At Least I’M Free

At Least I’M Free
XXXIX



Manusia hidup dalam persepsi diri yang beda-beda. Membentuk karakter unik untuk menutupi warna sejatinya yang cacat. Seperti dia yang pemalu bagi si A, tapi juga si tak tahu malu bagi B. Tidak ada yang salah dengan itu, nyata atau dusta semuanya adalah bagian asli dari diri seseorang.


Lilya menghela nafas panjang sambil menyusun pikirannya yang runyam. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengingat hal-hal filosofis seperti konsep diri.


Mengulum senyuman, ia pun menilik interior cafe bernuansa industrial eropa dengan dinding kaca yang mengarah langsung ke taman. Ini adalah tempat terakhir dari daftar yang diberikan pembantu rumah Ersya, dan sejauh ini bukannya petunjuk yang didapat, berbagai pertanyaan baru malah tercipta tiada henti.


Dengan pandangan kosong, Lilya hanya terdiam menyatukan kembali pikirannya.


"Nih... napa jadi debatin penampilan Ersya ya?" Tanya Lilya yang kemudian beralih menatap bartender lelaki berumur 20 an di seberang meja bar. Sejujurnya ia cukup jengkel karena selama 30 menit terakhir tak ada satu pun informasi yang didapat dari pria dengan name tag 'Haris' itu.


"Kan takutnya salah orang dek, soalnya Ersya yang langganan di sini gak kayak anak sekolahan yang adek deskripsiin tadi," timpal Haris enteng.


Lilya berdecak ketus. "Tau dari mana?"


Sejenak bartender itu terdiam seperti sedang memilih kata-katanya. "Rambut hitam panjang... stylenya lumayan terbuka. Emang cindo sih, tapi vibesnya beda banget sama yang kamu ceritain, kan?"


Lilya menghela nafas jengah sambil membuka lock screen HPnya. "Nih, kek gini gak mukanya?" Ia menunjukan foto profil chat Ersya yang nampak sopan dalam balutan setelan seragam sekolah.


"Kayaknya sih bukan..." Haris menyipitkan mata seraya mengusap-usap dagu memperhatikan dengan seksama. "Eh tapi mirip deh, gara-gara make up apa ya?"


Muak menghadapi ketidak konsistenannnya itu, tangan Lilya dengan cepat menyambar kerah kemeja pemuda itu hingga HP digenggamannya terpental. Dengan kedua tangan, gadis itu menarik tubuh Haris ke atas meja hingga nyaris terseret ke sisi lain.


"Yang bener yang mana?!" Pekik Lilya yang telah hilang kesabaran.


Keributan itu sontak menyita perhatian pengunjung dan pekerja lain di sekitaran.


"Eh, eh kenapa nih?!" Seorang waitress berlari sigap berusaha melepaskan cengkraman Lilya dari kerah baju rekannya. "Tolong jangan berkelahi di sini! Kalau enggak, saya terpaksa panggil security!"


Sadar akan tindakannya, Lilya pun menarik tangannya dan mundur beberapa langkah. Kurang tidur sepertinya telah menipiskan batasan antara pikiran dan gerak motorik gadis itu. Sambil menunduk memegangi tangan, beberapa memori yang tidak diinginkan mulai bermunculan menyusul perasaan bersalahnya.


"Maaf..." ujar Lilya penuh sesal.


Haris menatap Lilya ngeri sambil memegangi lehernya, sementara itu waitress ber-name tag 'Syira' berlari ke belakang bar untuk mengambilkan air minum.


"Kalau ada masalah serius lebih baik dibicarakan di kantor," bisik Syira dengan sopan sambil menyodorkan segelas air ke Haris.


Lilya menghela nafas panjang dan meraih HPnya yang tadi terhempas ke lantai dalam posisi tertelungkup. Garis retak menggerat dari ujung kanan atas hingga ke ujung kiri bawah layarnya, meski begitu ia cukup beruntung karena tidak ada kerusakan serius dan HPnya masih berfungsi normal.


Meski dilanda malu dan rasa lelah, Lilya menguatkan diri untuk tetap fokus pada tujuannya. "Pernah lihat cewek ini gak mbak?" Ditunjukannya foto Ersya ke hadapan waitress itu.


Dengan raut khawatir, wanita yang nampaknya adalah senior Haris itu pun mendongkak. "Kurang tahu... eh! tapi mirip kakak langganan itu gak sih?" Ia melirik Haris yang juga langsung mengangguk.


Sesaat Lilya terdiam. Dalam hati ia membenarkan dugaannya kalau semua ini hanya distraksi yang entah untuk tujuan apa Ersya ciptakan. Selain itu, jika semuanya memang sudah disiapkan sejak lama, maka…


"Hebat juga dia bisa tahu bakal ada orang yang nyariin dia ke sini," gumam Lilya sambil memijat tulang hidung di antara matanya. "Jadi... hari ini Ersya ga dateng?"


Haris menggeleng sementara Syira menjawab, "Enggak. Pacarnya juga gak kelihatan."


"Pacar?" Seakan tak mau melewatkan petunjuk, Lilya buru-buru mencari foto Renaldi dari IG sekolah. "Yang ini bukan?"


Haris mengernyit dan melirik seniornya yang juga nampak kebingungan.


"Saya jarang lihat mukanya sih," tutur Haris,  "dia sering pake masker, tapi kalau dilihat dari postur badannya, beda sih.... Yang sama mbaknya itu lebih pendek terus suka pakai hoodie merah."


"Hoodie merah?" Lilya terhenyak, tentu saja hanya ada satu orang yang terlintas di benaknya. "Arvin." Tanpa sadar nama itu terlontar.


"Maaf?" Syira menyaut.


"Ah, enggak." Lilya menggeleng berusaha menepis firasatnya. "Sebenernya, bukan kalian aja yang ngomong gini. Di tempat-tempat lain yang udah aku datengin juga sama. Katanya gaada orang kek di foto ini, tapi namanya sama 'Ersya'. Cuman ya, baru kali ini aja ada yang nge-mention 'pacarnya'."


"Emang kalau boleh tahu, adek siapanya mbak Ersya? Kalau misalkan masalahnya serius kenapa gak lapor polisi saja?"


"Ya-"


Drrttt!!


Tiba-tiba HP Lilya bergetar menampilkan panggilan masuk dari Arvin. 'Panjang umur...' batinnya.


"Hmm... dah harus pulang nih." Lilya menjulurkan tangan ke hadapan Haris. Butuh beberapa saat bagi pemuda itu untuk meyakinkan dirinya kalau menggenggam tangan Lilya tidak akan membuatnya tersungkur ke atas meja lagi.


Setelah berjabatan tangan Lilya pun tersenyum sopan. "Terimakasih infonya. Maaf tadi sempet kelepasan. Mari."


Ia kemudian mengangkat telepon dan berjalan pergi meninggalkan dua orang yang termenung menatap punggung Lilya dengan sorot penuh selidik.


"Di rumah Renaldi gaada."


"Sama nih, zonk semua." Seketika Lilya teringat soal 'pacar' yang dideskripsikan si waitress tadi. Perlahan ia menoleh dan menatap plang nama cafe yang nampak elegant dengan paduan warna gold dan hitam di atas pintu masuk. "Makanan yang enak di cafe Marmalade apa ya?"


"Ha? Kok jadi bahas makanan?"


Dengan enteng Lilya menjawab. "Laper nih dari tadi muter-muter, cape, butuh asupan."


"... Steak Gordonnya enak sih."


Senyum Lilya mengembang. "Heee... tau aja lo, sering kesini ya?"


Hening.


Respon Arvin ini membuat kecurigaan Lilya makin kuat. Satu hal yang menjadi kelemahan Arvin adalah komunikasi tidak langsung. Mungkin karena selama ini ia terlalu mengandalkan kemampuan observasi ekspresi lawan bicaranya sebagai patokan untuk memperoleh informasi, jadinya ia ceroboh, tidak bisa membaca maksud lawan bicara yang tidak terlihat tampangnya.


"Kok diem?" Pancing Lilya.


"Lu... lagi di mana sekarang?" Suara Arvin terdengar pelan.


Lilya mengedikkan bahu. "Ahh lain kali aja deh. Btw jam segini sekolah dah bubar kan? Lo tahu orang-orang di circlenya Renaldi ga?"


Untuk beberapa saat tidak ada jawaban. Meski Lilya sangat ingin membahas soal 'pacar' yang di maksud para pegawai cafe, minimnya waktu memaksanya untuk menahan diri. Setidaknya untuk sekarang.


"Temen futsalnya paling... napa emang?" Akhirnya Arvin menjawab.


"Ya apa lagi kalo bukan buat datengin mereka terus tanyain soal Renaldi?" Lilya terkekeh. Sementara itu terdengar helaan nafas dari seberang telepon.


"Lu belom tidur, bawa motor sendirian. Kita lanjut besok aja ya? Lagian bisa aja kan si Renaldi sama Ersya cuman maen doang, ntar juga pulang lagi."


"Ya kalau mereka ga masuk daftar orang yang dicurigain Huga sih masuk akal." Lilya berjalan ke sudut kanan, tempat motornya terparkir. "Gue harus nanyain langsung sebelum polisi terlibat. Kalau enggak, ya selesai, gue gak akan punya akses buat hubungin mereka lagi."


Dengan suara tenang Arvin menimpal, "kenapa lu… segitu pengennya ikut campur sama kasus ini?"


"Weh, baru nanya sekarang lo?" Lilya tergelak. "Segini mah harusnya udah ketebak kali? Haha!"


Arvin tidak merespon, hal itu membuat Lilya terdiam dan perlahan ekspresinya berubah sendu. Bayangan akan sahabatnya, Mira, yang terbaring koma di rumah sakit mulai merayap dalam ingatannya. "Gak tahu apa-apa itu gak enak kan vin? Mungkin emang udah dari sananya gue suka ikut campur masalah orang."


"Haaa.... lu mah... Terus gimana nih, kita langsung ketemuan di stadionnya aja? Ntar gua kirimin alamatnya gitu?"


"Bo-"


Jawaban Lilya tercekat, sesuatu mengalihkan perhatiannya. Dari tempatnya berdiri, ia menangkap sesosok siluet yang sangat dikenalnya tengah berjalan melintasi cafe.


"Eh vin, lo sendirian aja ya, gue ada keperluan lain. Biar lebih efektif."


"Mo ngapain lu? makan?"


"Hehe... itu tahu." Jawab Lilya berbohong. "Dah ya, ntar kabarin gue kalo udah dapet info."


"Eh bentar dul-"


Beep!


Lilya tidak punya pilihan lain, ia terpaksa memutuskan sambungan karena takut orang yang sedang diperhatikannya itu keburu pergi jauh.


Setelah berlari ke trotoar dan mendapati orang itu berjalan menuju persimpangan jalan, Lilya pun hendak memanggil namanya ketika seorang pria berperawakan tinggi besar tiba-tiba datang dari arah berlawanan dan merangkulnya akrab.


"Hoy Udo, lama bener." Ujar pria itu dengan suara berat khas bapak-bapak.


Sikap Udo nampak kikuk, ia tidak berani bertatap muka dan hanya menunduk sambil menjawab. "B-baru pulang sekolah bang."


Sambil bersembunyi di balik tembok Cafe, Lilya memperhatikan mereka dengan seksama. Meski tahu kalau Udo memang senang terlibat dalam hal-hal ilegal, tapi tetap saja yang satu ini terasa janggal.


"Yodah yok!" Ajak pria itu sambil berbelok ke arah kiri persimpangan.


Pikiran Lilya langsung berkelana ke berbagai macam dugaan yang ia sendiri enggan akui. Karenanya ia merasa harus memastikan secara langsung. Dengan sigap dan penuh kehati-hatian Lilya pun membuntuti mereka.


Tanpa mengetahui kemana kebetulan ini akan membawanya, Lilya terus mengikuti mereka dalam tanya.