
Halaman rumah sakit hingar dengan orang-orang tanpa wajah. Hilir mudik tak tentu arah, derap langkahnya asing bergema memekakan telinga. Di bawah terik mentari, manusia-manusia itu nampak kelabu, di antara bahu-bahu yang beradu, seorang gadis berusaha melawan arus.
Lilya berjerih mencari jalan keluar. Abaikan sesak ia terobos tiap tubuh tak berotak yang menghadang.
Setelah berkali-kali terapit hampir terinjak, akhirnya jalan keluar itu tercapai. Sambil bersimpuh mengatur nafas, mata hazelnya menyipit berusaha membiasakan diri dengan pemandangan kontras yang terhampar di hadapannya.
Bias cahaya membuat desir rumput di sekelilingnya bersemi. Perlahan titik merah di balik buram matanya membentuk siluet kursi taman yang menjejak di tepian kolam. Karena warnanya, kursi itu jadi serupa mawar di tengah hijau yang mengelilinginya.
Seakan terpanggil, Lilya perlahan bangkit dan berjalan menuju kursi yang memunggungi jalan itu. Setelah sampai, ia memgamati kolam ikan yang ternyata kering terkuras. Menaikkan kedua kaki, gadis itu kemudian duduk memeluk lutut.
Perlahan hangat yang melingkup mulai merasuki tubuh, membuatnya ingin merengkuh. Tak begitu mengerti, pun tidak berniat memahami. Setelah sekian lama akhirnya ia tak perlu mempertahankan egonya untuk berfikir.
Dengan mata yang mulai terpejam, Lilya hendak mendekamkan wajah di antara lutut ketika sebuah sentuhan lembut menggapai bahunya dari samping.
Terhenyak, belum sempat ia memproses, terdengar suara familiar yang telah lama terlupakan. Suara itu berbisik,
"'kau adalah sesuatu yang nyata dalam kepalsuan dunia... itu sebabnya kau banyak menderita...'"
Segera Lilya menoleh menatap prasangkanya yang tepat. Untuk sesaat ia lupa caranya bernafas. Saling bertatapan, dia yang tak pernah luput dari ingatan.
"Mira...?"
Sosok itu tersenyum, lalu seolah sengaja mengabaikan reaksi Lilya, dia mengusap dagu sambil menunduk. "Itu quote dari buku yang pernah lo kasih dulu. Hmm... apa ya judulnya? Kok gue lupa?"
"Mira..." suara Lilya bergetar, pandangan memburam, air mata mulai menggenang. Untuk sesaat yang surrel ini, ia rela mengabaikan segala kemungkinan dan realitas yang ada. Untuk sesaat yang aktual ini, ia memilih mempercayai apa yang tengah dilihatnya sekarang.
"Maafin gue...." Lilya mulai terisak, "maaf, maaf, maaf, maaf! Gara-gara gue lo-"
"Sejak kapan lo jadi cengeng gini?" Potong Mira sambil melipat tangan di dada. "Yang itu buat nanti aja. Percuma kalo sekarang."
Lilya tertegun untuk beberapa saat ia berteguh dalam diam, nanar menatap manik di sampingnya.
"Yehh, malah diem." Mira berdecak. "Oke lah gue cabut aja."
"Jangan!" Refleks tangan Lilya menahan tubuh yang hendak beranjak itu.
Sambil tersenyum simpul Mira mengurungkan niatnya. Sementara itu Lilya mulai menunduk buru-buru mengusap air matanya.
"Orang kek lo gak pantes bersikap menyedihkan," cetus Mira setengah mengejek.
"lo gak ada rasa simpati apa?" akhirnya Lilya mengangkat wajah.
"Buat lo?" Mira menunjuk, "Ya gaada," timpalnya.
Tanpa sadar Lilya melepas tawa. Rasanya sudah lama sekali ia tak mendengar komentar ketus yang khas itu.
"Tapi salut sih." Mira menautkan kedua siku ke belakang kursi seraya menatap langit. "Sekarang lo dah bisa ngelakuin banyak hal tanpa khawatirin pendapat orang."
Lilya merengut. "Ya? tapi jadi ngerepotin."
"Repotin siapa?" Mira melirik.
"Temen-temen gu-"
"..."
Seakan menyesali ucapannya, Lilya langsung bungkam menelan sisa kalimat yang hendak dilontarkan. Rasanya tidak tepat bercerita perihal manisnya kemalangan dihadapan dia yang benar-benar telah kehilangan segalanya.
"Temen-temen?" Mira tersenyum. "Bagus dong, yang penting imbang sama benefit yang lo kasih balik. Jangan bikin effort mereka sia-sia."
Lilya memghela nafas panjang sambil memejamkan mata. Ia tidak berduka karena usaha menutupinya sia-sia, ia justru pilu karena Mira tahu tetapi memilih untuk tidak terusik.
Tiba-tiba terdengar percikan air. Saat dicari, kolam di hadapannya telah terisi air keruh yang mulai mengundang mual.
Lilya membuang muka dengan tangan membekap mulut. Tragedi saat Mira terjun dari kamar pasiennya, dia jatuh ke kolam rumah sakit. Kolam ini.
"Lilya... lo kenapa segitunya terlibat sama kasus ini? Bahkan ampe babak belur..." suara tenang Mira bertolak belakang dengan kepanikan yang Lilya rasakan sekarang.
Masih menahan mual, Lilya memikirkan jawabannya. Sudah berkali-kali pertanyaan ini terlontar, tapi baru kali ini rasaya ia harus berterus terang. Ia menatap telapak tangan kirinya yang perih bercucuran darah.
Orang yang dimaksudnya itu tersenyum. "Ada yang lebih ga enak dari gak tahu apa-apa," perlahan Mira mendekati telinga Lilya dan berbisik, "pura-pura buta padahal kebenarannya ada di depan mata."
Tersentak, Lilya hendak membalas. Namun segera, Mira tak menghendaki dan kembali melanjutkan,
"Udah cukup ngobrolnya. Lo pasti tahu kan sekarang harus apa?"
Dengan sekali gerakan Mira mendorong tubuh Lilya ke kolam hingga akhirnya Lilya membuka mata, terbangun di sebuah ruangan serupa kantor.
...***...
Terlonjak dengan dafas menderu, sesaat gadis itu terbutakan sinar dari lampu yang menggantung di atasnya. Dengan posisi terbaring di sofa, ia mulai mengedip-ngedipkan mata sambil mengganti sisa ingatan mimpi dengan rentet kejadian aktual sebelum hilang kesadaran.
“Mimpi buruk?” Tanya sebuah suara.
Sadar akan genggaman yang melingkupi tangan kirinya, perlahan Lilya menatap dia yang tengah berlutut melilitkan perban. Perih yang sebelumnya menusuk, kini tak lagi kentara. Setelah beberapa kali berkedip dan memfokuskan pikiran, akhirnya tersenyum malu.
“Eh, Arvin,” sapa Lilya seolah tidak terjadi apa-apa.
Arvin menggeleng lalu kembali tertunduk memastikan perban yang tengah dibalutkan ke tangan Lilya menutupi luka yang sudah dibersihkan dan diobatinya dengan sempurna.
Menelengkan kepala, Lilya mulai memperhatikan garis wajah cowok yang tengah berlutut di sampingnya itu.
"Bulu mata lo panjang juga ya,” ujar Lilya yang tentu saja tidak digubris.
"Hm? Serius amat mukanya. Segitu khawatirnya kah ampe ga bisa ngomong?" Lilya sedikit menarik tangannya di genggaman Arvin agar perhatian cowok itu teralihkan.
Dengan tenang Arvin melanjutkan kegiatannya seakan sudah terbiasa. Setelah merekatkan perban dengan plester, barulah ia membuka suara. "Gak udah ge er, kebetulan aja gua lagi baik."
Lilya terkekeh lalu memeriksa tangannya. "Tingkah sama omongan kok gak sinkron? Ini pake antiseptic yang ada PHMB-nya kan? Wihh... niat ba-"
"Lia..." Seakan tak ingin gadis itu memperjelas kalimatnya, dengan lembut Arvin menggeser pergelangan tangan Lilya yang menghalangi wajahnya lalu mendekat. Dalam tipisnya jarak, Lilya tak bisa mengelak dari tatapan teduh yang sengaja dihujamkan.
Terhenyak, merasa asing dengan sosok di hadapannya, Lilya membeku tak menyangka candaannya akan ditanggapi seintens ini.
"Arvin, lo-"
Kreekkk...
Pintu di belakang Arvin terbuka, menampilkan Udo dan Haris si bartender yang tengah memegangi segelas teh manis.
"Woah! K-kalian lagi ngapain?!" Seru Udo dengan dramatis menutup mulut dengan kedua tangannya seakan sedang menyaksikan skandal besar.
Arvin hendak bangkit tapi tangan kanan Lilya sigap menariknya kembali hingga tertunduk.
"Nih do! Si Arvin stress ampe banyak uban," ujar Lilya dengan ekspresi serius mengamati sesuatu di pucuk kepala Arvin.
Dengan curiga Udo mendekat. "Masa?"
Namun, ketika Udo tiba, Arvin kembali bangkit dan berlalu melewatinya begitu saja.
"Idih." Udo mendelik sementara Lilya berusaha keras menahan tawa.
"Sini do, mending tenangin diri dulu," ajak gadis itu seraya bangun dan menyender ke punggung kursi agar Udo bisa duduk di sampingnya.
Sementara itu Arvin menghampiri mas Haris dan mengambil teh manis hangat dari tangannya. "Sekali lagi saya minta maaf ya, udah ngerepotin gini..."
"Eh enggak-enggak, gapapa kok, anggap aja tempat sendiri," ungkap Haris malah nampak lebih canggung.
Lilya memperhatikan interaksi mereka. Rasanya baru sesaat yang lalu ia mencengkram kerah baju bartender itu.
“Kenapa juga gue harus dibawa ke cafe ini lagi? Terus ini apa? Kantor manager? Tapi kan…”
Tanpa sadar sudut bibir Lilya tertarik. Seakan baru menyadari sesuatu ia mulai tertawa dalam diam.
“Tuan bartender… sebenarnya anda ini siapa?”