pasti juga cowo nya berandalan. " Cibir Sarah.
"Mama kak Faishal itu, cowo yang Alea suka. Yang Alea ceritain ke mama dulu masa lupa sih. " Bisik Alea pada Sarah.
"Masa sih Al, kok bisa dia nganterin Akira pulang. " Bisiknya pada Alea.
"Kak Fais itu temen kak Akira disekolah, mama bilangin kek kak Akira suruh ngejauhin Kak Fais. " Bisiknya lagi.
"Kamu tenang aja, biar mama marahin tu anak. "
"Mulai besok kamu jauhin Faishal!. " Ucap Sarah tiba-tiba pada Akira yang sedang minum dan makan camilan.
"Dih, Lo siapa ngatur-ngatur gue. Enak aja dipikir gue babunya situ!."Jawab Akira membantah.
" Kurang ajar!. Inget ya kalo kamu masih deket-deket sama dia saya akan-.. "
"Gue kasih saran ya!. Kalo suka sama orang itu kejar, usaha jangan ngandalin backingan orang tua!. Kebanyakan nonton drakor lo!." Ejek Akira.
"Mamaaaa." Rengek Alea.
"Berani ya kamu ngatain adik kamu sendiri. Liat aja saya akan benar-benar membuat hidup kamu menderita!!!!... Lihat aja nanti. " Ancam Sarah.
"Silahkan!!!.. Buat gue semenderita mungkin!. Gue mah bodo amattt. Gue lebih baik menderita karena kalian daripada harus ngejauhin Faishal!. Dan sejak kapan ya Alea jadi adik gue?. Lagian gue ogah punya adik keturunan iblis!." Jawab Akira meninggalkan keduanya.
"Hihhhh awas aja kamu nanti ya!.
. " Geram Sarah.
Akira masuk kedalam kamarnya, bergegas mandi dan mengganti baju Volly nya dengan pakaian santai. Akira merebahkan tubuhnya dikasur. Memandangi langit-langit kamarnya.
"Andai aja Bunda masih ada. " Akira kembali mengenang wajah Bundanya yang baru setahun meninggal. Akira begitu tenggelam akan pikirannya hingga ia terbawa ke alam mimpi.
*******
Byurrrrr
Guyuran air yang menimpa tubuhnya membuat Akira seketika terbangun. Menatap orang yang sudah berani-beraninya menyiram dirinya.
"Apaan sih lo!!!..pake nyiram-nyiram orang segala. Di pikir gua rumput apa!. " Marahnya pada Sarah.
"Iya kamu itu rumput!.rumput liar!!! Sekarang cepet siap-siap, ada yang ingin suami saya bicarakan. " Ucap Sarah meninggalkan kamar Akira.
Akira segera bangun kemudian bersiap-siap dengan seragamnya dan turun ke ruang keluarga. Disana sudah tampak Gilang, Sarah dan Alea sedang bercengkrama. Namun ketika Akira datang suasana mulai berubah tegang.
"Pa, katanya ada yang mau papa omongin ke Akira ada apa??.. " Tanya Akira khawatir. Pasalnya jika Gilang mengajaknya berbicara tanpa Akira membuat masalah pasti yang akan dibicarakan adalah hal yang menyakitkan. Kali ini adalah kali kedua Papanya itu mengajak bicara tanpa Akira membuat masalah.
"Mulai hari ini, kamu harus membantu bi Irah mengerjakan semua pekerjaan rumah. Sebelum berangkat sekolah sudah harus selesai. " Terang Gilang, Akira yang mendengarnya dibuat melongo. Sedangkan Sarah dan Alea tersenyum sinis.
Flashback on
"Pa, mama mau ngomong soal anak angkat kamu itu. " Bergelayut manja di tangan Gilang.
"Kenapa??.. Dia buat ulah lagi ke kamu??... " Tanya Gilang lembut mengelus rambut.
"Iya hari ini dia ngehina aku sama Alea. Kenapa sih masih aja kamu asuh anak pungut itu, buang-buang uang aja Pa. "
"Sebenarnya Papa juga ga suka sama anak itu, tapi mau gimana Papa sudah janji ke Alina untuk menjaga dia. "
"Alah udahlah pah si Alina juga udah mati. Kalo nggak, gini aja deh papa suruh akira ngerjain tugas rumah, biar ga sia-sia uang yang papa kasih ke dia. "
"Yaudah besok biar Papa ngomong ke dia, sekarang kita tidur aja ya. "
Flashback off
"Kenapa papa tiba-tiba nyuruh Akira buat ngerjain tugas rumah??. " Tanya Akira heran.
"Kamu ga inget!!.kamu itu bukan anak saya, semua ini supaya yang saya berikan ke kamu selama ini tidak sia-sia. Jadi anggap saja ini adalah balas budi kamu ke saya. " Ucap Gilang dingin.
"Kamu bisa mulai dari hari ini. Kamu juga harus nurut apa saja yang diperintahkan istri dan anak saya. Jangan harap kamu dapat uang jajan kalo semua yang saya katakan tidak kamu kerjakan. " Ancamnya.
"Yaudah kalau gitu Akira kerjain sekarang aja Pa. Makasih atas semua kebaikan papa selama ini. " Jawabnya tersenyum kecut dan pergi ke dapur.
"Satu lagi!. Kamu tidak boleh memasak untuk saya, saya tidak sudi makan masakan kamu!!. "
Kata-kata itu begitu menusuk kedalam hati Akira, sebenci itukah Papanya pada Akira. Namun Akira berusaha untuk selalu berpikiran positif. Semua yang ia lakukan semata-mata untuk membalas budi Gilang yang sudah mau membiayai kehidupannya selama ini.
Akira mulai mengerjakan semua pekerjaan rumah dari mencuci baju, mencuci piring menyapu rumah dan juga halaman yang sangat luas. Hingga tanpa ia sadari jam sudah menunjukan pukul 08.00 Akira segera masuk ke kamarnya mengambil tas dan berlari keluar rumah untuk pergi kesekolah.
Akira sampai disekolah pukul 08.30 dan Gerbang sekolah juga sudah ditutup. Akira memutar otak bagaimana cara untuk masuk ke sekolah.
"Duhh gimana nihh??.. Kalaupun minta pak budi buat bukain gerbang ga mungkin dibukain. Malah disuruh pulang gue. " Batin Akira bingung.
"Ahaaa gua ada ide. " Akira menjentikkan jarinya dan berlari menuju belakang sekolah.
Akira memanjat pohon yang ada disebelah pagar,melemparkan tasnya keseberang, Akira memindahkan kakinya satu persatu dari pohon ke tembok pagar.
"Gini amatt yak perjuangan buat masuk sekolah. " Gerutunya diatas pohon.
Setelah kedua kakinya sudah berpijak diatas pagar Akira melompat masuk.
"Huhhh akhirnya bisa masuk juga gue. " Ucap Akira mengambil tasnya dan memakainya ke sebelah pundak. Akira pun beranjak pergi ke kelasnya namun sebelum itu...
"Ehmmm..hmm.." Suara deheman yang tak asing membuat Akira menoleh.
Akira menampilkan jajaran gigi putihnya ketika mendapati Pak Darman yang berada dibelakangnya.
"Eh bapak...bapak ada disini juga. "
"Udah beralih profesi jadi tarzan ya kamu??.. " Ucap Pak Darman melipat kedua tangannya.
"Aduhhhh!!!.. Pak kaki saya keseleo, saya ke UKS dulu ya pak. " Alibi Akira memegang salah satu kakinya.
"Udah gaush drama!!..Ayo ke BK sekarang!!!.. "
"Yaelah panjang deh urusannya. " Gerutu Akira mengikuti pak Darman.