
Selesai mencuci sepatu ketiganya masuk kedalam rumah. Denaya dan Darren berencana ingin bermain basket bersama. Keduanya pun pergi menuju lapangan basket yang berada di rumahnya.
"Fy!. " Panggil Akira.
"Apa?. " Tanyanya datar.
"Tau HP gue ga?. "
"Ada di sebelah TV , udah gue charge. "
"Wihh makasih ya Fy, jadi makin sayang. " Goda Akira.
Darren memutar bola matanya malas pergi menyusul Denaya ke lapangan basket mini di sebelah rumahnya.
Sedangkan Akira menuju ke ruang keluarga untuk mengambil HPnya. Ketika baru saja dinyalakan langsung ada banyak chat dan panggilan tak terjawab masuk dari ketiga sahabatnya dan juga Alea.
Akira menarik nafas panjang dan mulai menghubungi satu persatu sahabatnya. Dan seperti yang ia bayangkan semua sahabatnya khawatir sehingga heboh sendiri saat Akira menelfon apalagi Kevin. Kecuali Alea Akira memilih tidak membalas ataupun menghubunginya karena malas berurusan dengan kedua malaikat pencabut nyawa yang hidupnya tidak tenang jika sehari saja tidak menyiksa Akira.
Setelah selesai Akira berjalan menuju lapangan basket dimana Denaya dan Darren sedang bermain basket.
"Oyyy!. Boleh gabung ga?. " Teriak Akira.
"Boleh." Ucap Denaya.
"Ga." Ucap Darren.
"Kakak!. Kenapa sih kak Akira itu tamu!. Kalo mama tau bisa-bisa dimarahin!. " Ucap Denaya.
"Mama tau kalo kamu ngadu!. Yaudah main aja sama Akira!. " Kesal Darren meninggalkan keduanya.
"Lo takut?. " Ucap Akira meledek.
"Gue?. Takut?. Hhhh!. "
"Yaudah ayo tanding sama gue!. " Tantang Akira.
"Oke!. "
"Oke Naya jadi wasitnya. " Ucap Denaya keluar dari lapangan.
Darren dan Akira berjalan mendekat saling berhadapan. Darren menatap Akira sinis dan dibalas senyuman manis oleh Akira.
"1... 2...3.." Hitung Denaya melempar bola keatas ditengah Darren dan Akira.
Akira dan Darren pun memulai permainan. Dengan lihai Darren melakukan dribble serta tipuan, yang membuatnya berhasil memasukan bola kedalam ring beberapa kali. Akira masih santai dan mencoba merebut bola. Sebenarnya mudah bagi Akira untuk merebut bola dari Darren namun ia membiarkan Darren menang diawal.
Setelah Darren mendapat skor 15 dan Akira 10. Barulah ia memulai aksinya, Akira dengan mudahnya merebut bola dari Darren dan melempar bola masuk kedalam ring. Darren kelabakan dengan permainan Akira. Hingga akhir permainan Akira memenangkan permainan dengan skor akhir 45-37.
"Lo ternyata jago juga ya fy. " Puji Akira duduk di pinggir lapangan untuk istirahat.
"Nih kak. " Denaya menyodorkan minuman kepada Akira dan Darren disela pembicaraan mereka.
"Kak Darren jago tapi kalah juga sama kak Akira. " Ledek Denaya kemudian.
"Brisik!. " Kesal Darren membuat Akira terkekeh.
"Kak Ira jago banget ya basketnya kenapa ga jadi pemain basket aja sih?. Kenapa lebih milih jadi atlet voly?. " Tanya Denaya bertubi-tubi.
"Kakak juga pemain basket Nay, cuma kakak lebih suka Voly daripada basket. " Terang Akira.
"Sejak kapan kakak main basket sama voly?. " Tanyanya lagi.
"Bawel banget sih kamu dek!. Nanya mulu!. " Saut Darren.
"Yee biarin dong kak, Naya kan kagum sama kak Akira multi talented banget di bidang sport. "
"Dasar ihhh!. " Darren gemas mencubit pipi Naya.
"Aduhh!. Kaka mah jahil. Udah kak Akira jawab pertanyaan Naya dong. "
"Iya-iya, jadi kakak main voly dari SD ikut Mitra diluar Sekolah dan kalo basket kakak ikut sejak SMP. "
"Emang cita-cita kak Ira apa sih?. " Tanya Denaya penasaran.
"Kakak pengen jadi Atlet Voly nasional Nay. "
"Wah keren dong!. Hebat kakak. "
"Kalo kamu sendiri pengen jadi apa?. " Tanya Akira balik.
"Kalo Naya sih pengen jadi dokter kak!. " Jawab Denaya antusias.
"Sipp deh belajar yang rajin yah!. Semangat!. " Denaya mengangguk.
"Iya kamu kalo mau jadi dokter belajar yang rajin jangan kek Akira kerjaannya bolos mulu!. " Sindir Darren.
"Kakak!. Gaboleh gitu. " Denaya memelototi Darren.
"Kalo gapercaya tanya aja sama orang
nya. "
"Ehmm iya Nay, He... He.. Jangan ditiru ya adegan berbahaya dilakukan oleh profesional!. "
~
Malam harinya Akira, Darren dan Denaya sudah bersiap-siap untuk pergi ke SMA Taruna Bangsa. Akira dengan baju volynya yang berwarna abu-abu dibalut jaket jeans, sebelah lututnya memakai pelindung dan sepatu voly berwarna senada dengan baju yang ia kenakan. Mencangklong tas sekolahnya disebelah pundak.
Denaya memakai rok jeans biru selutut dan kaos hijau polos dengan rambut terurai memakai bando biru muda serta membawa tas slempang mini berwarna coklat. Tampak anggun dan terkesan feminim. Sedangkan Darren memakai celana jeans hitam, kaos putih dengan tulisan p*ma didada serta jaket hijau. Ditambah tatanan rambut kekinian yang membuat aura cool dan tampannya bertambah drastis.
"Tante, om Akira sekalian pamit ya, makasih banget udah dibolehin nginep disini. Udah kaya nginep di hotel bintang 5."
"Iya sayang, nanti tante jadi kesepian deh kalo masak. " Ucap Niar sedih. Hanya sehari Akira disini tapi rasanya ia sudah sangat akrab dan merasa senang dengan kehadiran Akira yang ceria.
"Nanti kalo ada waktu sering-sering mampir ya!. " Ucap Dendra.
"Siap om, tante Akira akan sering-sering kesini. "
"Yeayyy, kalo kak Ira kesini ajarin Naya bela diri ya!. "
"Iya Nay. "
"Dikasih pelet apa keluarga gue sama Akira!. " Batin Darren kesal mendengarkan percakapan keluarganya bersama Akira.
"Ini jadi berangkat ga sih sebenernya!."
"Ya jadi lah. " Jawab Akira.
"Yaudah ayo!. "
"Iya-iya yaudah tante, om Akira berangkat ya. "
"Hati-hati ya Ra. " Niar memeluk Akira hangat.
"Nanti kalo kamu sering kesini tante kasih tau caranya dapetin Darren. " Bisik Niar disela pelukannya dan segera melepaskannya sebelum Akira menjawab.
Akira kemudian bersalaman dengan Dendra diikuti Denaya dan Darren. Kemudian masuk kedalam mobil pergi menuju SMA Taruna Bangsa.
~
Sesampainya di lokasi, tribun sudah mulai ramai oleh penonton pedukung kedua sekolah. Faishal, Kevin dan Karina juga sudah berada disana. Ketika melihat keberadaan ketiga sahabatnya Akira pamit pada Darren dan Denaya lalu segera menghampiri mereka.
"Ra!. " Faishal langsung memeluk Akira.
"Gue khawatir banget sama lo, lo udah gapapa kan?. " Tanya Faishal melepas pelukannya.
"Woii hilang di belahan bumi bagian mana lu, kaga bisa di telfon!. " Karina kesal bercampur senang merangkul kuat leher Akira membuatnya mengaduh.
"Ma-ti g-ue Rin. " Ucap Akira terbata karena cekikan Karina.
"Kucing kaya lo ma gabakal mati kalo cuma dicekik kaya gini. " Karina melepaskan leher Akira.
"Kemarin setan sekarang kucing besok apalagi dah." Gerutu Akira memegang lehernya menatap Kevin yang terlihat kesal.
"Ululululu sini-sini. " Akira mendekati Kevin dan memeluknya.
"Ga lepas. " Menolak pelukan Akira.
"Udah gausah sok nolak, jarang-jarang loh gue mau meluk lo. " Ucap Akira membuat Kevin seketika berubah pikiran dan memeluk Akira.
" Lo kemana aja sih, dihubungin gabisa gue khawatir sama lo. " Rengek Kevin memeluk Akira.
"Dih gausah lebay, gue masih hidup juga. " Menepuk punggung Kevin.
"Tau tuh alay bat sii lo, mau muntah gue dengernya, huekkkk. " Ucap Karina.
"Syirik aje ente. " Mengeratkan pelukannya.
"Ehhhhhh ngapain peluk-peluk ayang beb gue lo. " Tiba-tiba Reina dkk datang melepas paksa pelukan Kevin dan Akira.
"Ratu drama come back. " Ucap Akira malas.
"Sayang kamu kenapa sih peluk-peluk Akira segala. " Reina bergelayut manja pada Kevin.
"Drama terossss. " Teriak Karina.
"Hiiiiii, pergi yuk jijik gue. " Akira begidik geli.
"Yuk." Karina dan Akira pergi menuju ketempat tim sekolahnnya berkumpul.
Kevin menatap Faishal memelas meminta pertolongan, namun Faishal malah ikut bergidik geli dan meninggalkan Kevin.
"******* si Fais. " Batin Kevin.
"Rein lepasin tangan gue. " Ucap Kevin.
"Loh kenapa aku kan pengen nonton bareng sama kamu. "
"Rein lepas. " Kevin melepas paksa tangan Reina dan pergi ketempat sahabat-sahabatnya.
"Sayang!!. " Teriak Reina tidak menyerah dan terus membuntuti Kevin.